Creations Isekai

Creations Isekai
Vol. 01 Bab. 19 : Kekalahan


__ADS_3

Aku selalu berjaga setiap malam, ketika pagi datang, aku langsung tidur sejenak. Terus seperti itu hingga penyerangan terjadi.


Melihat ke perbatasan negara, aku tercengang, mereka mengirimkan sekitar ratusan pasukan hanya untuk menangkap kami. Ini gila! Meskipun aku tahu ini adalah sebuah penghargaan untuk diriku yang kuat, namun tetap saja, ini gila. Sebelumnya aku pernah melawan mayat hidup di dalam dungeon namun... kali ini manusia.


Langsung saja, ketika aku melihat mereka mengarah ke arah panti, seketika, aku membakar sebagian besar pasukan dengan bola api yang cukup besar. Setelah seranganku dari atas pohon, mereka langsung terpecah belah. Sepertinya mereka memang dilatih untuk momen seperti ini. Mereka berpencar kemudian mencari tempatku berada. Tentunya aku tak hanya berdiam diri saja, aku melompat dari pohon ke pohon, kemudian melancarkan serangan kedua ke kerumunan pasukan yang ada.


Bola api, masih sama seperti tadi, aku melemparkan bola api yang cukup besar ke arah kerumunan pasukan yang ada. Aku harus menahan diri agar energi sihirku tak cepat habis.


Dan begitu pula selanjutnya setelah mereka tersisa sedikit, aku turun membawa rasa takut yang begitu mencekam.


"Jika berani lewat selangkah lagi, aku akan membunuh kalian seketika!", ucapku yang tak lagi menahan diri.


Ini aneh, ketika aku menakut-nakuti mereka, bukannya melawan balik dengan segenap hati, mereka justru menyerah dan pergi dengan begitu mudahnya.


Ini aneh, apa mungkin mereka takut kepada diriku? Memang benar seperti itu?! Atau mungkin, dari awal rencana mereka memang seperti itu?!


Mereka mempecah belah pasukan agar aku masuk ke perangkap mereka. Setelah aku masuk ke perangkap, itu artinya....


Mereka dalam bahaya!


Secepat mungkin aku berlari menuju ke sisi lain panti. Ternyata, benar. Mereka datang dari arah yang berlawanan.


"Wayra... ini bohong, bukan?", di sana, aku melihat Wayra menyandera Rleas yang mencoba melawan pasukan yang ada, serta membuat Lein terkapar tak berdaya di atas tanah.


"Wah, kamu baru menyadarinya?", ucapnya dengan senyum mengejek yang diarahkan kepadaku.


"Lepaskan Rleas!!!", aku seketika berteriak menyuruh Wayra membebaskan Rleas.


"Kaka....", rintih Rleas dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tenang saja, aku hanya ingin meminjam dia sebentar, Zerlicia."


Ini aneh... Kenapa masih saja sama?! Padahal aku dan dia telah terikat kontrak majikan dan budak. Seharusnya dia akan terkena kutukan jika dia membentak perintahku.


Tatonya juga masih ada, aku juga masih merasakan ikatan kontrak yang aku jalin dengan Wayra. Tetapi kenapa?! Kenapa dia tidak terkena kutukan saat membelot dariku?!


"Kamu pasti bertanya-tanya, kenapa aku tidak terkena kutukan itu, benar 'kan, Zerlicia?", ia menjawab rasa penasaran yang aku ingin tahu sejelas mungkin.

__ADS_1


"Akan aku jawab... ikatan yang aku jalin denganmu, itu berbeda, Zerlicia. Bisa dibilang, ikatan palsu."


"Apa?!", dia berbohong, 'kan? Tapi, jika benar dia berbohong, lantas, perasaan apa yang mengikatku dengan dirinya?


***


Saat ia memikirkan segala kemungkinan terburuk yang terjadi, tanpa sadar, Zerlicia langsung berlari menyerang Wayra tanpa mempedulikan Rleas yang Wayra sandera.


Menyerang dengan sepenuh hati, Zerlicia berhasil mengambil Rleas kembali. Kini, mereka dapat bertarung secara leluasa.


"Aku terima tantanganmu!!", dengan nada gembira, Wayra melesat ke arah Zerlicia. Segala yang Wayra pelajari dari Zerlicia, kini ia keluarkan semuanya dalam pertarungannya melawan Zerlicia.


Tentu saja Zerlicia tidak sebodoh itu, karena telah melihat mimpi buruk yang sama berulangkali, Zerlicia tak akan gegabah seperti sebelumnya. Apapun yang terjadi, Zerlicia harus menyadarkan Wayra.


Suara decitan pedang dari keduanya terdengar begitu kencang. Gesekan logam dari kedua pedang mereka juga membuat percikan-percikan api yang menyala. Keduanya bertarung sekuat tenaga mereka hingga salah seorang dari mereka, telah jatuh tak berdaya.


"Flame ball!"


"Water wall!"


"Bagaimana bisa?!"


Setiap serangan sihir yang Zerlicia keluarkan, selalu ditangkis oleh sihirnya Wayra. Kini, apapun yang Zerlicia keluarkan, akan berguna jika Wayra kehabisan energi sihir. Namun, karena sedari tadi Wayra hanya menggunakan sihir tipe pertahanan, maka energi sihir yang ia gunakan, hanya sedikit. Berbeda dengan tipe serangan meskipun, semakin banyak energi sihir yang diberikan ke sihir tipe serangan, maka serangannya akan menjadi lebih kuat.


Sihir tipe pertahanan juga seperti itu, jika ia tidak memperbanyak energi sihir yang ia masukan ke sihirnya, otomatis pertahanannya akan kalah dengan sihir dari si penyerang.


Permainan ini, sebenarnya hanya seperti permainan keberuntungan. Jika beruntung, Zerlicia dapat saja menang dari Wayra hanya dalam beberapa detik.


Sebaliknya, jika ia kehilangan fokusnya... maka, Zerlicia akan dikalahkan oleh Wayra.


Zerlicia tak mau membunuh Wayra. Namun disamping itu, Wayra mencoba untuk membunuhnya. Bagi Zerlicia, Wayra tampak seperti sedang dikendalikan namun, entah benar atau tidak, Zerlicia masih harus mencari tahu kebenarannya!


"Aku berterimakasih atas latihan yang kau berikan. Namun, cukup sampai sini saja, Zerlicia!"


"?!"


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Di depan matanya, Rleas melihat, kakaknya tertusuk oleh pedang yang Wayra gunakan. Zerlicia seketika jatuh tersungkur ke tanah dengan kondisi yang kini tak berdaya.


"Aku senang dapat mengenalmu, Zerlicia Namsaka. Berkat dirimu, aku dapat pasukan-pasukan kecil yang berbakat."


"Tunggu—"


"Aku pergi dulu, Zerlicia Namsaka."


"Brengsek!!!" Karena merasa tersakiti ketika Kakaknya tertusuk di depan matanya, tanpa pikir panjang, Rleas melompat dengan pedang yang siap menebas Wayra tak lama lagi.


"Percuma."


Namun, dengan sigap Wayra menghindar lalu memukul bagian belakang leher Rleas hingga ia tak sadarkan diri. Lalu, dirinya pergi bersama anak-anak panti beserta beberapa pengurus panti asuhan tempat Zerlicia menitipkan adik-adiknya.

__ADS_1


"Sial... aku tak bisa merubahnya, ya?", berusaha bangun, Zerlicia tak bisa berbuat banyak selain duduk bersandar sembari menunggu kematian menjemputnya.


"Kalau begitu, yang harus aku lakukan hanyalah, mengulanginya lagi!!", dengan belati kecil di tangannya, Zerlicia kemudian menusuk lehernya dengan harapan, ketika ia bangun, ia dapat mengulangi semuanya.


__ADS_2