
Aku kembali ke dunia nyata, dunia yang aku masuki selama setahun penuh kemarin, adalah dunia yang dibuat oleh Archela dengan kekuatannya mengendalikan ruang dan waktu.
Aku tak begitu terkejut saat mendengar dia menjelaskan semuanya, tapi... aku berterimakasih kepada dirinya.
Tetapi, tetap saja aku kesal pada dirinya! Rencana yang aku pikirkan dengan susah payah, pada akhirnya harus diganti dengan rencana yang baru kembali karena keputusan sepihak yang si brengsek itu buat.
Yah, dia iblis sih, mana mungkin dia memiliki sifat kemanusiaan, lagipula, dia iblis! Dia hanya iblis berwujud manusia!
Sama seperti ku.
Huh... aku kini menjadi iblis setelah Archela turut ikut campur ke dalam sistem reinkarnasi paksa yang aku miliki. Seharusnya aku bisa saja kembali ke masa lalu setelah diriku meninggal dunia namun, karena ulahnya, aku tak dapat kembali ke masa lalu. Namun, meskipun begitu, aku rasa itu setimpal dengan apa yang aku dapatkan sekarang, tubuh iblis ini tidak buruk, ada sayap yang tampak seperti sayap kelelawar untuk aku gunakan terbang, dan tanduk iblis yang menjulang tinggi untuk mengendalikan pasukan iblis yang ada.
Hanya satu bagian yang aku tidak suka dari tubuh baru ku ini, yaitu, ekor ku. Aku sering kehilangan kendali disaat tengah membelai diri Hana, tau-tau saja aku keenakan membelainya sampai, aku membelainya dibagian lain.
"Sudah seminggu kamu tak keluar! Mana janjimu seminggu lalu?! Katanya kamu akan bekerja di akhir pekan. Tapi sekarang?!", ucap Lein melempar bantal ke wajahku dengan keras.
"Ter- terimakasih, Lein...." ucap Hana yang berhasil kabur dari pegangan ku.
Sial, padahal lagi enak-enak nya aku membelainya layaknya anak kucing tetapi... Lein, dia selalu saja marah kepadaku.
"Aku tahu kamu sekarang ini telah menjadi iblis sepenuhnya namun, tak akan aku biarkan, kamu memiliki salah satu dosa besar yang pastinya dimiliki oleh para iblis. Kemalasan! Cepat bangun dan bersiap-siap untuk bekerja, dasar pemalas!", Uh... dia semakin kasar padaku setelah aku kembali dari siksaan yang Seyla berikan kepadaku.
"Itu mustahil...."
"Hah?!"
"Lupakan, Hana, ikut aku!" wa... dia menatap tajam ke arahku.
"Eh?!"
Baru saja terlepas, Hana terkejut dan gelisah disaat aku memanggilnya untuk ikut bersamaku. Tenang saja, kucing kecil, aku tak akan menggigit dirimu kok.
"Huh... Zerlicia, aku harap kamu tidak lupa dengan tujuan kita datang ke tempat ini," ujar Lein sesaat sebelum aku pergi keluar kamar penginapan.
"Kekuatan ku sudah cukup. Hanya saja, aku masih belum memiliki potensi untuk menghancurkan negara ini. Jadi, aku akan berusaha keras."
"Hmm...." dia hanya berdengung... Lein, berbeda dengan saat pertama kali aku bertemu dengannya. Dulu dia memperbolehkan ku untuk melakukan apapun pada dirinya namun, sekarang dia malah bertingkah semena-mena kepadaku.
"Padahal aku ada di sini...."
"Hah?"
Tunggu, apa yang dia katakan?! Sial, aku hampir tak bisa mendengarnya karena suaranya kecil namun... "Padahal aku ada di sini...." apa maksudnya?
"Ah, kamu masih perawan kan?!" aku punya ide cemerlang!!!
__ADS_1
"Jika kamu berani menyentuhku, aku akan...."
"Bodo'amat..."
"Tunggu, Zerlicia?!"
Aku meraih tangan nya lalu menjatuhkan dirinya layak nya saat pertama kali aku melakukan kontrak budak dengan Hana.
"Tidak!!!! Aku tak..."
"Kamu tak ingin? Huh, jahatnya... padahal dulu kamu sangat penurut tetapi, aku kecewa."
"Tidak...."
"Tenang saja, Kakak tetap menjadi Kakakku. Hanya saja, berbeda sedikit."
"Um...."
• Singkatnya, begitulah....
Dia langsung menutupi wajahnya sesaat setelah kontrak selesai terbuat. Dari balik bantal, ia berkata, "Aku... tak masalah jika harus... dipekerjakan di bidang.... pemua—"
"Bego! Tahan nafsumu, kamu seperti seorang wanita yang kebelet kawin."
"Kamu mau menikah?"
".... Hah, memangnya siapa aku? Aku hanyalah ras terendah, aku tak bisa berbuat banyak."
Yah, tentu, mungkin saja... Lein telah lama menahan rasa di dalam dirinya. Mau bagaimana pun juga, dia seorang wanita, pasti dia ingin menikah dengan orang tersayang, kemudian memiliki anak dan hidup bahagia.
Tapi aku.. aku malah membuatnya harus menahan keinginannya untuk waktu yang tidak menentu.
"Yah, kamu cantik, dadamu juga lumayan, berbeda dengan aku yang datar, aku yakin, kamu banyak disukai para lelaki. Aku yakin juga, kamu pernah menyukai lelaki. Sebenarnya aku tak ingin melepaskan dirimu namun, jika aku tak merestui hubungan yang kamu jalin, aku akan menjadi adik yang serakah bukan?
"Yah, sebenarnya, aku juga sedikit tertarik dengan pernikahan... hum, di bagian anaknya sih."
"...Mesum..." Lein langsung mengeluarkan kata-kata menusuk telah mendarah daging dengan dirinya.
"Maksudku, anak! Aku ingin anak! Memang sih, aku ini punya nafsu succubus tapi, anak... mereka akan terlihat imut bukan?"
"Hmm..." dia kembali mendengung.
"Ngomong-ngomong, Zerlicia, aku menyuruhmu pergi bekerja tetapi kamu malah membahas tentang keluarga bersamaku, asal kamu tahu saja, tak peduli seberapa menyiksanya hukuman yang aku terima dari segel budak ini, sifatku ke kamu, tak akan berubah! Aku Kakakmu sekarang!"
"Geh... baiklah...."
__ADS_1
Ya ya ya... aku akan pergi. Dasar Lein, dia memang sulit untuk ditaklukkan.
"Sebaiknya Anda memakai jubah, Nona Zer—"
"Zerlicia saja tak apa kok, Hana. Tenang saja, aku tidak akan menggigit dirimu kok."
"..... justru aku yang ingin mencicipi darahmu," woah, ini kali pertamanya ia jujur ketika berbicara denganku.
"Ah...." lah, kembali normal? Seketika wajahnya memerah disaat ia menyadari bahwa dia telah bersikap lancang pada diriku.
"Hanya sedikit saja ya?" ucapku. Yah, anggap saja ini adalah gaji yang berhak kamu dapatkan, Hana.
"Beneran?", gawat, dia imut sekali... wajah memohonnya dengan tatapan manja itu... sangat cocok dengan perawakannya. Memang benar, dia seperti seekor anak kucing!
"Iya-iya… ini gaji karena kamu telah berusaha dengan keras, menahan sifatku yang aneh ini."
"Kalau begitu....."
Singkatnya, kami berdua berkeliling sembari memikirkan rencana terbaru untuk menaklukkan negara ini. Meskipun aku tahu aku tak akan menemukan organisasi gelap seperti yang aku harapkan, tetapi, aku yakin, mereka pasti ada di suatu tempat di dalam ibu kota ini.
Aku jadi semakin bersemangat!
"Jika kamu pulang tanpa membawa uang, Lein akan marah padamu, Nona."
"...."
Benar.... mana matahari juga telah tepat berada di atas. Aku rasa, sudah cukup bermain-mainnya!
Kami langsung menuju ke Kantor guild untuk mengambil misi. Kami berjalan ke sana, dengan harapan, semoga identitas ku tidak diketahui. Aku sengaja membiarkan wajahku tertutup jubah yang aku kenakan, hal itu aku lakukan, supa aku dapat mengambil misi tanpa harus berdebat dengan seluruh petualang di dalam Guild ini.
"Fiuh.... meskipun berulangkali kita hampir ketahuan, tapi... syukurlah. Kita pulang dengan membawa kantung emas. Yeay! Aku tak akan dimarahi lagi!!!"
"Kamu terlalu gembira, Nona."
"Hahaha...."
Saat aku terlalu sibuk dengan pikiranku, tanpa sengaja, aku bertabrakan dengan seseorang yang tampak tidak asing bagiku. Seorang wanita dengan rambut merah pendek, zirah ksatria, dan aroma menyengat, serta... sebuah perasaan yang dapat aku rasakan dari hubungan, tuan dan budak.
"Maaf..."
"Ya, tak apa, lain kali perhatikan langkahmu."
Dia berkata dengan sangat halus kepadaku. Dia pikir aku lupa dengan perlakuan nya?! Apakah dia melupakanku?!
Si brengsek Wayra itu....
__ADS_1