Creations Isekai

Creations Isekai
Vol. 02 Bab. 24 : Pembawa mimpi buruk, Hana si Vampir


__ADS_3

*Hufh......


*Hufh... Hufh.... Hufh.....


*Hufh... Hufh.... Hufh... Hufh....


Seorang gadis berkerudung merah, berlarian di sela-sela gang yang terdapat di ibu kota Kerajaan Ralley.


Gadis yang tampak berusia 17 tahun tersebut, berlarian sembari membawa sekeranjang biskuit yang terlihat penuh di tangan kanannya.


Gadis tersebut berlari seperti sedang dikejar oleh sesuatu yang mengikutinya di belakang dirinya. Akan tetapi, sepanjang mata melihat, tidak ada seorangpun yang mengikuti gadis tersebut, bahkan mengejar gadis biskuit tersebut.


"Uwa?!"


Gadis tersebut terus berlari, hingga di saat persimpangan gang, gadis tersebut bertabrakan dengan seorang gadis berambut pendek, rambutnya kian memerah, untuk sekarang, rambutnya yang memerah masih berada di bawah dan akan terus merambat, membentuk sebuah pola.


Dengan seorang wanita dewasa di sampingnya, gadis tersebut terjatuh bersama dengan gadis yang berlarian sembari membawa keranjang biskuit.


Dia... Zerlicia Namsaka dengan rekannya, Leina.


Mereka berdua berniat untuk berkeliling setelah beristirahat seharian di penginapan di dalam ibu kota Kerajaan Ralley. Mereka berdua berniat berkeliling supaya mereka dapat mengamati, situasi di ibu kota Kerajaan, apakah situasinya sama seperti di luar ibu kota? Itulah yang Zerlicia ingin tahu.


Namun, disaat ia berjalan tanpa ia sadari, dirinya ditabrak oleh gadis pembawa keranjang biskuit.


"Kamu tak apa?", kata Zerlicia kemudian berdiri dengan dibantu Lein yang mengulurkan tangannya.


"Umm....", sesaat ia terbangun, Zerlicia kemudian mengulurkan tangannya ke gadis pembawa keranjang biskuit tersebut untuk membantunya berdiri namun...


Gadis tersebut, malah ketakutan ketika bertatap mata dengan diri Zerlicia.


Bagaikan tengah melihat sesuatu yang janggal saja. Gadis tersebut seketika berdiri kemudian ia.... melanjutkan larinya tanpa meminta maaf, dan bahkan, ia tak sempat memperkenalkan diri.


"Hei, Lein.." ucap Zerlicia memanggil Lein yang berdiri di dekatnya


"Lena!", dengan tegas, Lein menegaskan bahwa mereka berdua tengah menyamar.


"Ah ya, maaf. Begini, rasanya, kehidupan di ibu kota, hanya manis di awal saja ya?"


"Kau benar, tetapi....", terdiam sejenak, rupa-rupanya, Lein mengambil kesempatan untuk mengusap kepala Zerlicia yang tingginya tak jauh berbeda dengan tinggi Lein. Tinggian Lein sih.


"Jika dilihat dari segi kekeluargaan, kita berdua jadi seperti kakak adik, ya?"


"Ya... aku selalu ingin adik perempuan. Tapi, apalah daya, takdir berkata demikian," ucap Lein kemudian mereka melanjutkan perjalanan mereka.


"Kalau begitu, selama di sini, anggap saja aku sebagai adikmu."


"Itu sih tidak bisa," langsung dibentak, ucapan Lein membuat hati Zerlicia sedikit tersakiti. Zerlicia hanya bisa menghela nafas sembari mengeluhkan tentang....


"Ahaaahh, Seyla memang sangat terobsesi untuk mendidik dirimu sebagai seorang pelayan," keluh Zerlicia yang kini memasang ekspresi wajah cemberut.


"Jangan kesal begitu dong, meskipun kamu bilang, aku boleh menganggap dirimu sebagai adik perempuan ku, statusku hanyalah sebagai budak dari Crazy Women. Mana mungkin aku menganggap Tuan ku sebagai adikku sendiri."


"Cih~.... Bodo'amat, lupakan saja!", Zerlicia benar-benar kesal akan ucapan Lein tadi.


"Tapi...." Namun, ketika ia hendak pergi meninggalkan Lein, seketika Lein berkata.


"Sesekali menjadi adik, adalah pengalaman baru bagimu, bukan? Kamu telah berjuang keras selama ini, kamu kakak yang baik, meskipun aku tak dapat merebut gelar Kakak dari adik-adikmu dari dirimu, tetapi, jika itu yang Nona inginkan, maka, jangan sungkan bersikap seperti seorang adik di depan ku," ucap Lein dengan senyum serta usapan lembut yang mengusap kepala Zerlicia.


"Begitukah?", dengan sedikit terharu, Zerlicia bertanya kembali tanpa mengharap balasan, "Aku senang, terimakasih, Kak!", ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ngomong-ngomong, Rally, rambutmu yang dulu biru, sekarang jadi merah... perpaduan merah dan hitam ini... apa mungkin...?"


"Apa mungkin, aku akan segera mengeluarkan tanduk... begitu kah?", ujar Zerlicia, memastikan apa yang Lein ingin katakan.


"Yah, aku telah hidup kembali sebagai seorang iblis, sedikit tanduk dan buntut tidak akan menghilangkan kecantikanku kok, santai saja, Kak," lanjut Zerlicia sembari berjalan berkeliling ibu kota.


"Rally..."


"Ya?"


"... tidak, lupakan. Bagaimana kalau kita makan siang? Sudah hampir waktunya, bukan?"


"Ah, kau benar."


Dan akhirnya, mereka berdua pergi ke sebuah restoran terdekat yang mereka temui. Di sana, terlihat ramai sekali pengunjung berdatangan, baik itu bangsawan, warga biasa, dan pengembara. Namun...


Itu semua dibedakan secara sepihak.

__ADS_1


"Yah, seperti kata Seyla. Mereka sangat rasis terhadapnya menengah kebawah. Untungnya kita pengembara jadi..."


"Meskipun begitu, Rally, aku rasa ini sama saja."


"Hmmm."


Mereka duduk di meja makan, di ruangan khusus pengembara. Adapun ruangan khusus rakyat jelata, dan ras lain. Yang spesial di tempat tersebut, adalah bangsawan di ruang utama restoran tersebut.


Setelah makan, Zerlicia dan Lein, berniat pergi berkeliling kembali. Mereka berjalan berkeliling ibu kota sampai hari mulai gelap.


"Rasanya.... tidak jauh berbeda dengan kehidupan luaran sana. Tetapi, di sini, meskipun rakyat terdiskriminasi, keamanan mereka terjamin. Beda dengan kota-kota di luar ibu kota Kerajaan Ralley," ujar Zerlicia sembari berguling-guling diatas ranjang penginapan.


"Sayangnya, itu sudah menjadi hukum rimba. Baik di hutan maupun di lingkungan manapun, hukum rimba selalu berlaku. Dimana, yang diatas selalu memimpin," ucap Lein.


"Kau benar... Tapi, meskipun sudah berkeliling, aku masih belum puas," keluh Zerlicia.


"Kenapa?"


"Di Negara busuk ini, aku yakin pasti terdapat pengkhianat negara yang berniat melakukan kudeta."


"Atas dasar apa kamu menyimpulkan...?", Lein mempertanyakan kembali.


"Mudah saja, pertama, soal ramalan, meskipun kabar ditutup-tutupi, tapi pasti ada seperkian persen orang yang mengetahuinya, lalu membuat organisasi khusus untuk menggulingkan pemerintahan. Itulah yang aku pikirkan!", ujar Zerlicia dengan sangat percaya diri.


"Niatnya aku ingin bergabung dengan mereka tapi, aku tak menemukan mereka. Sayang sekali~" ucap Zerlicia seraya mendesah lelah.


"Besok bisa dicari lagi bukan? Jangan sedih, besok pasti kita akan menemukannya," kata Lein yang berniat menghibur diri Zerlicia.


"Terimakasih."


Ketika mereka hendak pergi tidur, suara ketukan terdengar dari dalam kamar yang mereka sewa. Seketika, Zerlicia memasang sikap waspada supaya tidak terjadi sesuatu yang tak diinginkan, sembari membuka pintu kamar dan melihat, siapa orang yang mengetuk kamarnya di tengah malam yang sunyi.


"Kamu...?!", Zerlicia terkejut dengan apa yang ia lihat, seorang gadis berkerudung merah, dengan rambut perak serta mata merah darah yang menyala, aku rasa dia vampir.


"Aku... merasakan energi mencekam dari dirimu, jika boleh ku tahu... Siapa dirimu, Nona?", dengan gagap, dia memberanikan diri me mempertanyakan siapa diri Zerlicia itu.


"Rally, Rally Hannsa."


"Aku, Hana! Hana Lione."


"Lalu?"


"Anu.... aku tak sengaja mendengar tadi, kamu berniat untuk melakukan kudeta, benar?", Dia mendengar semua pembicaraan Zerlicia dengan Lein. Semuanya, dari awal hingga akhir.


"Sejauh apa kamu mendengarnya?", dengan tegas, Zerlicia memaksa Hana berbicara.


"Maaf!!" seketika Hana takut lalu meminta maaf dengan cukup kencang.


Karena teriakannya itu, Zerlicia membiarkan Hana masuk ke dalam agar mereka tidak menggangu penghuni kamar lain.


"Jadi?"


"Jadi?.... Ah, jadi, aku kesini un..... Kau mengerikan!!!" Hana berniat menjelaskan tujuan dirinya mendatangi diri Zerlicia, namun... ketika ia merasakan tekanan yang hebat dari dalam diri Zerlicia, ia seketika berteriak kembali.


"Apaan sih, dek, jangan berisik di tengah malam seperti ini!", ucap Lein dengan nada yang cukup kesal lantaran tidurnya terganggu karena teriakan Hana tersebut.


"Loh, Rally, siapa dia?"


"Hmmm, gatau."


"Hana!!! Tolong perkenalkan aku kepada Kakakmu dengan baik!"


"...." Zerlicia hanya terdiam sembari memalingkan wajahnya.


"Jadi, kamu mau apa, tadi?"


"Begini... Rally, um, bisakah aku membantumu menjalankan rencana mu untuk merevolusi negara ini? Aku..... "


"Tidak!" langsung dijawab, Zerlicia merasa jika kejadian yang ia alami barusan, akan berakhir sama seperti apa yang terjadi dua tahun sebelumnya.


Zerlicia tak ingin ada seseorang pun yang mengkhianatinya lagi. Ia tak ingin mengulangi kesalahannya kembali.


"Aku tak akan mengkhianati mu! Jangan khawatir!", dia tetap memaksa Zerlicia untuk menerimanya.


"Sekali tidak tetap tidak! Pergi dari sini!", ucap Zerlicia dengan ketus menatap tajam ke arah Hana.


"....." Hana yang ketakutan akan ekspresi Zerlicia, dengan berat hati, ia berdiri kemudian dirinya meninggal kamar yang Zerlicia sewa.

__ADS_1


Namun....


"Benar!! Budak! Kalau kamu tak percaya, kau bisa menjadikanku sebagai budakmu! Dengan demikian, aku tak akan bisa mengkhianati mu!", ucap Hana dengan sangat percaya diri atas ide cemerlang yang ia ucapkan.


"...."


"Maaf—"


Sebenarnya, Hana sangat memerlukan bantuan Zerlicia, namun, Zerlicia tak memberinya kesempatan untuk mengutarakan niat aslinya.


"Tunggu—!?" secara tiba-tiba, ketika hendak keluar dari kamar, Zerlicia mencekik leher Hana dari belakang kemudian ia membanting Hana ke atas tempat tidur.


"KENAPA KAU INI!!!?", teriak Hana dengan raut wajah takut yang amat dalam.


"Buka bajumu!"


"Hah?!!... Tunggu.... CABUL!!!! Kau pikir aku apaan?!"


Ketika Hana mengatakan hal tersebut, Zerlicia dengan ekspresi seram, menjulurkan tangannya ke arah Hana di depannya. Zerlicia akan menyerang Hana jika Hana tak menurutinya.


"Buka!"


"......" dengan berat hati, Hana membuka bajunya, kini ia duduk sembari memeluk kakinya agar tubuhnya tak dapat dilihat oleh siapapun.


"Cih.... KALAU BEGINI, MANA BISA AKU MELAKUKAN NYA!!!!" dengan sangat kasar, Zerlicia menarik lengan kiri Hana kemudian menjatuhkan dia ke tempat tidur.


"Kakak, tolong pegang tangannya!" karena sangat menggangu bagi Zerlicia, ia memerintah Lein untuk memegangi kedua tangan Hana agar ia tidak menghalangi Zerlicia melakukan sesuatu.


"Baik!"


"Tunggu, kalian?!! Kalian mau apa?!!! Berhenti.... kalian masih normal kan?!!" raut wajah takut, terpancar di wajahnya, Hana benar-benar ketakutan, dia tidak berpura-pura, bahkan, ia sampai menangis sembari memohon kepada Zerlicia untuk berhenti.


"Pertama darah perawan? Hana, kau masih perawan?!" ucap Zerlicia membuat Hana semakin ketakutan.


"Y--ya...."


"Eh, padahal usiamu mungkin lebih dari 100 tahun loh, kamu vampir, bukan?" Ucap Zerlicia sembari mempersiapkan peralatan yang diperlukan.


"Apa yang ingin kamu lakukan.. ?!" dengan mata yang berair, Hana mempertanyakan niat Zerlicia melakukan hal tersebut.


"Kontrak budak.... berbeda dengan apa yang biasa dilakukan oleh pedagang budak, kontrak budak yang aku pelajari dari Seyla, lebih kuat dan pastinya, budakku akan menuruti keinginan ku tak peduli jika ia tidak menyukainya. Ia akan tetap melakukan perintahku!"


"Seyla...?" Hana bertanya-tanya.


"Archela, Ratu iblis."


"Huh?!"


"Aku berniat melakukan hal ini ke seseorang yang mengkhianati ku namun, aku pikir, aku butuh kelinci percobaan. Secara, teknik ini masih dalam masa perkembangan!"


"Tung... tunggu... kau bercanda... kan?"


"Tidak!"


"DASAR IBLIS!!!!"


*****


Keesokan paginya, Zerlicia langsung saja menguji coba teknik kontrak budak yang ia lakukan ke diri Hana.


Apakah kontrak itu benar-benar dapat dipercaya? Atau mungkin, sama saja seperti kontrak yang dibuat oleh pedagang budak? Zerlicia akan segera mengetahuinya.


"Bilang, woof," Zerlicia memerintah Hana untuk menggonggong layaknya anjing, awalnya Hana menolak namun, setelah ia merasakan hukuman akibat menentang perintah majikannya, mau tak mau, Hana harus melakukan nya.


"Woof."


"Anak pintar~" ujar Zerlicia dengan senyum puas di wajahnya.


"Maaf jika semalam aku terlalu kasar, Hana. Sesuai ucapanmu, aku memperbudak dirimu. Jadi, akan kugunakan kamu dalam misi kudeta yang akan aku lakukan."


"...." dengan mata yang berkaca-kaca, Hana memalingkan wajahnya..., "Ya," kemudian ia memberanikan diri untuk menatap Zerlicia yang kini statusnya, menjadi majikan yang segala perintahnya, tak boleh ditentang sama sekali.


"Setelah mandi, mari kita percantik dirimu, sayang sekali... padahal kamu manis seperti ini. Tapi, pakaianmu kurang cocok untukmu," ujar Zerlicia membelai dagu Hana layaknya membelai hewan peliharaan.


"Aku melakukan hal ini hanya untuk menutupi identitas ku sebagai vampir. Tapi, jika Anda memaksa, maka aku akan menuruti nya. Hidup dan mati ku, kini berada di tangan Anda," ucap Hana yang tampak menikmati belaian yang Zerlicia berikan.


"Itu cukup sulit... padahal kamu imut, tapi kamu tak bisa berpakaian imut.... kerajaan ini sangat buruk!"

__ADS_1


"Saya tahu itu, Nona."


__ADS_2