
Colloseum merupakan sebuah tempat dimana para gladiator bertaruh nyawa hanya demi menghibur penonton. Mereka bertarung hingga titik darah penghabisan, bertarung melawan monster kuat, maupun sesama manusia. Mereka diwajibkan membunuh lawan agar mereka bisa menang.
Hadiah menang yang ditujukan untuk para gladiator sangatlah menggiurkan, oleh karena itu, banyak manusia kalangan menengah ke bawah yang mati di dalam arena Colloseum tersebut.
Akan tetapi, tak semua gladiator merupakan sukarelawan. Adapun para budak yang dipaksa mengikuti pertarungan berdarah tersebuh hanya demi majikan mereka yang gila dengan harta.
Seperti dalam kasus Kakaknya pelayan, mereka ditangkap secara paksa dan dipaksa untuk bertaruh nyawa atas sesuatu yang tidak pasti. Rumor mengatakan bahwa semua yang tertangkap, dijanjikan oleh para pasukan agar mereka tidak mengusik keluarganya. Akan tetapi, kenyataan tak semanis itu. Toh mereka juga telah mati, orang mati tak mungkin dapat bicara dan menagih janji.
Setengah hari Zerlicia berjalan ke ibu kota negara yang memulai semuanya, dimulai dengan kematian kedua orang tuanya, serta kondisinya yang harus bertahan seorang diri selama kurang lebih 7 tahun ini.
Bertahan diri dengan membesarkan ke-25 anak-anak yang ia bawa, tentunya tidak mudah, apalagi, Zerlicia seorang perempuan!
Meskipun masih beranggapan jika kekuatannya belum cukup, namun Zerlicia tetap memaksakan diri untuk segera mengakhiri dendam pribadinya yang telah lama ia pendam.
"Zerfa Ahna? Apa kamu yakin ingin menjadi salah satu gladiator di Colloseum ini?"
"Iya," jawab Zerlicia. Zerlicia memiliki rencana. Yaitu....
Pertama, ia akan mencoba mendaftar menjadi seorang gladiator. Ia sangat yakin jika perempuan dan laki-laki dibedakan. Zerlicia sangat yakin jika ia mendaftar sebagai wanita, ia akan langsung bertemu dengan kekasih kakak si pelayan.
Itulah rencana pertama Zerlicia.
Untuk rencana kedua, Zerlicia akan membuat kekacauan lalu membawa pergi seluruh budak yang terpaksa menjadi gladiator. Yah, rencana kedua hanyalah rencana cadangan jika ia tidak diterima karena penyamarannya terungkap.
Karena dia diterima, otomatis Zerlicia akan dibawa menuju ke asrama tempatnya beristirahat di malam hari. Ia sangat yakin jika kekasih Kakak si pelayan berada di sana.
"Rambut merah panjang, tatapan ganas, dia bagaikan kucing liar.... astaga, yang dia tuliskan di sini sama sekali tidak aku pahami. Apa boleh buat.... rambut merah panjang....", dia berada di depannya.
Perempuan berambut merah panjang yang mengenakan pakaian sexy yang disediakan oleh pihak penyelenggara acara.
Dengan tatapan tajam, perempuan tersebut menatap ke arah keluar. Bagaikan ia sedang merencanakan sesuatu untuk membawa kekasihnya pergi dari tempat bodoh semacam itu.
"Anu....", Zerlicia mencoba mengajaknya berbicara. Namun tetapi, hasilnya nihil. Sepertinya perempuan itu enggan berbicara pada sesiapapun.
"Aku ke sini untuk membebaskan kamu dengan kekasihmu," ucap Zerlicia yang langsung mengatakan niat awalnya.
__ADS_1
"....", perempuan itu seketika terdiam dan berbalik menatap Zerlicia. Perlahan ia mendekati Zerlicia dengan tampang mengerikannya, Perempuan itu berbisik pada Zerlicia.
"Diam, atau penjaga akan mengetahui rencanamu!", bisiknya kepada diri Zerlicia.
"...", Zerlicia sontak terdiam mendengarnya. Dia terpana dengan tampang keren yang perempuan tersebut pancarkan kepada dirinya.
"Jadi, katamu kamu berniat mengeluarkan aku? Apa itu perintah dari Si kecil Elsa?"
"Kau benar-benar mengenalnya?," ucap Zerlicia dengan wajah terkejut.
"Gadis selucu itu, dia sangat populer. Jadi, apa yang kamu rencanakan. Selain itu, siapa dirimu?"
"Zerlicia Namsaka. Untuk nama panggung ku, aku menyamarkannya menjadi, Zerfa Ahna."
"Zerfa.. mari bicarakan ini lagi nanti. Aku punya pertarungan."
"Eh?!", tampak terkejut, Zerlicia merasa khawatir dengan keselamatan Kekasih dari kakaknya Elsa.
Meskipun begitu, ia tidak berhak menghentikan perempuan itu. Yang dia bisa hanyalah berdoa untuk keselamatannya. Selain itu, para gladiator diperbolehkan melihat gladiator lain bertarung. Zerlicia melihat perempuan itu bertarung dengan seorang pria berbadan besar.
Hanya dengan sebuah pedang di tangannya, Perempuan itu berputar-putar di udara untuk menghabisi lawannya.
Hampir saja tubuhnya terpecah belah karena gada besar yang dibawa oleh lawannya.
Beruntung, ia berhasil menghindar tepat sebelum gada tersebut mengenai wajahnya. Jika ia terkena serangannya, dia akan langsung meninggal seketika.
Dirinya menggunakan kaki sebagai tumpuan untuk melompat kesamping. Karena hal itulah, ia berhasil menghindari serangan lawannya dan lalu, menyerangnya balik.
Perempuan berambut merah tersebut, menebas tangan dari pria yang memegang gada tersebut. Sontak setelah terpotong, pria besar tersebut secara perlahan mundur dengan darah yang terus mengalir dari kedua tangannya.
Dengan kata lain, dia telah berakhir!
"Pemenangnya, Wayra!!! Perempuan manis berambut merah ini sekali lagi menghabisi lawannya dengan cara yang amat brutal! Saya jadi merinding, para pemirsa sekalian," ucap pembawa acara menggunakan telepati ke otak para penontonnya.
"Kau, bersimbah darah..."
__ADS_1
"Ah, tak apa, ini sudah biasa," ucapnya menjawab kekhawatiran Zerlicia.
Sejauh ini, Zerlicia pernah melawan begal dan pernah juga membunuh manusia namun, saat ia melihat manusia lain membunuh manusia, entah mengapa ia terus-menerus merasa gelisah. Seperti, ada sesuatu yang membangkitkan kegelisahan di dalam hatinya. Namun Zerlicia tidak tahu apa yang terjadi dengan tubuhnya.
"Pertarungan selanjutnya, penantang baru, Zerfa Ahna, melawan monster kelas A, BisonLion. Monster dengan tubuh besar, perpaduan antara banteng dengan singa! Akankah penantang baru kita selamat? Atau mungkin, ia hanya pecundang lainnya yang menyerah? Kita tak akan tahu sebelum melihatnya sendiri," seusai ia selesai dengan penjelasannya, Zerlicia dengan tekad yang kuat, berjalan menuju ke arena.
Saat berada di tengah-tengah ribuan penonton, ia merasa sangat sekali ingin muntah. Ia tak tahan melihat berbagai bajingan yang melihat orang lain tersiksa hanya demi hiburan semata.
'Aku tak bisa menggunakan senjataku, aku harus bertahan dengan pedang kayu?! Yang benar saja!', keluh Zerlicia sembari memegang pedang Kayu di tangan kanannya.
'Apapun yang terjadi, BisonLion adalah buruanku setiap hari. Jadi aku sudah hafal dengan pola serangannya,' ucapnya di dalam hati dengan penuh percaya diri.
Ia kemudian memasang sikap siaga dan mulai memprovokasi banteng liar tersebut.
"Heh, aku rasa, ini akan berbeda dengan apa yang pernah aku rasakan," ucapnya tanpa sadar. Dan yang paling memalukannya lagi, ucapannya terdengar hingga ke sepenjuru tribun penonton. Ini merupakan salah satu kemampuan dari sihir komunikasi.
Banteng tersebut mulai menyerang. Dengan kecepatan yang cukup tinggi, banteng tersebut menyeruduk Zerlicia yang berdiri di depannya. Untung saja, Zerlicia dengan sigap menghindari serangan banteng liar tersebut kemudian memberikan serangan balik.
Akan tetapi, sungguh naas. Karena dia hanya menggunakan pedang kayu, dirinya tak mungkin bisa melawan BisonLion. Kulitnya sangat keras, selain itu, jika berdekatan dengannya, kau dapat terkena gigitan singa yang akan membuat mu cacat dalam hitungan detik.
Pedang kayu yang niatnya Zerlicia tebaskan ke punggung BisonLion, seketika patah ketika menghantam tubuh BisonLion yang keras. Dengan rasa terkejut, Zerlicia melompat kebelakang untuk menghindari serangan vatal yang disebabkan oleh gigi tajam singa di dalam banteng tersebut.
"Benar-benar merepotkan. Tapi, karena tidak ada peraturan, dilarang menggunakan sihir, jadi aku yang menang!," Ia menjulurkan tangannya mengarah ke BisonLion yang berlari menuju dirinya.
Dengan singkat, Zerlicia mengeluarkan panah air yang berguna untuk menusuk tubuh BisonLion tersebut hingga monster itu, mati.
"Uwaaaa, sungguh mengejutkan! Saya tidak pernah berpendapat jika akan ada peserta yang mampu menggunakan sihir... Zerfa Ahna, penyihir pertama yang berada di Colloseum ini! Baik baik, silahkan putuskan akan bertaruh berapa pada pendatang baru ini."
Bertaruh? Itulah yang Zerlicia pertanyakan. Apakan gladiator semacam tempat untuk berjudi? Entahlah yang jelas, tujuannya sekarang ini adalah, untuk mengeluarkan korban gladiator paksa di dalam Colloseum tersebut.
"Hebat juga, kamu."
"Iya-iya, aku tahu di tempat ini, tidak terdapat surat kabar dan semacamnya. Sudah jelas kamu tidak tahu rumor tentang Crazy Women."
"Crazy Women? Hahaha, aku tahu itu," ucap Wayra dengan senyum tipis di wajahnya.
__ADS_1
"Aku berharap padamu, Crazy Women."
Begitulah ucapnya sebelum pada akhirnya, Zerlicia dan Wayra dibawa ke kamar mandi untuk membersihkan diri.