Creations Isekai

Creations Isekai
Vol. 01 Bab. 12 : Kenyataan yang pahit


__ADS_3

Ketika Zerlicia membuka matanya, ia tersadar, bahwa dirinya masih berada di dalam dungeon tersebut. Terlebih, Zerlicia mendapati mimpinya, menjadi sebuah kenyataan yang harus ia terima.


"Aaaa... apa yang akan kamu perbuat dengan ku? Kemana pakaianku?"


"Aduh.... kau bangun terlalu cepat! Baru saja aku hendak mengganti pakaianmu."


"Huh?!"


Ketika Zerlicia menyadari, tangan kanannya masih berada di tempatnya, ia tak kehilangan tangan kanannya. Dan ketika ia menyadari hal itu, Zerlicia berfikir, jika ini sebuah mimpi yang nyata!


Benar, ini hanya mimpi!


"Berhenti!!! Apa yang hendak kamu pasangkan pada tubuhku?!"


"Apa? Hanya pakaian biasa, selain itu, aku belum mengatakannya ya? Zerlicia Namsaka, karena kamu kalah dariku, kamu harus menjadi hewan peliharaan ku selamanya."


"Hah?!", Zerlicia ternganga, kedua tangannya diikat dengan rantai yang dipasangkan pada sebuah besi di atasnya, dengan kondisi berlutut di lantai, kedua kaki Zerlicia ikut dirantai ke sebuah besi agar Zerlicia tidak kabur dari sana, kemudian, Zerlicia dipakaikan kalung dengan rantai.


Rasanya seperti de javu. Zerlicia pernah mengalami kejadian semacam ini dulu. Beruntung ia dapat kabur akan tetapi, kali ini, ia benar-benar tak bisa berbuat apa-apa lagi.


"Indahnya,"


"Lepaskan aku!!!"


"Sudah-sudah, santai dulu dong. Kamu satu-satunya manusia yang berhasil memojokkan ku, aku kagum padamu jadi, aku tak akan menyiksamu jika kamu tidak melakukan kesalahan."


"Kumohon..."


"Tenang saja, aku pencinta hewan peliharaan kok...."


"Kumohon keluarkan aku!", ujar Zerlicia membuat Archela salah kaprah.


"Kau menangis?", tampak terlihat di wajahnya, ekspresi menangis Zerlicia, membuat Archela tercengang.


"Kumohon... aku tak bisa berlama-lama di sini..."


"Tapi, ini kesepakatan kita!"


"... Kumohon...."


"....", Archela kebingungan menyikapi keinginan Zerlicia tersebut.


"Aku akan melepaskan dirimu setelah kamu patuh padaku!"


"Baiklah! Jika itu kemauanmu! Aku harus segera mengatasi masalahku!"


".... Balas dendam?"


"Itulah tujuanku datang ke sini," ucap Zerlicia, "Kekuatan ku saja belum cukup untuk merubah negara busuk menjadi negara layak huni. Memang benar aku telah keterlaluan padamu tapi,"


"Zerlicia Namsaka, dengarkan aku,” disaat Zerlicia hendak menceritakan semuanya, Archela seketika menghentikan ucapan Zerlicia dengan memegang kedua pipinya.


"Aku tak tahu apa masalahmu tetapi, dari yang aku lihat dari tatapanmu sekarang, kau sangat putus asa?", ucapnya.


"Aku akan melakukan hal senekat apapun jika hal itu dapat membuat adik-adikku bahagia."


"Apapun? Jadi kamu siap menjadi budakku sepenuhnya?"


".......", Zerlicia terdiam, sudah jelas ia tak mau menjadi seorang budak namun, kenyataan memaksanya memilih iya.


"Apapun! Apa kamu bersedia melakukannya untukku?!", ucap Zerlicia dengan semangat yang membara.


"Apapun untuk hewan peliharaan baruku!"


"....." Zerlicia kembali terdiam.


"Dengar, aku tahu dunia ini kejam, tak hanya pada dirimu, melainkan pada diriku juga."


"....." Zerlicia hanya mampu menatap kosong ke arah bawah.


"Iblis selalu dipandang rendah oleh para manusia. Tak hanya ras iblis saja, ras Elf, ras Demi-human, ras dwarf dan sebagainya juga demikian. Di dunia yang busuk ini, menegakkan keadilan bukanlah sebuah hal yang mudah. Meskipun menggunakan kekuatanku sekalipun, hukum alam selalu menghakimi yang dianggap salah sejak awal," ucap Archela memaksa Zerlicia menatap matanya.

__ADS_1


"Baiklah...."


"??", Archela terkejut ketika Zerlicia tiba-tiba mengiyakan sesuatu.


"Jika hal itu membuat adik-adikku bahagia, aku akan melakukan segalanya," ucap Zerlicia dengan rantai di kaki tangannya.


"Kau.... sebenarnya apa yang membuatmu hingga menjadi seperti ini? Bahkan kamu sampai membuat iblis berhati keji ini kasihan pada dirimu... Zerlicia, kau sangat malang."


"Jadi, kapan kamu akan melakukan nya?!"


".....", Archela terdiam.


"Kau berbohong...." Ucap Zerlicia sembari menggembungkan pipinya.


"Hahaha, apa kamu sedang mencoba untuk bersikap imut padaku?"


"..... Pengorbanan diperlukan di dunia yang keji ini, bukankah begitu, Archela? Aku harus mengorbankan diriku supaya adik-adikku bahagia dan orang terdekatku memiliki kehidupan yang lebih baik lagi.


"Dengan keinginan sebesar itu, tentunya seseorang harus ditumbalkan agar keinginan ku dapat tercapai. Aku hanya ingin mereka bahagia, mereka dipasrahkan padaku, jadi aku harus sepenuhnya...."


"Ahah... Sudah cukup dramanya."


"Huh?!"


"Kamu pikir aku akan benar-benar melakukan nya? Bodoh sekali kamu ini. Semua yang aku katakan sejak awal tadi, hanyalah kebohongan!"


"Tidak... ?!", Zerlicia seketika merinding ketika Archela mengambil sebuah batang kayu yang cukup besar dan panjang.


"Mari kita lihat, apakah ini muat atau tidak?"


"Tunggu, kau berniat membunuhku?! Benda itu tentunya tidak boleh dimasukkan ke sana!"


"Siapa yang melarangnya? Kehidupan barumu baru saja dimulai, Zerlicia."


"Tidak...."


*****


Wayra dan yang lain masih menunggu kepulangan Zerlicia dan berharap Zerlicia kembali dengan selamat. Mengingat Ratu iblis ialah seorang iblis yang begitu keji, setiap harinya, Wayra merasa was-was karena tak menerima kabar sedikitpun dari diri Zerlicia.


"... Jangan khawatir, dia pasti akan kembali," ucap Lein menyemangati Wayra yang hampir putus asa menunggu kepulangan Zerlicia.


"Tetapi, benar kata Kakak. Kita seharusnya sudah berada di panti. Kita sudah terlalu memaksakan kehendak kita kepada Zerlicia. Kita harus segera membalas budinya."


"....." Lein terdiam dengan rasa kekhawatiran yang membuat dadanya terasa sesak.


"Mungkin dirimu benar.... sekarang sebaiknya kita bersiap, kita akan pergi nanti malam," ucapnya.


Kemudian mereka bertiga, mengemasi barang-barang mereka kemudian menunggu malam datang supaya mereka dapat menyelinap kabur ke sebuah panti asuhan tempat semua adik Zerlicia tumbuh di sana.


Mengendap-endap, mereka bertiga masih bersikap seperti biasanya agar tidak dicurigai oleh pedagang yang mereka tumpangi. Lein yang memimpin, dirinya tahu dimana tempat Zerlicia menitipkan ke-25 adik-adiknya. Panti yang terletak di negara seberang, Lein sedikit merasa cemas memikirkan tentang diri Zerlicia. Namun meskipun begitu, dirinya tak boleh menunjukkan rasa cemasnya di depan kedua orang yang baru ia kenal.


Perjalanan memakan waktu semalaman penuh, saat pagi datang, mereka baru saja sampai di kota dekat tempat panti asuhan berdiri.


Lein dan yang lain sengaja turun di sana supaya para pasukan istana tidak mengetahui tujuan akhir buronan yang mereka cari. Jika mereka langsung ikut sampai ke panti asuhannya, otomatis adik-adikku Zerlicia akan terkena masalah karena ulah mereka.


"Sudah sampai?"


"Di depan sana," Lein menjawab pertanyaan Wayra yang berjalan di belakangnya dengan pedang di pinggangnya, serta pakaian petualang yang cukup keren, lengkap dengan tas pahanya.


Sementara itu, Elsa tampak seperti enggan memakai pakaian petualang yang cukup terbuka itu. Untungnya, Elsa hanya menyamar sebagai petualang bersama dengan diri Lein. Tak mungkin bukan? Seorang gadis biasa, berpergian dari kota ke kota tanpa status sebagai seorang petualang. Mereka pasti akan dicurigai jika nekat berpergian tanpa menyamar sebagai seorang petualang.


Kemudian ketika mereka sampai, Lein langsung saja menjalin komunikasi dengan ibu panti dan bertanya, "Apakah tempat ini merupakan tempat dimana Zerlicia tumbuh dengan baik?", Lein bertanya dengan sangat sopan.


Kemudian dijawab oleh Ibu panti dengan senyumannya yang lembut, "Iya, Zerlicia Namsaka. Anak itu sangat membantu kami."


Lein seketika lega mendengar jika mereka pergi ke tempat yang tepat namun... kelegaan di dalam hatinya, hanya bertahan sebentar sampai...


Ibu panti bertanya, "Apa kalian teman-teman Zerlicia? Oh ya, kenapa Zerlicia tidak ikut bersama? Seharusnya anak itu memperkenalkan kalian pada diriku," ucap Ibu panti membuat Lein terdiam sejenak.


"Zerlicia..." rintih Lein.

__ADS_1


"Zerlicia sedang berpetualang lebih jauh lagi. Dia meminta kami melihat adik-adiknya," ucap Wayra memecah keheningan.


"Oh! Kalian sangat baik ya?"


"Haha... aku membawakan kalian oleh-oleh, mau dimakan bersama di dalam?", Wayra bertanya sembari menunjukkan sekeranjang penuh biskuit yang ia buat.


"Meskipun ini sudah dingin, aku harap kalian menerimanya," ucap Wayra meminta maaf secara tidak langsung karena ada kekurangan di dalam buah tangannya itu.


"Tidak apa-apa kok, kami menerima pemberian seseorang dengan lapang dada, justru kami malah bersenang hati karena kalian datang membawakan kami biskuit. Anak-anak sangat jarang memakan biskuit jadi, aku rasa ini akan menjadi hati terbaik yang mereka alami," ucap Ibu panti selanjutnya menyuruh Wayra dan yang lain masuk ke dalam.


Melihat ke sekeliling, mata Wayra terfokuskan pada seorang remaja laki-laki yang berlatih pedang di sana.


"Namanya Rleas Namsaka."


"Namsaka....?"


"Tidak, semua anak yang Zerlicia bawa, adalah anak tanpa keluarga. Mereka semuanya ingin, nama belakang mereka diisi dengan nama belakang Zerlicia."


"Oh...." Wayra berfikir jika Rleas adalah adik kandung Zerlicia. Namun tetapi, ternyata bukan seperti itu.


Jika benar Rleas merupakan adik kandung Zerlicia, maka sulit baginya menceritakan kebenaran yang terjadi terhadap diri Zerlicia.


"Di sini juga terdapat anak dari berbagai usia, dan yang paling parahnya lagi, dulu panti ini hampir bangkrut. Namun disaat kabar kebangkrutan kami terdengar oleh Zerlicia, dia kemudian meminta izin untuk menjadi seorang petualang," ucap Ibu panti menceritakan tentang masa lalu Zerlicia ketika masih tinggal bersamanya.


"Jadi, panti ini berdiri karena uang yang Zerlicia hasilkan?"


"Benar, sejujurnya aku merasa tidak berguna di saat semua uang yang masuk, berasa dari anak yang kami rawat. Seharusnya kami 'lah yang memikirkan cara untuk mencari uang namun, anak itu, dia benar-benar menyayangi adik-adiknya."


"Jadi... Zerlicia itu, sesosok kakak yang baik?", Wayra bertanya dengan rasa bersalah yang mulai ia rasakan.


"Benar... tapi, aku tetap menentang petualangannya hingga sekarang. Keselamatan nya ketika menjadi petualangan tidak akan terjamin lagi, aku khawatir, Zerlicia akan pergi tanpa berpamitan dengan adik-adiknya untuk yang terakhir kalinya."


"Dengan kata lain... Anda selalu khawatir jika terjadi sesuatu pada Zerlicia?"


"Aku ibu sambungnya sih."


Ketika mereka sampai di suatu tempat, Wayra dan yang lain disuruh duduk menunggu Ibu panti mengumpulkan semua anak-anak panti yang ada.


"25 pas?"


"Benar, di panti ini hanya terdapat anak-anak yang Zerlicia bawa. Sejak Zerlicia datang ke sini untuk pertama kalinya, kami telah dilanda dengan kebangkrutan. Beruntung kami menerima sumbangan dari berbagai bangsawan sampai kemudian, Zerlicia mulai mengirimkan uangnya untuk diri kami."


"...." ketiganya seketika terdiam, hanya Wayra saja yang berani berbicara. Mengingat ia yang paling tua di sana, Wayra harus mewakili keduanya berbicara.


"Anu..."


"Hmm?"


"Maafkan aku!", Wayra seketika bersujud memohon ampunan.


"Kenapa tiba-tiba?"


"Aku yang salah! Aku terlalu memaksanya menuruti keinginan ku! Sebenarnya, Zerlicia sedang berpetualang mencari ajal," dengan tangisan yang mengalir di matanya, Wayra mulai menjelaskan semuanya kepada mereka.


"... apa yang kau katakan?", tanya Ibu panti.


"Aku telah salah memintanya melakukan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan. Dan karena kesalahanku... dia... dia... dia sekarang pergi menemui Ratu iblis!"


"Hah?!"


"Aku yang salah! Aku akan menggantikan peranan Zerlicia!! Aku mengerti, tidak ada gunanya aku meminta maaf! Tetapi, tolong maafkan aku!! Aku telah salah karena meminta nya melakukan sesuatu yang mustahil dilakukan manusia biasa," ucap Wayra yang tidak berani menatap ke atas.


"Kakak...?! APA YANG KAU KATAKAN MENGENAI KAKAKKU?!", seketika, Rleas tak sengaja datang ketika Wayra mengakui kesalahannya. Sontak saja, Rleas marah besar terhadap diri Wayra hingga menodongkan pedang kayunya ke diri Wayra.


"Jangan berbicara sembarangan! Kakakku bukanlah orang selemah yang kau kira!"


"Aku awalnya juga berfikir semacam itu!!! Sampai aku menyadari, Ratu iblis lebih kuat darinya! Aku sampai tidak yakin jika Zerlicia mampu..."


"Jangan berbicara sembarangan, pelacur!"


"Rleas! Kau tak boleh berkata seperti itu ke seorang perempuan!"

__ADS_1


"Intinya, aku yakin Kakak pasti akan kembali!", teriak Rleas yang tak menerima kenyataan bahwa kecil kemungkinan bagi Zerlicia untuk kembali dengan selamat.


Setelah ia berteriak, seketika Rleas berlari keluar dengan mata yang menahan air mata.


__ADS_2