
Sial, aku tak sengaja mengatakannya pada Ryspa?! Gimana nih, jika tak aku jawab, dia mungkin akan memaksaku menjawab. Sebaliknya, jika aku menjawab, aku akan terkena masalah.
Bagaimana bagusnya...
"Ada sedikit perselisihan antara diriku dengan negara tempatku tinggal. Singkatnya, aku butuh kekuatan Ratu iblis untuk mewujudkan impianku."
"Oho, impian? Atau mungkin, balas dendam?", ia bertanya dengan sangat menyebalkan!
"Balas dendam."
"Haha, kau tak bisa jujur ya? Tapi, kamu yang manja, lucu juga."
"Tolong lupakan kejadian semalam!!!", ahhhh, aku sangat malu!!!
"Baiklah, sekarang, kenapa kamu berkata jika kamu telah melihat kematian seseorang bernama Wayra. Dia orang yang menyuruhmu masuk ke dalam bahaya bukan? Kenapa kamu malah menghalangi nya untuk pergi darimu?", dia, bertanya kembali. Sungguh, apa aku memang seember itu ketika aku mabuk?
"Kumohon, jangan ceritakan ke sesiapapun."
".... Baiklah."
Aaaa Ah, sepertinya aku memang harus, ya?
"Ketika masuk ke dalam dungeon terlarang, aku selalu mendapati mimpi buruk tentang diriku yang disekap oleh Ratu Iblis, tak hanya disekap, setiap harinya aku disiksa olehnya. Lalu, aku juga bermimpi melihat kematian beberapa orang terdekat yang aku miliki sekarang. Dan, aku juga bermimpi melihat adik-adikku ditangkap oleh pasukan yang negara kirimkan ke panti asuhan...."
"Hmmm...."
Kumohon, jangan beritahukan hal ini kepada siapapun.
"Singkatnya, karena kamu ditakut-takuti oleh mimpi buruk, kamu hanya berhasil mencapai lantai tengah? Begitu 'kah?"
"Ah, ya..." aku tak bisa cerita kalau aku hampi saja sampai ke dasar.. ha ha ha.
"Yah terserah sih. Keputusan mu adalah pilihan yang kau pilih. Tapi, sesekali, kamu boleh memanjakan dirimu sendiri. Aku tahu dirimu ialah seorang gadis yang kurang akan kasih sayang. Mengingat kamu tumbuh dewasa di panti kasih sayang ibu panti pasti akan terpecah-pecah ke adik-adikmu juga. Aku mendengar kisah mu sebelumnya. Kamu hebat karena kamu mampu menghidupi ke-25 anak-anak yang kamu bawa ke panti.
"Aku tahu kamu telah berjuang dengan keras. Jadi, sedikit saran dariku, sesekali, kamu boleh mendapatkan hadiah atas apa yang kamu perbuat selama ini. Memanjakan diri sendiri tidak akan membuatmu lemah. Dari pada mentalmu terkikis lama-kelamaan, bukankah lebih baik kamu mengutarakan semuanya?
"Aku tak berhak mengatakan hal ini tapi, kamu berhak bahagia, Zerlicia. Sesekali, kamu boleh bersikap manja ke seorang yang membuatmu merasa nyaman," dia.....
Aku pikir Ryspa orangnya sangat dingin namun... ia, sangat perhatian... aku merasakan aura keibuan terpancar dari dalam tubuhnya, aku ingin sekali memeluknya dengan erat kemudian menangis di dekapan dadanya.
Aku ingin sekali melakukan hal itu....
__ADS_1
Apa aku boleh...?
Ketika aku mempertanyakan hal tersebut ke diriku sendiri, Ryspa melebarkan lengannya. Dia seakan-akan ingin aku memeluknya. Dia memahami perasaanku?
Tanpa aku sadari, tubuhku bergerak sendiri, aku masuk ke dalam pelukannya, ah, ini membuatku bernostalgia. Apa boleh aku menangis?
*Tentu saja, tidak ada yang melarang seseorang untuk menangis. Terlebih, jika luka yang kamu pendam, lebih besar dari kapasitas yang mampu kamu pendam, maka keluarkan saja!
Dari pada dirimu menjadi gila karena luka yang kamu pendam tersebut. Sesekali, kamu boleh menertawakan dunia seisinya. Silahkan keluarkan uneg-uneg kalian dengan berteriak kencang di alam lepas, aku yakin, kalian akan merasa sedikit lega setelah melakukan nya. Meskipun, ketika kalian kembali, kalian akan tetap bertemu kembali dengan kenyataan.
Sungguh kebahagiaan yang singkat namun, Ryspa benar, Zerlicia telah cukup berjuang. Ia berhak mendapatkan hadiah atas kerja kerasnya.
"Terimakasih, Ryspa. Meskipun hanya sesaat, aku bahagia bertemu dengan dirimu."
"Ya. Kamu boleh menghampiri ku kapan-kapan jika kamu sedang berjalan-jalan disekitar sini," ucapnya.
"Tapi, aku rasa itu cukup sulit..."
"Aku tahu itu. Tenang saja, aku akan selalu menunggu dirimu, Zerlicia."
Setelah itu, Zerlicia mengemasi barang-barang nya kemudian ia pergi ke negara asalnya dengan dibantu oleh kereta kuda yang disediakan oleh warga kota tersebut.
Oleh karena itu, dengan kereta kuda pemberian warga kota, Zerlicia pergi mengarah ke tempat nya pulang.
*Sampai dikasih kereta kuda... apa ini tidak terlalu keterlaluan? Yah, apapun itu, mereka orang-orang yang baik. Aku harap aku bisa menemui mereka suatu saat nanti.
Perjalanan pulang seperti perjalanan pergi, aku menghabiskan waktu sebulan agar bisa sampai ke rumah Lein, ah, kini jadi rumah ku sih. Ah tunggu, kalau kuingat ingat, mereka pergi ke panti asuhan dua bulan setelah keberangkatan ku. Kurasa aku ke panti saja.
Pokoknya, aku harus mengutarakannya dengan jelas.
***
"Zer—Zerlicia?!", apa ini? Kenapa wajah mereka tampak sedih, tidak hanya Lein, Wayra dan Elsa juga memelukku. Padahal bisa saja mereka langsung pergi karena aku tak sanggup menuruti keinginan mereka.
"Umm, maaf, semuanya," aku mengatakannya. Baiklah, mari kita lihat bagaimana reaksi mereka.
"Begitu kah? Yah, tentu akan jadi seperti ini," Wayra menjawab permintaan maaf ku.
"Kamu marah?"
"Tidak. Sama sekali tidak. Justru, aku bahagia karena dirimu kembali dengan selamat. Apa kamu tahu? Aku sangat menyesal karena memaksamu pergi sekarang... melihatmu berdiri di sini dengan selamat, aku telah cukup bahagia hanya karena itu, Zerlicia," Wayra mengutarakan penyesalan nya? Jadi, dengan kata lain, kita sama-sama memiliki penyesalan, begitu kah?
__ADS_1
"Kamu tak akan... meninggalkan ku bukan?", bicara apa sih aku ini, kami sekarang tidak lagi terikat perjanjian. Jadi untuk apa aku melarang mereka pergi?
"Jangan bodoh. Lagipula, jika kami harus pergi, memangnya kami harus pergi kemana? Aku ini lemah, aku tak ingin adikku menderita. Ini memang cukup memaksa lagi bagimu tapi, aku mohon, rawat kami dengan baik," ucapnya.
Tunggu sebentar, dengan kata lain dia sangat menyesal? Yah tapi, aku tak masalah melindunginya sih. Kerajaan jauh lebih mudah daripada Ratu iblis.
"Baiklah, untuk sementara, mari kita tinggal di panti bersama-sama?"
"Ya!"
Kami masuk ke dalam panti, terdengan teriakan histeris dari seluruh adik-adikku di panti, terutama, Rleas, dia sangat histeris ketika melihatku kembali dengan selamat.
"Sudah! Aku tak tahan lagi!! Kak, bawa aku bersamamu!"
"??"
Apa yang dia katakan? Rleas ingin ikut berpetualang bersamaku? Kalau tidak salah, dia pernah meminta ku mengajaknya saat ia baru belajar berpedang.
"Mungkin setelah kemampuanmu—"
"Ajak aku, kumohon!!! Aku tak ingin dirimu menderita lebih jauh lagi! Aku ingin meringankan beban yang kamu terima!"
"Tapi, dunia semacam itu .. Aku tak ingin adik-adikku, terutama kamu sampai harus menginjakan kaki di dunia yang penuh penderitaan ini."
"Aku tidak peduli! Aku ini laki-laki, aku tidak lemah!"
"Meskipun begitu, kamu...."
"Kenapa tidak, Zerlicia?"
Wayra, apa yang sebenarnya kamu katakan? Memangnya kamu tahu dunia petualang itu bagaimana? Aku telah menyaksikan, berbagai macam rasa putus asa selama menapaki jalan petualang ini.
"Rleas, aku ingin kamu fokus menjaga adik-adikmu," ucapku seraya mengusap kepalanya. Dia agak tinggi dariku.
"Aku ingin ikut!!", wah, dia merengek? Mana yang katanya laki-laki tadi?
"Baiklah baiklah, setelah aku beristirahat sejenak, ayo kita mulai pelatihan pertama mu!", ucapku. Dari pada dia semakin merengek-rengek, lebih baik aku menuruti keinginan nya saja. Toh, aku juga diuntungkan kalau-kalau para pasukan datang dan mulai mengacaukan panti ini.
"Baik!"
Rleas, dia anak yang cukup menarik. Dia cukup jenius dalam mengoperasikan pedang. Aku rasa, dia akan menjadi sangat kuat jika aku melatihnya. Aku harap.
__ADS_1