
Seyla tiba-tiba membicarakan tentang masa lalu nya kepada diriku. Dia bilang dia berbagi tubuh dengan leluhurku, dan semuanya telah dia rencanakan sejak awal. Sejujurnya aku bingung. Aku bingung dengan apa yang Seyla inginkan dariku?
"Senang bertemu denganmu, namaku Layha Namsaka. Sudah sangat lama aku tertidur di ruang hampa, apakah kamu keturunanku?" masih dengan tubuh yang sama, namun jiwa yang berbeda. Aura yang tadinya mengerikan, kian memudar menjadi sebuah aura yang menenangkan hati, aku ingat aura ini. Ini adalah aura yang selalu diberikan oleh ayah dan ibuku kepadaku waktu aku masih kecil.
"Aa-h- aku... Aku zdh... Zerlicia!" sial, aku gugup.
"Haha, anggap saja aku seperti Archela, Zerlicia. Tidak ada yang perlu ditakutkan, mari kita berteman dengan cara kita sendiri?" ucap Layha kepada diriku.
"Walah... Kenapa kamu tampak sedih? Meskipun aku tahu pemandangan di luar sana lebih membuatku merasa kasihan, namun, aku rasa kamu tidak merasa sedih karena apa yang terjadi di luar, apa aku salah?"
"I...Bu...." sial, tanpa sadar aku mengucapkannya. Tetapi sungguh, aku sangat merindukan dirinya. Meskipun dia hanyalah ibu tiri ku namun, aku begitu menyayanginya seperti aku menyayangi ibu kandungku. Ibu kandungku bertaruh nyawa ketika melahirkan aku, dan ibu tiri ku bertaruh nyawa supaya aku dapat hidup hingga ke titik ini. Mereka berdua benar-benar sesosok ibu yang paling aku sayangi, meskipun, aku tidak tahu bagaimana rupa ibu kandungku.
"Kamu rindu ibumu? Hahaha, tak apa, kamu boleh menganggapku sebagai ibu mu. Hanya saja, jangan mengompol."
"Siapa yang akan mengompol?! Kau pikir aku bayi?!"
"Wah-wah, Zerlicia, tidak baik membentak seorang yang lebih tua dari dirimu. Meskipun aku tidak peduli akan hal itu namun, bagaimana jika kamu tak sengaja membentak calon suamimu? Apa yang akan terjadi?"
"....."
"Bagus, tak apa, aku mengerti kalau kamu telah mengalami hal yang sulit. Kamu boleh menganggap diriku sebagai ibumu."
"Benarkah?"
"Ya, hanya saja, bisa tolong bangkitkan suamiku? Aku yakin dia berada di istana ini dan sedang menungguku. Tak mungkin dia akan pergi jauh dari tempat ini."
"Huh?"
Aku tak tau apa maksud nya namun, karena ucapannya, aku memerintah Wayra dan yang lain untuk menelusuri berbagai sudut istana demi mencari sebuah patung yang tampak seperti manusia. Setidaknya itulah yang dia inginkan.
"Tidak ada."
"Di bawah tanah juga tidak ada."
"Kami telah menelusuri banyak tempat namun, kami tidak menemukan apapun."
Begitulah katanya, memang menyakitkan bagi ku ketika aku tidak bisa membantu leluhurku namun, aku yakin, hatinya pasti lebih sakit daripada diriku.
"Zerlicia, bisa ikut sebentar?"
"Hmm?" kemana? Dia membuka portal teleportasi, aku tak tahu itu akan menuju kemana namun, yang pasti, dari raut wajah nya, aku yakin dia pasti menemukan kemungkinan dimana suaminya berada.
"Sudah aku duga. Tempat ini, aku yakin dia ada di sini," ucap Layha setelah kami menginjakan kaki kami ke sisi lain portal teleportasi.
"Zerlicia, kau cari di sebelah kanan aku akan cari di sebelah kiri. Kalau kamu menemukan sesuatu, tolong panggil aku."
"Baiklah."
Dia benar-benar berbeda dari si Seyla. Aku luluh dengan sikap lembutnya, jadinya aku terus mengikuti perintahnya. Coba saja Seyla lebih lembut padaku seperti apa yang leluhurku perbuat padaku. Namun, apalah daya, dari awal mereka berdua itu berbeda.
Lebih baik aku mencari dia dengan baik.
Setelah berputar-putar di berbagai tempat, aku masih belum menemukan tanda-tanda kehidupan, ada sebuah patung namun, itu adalah patung wanita. Tidak mungkin leluhur yang lembut seperti dirinya, melenceng dari jalan yang benar.
Jadi aku melewati patung wanita itu dan melanjutkan kembali pencarian ku.
"Ibu, kau dimana?"
Saat aku telah menelusuri seluruh tempat di sisi kanan, aku kemudian menuju ke tempat dimana Layha berada.
"Ini aneh."
"Huh?"
Aku mendengar sebuah suara di gang ke tiga yang aku temukan di sisi kiri. Aku rasa, dia ada di sana.
"Ibu?"
"Zerlicia!? Bagaimana ini?!" dengan sangat tercengang, aku terkejut dengan apa yang terjadi di tempat tersebut.
Aku melihat, seorang laki-laki yang mulai lepas dari kutukan batu nya namun, secara perlahan, dia mulai menua dengan sendirinya. Sekarang ini, dia telah mencapai ke titik dimana dia tampak seperti sebuah mayat.
"Dia...?"
"Azn!"
Ketakutan ku benar terjadi, apa-apaan ini. Bukankah Seyla bilang kalau pahlawan seperti Azn tidak bisa meninggal namun... apa yang aku lihat ini, bukanlah sebuah mimpi.
Secara perlahan, tubuh Azn mulai terkikis di pelukan Layha. Hingga ia berubah menjadi abu sepenuhnya, Layha terus berupaya untuk menggunakan sihir penyembuhan kepada dirinya namun....
__ADS_1
Semua itu tak ada gunanya.
"Tidak mungkin...." perlahan, sosok wanita tangguh yang baru aku temui ini, mulai mengeluarkan setetes demi tetes air mata hingga tangisannya tak lagi terbendung.
"....." Aku tak bisa berkata-kata di depan dirinya. Yang aku bisa hanyalah menatap ke arah Layha dengan tatapan kasihan.
"ARCHELA!!!"
Dia berteriak kencang menyerukan nama Archela. Di dalam cerita yang Archela ceritakan, dirinya berjanji akan mempertemukan Layha dengan Azn kembali namun... apa yang Layha dapatkan?
Memang benar mereka dipertemukan kembali namun, Azn telah tiada.
<"Itu diluar kendaliku.">
"Hah?! Apa yang kau maksud?! Kau telah berjanji untuk mempertemukan aku dengan Azn sekali lagi. Tapi..... Kenapa!!!?"
<"Kau tahu? Aku dulu memerintah Azn untuk bersembunyi di suatu tempat. Namun, aku tidak menyangka kalau dia akan memilih untuk mematung dengan sihirnya sendiri.">
"Hah?! Kau mau bilang kalau kau...."
<"Aku pasrah padamu, Layha. Ini benar-benar diluar kendaliku, Azn jadi seperti ini karena dia melakukan tindakan yang bodoh dengan membuat dirinya sendiri menjadi sebuah patung. Hal itu tentunya akan membuat aliran mana dalam dirinya menjadi tidak stabil terlebih, dia telah menjadi patung sebelumnya. Hal itu semakin memperburuk keadaan.">
"Kalau begitu...."
<"Aku benar-benar tidak tahu! Zerlicia kau dengar?">
Dia memanggil ku?!
"Ya?"
"Kau tadi melihat patung ku di sisi kanan bukan?"
"...." Patung itu ya?
"Benar, ada apa?"
<"Begini..... Aku ingin kau membangkitkan tubuhku dengan gabungan kekuatan dari kalian berdua,"> ucapnya.
"Brengsek. Apalagi yang kau rencanakan?! Aku sudah tahu ini akan terjadi padaku, oleh karena itulah aku menolak perjodohan yang kamu lakukan sebelumnya! Arghh!" Layha benar-benar kehilangan akalnya.
<"Sudah aku bilang....">
<"Layha...">
"Diam!"
<"Lay—">
"Kubilang!!!"
"Jika saja dari awal aku tidak setuju denganmu, aku tak akan merasakan hak seperti ini sebanyak dua kali dalam hidupku! Kalau saja aku.... Brengsek!!!! Aku...." Layha mulai menggila, dirinya berlari ke tembok terdekat untuk membenturkan kepalanya berulangkali di tembok tersebut.
Namun, tak peduli seberapa banyak darah yang ia keluarkan, pada akhirnya, dia tak bisa menyusul Azn yang telah pergi jauh darinya.
Jujur aku kasihan terhadap dirinya. Aku rasa Archela juga telah keterlaluan dengan dirinya namun, aku takut. Aku sangat takut jika aku salah berpihak. Jika aku ikut campur, aku tak tahu akan jadi apa dunia ini setelah Layha mengamuk.
Yang aku bisa hanyalah menahan dan menenangkan Layha dengan kata-kata.
<"Aku, akan membayarnya.">
"Apa yang kau bisa, Brengsek?! Azn telah menjadi debu, bagaimana caranya kamu menghidupkan dirinya kembali?!"
<"Aku memang tidak bisa....">
"Diam!"
<"Dengar!! Ini adalah kebalikannya! Setelah kau dan Zerlicia melepaskan aku dari pembatuan, aku akan sepenuhnya menurut padamu.">
"Pembohong!"
<"Aku serius!! Tubuhku bisa berubah-ubah sesuai keinginanku. Mau itu anak kecil ataupun orang dewasa sekalipun, aku akan menurutinya! Kau belum pernah merasakan bagaimana rasanya mengasuh anak bukan?! Kalau begitu, kau bisa menyuruhku untuk....">
"Zerlicia,"
"Ya?" kenapa aku dibawa-bawa?!
"Ajari aku tentang bagaimana caranya menaruh segel budak supaya Archela tidak lari dariku."
"..... Baiklah."
__ADS_1
<"..... Tidak ada penyesalan. Lakukan sesukamu, Zerlcia.">
Singkatnya, aku mengajari Layha tentang cara memberi segel budak kepada seseorang. Kemudian, setelah Layha telah berhasil menguasainya dengan sepenuhnya, aku dan Layha kemudian pergi ke sisi kanan yang tadinya aku lewati.
Kami berdua berdiri di depan patung yang tadinya aku lewati begitu saja.
<"Kumpulkan kekuatan kalian agar kita bisa membangkitkan tubuhku,"> ucap Archela.
"Bacot."
Layha tidak menjawab Archela seperti yang ia lakukan tadi. Dia langsung menjulurkan tangannya ke depan. Aku pun kemudian menjulurkan tanganku untuk membantu Layha membebaskan tubuh Archela yang membatu.
Perlahan tapi pasti, patung tersebut mulai retak kemudian terlihat sebuah kulit putih yang begitu indah... Meskipun seorang iblis, kulit putih Archela benar-benar membuatku kebingungan. Apakah benar yang di dalam patung batu tersebut adalah tubuh Archela yang sebenarnya?
Ketika seluruh badan Archela telah berhasil keluar dari pembatuan, secara tiba-tiba, Layha yang berdiri di sampingku, langsung berlutut tak berdaya.
Aku pun sontak memberinya pertolongan pertama dengan memberi sihir penyembuhan kepada dirinya. Namun....
"Archela, harus, dikendalikan!" begitulah ucapnya.
Meskipun tubuhnya kian menua dalam hitungan detik, Layha sama sekali tidak mempedulikan nya dan malah menyuruh diriku untuk melakukan sesuatu terhadap diri Archela.
Layha berkata padaku untuk mengendalikan Archela. Jadi, sontak saja aku melakukan ritual perbudakan pada diri Archela yang hampir membuka matanya itu.
"Sialan."
Akan tetapi, itu tidak semudah yang aku kira. Di sisi lain aku harus buru-buru menyelesaikan urusanku dengan Archela supaya Layha atau leluhurku dapat tertolong namun.... Di depan ku, Archela telah sepenuhnya bangkit.
Aku pun mundur ke tempat Layha bertekuk lutut di belakang sana. Dari yang aku lihat, tubuh Layha mulai menua dalam hitungan detik, aku tidak yakin berapa lama dia dapat bertahan namun, yang jelas, aku harus segera melakukan sesuatu terhadap Archela yang ada di depanku.
Aku terus mencoba untuk melakukan ritual perbudakan meskipun hasilnya sia-sia saja.
"Hahaha, manusia tak berdaya menggeliat di tanah. Sangat manis," ucap Archela dengan tubuh aslinya.
"Archela!!!"
"Huh, ayolah, jangan menggerutu seperti itu, Zerlicia sayangku."
"Kau?!"
"Hahaha, ini pemandangan terindah yang aku lihat setelah beberapa tahun lamanya."
"...."
"Baiklah baik, aku tak bisa kehilangan kalian berdua jadi, aku akan menepati janjiku."
Dengan tubuhnya, Archela menjulurkan tangannya ke arah Layha yang mulai berkeriput di depan sana. Tubuhnya mulai mengering, dan jika saja kami terlambat melakukan sesuatu pada dirinya, aku yakin Layha akan bernasib sama seperti Azn.
"Sudah, Zerlicia. Dan, sesuai janjiku...."
Archela menutup kedua matanya kemudian tak lama, tubuh Archela mulai mengecil. Dia tampak seperti seorang anak berusia 12 tahun.
"Jika lebih kecil dari ini, aku bisa kehilangan banyak sekali kekuatanku. Jadi, ini batasnya aku harap kamu senang, Lay—" saat Layha kembali seperti semula, Layha langsung menerkam Archela yang ada di depannya dengan tatapan kejam. "Tunggu apa yang kau?!! Apa kamu tega membuat anakmu sendiri menjadi budakmu?! Layha?!"
Layha seketika melakukan kontrak budak kepada diri Archela. Aku tidak tahu bagaimana bisa dia membuat segel budak di tubuh Archela namun yang jelas, itu berhasil.
"Apa ini?! Kenapa aku tidak bisa mengeluarkan seluruh kekuatanku? Padahal aku telah berada di tubuh asliku!" teriak Archela yang telah menjadi anak-anak.
"Segel budak yang ditingkatkan. Kini aku memegang kendali atas dirimu seutuhnya!" ucap Layha dengan sombongnya kemudian mengangkat Archela yang mungil lalu melemparkannya tubuh Archela bagaikan tengah bermain-main dengan seorang bayi.
Dia benar-benar....
"Apa kamu juga mau, Zerlicia?"
"Ah, tidak. Aku sudah mendapatkan hal itu saat aku masih kecil."
"... sangat disayangkan... namun, baiklah. Ayo pulang!"
"... Ya."
"Tunggu, jangan menggendongku! Aku ini...."
Tak lama setelah Archela mengeluh, tubuh Archela kemudian mulai mengecil seperti dia baru saja menginjak usia yang ke 9 tahun.
"Brengsek!!!"
"Apa?! Mau jadi lebih kecil lagi?"
".... Lupakan..."
__ADS_1