Creations Isekai

Creations Isekai
Vol. 03 Bab. 44 : Asmara


__ADS_3

Selama beberapa hari, Azn terus-terusan berjuang dalam meluluhkan hati Layha. Meskipun Archela terus memaksa Layha untuk segera menyegerakan hubungannya namun, Layha membantah dan menolak keras hingga Archela pasrah dengan keputusan Layha.


"Kamu ganti gaya rambut?"


"Lalu? Apa ada yang salah?"


"Tidak, hanya saja, kenapa tiba-tiba?"


"Hmm...."


Seperti itu terus. Obrolan dimulai dengan diri Azn yang menyadari perubahan yang terjadi pada tubuh Layha. Sekecil apapun perubahan yang Layha lakukan, terus-menerus dapat dengan mudahnya diketahui oleh diri Azn.


Layha sengaja melakukan hal tersebut agar dirinya sendiri mulai membuka hati namun, setiap Azn menyadari perubahan penampilannya, entah mengapa dia selalu saja malu setelah Azn mengatakan apa yang berbeda dari diri Layha setiap harinya.


<"Hentikan semua kebodohan ini!!!"> ucap Archela yang jengkel dengan apa yang dia lihat.


"Diamlah diamlah!!!"


<"Ugh, terserah, aku akan memberimu waktu.">


"Kau yakin?"


<"Tentu, kau tahu, aku rasa melihat drama bodoh seperti ini itu, tidak buruk juga,"> ucap Archela kemudian dirinya diam tak berbicara lagi.


"Apa yang harus aku lakukan?"


Saat Layha hendak bertanya kepada Archela, Archela hanya diam saja tanpa memberikan jawaban apapun kepada diri Layha.


"Aku sendirian?" ucapnya. Menanggapi Archela yang hanya berdiam dan menonton dari dalam, Layha berdiri untuk melakukan kegiatan sehari-harinya. Seperti, bekerja sebagai seorang petualang.


Kariernya sebagai petualang, baru saja dia rintis sejak 3 tahun yang lalu disaat Archela mendesak dirinya untuk memperkuat diri. Meskipun begitu, Layha jarang sekali mengambil sebuah misi untuk diselesaikan dalam sebuah petualangan. Dari pada berpetualang, Layha lebih memilih pekerjaan lain, seperti merampok dan mencuri.


Benar, merampok. Merampok lebih mudah dari pada berpetualang sembari mengalahkan monster-monster yang kuat. Saat merampok, kemampuan yang diperlukan hanyalah kelincahan serta kecepatan dari pelaku perampokan agar dia tidak tertangkap oleh para warga. Dalam satu kali perampokan, Layha sering mendapatkan kurang lebih 3-4 koin emas dalam sekali merampok seseorang.


"Sudah sembuh?" ucap Layha di suatu pagi setelah melihat diri Azn yang tengah melakukan peregangan badan.


"Meskipun belum pulih sepenuhnya, ini sudah cukup!" ucapnya dengan wajah yang bersemangat.


Layha tampak tidak peduli dengan apa yang Azn katakan. Dirinya hanya bersyukur karena Azn telah pulih kembali meskipun belum sepenuhnya pulih.


Meskipun begitu, disaat Layha melihat gerakan peregangan yang Azn lakukan, dirinya sepenuhnya telah yakin jika Azn telah pulih.


Yang mana itu berarti, sudah saatnya, Azn menyelesaikan janji yang dia buat bersama dengan Layha. Janji dimana Layha akan bersedia menjadi istri Azn jika Azn sanggup membuat Layha jatuh cinta pada dirinya.


"Mau jalan-jalan?" tanya Azn dengan senyum manis.


"Asal kamu tahu saja, mentraktir seorang perempuan dengan uang yang perempuan itu miliki, tidaklah berarti apapun!" ucap Layha yang kemudian berdiri dan lalu bersiap-siap.


"Jangan ngintip! Jika kamu berbalik badan, aku akan memukulmu!" ucap Layha lalu dirinya mulai mengganti pakaiannya di belakang diri Azn.


"Tenang saja, aku rasa aku punya uang. Meskipun, aku tidak tahu itu masih berharga atau tidak," ucap Azn yang terus menutup matanya hingga Layha memperbolehkan dirinya berbalik badan.


"Eh, kalau begitu cepat ambil! Kau tahu? Perempuan butuh waktu lebih untuk bersiap-siap sebelum berangkat!" ucap Layha menyuruh Azn untuk mengambil yang yang ia maksudkan.


"Baiklah...." dengan mata yang tertutup, dia mencoba untuk meraba-raba dan mencari tahu, dimana letak pintu kamar tersebut. Setelah menemukan pintu kamar penginapan tersebut, Azn langsung keluar lalu menutup kembali pintu tersebut dengan rapat.


Sesuai perintah Layha, Azn pergi entah kemana dengan menggunakan portal teleportasi. Azn pergi tepat setelah dirinya keluar dari kamar.


Selama dia pergi.... Layha.....


<"Kenapa kamu malah melepaskan dia begitu saja?!! Bagaimana jika dia kabur?!"> teriak Archela yang katanya hanya ingin menonton apa yang Layha alami dari ruang hampa.


"Archela...." ucap Layha dengan nada lembut.


<"Um?">


"Tolong, izinkan aku melakukannya dengan caraku sendiri," ucap Layha dengan hati yang berdebar kencang.


<"...">


Tidak menjawab perkataan Layha, Archela hanya berdiam diri dan tak mau membicarakan apapun dengan diri Layha.


<"Kapan dia kembali?"> sudah satu jam Layha menunggu kepulangan Azn dari suatu tempat. Layha sempat khawatir jika Azn benar-benar kabur dari dirinya. Dirinya khawatir jika Archela akan menghakimi dirinya habis-habisan hingga menjadi tulang-belulang jika sampai Azn tidak kunjung kembali.


<"Kalau dibilangin itu didengerin, meskipun aku tahu ini adalah hubungan asmara pertamamu namun, dia adalah subjek yang bagus. Demi memperlancar ras manusia yang kuat seperti dirimu, diperlukan dua orang dengan kondisi yang sama dan saling melengkapi,"> ucap Archela menasehati Layha.


"Apa sebenarnya rencanamu itu?"


<"Belum saatnya kamu mengetahui semuanya namun, jika semuanya berhasil hingga kita mendapatkan keturunan yang cocok, aku akan memberitahu dirimu.">


"Janji?"


<"Iya.">

__ADS_1


Kembali menunggu hingga kurang lebih setengah jam berlalu, Azn masih belum kembali. Layha yang khawatir dengan kondisi Azn, berniat untuk mencari Azn ke tempat yang mana mungkin, Azn berada di sana namun....


"....."


"Udah?"


Saat Layha membuka pintu kamar penginapan yang ia sewa, dirinya sangat terkejut hingga lemas setelah melihat Azn yang berdiri di depan sana.


"Kenapa?!" Azn pun panik dengan diri Layha yang tiba-tiba saja terjatuh di depan matanya.


"Hahaha, brengsek," ucap Layha dengan senyum yang cukup menyeramkan.


"Layha?!"


"Kalau sedari tadi kamu berada di depan pintu, kenapa kamu tidak masuk saja!!? Kau pikir seberapa khawatir nya aku dengan kondisimu?! Kamu belum pulih sepenuhnya, aku pikir ada sesuatu yang terjadi pada dirimu. Seharusnya kamu tahu itu!!" bentak Layha sembari memegang erat pakaian yang Azn kenakan.


"Layha?!"


"Sialan...." rintih Layha yang menangis sembari memeluk Azn.


"Dasar cengeng. Padahal aku tak akan pergi jauh-jauh darimu."


"Berisik!"


"Apa iblis itu membisikkan sesuatu yang buruk pada dirimu?" tanya Azn sembari mencoba menenangkan Layha.


"Enggak...."


"Jangan bohong."


"...."


"Ya... aku tahu itu. Tenang saja, seperti janjiku tempo hari, aku akan mulai mencoba hidup sebagai seorang manusia pada umumnya. Berkeluarga, dan memiliki anak dan cucu. Dunia telah berbeda jauh dibandingkan dengan saat aku pertamakali datang di dunia ini," ucap Azn.


"Dahulu, dunia ini dipenuhi dengan noda-noda darah, tangisan dari para manusia yang kehilangan anggota keluarga nya, kekacauan yang terjadi saat iblis menyerang, dan sebagainya. Aku senang aku berhasil mengakhiri semuanya dan dibangunkan kembali di zaman dimana semuanya telah damai, aman, dan sejahtera."


"Archela pernah bercerita seperti itu juga," jawab Layha yang masih mendekam di dalam pelukan Azn.


"Kalau begitu, jangan nangis lagi."


"Siapa yang nangis!" bentak Layha.


"Iya-iya...."


"...?"


Saat Layha mengatakan hal tersebut dengan senyum yang begitu memikat, secara seketika, jantung Azn mulai berdetak kencang. Melihat senyum indah Layha yang tersenyum kepada dirinya, entah mengapa hal tersebut membuat hati Azn terasa seperti berdebar-debar.


Meskipun usia Azn kini lebih dari 100 tahun lamanya, namun, apa yang ia rasakan tadi, tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Hati yang berdebar-debar karena cinta, Azn baru saja mengalaminya untuk yang pertamakali dalam hidupnya. Sebelumnya, Azn belum pernah merasakan hal tersebut termasuk di dunia asalnya.


"Apa~? Kamu terpesona denganku?" melihat Azn yang terdiam sembari memikirkan hatinya yang berdebar-debar, Layha sontak saja memiliki keinginan untuk menggodanya.


"Iya.... aku baru menyadarinya, kenapa bisa aku terkecoh dengan ucapan Raja zaman dulu?" ucap Azn kemudian menepuk kepala Layha lalu mengusapnya.


"Terkecoh?" ucap Layha dengan tatapan penasaran.


"Ya, dahulu, saat aku pertamakali sampai di dunia ini, Raja menjanjikan diriku untuk dinikahkan dengan putrinya. Huh... awalnya aku bersemangat namun, lama-kelamaan aku mengetahui jika, ucapan raja adalah kebohongan. Maka dari itu, karena kesal, aku menantang Archela dalam sebuah pertarungan hingga menyebabkan kami berdua membatu di suatu tempat yang tidak diketahui letaknya."


"Eh... Ngomong-ngomong, jadi jalan?"


"Ya.... tapi, tolong jangan banyak minta, ternyata uang yang ada di sana itu sedikit..." ujar Azn sembari menggaruk pipinya.


"Dasar nggak modal~. Baiklah, lupakan soal uang, mari kita habiskan waktu bersama saja?" ucap Layha dengan mengulurkan tangannya dan melihat kebelakang.


"Ya! Dan, aku rasa lebih baik kamu mengganti pakaianmu."


"Hah?"


"Nggak, soalnya tidak sesuai dengan penampilanmu. Aku lebih suka kamu pakai pakaianmu sehari-hari, meskipun dibagian perutmu terbuka, dan celana ketat pendek, namun, aku rasa kamu lebih cocok mengenakan setelan itu dari pada gaun," ucap Azn sembari membayangkan penampilan Layha sebelumnya.


"Oh...."


"Iya... Lagipula...."


"Kau mau bilang jika aku tidak cocok mengenakan gaun?!" dengan nada marah, Layha berkata kepada Azn sembari menatap tajam dengan senyum mengerikan kepada Azn.


"Tidak!!!! Jangan marah dulu! Tolong dengarkan aku!" ketika melihat bahwa Layha tampak marah di sana, Azn sontak mencari cara untuk menenangkan dirinya.


"Aku sudah mendengarnya kok, aku mendengarnya dengan baik... kamu tadi bilang kalau aku ini tidak lagi cocok mengenakan gaun. Itulah arti ucapanmu, bukan?!" ucap Layha dengan atmosfer yang mengerikan, perlahan mulai mendekati diri Azn.


"Layha?!"


"..... Sudahlah, jika terus begini, kapan kita akan berkencan?" melupakan ucapan Azn barusan, Layha yang mulai malas untuk keluar, kembali masuk ke dalam untuk mengganti pakaiannya.

__ADS_1


"Ngapain berdiri di situ? Masuk!" karena takut Azn akan kembali menghilang, Layha dengan berat hati mempersilahkan Azn untuk masuk ke dalam meskipun dirinya harus berganti pakaian di depan Azn.


"Tidak perlu tutup mata atau membelakangi ku. Aku tahu kamu tertarik dengan tubuhku, jadi, jangan setengah-setengah memandangku. Aku telah menerimamu," ucap Layha yang mulai melepas setelan gaun yang tadinya ia ingin kenakan untuk pergi berkencan.


"Ini bukan masalah aku ingin ataupun kamu memperbolehkan nya. Masalahnya di sini adalah, kenapa kamu tidak lebih waspada? Kamu wanita, seharusnya kamu lebih menjaga tubuhmu dengan baik agar tidak dilihat banyak orang."


"Hah ~ tadi siapa yang bilang kalau kamu menyukai caraku berpakaian?"


"Ugh... aku salah lagi?"


"Lupakan, lagipula itu tidak berarti lagi untukku. Sejak keluar dari perbudakan yang aku alami, aku jadi kurang waspada. Ditambah dengan Archela.... Tenang saja, aku tidak akan melakukan nya ke orang luar."


"Kamu pernah...?" Azn bertanya dengan nada sedih.


"Iya. Apa?! Apa kamu mau bilang kalau kamu tidak suka perempuan yang tidak sanggup menjaga kesuciannya?!" ucap Layha dengan sinis memandang Azn yang juga menatap dirinya.


"Kau hebat," awalnya Layha mulai kehilangan ketertarikan lagi terhadap diri Azn. Akan tetapi, saat dia melihat senyum dan perkataan Azn yang tampak menyemangati dirinya, sontak saja Layha menundukkan kepalanya.


Masih belum selesai mengganti pakaian, Layha dibuat terharu oleh Azn yang tiba-tiba menyemangati dirinya tanpa alasan yang jelas.


"Diam!"


"Kau sangat kuat, aku suka wanita kuat seperti dirimu. Meskipun kesucianmu terenggut oleh iblis berbentuk manusia, akan tetapi, kamu tidak berputus asa atau bahkan berniat mengakhiri hidup. Kamu hebat karena bisa bertahan hingga sejauh ini."


"Kubilang diam! Lagipula, aku tidak bisa mati dengan tubuhku sekarang ini."


"Meskipun Archela memandangmu sebagai objek, tetapi, perbuatannya telah menyelamatkan dirimu dari kehancuran. Dia memang memiliki sifat pemaksa tetapi, sebenarnya, dia lebih baik daripada manusia yang dikategorikan sebagai makhluk terbaik."


"Hei, kau terus berkata seperti itu. Apa kamu ingin melewati kencan dan langsung ke inti?! Tolong ikuti keinginan ku!"


"Maaf."


Setelah Azn diam, Layha kemudian melanjutkan apa yang ia lakukan tadi. Setelah pakaiannya diganti ke setelan sehari-harinya, mereka berdua lantas pergi berkencan dengan mengelilingi kota hingga malam tiba.


Jika bosan, mereka pergi ke luar kota untuk melihat alam liar. Layha yang memimpin, ketika keluar kota, Layha menunjukkan beberapa tempat kesukaannya yang pernah dia temukan selama menjelajah.


Seperti, sebuah telaga, padang rumput luas di tengah-tengah hutan yang rimba, dan sebagainya. Layha sangat berantusias saat menunjukkan tempat tempat yang ia temukan selama berpetualang.


"Iyahhh, aku rasa kamu benar. Jika aku mengenakan gaunku tadi, otomatis kita tidak bisa bermain kejar-kejaran di atas pohon," ucap Layha dengan gembiranya mengingat apa yang telah dia lakukan tadi bersama Azn.


"Istirahat sebentar, lalu terus mandi."


"Aku tahu itu~ ngomong-ngomong, daripada membuang waktu, bagaimana jika kita mandi bersama?" ucap Layha dengan genit menggoda Azn yang berada di dekatnya.


"Aku nanti saja."


"Begitu kah? Yah.... baiklah."


Kemudian, Layha pergi ke kamar mandi penginapan yang berada di lantai dasar penginapan, tepatnya di halaman belakang penginapan.


Selama Layha pergi mandi, Azn yang berada di kamar, melemaskan badannya seraya memikirkan apa yang telah mereka berdua lakukan bersama. Tak jarang dia tersenyum disaat memikirkan kembali bagaimana wajah Layha selama mereka berkencan.


"Yah, aku bukanlah pahlawan lagi. Aku hanya manusia biasa sekarang ini," ucap Azn kemudian menunggu Layha selesai mandi dengan santainya.


Setelah selesai, Layha kembali ke kamar dan menyuruh Azn untuk bergantian mandi menggunakan kamar mandi penginapan. Azn pun lantas mengambil pakaian yang ia beli saat berkencan tadi untuk mengganti pakaiannya yang telah kotor dan bau.


<"Kau tampak senang meskipun awalnya kamu menolaknya,"> ucap Archela yang melihat segalanya dari dalam.


"Ya, kau benar, aku benar-benar bersenang-senang."


<"Senang mendengarnya, akan tetapi, jangan terlalu terlena dengan kesenangan.">


"Aku tahu itu. Ngomong-ngomong, terimakasih."


<"Atas dasar?">


"Yah... kamu telah banyak membantuku. Meskipun aku telah kehilangan banyak hal, akan tetapi, aku bersyukur karena ada dirimu."


<"Senang mendengarnya, kalau begitu, bukankah itu artinya kamu memiliki banyak hutang kepadaku?"> ucap Archela dengan niatan bercanda.


"Yah, banyak. Aku tahu itu. Aku tidak bisa berjanji kalau aku bisa membayar semua nya namun, setidaknya, selama kita terus bersama, aku akan mengikuti apa yang kamu inginkan dengan caraku sendiri."


<"Bagus... sekarang, lepas baju mu dan bersiap!">


"Aku lelah ~. Bolehkah aku melakukannya besok?"


<"Katanya mau membayar hutang?">


"Iya, kamu tidak salah dengar. Hanya saja, kamu lupa dengan kalimat, dengan caraku sendiri."


<"Tunggu, Layha?!">


"Selamat malam, Ratu iblis. Aku akan selalu mengandalkan dirimu," kemudian, Layha tertidur tidak lama setelah dia memejamkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2