Creations Isekai

Creations Isekai
Vol. 4 Bab. 50 : Cinta


__ADS_3

Hari yang baru.... sebenarnya aku enggan untuk menyantap sarapan bersama dengan Layha namun, jika tidak sarapan, aku akan menjadi lemas dan tak berdaya. Ditambah, kemarin aku tidak menyantap makan malamku.


Jadi, mau tidak mau aku harus bergabung untuk menyantap sarapan bersama dengan semua orang.


"Zerlicia," mulai lagi. Baru saja aku sampai di ruang makan, tiba-tiba saja Layha memanggil namaku. Aku yang baru saja datang, bagaikan tidak mendengarnya, aku pergi ke kursiku lalu duduk di tempat dudukku.


"Zerlicia," Archela juga ikut memanggil ku. Aku yakin, Archela juga akan membahas apa yang ingin Layha bahas. Lebih baik aku menghiraukan mereka lalu menyantap sarapanku.


"Dahulu, para bangsawan yang mahir menggunakan sihir, pasti membawa tongkat sihir kecil bersama dengan diri mereka sendiri. Dengan kata lain, pemikiran dimana sihir hanya dapat dilakukan hanya dengan menggunakan tongkat sihir saja, telah terdapat sejak zaman dimana aku lahir."


"...." apa yang Layha bicarakan?


"Menggunakan sihir dengan tongkat sihir itu lebih mudah daripada mengeluarkan nya tanpa menggunakan tongkat sihir. Sama seperti biasanya, kau hanya perlu memusatkan energi sihir mu ke tongkat sihir," ucapnya.


"Masalahnya, aku tidak merasakan apapun setelah aku mengalirkan energi sihir ku ke tongkat sihir!" pasti Rleas yang bercerita tentang hal ini kepada Layha.


"Tidak, selain harus mengalirkan energi sihir, kau juga perlu menyatu dengan tongkat sihir mu!"


"Menyatu?"


"Iya, itulah kuncinya!" jadi begitu caranya.... baiklah.


Tapi, kenapa tiba-tiba Layha bersikap seolah-olah dirinya perhatian terhadap diriku ini? Padahal kemarin dia terus memaksa diriku untuk menikah dan memiliki anak.


"Ngomong-ngomong, aku tak akan membayar informasi ini dengan mewujudkan keinginanmu untuk menimang keturunan dariku!"


"Hahaha, itu menyedihkan. Yah, terserah. Cepat atau lambat kamu akan mendapatkan pasanganmu suatu hari nanti. Semoga saja, kamu masih sempat memamerkannya kepada Ibu panti yang mengasuh dirimu selama ini."


"......" lagi-lagi.


"Jika kamu tidak segera memakan sarapanmu, kita akan terlambat!" ucap Rleas sembari menyodorkan secuil roti ke mulutku.


"Aku mengerti!" aku kemudian menerima suapan dari dirinya lalu aku lanjutkan dengan tanganku sendiri.


"Ayolah, jangan terburu-buru, Kak."


"Katanya kita harus segera —" gawat......


Aku tersedak. Tolong aku!!!!


"Apa aku bilang? Minum air nya!"


Aku langsung merebut gelas dari tangan Rleas lalu meminumnya. Rasanya cukup melegakan, ugh...


"Roti itu membuatmu mudah tersedak, Kak."


"Aku tahu itu!"


"Kau lucu, Kak."


"Diamlah!"


Ugh, memalukan. Sampai dinasehati oleh adik sendiri seperti ini... aku jadi tampak tidak berguna sebagai seorang Kakak.


Selain itu, Layha dan dua orang di sisi kiri ku ini, tampak seperti tengah menatap kami dengan senyum tipis yang aku rasa, mereka seperti sedang merencanakan sesuatu. Layha, Archela, dan Ibu panti. Aku harus berhati-hati.


Setelah usai menyantap sarapan, Kami semua bergegas untuk pergi ke akademi, aku dan Rleas memasuki kelas seperti biasa, dan kami duduk di tempat duduk kami seperti biasanya juga.


Hingga guru datang untuk mengajar....


"Hari ini, kita akan melakukan ujian lanjutan dari apa yang kita pelajari kemarin. Semuanya segera ke lapangan!"


Begitu guru mengatakan hal itu ke kami, dia kemudian pergi kembali. Sesaat setelah dia pergi, kami kemudian menyusulnya ke lapangan.


"Bagaimana ini...."


"Apanya?" tanya Rleas menjawab pertanyaan ku.


"Ujian... aku tidak yakin aku dapat menahan diriku!!!" ucapku.


Aku baru sadar jika aku tak bisa berbuat banyak dengan tubuh manusia. Jika aku berlebihan menggunakan kekuatanku, maka seketika, tubuhku akan berubah menjadi seorang iblis. Ini benar-benar membingungkan!

__ADS_1


"Berjuanglah ~" sialan! Bukannya memberiku saran, dia malah hanya menyemangati ku! Adik macam apa kamu ini?!


"Hei," ada seorang laki-laki yang mendekati kami. Tidak, aku rasa dia mencoba mendekatiku.


"Ya?"


"Apakah kamu Zerlicia Namsaka?"


"Benar, kamu?"


"Hahaha, sebuah kehormatan besar bagi saya untuk dapat berbicara dengan diri mu, Tuan putri," ugh, apa-apaan laki-laki ini? Dia tampak seperti sedang meremehkan diriku.


"Apa yang kau inginkan dariku?"


"Apa yang aku inginkan? Haha, tidak ada sih. Yang jelas, aku akan menjadi murid dengan peringkat pertama di akademi ini!" anak ini, dia benar-benar membuatku kesal.


"Oh iya, aku Rafa. Rafa Zapya. Cukup mengecewakan ketika melihat Tuan putri yang tampak kuat di cerita nya, tapi malah tidak sanggup mengeluarkan sihir."


"Kau!!?"


"Haha, kau juga punya kepribadian yang aneh, Tuan putri ~"


Lalu dia pun pergi. Sungguh, dia menjengkelkan. Setelah Rleas yang mengganggu kesabaranku, tiba-tiba datang laki-laki seperti dia ke hadapanku. Benar-benar menjengkelkan. Lagipula, semua orang telah mengetahui jika aku ini seorang iblis namun, kenapa Layha itu menyuruhku untuk berpenampilan seperti manusia?!


"Baiklah, ujian nya adalah, menjatuhkan target latihan dengan sihir air," ucapnya. Bagi pemula, mereka pasti akan merasa takut dengan ujian yang diberikan oleh guru mereka tersebut. Pasalnya, baru kemarin pada murid diajarkan untuk menggunakan tongkat sihir, akan tetapi, kini mereka harus berpikir dengan keras tentang bagaimana caranya menyelesaikan ujiannya.


"Hahaha, apa yang bisa dilakukan oleh seorang yang tidak sanggup mengeluarkan sihir?" ucap guru yang kemudian disambung oleh seorang laki-laki yang tadi menggangguku.


"Benar sekali! Lebih baik kau duduk diam saja dari pada terus merusak nama baik keluargamu sendiri!" ucap Rafa.


Aku berusaha untuk tidak mendengar semua ucapan negatif yang dikatakan oleh guru dan si Rafa itu. Meskipun aku berniat untuk fokus ke ujianku, mereka terus mengganggu ku. Benar-benar menjengkelkan.


Lebih baik aku segera menyelesaikan semuanya.


Sesuai apa yang Layha katakan kepadaku, aku mengarahkan tongkat sihirku ke boneka latihan yang harus aku jatuhkan di depan sana. Kemudian aku melakukan hal yang perlu aku lakukan seperti apa yang Layha katakan.


Pada dasarnya, penggunaan tongkat sihir hanya untuk mempermudah seseorang dalam mengeluarkan kekuatan sihir namun, aku, sanggup mengeluarkan sihir tanpa memerlukan tongkat sihir sekalipun. Hal ini lah yang membuatku gagal dalam ujian pertamaku kemarin.


"Sudah," begitu aku menjatuhkan boneka latihan yang jaraknya cukup jauh itu, kedua orang yang tadinya menghinaku, kini terdiam tak percaya dengan apa yang aku lakukan.


"Tanpa rapalan?! Kau serius?"


"Unm, apa itu aneh?" tanyaku. Yah, normalnya, diperlukan sebuah rapalan untuk mengeluarkan sihir akan tetapi, aku.....


Ugh, aku lupa.


"Kau..?!"


"Yah, aku telah selesai, jadi aku boleh beristirahat bukan, Pak Guru?"


"Mmm........ Silahkan!" dengan berat hati, Pak Guru memberiku izin untuk beristirahat lantaran diriku telah menyelesaikan ujianku.


Dari awal, aku telah menebak jika ujiannya akan berlangsung lama. Bahkan bisa sampai 3 hari karena para murid harus mempelajari nya terlebih dahulu. Jadi, setelah aku selesai. Otomatis aku tidak memiliki kerjaan dalam waktu 3 hari kedepan. Itupun jika perkiraan ku benar.


Setelah diriku, Rleas melakukan hal yang sama seperti apa yang aku lakukan. Hal itu kemudian membuat mereka berdua semakin terkejut dengan kemampuan keluarga Namsaka.


"Kau terlalu berlebihan mengagetkan mereka, Rleas."


"Masa sih? Justru Kakak yang terlalu berlebihan."


"Huhu, aku tidak berlebihan karena aku masih berada di tubuh manusiaku! Humu, tongkat sihir itu membatasi pengeluaran energi sihirku. Aku rasa aku akan merasa aman jika membeli satu tongkat sihir untuk mempertahankan wujudku."


"Kamu tidak memerlukan hal semacam itu, memangnya Kakak bisa bertahan dengan menahan diri?"


"Kau mengejek?!"


"Hanya mengutarakan kebenaran nya."


Ugh, Rleas benar-benar berbeda dari saat ia masih kecil. Memang benar dia telah tumbuh dewasa namun, menggunakan diriku sebagai bahan latihan untuk berkenalan atau bahkan berkencan dengan seorang gadis.... Itu menjengkelkan. Aku tidak bisa menyindir tingkah lakunya lantaran aku tak mau terkejut dengan pertumbuhan Rleas yang telah tumbuh selangkah di depanku.


"Rleas."

__ADS_1


"Ya?"


"Apa ada seseorang yang sedang kamu incar?" saat kami dalam perjalanan pulang ke istana, aku iseng bertanya kepada Rleas tentang apakah dia punya orang yang ia sukai atau tidak.


"Ada."


Jadi, Rleas benar-benar telah tumbuh selangkah di depanku. Aku merasa seperti tertinggal di belakang adikku sendiri. Di sisi lain, manusia pada dasarnya tidak bisa hidup seorang diri. Aku bahagia dengan kedewasaan adikku ini namun, di sisi lain juga, aku merasa kalah dari adikku sendiri.


"Apa ciri-cirinya?" entah mengapa, hatiku merasa aneh disaat aku mempertanyakan hal ini.


"Hmmm, rahasia!" ayolah, aku serius ingin tahu! Aku tidak bisa tenang sebelum mengetahui jika gadis yang disukai adikku, adalah seorang yang baik.


"Hah?!" tentunya aku kesal karena dia mulai menyimpan rahasia dari diriku meskipun, dia berhak menyimpan setidaknya satu rahasia dariku.


"Apa Kakak benar-benar ingin mengetahuinya?" ucapnya disaat aku kebingungan dengan perasaan yang aku alami.


"Umm.." iya, namun, hati ini, entah mengapa rasanya tidak tenang sejak tadi. Aku merasa kalau ada sesuatu yang mengganjal di hatiku.


"Baiklah, hmmm, rambutnya pendek, sikapnya penyayang, bersedia menjadi tulang punggung keluarga bagi anak-anak yang kehilangan kedua orang tua mereka."


Itu saja...? Tampaknya, seseorang yang disukai oleh Rleas, adalah perempuan yang baik.


"Begitu... ya. Yah, kamu telah tumbuh dewasa ya, Rleas kecilku," ucapku sambil berjinjit mengusap rambut Rleas.


"Kak."


"Ya?"


"Ada satu hal lagi," ucap Rleas dengan menggenggam tangan kananku.


"?"


"Orang itu, selalu berada di dekatku tak peduli siang atau malam."


"Huh?!" apa ini?! Apa apa apa?! kenapa tiba-tiba Rleas bicara semacam itu?! Kenapa?! Kenapa jantungku berdetak dengan kencang?!


"Ap— oh, jadi kamu sering berkeliaran tanpa seizin dariku?! Apa kamu pernah bercumbu tanpa sepengetahuan ku juga?!" apa-apaan ini?!


*Zerlicia, merasakan perasaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Jantung berdebar kencang, nafas yang terengah-engah, wajah memerah....


Sudah dapat dipastikan, Zerlicia Namsaka, merasa malu yang disebabkan oleh lawan jenisnya untuk kali pertamanya.


"Kak..."


"Berhenti bicara!" Zerlicia benar-benar salah tingkah sekarang ini, wajahnya memerah, Zerlicia kehilangan kendali atas dirinya.


"Tatap mataku!" ucap Rleas yang dengan seriusnya, menatap tajam ke arah Zerlicia yang berusaha melarikan diri dari situasinya sekarang ini.


"...." sejenak, Zerlicia terdiam.


"Pada dasarnya, kita berdua itu saudara. Sesama saudara itu tidak diperbolehkan untuk menikah jadi...." ucap Zerlicia yang enggan menatap mata Rleas yang tengah berbicara tentang hal yang serius dengannya.


"Pada dasarnya juga, kita tidak ada hubungan darah sama sekali! Meskipun status kita adalah kakak dan adik, pada dasarnya, kita, hanyalah sesama saudara yang disatukan karena keterpaksaan! Aku, benar-benar mencintaimu! Aku selalu melihat bahwa dirimu itu keren dan aku selalu bercita-cita untuk menjadi seseorang yang tangguh seperti dirimu," ujar Rleas tanpa mengendorkan sedikitpun genggamannya dari pergelangan tangan Zerlicia.


"Tetapi...."


"Begitu ya...." secara perlahan, Rleas mulai melepaskan genggamannya. Dia kemudian berjalan menunduk dengan langkah yang cepat.


"Tunggu, Rleas, aku tidak bermaksud —" apapun itu, dilihat dari sikapnya, Rleas, dia merasa kesal karena ucapannya tidak dihiraukan oleh Zerlicia.


"Tunggu aku...."


Tak peduli seberapa banyak kata-kata yang Zerlicia ucapkan kala itu, karena kesal, Rleas tidak menoleh sedikitpun ke arah Zerlicia.


Zerlicia pun melanjutkan langkahnya sembari mencoba menyusul Rleas yang tampak menjauhi dirinya. Zerlicia terus mencoba berbicara dengan Rleas selama mereka masih berada di jalan, akan tetapi, Rleas sama sekali tidak menoleh ke arahnya.


Hingga mereka tiba di istana, Zerlicia, masih belum bisa meminta maaf kepada diri Rleas. Sesampainya di kamar, Rleas tidak memperbolehkan Zerlicia untuk masuk ke kamarnya. Ketika mendengar suara pintu yang dikunci, Zerlicia dengan wajah murung, memutuskan untuk kembali ke kamar pribadinya.


"Apa yang harus aku lakukan....?" ucap Zerlicia sembari berbaring menatap langit-langit kamarnya setelah ia sampai di kamar tidurnya.


"Anak itu.... dia membuatku kebingungan. Aku harap semua yang kujalani hari ini, adalah mimpi bagiku. Benar....."

__ADS_1


"Mimpi terindah yang pernah aku jalani, semoga saja ini mimpi.... aku, masih belum sanggup untuk merelakan statusku sebagai seorang petualang....."


__ADS_2