
"Mengulangi lagi, apa kamu sudah gila, Zerlicia?", suara itu....
Ketika aku membuka mataku, terlihat di depanku, Archela yang tampak mengerikan. Selain itu, dia marah!!!
Karena takut, sontak saja aku tak sengaja menusuk leherku sendiri karena tadi.... aku meletakkan belati kecil ke leherku.
Ah, sayonara.
***
"Sungguh, kau sangat bodoh, Zerlicia."
Eh, kok?
*Bukannya kembali ke masa lalu, Zerlicia justru terbangun di waktu yang sama, seketika dia gemetar ketakutan. Bukan karena kemunculan Archela di depan matanya namun, karena ia tak bisa merubah masa depan, lagi.
"Kenapa nangis?"
"..."
Disaat ditanya kenapa Zerlicia menangis, tentunya dia tidak menjawabnya. Zerlicia berfikir, jika ia tak lagi memiliki kekuatan tersebut. Seharusnya kekuatannya untuk kembali ke masa lalu setelah kematian, masih ia miliki. Secara, dia sering menerima mimpi tentang masa depan.
"Kamu memang yang terbaik, Zerlicia," mengangkat dagu Zerlicia, Archela yang menatapnya, kemudian berkata...
"Bertarung lah denganku sekali lagi. Aku ingin tahu, bagaimana perkembanganmu selama ini.... aku harap kamu berkembang. Tunggu, kamu berkembang bukan? Kenapa kamu terlihat melemah ketika melawan Wayra? Kau bodoh apa?!"
"Wayra...."
"Ah, wajah kusut itu lagi. Begini saja, jawab aku, Zerlicia. Apakah kamu ingin kekuatanku?", Archela bertanya sembari mengulurkan tangannya kepada diri Zerlicia.
"Ya, aku ingin. Namun... aku tak sanggup.... seperti yang kamu bilang, aku tak sanggup melawan Wayra.... benar, aku tak berkembang. Silahkan bawa aku, siksa aku sepuasmu... aku tak peduli lagi."
__ADS_1
"Kau sangat cepat putus asa semenjak terakhir kali kita bertemu, Zerlicia."
"Entahlah. Aku lelah... aku berharap mereka tidak menyiksa adik-adikku tapi, aku yakin mereka tidak sebaik yang aku pikirkan. Aku ingin mengambil mereka kembali tetapi, apa aku bisa? Lebih baik aku mengulanginya dari awal saja. Begitulah pikirku yang bodoh," jawab Zerlicia yang tengah berputus asa.
"Archela, bisakah kamu melakukan sesuatu untukku?"
"Aku bukanlah seorang yang bergerak tanpa bayaran yang setimpal."
".... aku akan membayarnya dengan seluruh jiwaku. Kamu pernah berkata jika kita berdua terikat takdir, bukan?"
"Ya, kau benar," ucap Archela menanggapi pertanyaan Zerlicia.
"Maka dari itu, kemanapun aku kabur, cepat atau lambat aku akan tetap bertemu dengan dirimu. Jadi..."
"Bodoh, jika kamu menyerah begitu saja, aku jadi kehilangan moodku! Lihatlah Lein, tak lama lagi nyawanya terancam, seharusnya dari awal kamu menyembuhkan Lein terlebih dahulu. Namun kamu malah memikirkan hal bodoh!", ucap Archela dengan nada membentak.
"Kamu sangat pengertian, ya? Padahal kamu ini iblis."
"Terserah, setelah aku menyembuhkan Lein, aku akan bermain dengan dirimu, Archela."
"...."
Mengarahkan kedua telapak tangan nya, Zerlicia kemudian memulai penyembuhan terhadap luka yang Lein dapatkan.
Lukanya tidak dalam namun, jika terus dibiarkan, Lein akan meninggalkan dikarenakan kehabisan darah.
"Nona, siapa dia?"
"Seseorang yang akan menolong kita."
"Aku tidak berkata akan menolong, Zerlicia!"
__ADS_1
"Ayolah, sesekali biarkan aku bahagia dong!", ucap Zerlicia seakan ia tidak peduli jika dirinya tengah berbicara dengan Ratu iblis.
"Zerlicia, pedang!"
"Huh...?"
Mendekatkan telinganya ke bibir Lein, Zerlicia menerima bisikan dari Lein yang mengatakan bahwa....
"Pedang yang aku berikan kepada dirimu, yang merupakan warisan Ayahku... pedang itu adalah pedang penebas apapun. Ayahku bilang, saat waktunya tiba, dia ingin aku memberikan pedang tersebut ke orang yang ia yakini akan membuat perubahan besar terhadap negara yang busuk ini."
Begitulah kata Lein. Sontak saja Zerlicia berlari ke dalam, mencari dimana Lein menaruh pedang warisan ayahnya itu.
Lein beranggapan, jika ia harus membawa pedang tersebut ke panti sebab, pedang itu akan menjadi penentu bagi langkah mereka berikutnya.
"Yosh, Archela, aku siap kapanpun!", dengan senyum bahagia, Zerlicia keluar memegang pedang warisan ayahnya Lein.
"Apa kepalamu terbentur sesuatu? Seriusan, dari awal aku datang ke tempat ini, tingkahmu sangat aneh!"
"Jangan mengalihkan pandangan mu, Archela!", Zerlicia melesat ke depan, ia melompat kemudian menebaskan pedang yang harus dia pegang dengan kedua tangannya.
Senjata legendaris warisan ayahnya Lein. Zerlicia sangat berharap banyak kepada senjata indah yang dititipkan kepada dirinya.
Ia menebas Archela dari atas, namun tentu saja, karena dia Ratu iblis, seketika dia menghindari serangan Zerlicia. Namun, tak hanya sampai di situ. Zerlicia sedikit meniru cara bertarung Archela yang ia pelajari saat pertama kali dirinya bertemu dengan Archela. Setidaknya dirinya yang sebelumnya.
Sesuai yang ia pelajari, Zerlicia mengubah arah tebasannya, dari yang berarah vertikal, menjadi horizontal ke kiri.
"Oho, bagus juga kamu mempelajari teknik ku."
"Masih belum selesai loh, Archela! Pokoknya kali ini, aku akan membuatmu tunduk kepadaku!", ucap Zerlicia dengan penuh percaya diri.... atau mungkin, dia hanya asal bicara?
"Eh~, mari kita lihat, Zerlicia!"
__ADS_1