
Kemunculan Layha setelah sepuluh tahun menghilang, adalah sebuah berita besar, terlebih bagi keluarganya yang telah lama menunggu kepulangan dirinya. Akan tetapi...
Terbangun di dalam sebuah dungeon, Layha yang tidak tahu menahu tentang apa yang telah dia alami sebelumnya, kemudian beranjak pergi dari kursi tempatnya tidur tersebut.
"Tempat apa ini?"
Dirinya terus bertanya tentang dimana dirinya berada. Yang ia ingat, hanyalah saat *Kabut Hitam* merasuki tubuhnya. Layha masih ingat di saat dirinya membantai manusia namun, hanya di titik itu saja, Layha mengingat segalanya. Setelah kejadian tersebut, dirinya tidak tahu tentang apa yang dilakukan oleh *Kabut Hitam* dengan tubuhnya selama ini.
Layha berusaha berjalan keluar goa tempatnya terbangun, selangkah demi langkah dia jalani, Layha kerap berpapasan dengan monster-monster di dalam goa namun, dirinya merasa heran tentang mengapa monster-monster itu, terlihat seperti menghormati dirinya.
Ia sungguh tidak tahu apapun yang terjadi.
Namun, itu sebuah keberuntungan baginya, karena dirinya tidak harus merasakan sakit disaat mencoba menghindari sergapan monster-monster yang ada.
"Hah, sungguh, ini aneh."
Setelah sekian lama dia berjalan ke atas, akhirnya dia sampai juga. Awalnya Layha tidak merasakan keanehan yang terjadi pada dirinya hanya saja, disaat dia menyadari bahwa dirinya belum makan apapun selama berhari-hari, Layha sontak terkejut.
"Kenapa aku tidak merasa lapar? Bukan aku telah berjalan selama berhari-hari? Untuk haus.... ini aneh. Aku jarang merasa haus selama perjalanan."
"Apa yang sebenarnya terjadi...."
Meskipun dirinya bertanya-tanya tentang apa yang telah *Kabut Hitam* lakukan selama ini, Layha, dirinya tetap melihat ke depan.
Layha bertekad meneruskan hidup karena kini, kendali tubuhnya telah menjadi miliknya kembali.
"Woah, sesuatu itu benar-benar membuatku tampak berbeda... aku cinta rambut panjang ku namun... ugh, apa-apaan ini? Rambut pendek yang berantakan? Apa dia tidak pernah menggunakan shampo alami? Atau setidaknya dia belajar menata rambut! Ugh, aku benar-benar terkejut dengan penampilan ku."
"Selain itu, tanduk, telinga, gigi, serta ekor ini...? Aku jadi iblis? Huh, dari gadis yang cantik nan jelita, berubah jadi gadis iblis yang cukup mengerikan... huh, bagaimana aku harus menyikapi hal ini?" ucap Layha menggumam di hatinya.
Layha melanjutkan jalannya setelah sejenak bercermin pada danau yang terisi penuh dengan air segar dari pegunungan. Dirinya juga menyempatkan diri untuk mandi sejenak sebelum pada akhirnya, dirinya harus kembali berjalan entah kemana.
Setelah cukup jauh dirinya berjalan, akhirnya dia melihat sebuah kota yang tampak seperti kuburan. Layha sebenarnya ingin sekali menemukan kota yang ramai penduduknya karena menurut dirinya, kota tersebut dapat menjelaskan tentang apa yang telah terjadi selama ini serta, tanggal berapa hari ini. Begitulah niat Layha yang sesungguhnya. Namun, meskipun dirinya telah mengelilingi kota tersebut, Layha hanya menemukan berbagai gelandangan yang berceceran dimana-mana. Seperti nya mereka menunggu mangsa empuk untuk diburu. Seperti, bandit....? Namun warga kota tersebut dapat dikategorikan sebagai perampok? Bandit dan perampok itu sama!
"Iblis...."
"Dia datang untuk mengutuk kita kembali..."
"Jangan menatap ke arahnya!"
"Jangan bertatap mata dengannya..."
Begitulah kata-kata yang sering dia dengar selama dirinya berjalan di lingkungan kota tersebut. Secara garis besar, tubuh Layha bisa dibilang tidak lagi adalah seorang manusia. Setengah iblis... mungkin sebutan itu lebih cocok untuk dirinya yang sekarang ini.
Kata-kata yang dilontarkan oleh ibu ke anaknya, pria paruh baya, dan para gelandangan lain, rupa-rupanya berdampak pada perasaan Layha. Selama dirinya berjalan mengelilingi kota, dirinya hanya menemui wajah-wajah yang ketakutan akan dirinya. Tidak ada hal spesial yang ia dapat temukan di kota tersebut, termasuk makanan.
Selama Layha mengelilingi kota, ia tidak pernah sekalipun melihat lahan pertanian ataupun perkebunan milik warga kota tersebut. Dirinya juga tidak pernah melihat pedagang yang menjual sesuatu selain, tikus, kadal, dan berbagai hama lain yang banyak ditemui di tempat yang kumuh.
Benar-benar sebuah kota yang hampir mati. Layha tergerak hatinya untuk membantu warga kota namun, status nya sebagai setengah iblis, menghalangi dirinya untuk melakukan kebaikan ke seseorang.
Iblis selalu dipandang buruk oleh kebanyakan manusia. Hal itu membuat Layha tidak bisa berbicara langsung dengan manusia. Manusia selalu lari ketika melihat iblis. Begitu pula apa yang akan terjadi nantinya disaat Layha mulai menemukan kota yang benar-benar hidup dan layak untuk dihuni.
Hari demi hari berlalu, Layha telah sangat lama berjalan menuju ke arah yang ditentukan oleh arah angin. Jika angin mengarah ke Utara, dia akan ke Utara, begitu pula dengan arah arah lain. Setelah terbangun dari tidurnya Layha selalu menggunakan arah angin untuk menentukan langkah barunya untuk memulai hari.
Hingga pada akhirnya, arah angin menuntun dirinya pulang ke kota tempat kelahiran nya. Meskipun memakan waktu hingga tiga bulan lamanya, Layha tidak pernah sekalipun menyerah dalam menapaki jalan yang ia tempuh. Dan inilah, yang ia dapatkan.
__ADS_1
"Bukankah itu?" tersadar akan ciri khas kota tempat kelahiran nya, Layha sontak berlari sekuat tenaga menuju ke kota tersebut. Kota yang dulunya hampir punah, kini terlihat masih berdiri kokoh di tempatnya semula.
"Di sana!" melihat rumah kayu dengan bentuk yang membuat Layha merasa seakan bernostalgia! Layha kemudian mengetuk pintu rumah tersebut.
"Ayah ibu!!! Aku pulang!" sembari terus mengetuk pintu, Layha memanggil Ayah dan Ibu nya yang seharunya berada di dalam sana.
"Ayah? Ibu?!" namun, meskipun dirinya telah mengetuk untuk waktu yang lama, Layha masih belum menerima jawaban dari kedua orang tuanya.
"Ayah?! Ibu?!!" tak peduli seberapa banyak suara panggilan yang ia ucapkan, Layha tak kunjung mendapat balasan dari kedua orang tuanya. Secara perlahan dirinya mulai merasa cemas, hingga lama kelamaan, dirinya mulai benar-benar merasa khawatir karena pintu rumahnya juga terkunci rapat.
"Cari siapa, Nak?" saat kepanikannya mulai menguasai dirinya, Layha berniat untuk mencoba mendobrak pintu rumah kedua orang tuanya. Akan tetapi, saat ia memiliki niat semacam itu, ada seorang perempuan paruh baya yang bertanya kepada dirinya.
"Ayah dan ibuku. Mereka berdua tinggal di tempat ini. Apa ibu tahu dimana mereka?"
"Kalau boleh tahu, siapa dirimu, Cantik? Aku terasa familiar ketika melihat wajahmu."
"Layha Namsaka dari keluarga Namsaka."
"Layha.... ah, aku ingat!" setelah wanita paruh baya tersebut mengingat semuanya, beliau kemudian menarik lengan Layha untuk dibawa ke suatu tempat.
Dengan langkah pelan, wanita paruh baya tersebut membawa Layha ke suatu tempat yang tidak Layha ketahui.
Setelah sampai di sana, Layha dikejutkan dengan dua buah tengkorak manusia yang dipaku pada sebuah papan kayu, tampaknya, tengkorak tersebut baru meninggal selama kurang lebih 10 tahun lamanya.
Layha bertanya-tanya tentang apa yang ia lihat sembari terus berharap jika mereka bukanlah kedua orang tuanya namun... takdir berkata lain.
Wanita paruh baya tersebut mengatakan bahwa kedua tengkorak yang terpaku pada papan tersebut, adalah tengkorak milik kedua orang tuanya. Dan, sesaat setelah perkataannya membuat Layha terkejut hingga kedua kakinya lemas, wanita paruh baya tersebut, kemudian memanggil warga desa untuk datang ke tempat dimana Layha berdiri di sana.
"Apa-apaan ini?"
"Apa kamu kira kami percaya jika dirimu adalah Layha Namsaka?! Dengan tandukmu itu, kamu pikir kami percaya?!" teriak wanita paruh baya disambung dengan sorak-sorai dari warga yang tidak menginginkan kehadiran Layha di sana.
Setelah meneriakkan hal tersebut, seluruh warga kota yang ada, mulai menyerang Layha yang masih belum terbangun dari tempatnya terjatuh. Dirinya sontak menghindar dengan cepat lantaran instingnya membuat pergerakan yang harus dirinya lakukan secara langsung tanpa memerlukan persetujuan dari kesadaran Layha itu sendiri. Itulah insting.
"Aku bukan iblis!!! Aku benar-benar Layha yang kalian kenal!!!"
"Bohong! Layha tidak pernah belajar tentang bela diri ataupun teknik sihir. Kamu ini telah menjadi iblis!!"
"Tolong percaya padaku! Aku adalah Layha! Aku bukanlah seorang iblis!"
"Berisik!"
Tak peduli seberapa banyak Layha mengatakannya kepada para penduduk kota, tersebut, seluruh ucapan Layha tidak lagi berarti, yang bisa ia lakukan hanyalah menyerang, atau, menghindar. Hanya dua hal tersebut yang dapat dia lakukan sekarang ini.
Karena kesadaran manusiawinya, Layha mencari kesempatan untuk kabur dari para warga kota yang menyerangnya. Dirinya berusaha kabur dengan berlari kencang setelah melihat celah untuk kabur dari situasinya sekarang ini.
"Dasar iblis!"
Sebulan berlalu sejak hari dimana Layha menerima perlakuan buruk dari penduduk yang menempati kota tempat kelahiran nya. Tidak hanya orang tuanya saja yang dibunuh, kini Layha juga diburu oleh para warga kota tempat kelahirannya tersebut. Tidak, karena statusnya kini adalah seorang iblis, kemungkinan besar, Layha terus menerus akan diburu oleh para manusia. Secara umum, iblis yang terlihat lemah hanya akan menjadi buruan. Meskipun, sejatinya iblis adalah makhluk yang amat kuat, akan tetapi, jika iblis tersebut terlihat bodoh dan tampak lemah di mata manusia, otomatis manusia akan menganggap iblis tersebut sebagai makhluk yang lemah. Padahal pada dasarnya, iblis di atas manusia.
"....."
Berjalan sembari terus memikirkan tentang kekejian yang dilakukan oleh warga kota tempat kelahiran nya, Layha Namsaka tidak menyadari bahwa dirinya telah berada di sebuah kota yang tampak cukup besar. Tak hanya itu, kota tersebut telihat seperti kota yang hidup.
Layha berharap jika kota tersebut akan menjadi awal permulaannya untuk memulai kehidupan baru, sendirian, tanpa keluarga. Hanya dengan tubuh barunya saja.
__ADS_1
"Wah wah wah, Nona cantik ini hendak kemana?" saat berada di gerbang masuk, sama seperti dahulu disaat dirinya masuk ke kerajaan yang menjadikan dirinya sebagai budak, Layha digoda oleh beberapa penjaga.
"Maksudmu, aku?"
"Iya, itu kamu. Kamu sangat cantik. Apa tujuanmu datang ke tempat ini, Manis?" ucap Penjaga memuji Layha tanpa mempedulikan penampilan Layha yang sekarang.
"Umm... Paman baru saja menyebutku cantik?"
"Iya benar, ngomong-ngomong, jangan panggil aku Paman. Aku masih cukup muda. Panggil saja aku, Kakak."
"Hmmm... permisi..." karena ragu dengan keramahan Penjaga yang menjaga sisi kiri pintu masuk, Layha mencoba untuk berbicara dengan penjaga di sebelah kanannya.
"Ya?"
"Apa aku cantik?"
"Tentu!"
"Serius?"
"Iya..."
"Ngomong-ngomong, Nona, kenapa kamu terus-terusan bertanya tentang apakah dirimu ini cantik?" penjaga di sebelah kirinya kembali bertanya kepada dirinya.
"Soalnya... apa kalian tidak melihat tandukku? Ekor? Telinga, dan gigiku? Tak hanya itu, bukankah pupil mataku sedikit menyeramkan?"
"Lalu kenapa?"
"Huh?!"
"Bagi kami, kamu sangat menawan. Tak peduli dari mana pun ras mu, kami selalu menerima seseorang meskipun dari ras yang berbeda. Karena tujuan kota kami adalah, untuk bahagia bersama sama!"
"Huh?"
"Jangan takut ke kami. Dari sorot mata mu, kamu pernah mengalami hal buruk dengan kota-kota besar, aku benar?" ucap Penjaga di sebelah kanannya.
"Sebenarnya bukan kota, itu kerajaan."
"Hmm, kerajaan?"
"Ingat dahulu pernah ada kerajaan yang hancur karena kekuatan mistis?" ucap Layha.
"Sebuah kerajaan yang dihancurkan oleh seorang iblis dengan perantara manusia? Katanya budak yang mereka sekap memiliki kekuatan untuk membangkitkan seorang iblis?"
"Itu benar..."
"Jadi kamu berasal dari sana? Apa jangan-jangan, kamu adalah iblis itu?" tiba-tiba saja tatapan mata dari kedua penjaga tersebut, berubah dan seakan-akan terlihat seperti sedang mengintimidasi.
"Begitulah...."
"...." kedua penjaga tampak terkejut dengan pernyataan Layha. Berharap Layha yang terkejut karena candaan mereka, namun tetapi, kedua penjaga tersebut malah dibuat terkejut oleh Layha itu sendiri.
"Hahaha... kamu pasti mengalami hari-hari yang sulit ya? Bagaimana jika kamu berkeliling di kota terlebih dahulu? Apa kamu butuh uang?"
"Ah, soal uang... aku butuh sih. Hanya saja, jika memungkinkan, aku ingin pekerjaan yang mampu membuatku bertahan hidup."
__ADS_1
"Begitukah? Kalau begitu, coba kamu pergi ke kantor guild petualang. Biasanya mereka memperkerjakan seseorang dari ras lain seperti dirimu."
"... terimakasih banyak."