
"Angkasa makasih ya kamu sudah membawa ku ketempat ini,aku senang banget"Tutur Risa menatap wajah Angkasa yang duduk disebelahnya.
"Sama-sama udah malam pulang yuk"Ajak Angkasa berdiri menyodorkan tangannya pada Risa yang masih duduk dibawah pohon.
"Aku bisa bangun sendiri kok"Ucap segera berdiri tanpa memperdulikan tangan dingin Angkasa.
"Em"Angkasa menarik kembali tangannya.
Setelah mereka berdua pergi dari tempat itu kini mereka kembali ketempat dimana motor terparkir, menyusuri luasnya jalan dengan cuaca dingin membuat Risa mendekatkan kedua tangannya.
Setelah kurang lebih setengah jam menyusuri luas jalan kota kini mereka sampai didepan rumah Angkasa, tiba-tiba Risa terpaku melihat mobil hitam yang tak asing terparkir didepan rumah Angkasa yang tak lain adalah mobil milik ayahnya.
"Bukan nya ini mobil papa"Risa mengecek dari jendela mobil tersebut.
"Kamu masuk aja dulu aku mau masukin motor ke garasi"Ucap Angkasa melajukanya motor nya.
"Kok mobil papa ada disini jangan-jangan papa ada didalam"Ucap Risa berjalan kedalam.
"Eh,,Risa udah pulang loh mana Angkasa"Tanya Toni tersenyum melihat kemunculan Risa dari luar.
"Angkasa ada digaransi,,om kok mobil papa ada luar papa kesini,,mana kok nggak ada"Tutur Risa menoleh ke kanan-kiri.
"Nggak,, papa kamu nggak kesini itu mobilnya om yang bawa soalnya tadi mobil om mogok pas mau berangkat kekantor terus pas banget didepan rumah mu,jadi papa kamu minjemin mobilnya"Terus Toni tersenyum.
"Oo,,aku kira papa ada disini"Ucap Risa memonyongkan bibirnya.
"Oh iya tadi papa mu bilang kalau pulang malam,suruh nginap aja soalnya papa kamu juga nggak ada dirumah"Terang Toni menyeruput kopi dimeja yang hampir dingin.
"Papah mau kemana om?"Tanya Risa.
"Katanya rapat penting diluar kota, besok baru pulang"Tutur Toni.
"Tante mana om?"Risa clingak-clingik.
"Itu didapur"Tunjuk Toni.
__ADS_1
"Yaudah Risa bantuin Tante dulu ya om"Risa tersenyum menghampiri wira yang sibuk memotong sesuatu didapur.
"Loh,,baru pulang tante kira kalian lagi belajar diatas"Wira tersenyum ketika mendapati Risa berlari kecil kearahnya.
"Ee,,itu tadi kita mampir ke suatu tempat jadi pulangnya duluan Tante"Tutur Risa menarik bibir bawahnya.
"Emm romantis,,Tante jadi ingat masa muda dulu persis kayak kalian sweat cute"Ucap Wira tersenyum membayangkan sesuatu dalam cerita nya.
Mungkin bisa saja disebut sama romantis,sweat cute dan apa pun itu,tapi kisah kita beda Tante,om Toni begitu mencintai Tante,menjaga perasaan dan kepercayaan sampai akhirnya bisa terus bersama sampai sekarang sangat berbeda dengan aku dan Angkasa meski banyak kesan romantis tapi itu bukan sebagai pasangan melainkan sebagai sepasang mantan yang sama sekali tidak ada kepercayaan dan cinta yang sesungguhnya.
"Hey,,kok bengong sih"Wira menyenggol lengan Risa.
"E,,e,, enggak kok Tante Risa senang aja bisa dengar Tante cerita masa muda yang sweat gitu"Risa tersenyum.
"Yaudah sana kalian belajar nanti kalau masakan nya udah siap Tante panggil,mungkin angkasa udah ke atas kamu langsung kesana aja"Ucap Wira memotong sayuran.
"Iya Tante,,tapi Tante nggak papa masak sendirian?"Tanya Risa.
"Nggak papa Risa udah sana"Wira mendorong pelan tubuh Risa agar ia segera menyusul angkasa.
Tok,,tok,,tok
"Masuk aja pintunya nggak dikunci"Teriak Angkasa dari dalam.
"Aku masuk ya"Ucap Risa membuka pintu kamar Angkasa, yang kali ini terlihat lebih rapi dari pertama kali ia masuk.
"Oh iya kamu mencatat keterangan yang dijelaskan dipapan tulis tadi nggak"Tanya Angkasa menarik bangku satu lagi untuk Risa.
"Iya aku mencatatnya kok, sebentar"Risa mengeluarkan buku catatannya dari dalam tas dan memberikan nya pada Angkasa.
"Nah ini nih contoh yang aku cari"Ucap Angkasa tersenyum puas.
"Angkasa aku mau ngomong sesuatu sama kamu"Ucap Risa menatap Angkasa penuh arti.
"Ngomong apa?"Tanya Angkasa menyipitkan matanya.
__ADS_1
"Angkasa aku tau mungkin ini akan sulit untuk kamu tapi aku nggak bisa terus-terusan bohong kaya gini"Tutur Risa.
"Bohong tentang apa?"Angkasa memiringkan kepalanya tak mengerti.
"Angkasa orang tua mu begitu baik pada ku,,aku takut jika kita semakin lama merahasiakan hubungan yang nggak ada artinya ini,itu akan semakin menyakitkan dan pasti mereka akan kecewa"Jelas Risa
"Maksud'mu kita harus mengatakan sejujurnya pada mereka bahwa saat ini kita sudah tidak bersama lagi"Angkasa mengalihkan pandangan nya pada sebuah jendela yang terbuka dengan semilir angin malam yang menusuk tulang.
"menurut ku kita harus begitu"Ucap Risa menundukkan kepalanya tak sanggup menahan air matanya yang hampir jatuh di pipinya.
"Tapi Risa jika kita mengatakan nya sekarang aku tidak bisa mereka pasti akan marah besar pada ku"Teriak Angkasa tak sanggup.
"Aku tau itu,,pasti mereka akan marah besar karena kamu telah mengkhianati kepercayaan ku,tapi aku tidak bisa membiarkan ini lebih lama lagi"Jelas Risa menyela perbuatan angkasa yang selalu membuat luka itu mendalam.
"Aku tau risa,,aku memang melukai perasaan mu tapi aku ini juga manusia biasa,,aku berhak bahagia dengan orang lain kan"Teriak Angkasa didepan Risa.
"Iya kamu berhak kok bahagia,,tapi kamu tau nggak diatas kebahagiaan mu itu ada aku yang menderita disana,, Angkasa aku pikir kamu adalah laki-laki yang sama yang memberi kebahagiaan dimasa itu tapi aku salah kamu sudah berubah menjadi laki-laki kasar dan dingin seperti ini"Jelas Risa menghapus air mata yang membasahi pipinya, kalian ini ia membiarkan Angkasa melihat air mata itu jatuh agar dia bisa memperlihatkan seberapa besar luka yang ia buat.
"Kamu sendiri kan yang milih pergi dan ninggalin aku,, kamu pikir aku bisa hidup tanpa orang yang aku cintai sejak itulah aku mulai mencari kebahagiaan ku sendiri"Teriak Angkasa marah dan mengangkatnya tangan dihadapan Risa.
Angkasa,,, Angkasa mengangkat tangan pada ku dia benar-benar ingin memukul ku dengan tangan nya sendiri.
Risa tersungkur menangis dilantai tak percaya menyaksikan keberanian Angkasa mengangkat tangan dihadapannya.
Benar-benar tidak bisa dibayangkan jika seorang wanita harus mendengar kata-kata yang menusuk lalu tiba-tiba seseorang hendak memukulnya itu akan seperti hempasan pedang yang melayang menusuk begitu dalam.
"Risa,,Risa maafkan aku,,aku tidak bermaksud ingin melakukan nya aku hanya tak terima mendengar kata-kata mu,, maafkan aku ku mohon jangan menangis"Tutur Angkasa membelai rambut Risa halus dan berusaha menenangkannya.
"Aku pulang dulu"Ucap Risa berdiri mengemasi buku-bukunya kedalam tas dan meninggalkan Angkasa yang terduduk diam dilantai.
Aku bodoh,, kamu memang bodoh angkasa kamu membuat Risa menangis didepan mu sendiri.**S**eharusnya aku menyembuhkan luka dihatinya bukan malah membuat luka baru yang lebih sulit untuk sembuh.
Angkasa menarik kasar wajahnya dan berlari keluar mengejar Risa yang menangis kecewa.
Ini bisa disebut cinta penuh luka,,sejauh apa kita berlari dan menghindarinya jika memang itu ujung dari permasalahan maka akan tiba waktunya.
__ADS_1