
"Kamu kenapa berdiri diluar,ayo masuk"Ajak Risa menarik tangan Bintang masuk kedalam toko buku yang tidak terlalu ramai pengunjung.
"Bintang kamu tau nggak?toko buku ini sangat bersejarah bagi kehidupan ku"Tutur Risa sambil berjalan kearah rak buku favorit nya.
"Kenapa bisa begitu?"Tanya Bintang.
"Karena semasa aku sekolah,aku sering menghabiskan waktu ditempat ini bersama Nizam saat habis pulang sekolah"Ungkap Risa tersenyum kecil.
"Nizam itu yang kemarin perhatian banget sama kamu itu ya?"
"Iya, Nizam memang sangat baik dan perhatian,dia lah orang yang selalu berusaha menghibur ku saat aku sedang berada dititik lemah"
"Mungkin dia sebenarnya suka sama kamu"
"Dia tidak pernah menyatakan cintanya hanya saja aku tau perasaannya,maka sejak itu aku memutuskan untuk menjadi sahabat dekat tidak lebih"
"Apa itu karena Angkasa?"Cletuk Bintang.
"Mungkin,bisa jadi karena hati ku masih berat melupakan Angkasa,aku tidak tau kenapa, Angkasa begitu lengket dihati mungkin karena kita sudah bersama-sama sejak kecil"Jelas Risa tersenyum meraih sebuah komik berjudul"Dunia Siontara".
"Lalu siapa wanita yang tadi hampir bunuh diri, apakah dia pacar baru Angkasa?"Tanya Bintang.
"Iya dia bernama Renata,dia pacar Angkasa setelah aku pergi keluar negeri,menurutku dia cewek yang baik,dia juga sangat menyayangi Angkasa tapi ya sudahlah nggak usah dibahas lagi"Tutur Risa menarik tangan Bintang menuju ke rak buku yang lebih tinggi.
"Tolong ambilkan,aku tidak sampai"Ucap Risa menunjuk buku novel yang berjudul" selepas hujan" itu.
"Yang ini?"Tanya Bintang mengambil buku tersebut.
"Iya,aku sudah lama sekali tidak membaca buku-buku semacam novel seperti ini, karena aku lebih suka membaca komik"Ucap Risa tertawa kecil.
Aku bisa merasakan seberat apa penderita yang kau lalui Risa,kamu memang benar-benar wanita kuat,selain ibu ku aku tidak pernah menjumpai wanita kuat seperti mu.
"Oy"Risa menyenggol lengan Bintang yang terdiam menatap nya.
"Maaf,aku tidak bermaksud.."
"Udahlah, pulang yuk"Ajak Risa menarik tangan Bintang yang kemudian menuju kasir untuk membayar biaya buku yang ia beli.
__ADS_1
"Biar aku saja yang bayar"Ucap Bintang menyodorkan selembar uang kertas seratus ribuan kepada petugas kasir.
"Kamu belum mulai buka usaha,kok udah punya banyak uang"Ejek Risa tertawa.
"Ya walaupun aku belum buka usaha tapi aku juga punya uang,kalik"Sahut Bintang meringis.
"Iya,deh percaya"
"Eh, Bintang kira-kira kamu sudah menemukan tempat yang cocok belum buat buka cafe?"Tanya Risa membuka pintu toko tersebut.
"Udah ada sih,tapi kayaknya tempat nya kurang strategis gitu,jauh dari keramaian"Terang Bintang.
"Kalau gitu aku bantu cari, kebetulan aku tau beberapa tempat yang cocok buat buka cafe, tempat nya strategis dan aku rasa nanti bakalan narik minat banyak pelanggan"Ujar Risa memberi masukan.
"Boleh,yaudah sekarang aja"Sahut Bintang.
"Kamu semangat banget sih"Cletuk Risa menepuk lengan Bintang.
"Ya iyalah, harus semangat karena setiap lembaran baru itu harus diawali dengan semangat baru"
"Aku percaya kok, kamu pasti bisa jadi orang yang sukses"
"Iya, sama-sama"
Risa pun langsung menerabas jalanan kota Jakarta, yang saat itu cuacanya cukup mendukung,
untuk menikmati jalan-jalan.
Sementara dirumah sakit, Angkasa bersiap-siap untuk kembali pulang kerumah, karena Dokter sudah memperbolehkan nya pulang.
Diikuti hari yang sama dengan kepulangan Renata yang saat itu kebetulan berpapasan saat diarea parkiran.
Entahlah tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba saja Renata mengatakan bahwa dia telah menyesali perbuatannya dan dia juga meminta maaf atas kejadian tadi.
"Angkasa aku tau, mungkin kamu tidak akan mudah memaafkan ku tapi izinkan aku meminta maaf pada mu,aku benar-benar menyesalinya, tolong maafkan aku"Ucap Renata menyahut tangan Angkasa dan menggenggamnya.
"Sudahlah"Angkasa mengibaskan tangan Renata dan langsung masuk kedalam mobil diikuti Wira dan Toni.
__ADS_1
Angkasa aku sudah rela meminta maaf pada mu,tapi sikap mu ini membuatku sakit hati,aku tidak akan melupakan ini semua.
"Angkasa apa tidak lebih baik jika kamu berbicara dulu pada Renata?"Ujar Toni memasang sabuk pengaman.
"Sudahlah pah, biarkan saja dia lagian kan si Renata sendiri yang salah"Sahut Wira.
"Tapi,mah memaafkan orang itu juga penting, setidaknya kita menghargai perasaan nya,dia sudah tulus mengakui perasaannya dan mencoba minta maaf"Ucap Toni.
"Yaudah, Angkasa turun dulu untuk bicara pada Renata"Ucap Angkasa kembali turun dari mobil nya.
Setelah itu Angkasa mengajak Renata untuk mengobrol disebuah cafe yang ada didekat rumah sakit,tidak butuh waktu lama untuk sampai ditempat itu bahkan bisa di jangkau dengan berjalan kaki.
"Angkasa maafin aku ya,aku benar-benar menyesal benar kata mu bahwa kemarin bukanlah diri,selain meminta maaf kepada mu aku juga akan meminta maaf kepada Risa,asal kamu mau memaafkan ku"Tutur Renata yang duduk berhadapan dengan Angkasa.
"Tindakan mu itu bisa disebut kriminal, karena kamu sudah membahayakan nyawa seseorang tapi aku sudah memaafkan mu,tapi aku tidak tau apakah Risa bisa memaafkan orang yang membuatnya kehilangan anak nya"Jelas Angkasa.
"Maksud kamu apa?"
"Langit kami sudah tidak ada lagi,itu semua karena kamu, kamu lah orang yang seharusnya bertanggung jawab atas ini semua"Sahut Angkasa beranjak berdiri.
"Tunggu Angkasa,apa maksud mu aku adalah pembunuh anak kalian?"
"Lebih tepatnya seperti itu"
"Tapi aku tidak bermaksud"
"Sudahlah aku tidak mau membahasnya lagi"Sahut Angkasa melangkahkan kakinya meninggalkan Renata yang terdiam ketakutan.
"Bagaimana ini,aku sama saja disebut seorang pembunuh tapi aku tidak berniat akan itu,aku hanya ingin memberi pelajaran saja pada Risa,aku tidak tau jika akhirnya akan seperti ini."
Setelan Angkasa kembali ke mobilnya, terlihat Renata sangat gelisah dan ketakutan, tubuhnya benar-benar dibuat panas dingin oleh perkataan Angkasa yang jelas-jelas menunjukkan bahwa dia adalah seorang pembunuh.
"Aku harus bagaimana? apakah Risa dan Angkasa akan melaporkan ku ke polisi,aku tidak mau dipenjara,aku tidak mau..."
"Renata kamu kenapa diam saja,apa Angkasa mengatakan sesuatu?"Tanya Sari menepuk pundak Renata yang terdiam menatap kepergian mobil Angkasa, yang semakin jauh meninggalkan area rumah sakit.
"Nggak apa-apa kok mah,ayo kita pulang"Ajak Renata berjalan lebih dulu menghampiri mobilnya yang terparkir.
__ADS_1
"Aku yakin ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Renata,aku bisa melihat dari raut wajahnya yang nampak gelisah".