DEAR ANGKASA

DEAR ANGKASA
BAB 50:INDAH TAPI MEMBOHONGKAN.


__ADS_3

Selepas pulang dari rumah sakit,kini jenazah Niko langsung dibawa ke kediaman nya, tangisan Risa seketika pecah saat melihat papah nya sudah terbaring kaku dihadapannya, puluhan orang ikut menangis meratapi kepergian derektur ternama di Jakarta.


Ribuan rangkaian bunga menghiasi sekitar halaman rumah, beberapa derektur dari perusahaan lain ikut serta mengantar pemakaian Niko.


Risa yang lemas dan lesu mengiringi perjalanan pengantaran tempat peristirahatan terakhir papah nya,wajah pucat nya benar-benar menunjukkan betapa terpukul nya dia atas kepergian orang yang dia sayang.


Untuk kedua kalinya Risa merasakan betapa beratnya kehilangan orang yang dia sayang, setelah ini dia tidak bisa menebak apakah dia bisa menjalankan hidup nya tanpa papah nya.


"Sudah jangan menangis, ikhlaskan kepergian papah"Tutur Angkasa memegangi kedua pundak Risa yang hampir tidak kuat untuk berjalan.


Empat tahun silam ia merasakan kesedihan yang sama dan belum lama ini ia baru saja kehilangan buah hati nya lalu sekarang ia harus mengalami kesedihan yang sama untuk ketiga kalinya.


"Papah,Risa nggak akan kuat hidup jika papah pergi"Risa menangis dan tersungkur di tanah.


"Risa"


"Risa"


"Jangan seperti itu Risa,semakin kamu susah merelakan kepergian papah mu maka itu akan semakin membuat almarhum papah mu sedih"Ungkap Wira memeluk Risa yang terus menangis dan duduk di samping pemakaman Niko.


************


Sepulang dari pemakaman Niko,Wira menyuruh Angkasa untuk membawa Risa istirahat dikamarnya, karena setelah kembali dari pemakaman tubuh Risa terlihat kurang sehat.


"Kamu istirahat dulu,aku akan menyuruh mamah untuk membuatkan sup hangat"Ujar Angkasa beranjak berdiri.


"Angkasa, jangan tinggalkan aku,aku takut"Lirih Risa meraih tangan Angkasa yang hendak pergi.


"Kamu ingin aku menemani mu?"


"Iya, tolong jangan tinggalkan aku"


"Ok,aku akan tetap disini Sampai kamu bisa tertidur"Ucap Angkasa tersenyum mengusap kepala Risa yang mengeluarkan keringat dingin.


Perlahan Risa mulai menutup matanya,tangan halus Angkasa begitu nyaman menyentuh tiap-tiap helaian rambut panjang Risa.


Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dan ternyata muncul lah, Bintang yang berdiri di ambang pintu.


"Ada apa?"Tanya Angkasa menoleh.


"Apa Risa sudah tidur"


"Apa mata mu tidak bisa melihat"Hardik Angkasa.


"Apa seperti itu cara mu berbicara pada orang lain,nada kasar dan sikap sombong"Sahut Bintang.


"Siapa kamu bisa-bisa nya mengkritik ku?"Bantah Angkasa berjalan menghampiri Bintang.

__ADS_1


"Mungkin aku tidak ada hak, untuk mengkritik mu tapi ku sarankan jangan ucapan mu karena mulut mu cukup tajam "Ucap Bintang.


"Makin lama,aku makin muak melihat wajah mu,,pergi sana!!"Teriak Angkasa.


"Angkasa ada apa?"Tanya Risa terbangun karena mendengar suara Angkasa yang berteriak-teriak.


"Risa, kenapa kamu bangun?"Ujar Angkasa menoleh.


"Suara mu mengganggu ku"


"Maaf ya,aku tidak bermaksud membangunkan mu"


"Bintang,apa itu kamu"Tutur Risa mengucek kedua matanya.


"Iya"Ucap Bintang menghampiri Risa yang duduk di atas tempat tidur.


Orang ini selalu menggangguku,aku berharap dia segera pergi karena jika tidak,dia akan selalu hadir ditengah-tengah hubungan ku dengan Risa.


"Bintang, bisakah kamu membantuku memijat kepala ini,kepala ku sangat pusing"Lirih Risa.


"Tentu"Bintang tersenyum tipis memijat kepala Risa.


"Risa, biarkan aku saja yang memijat kepala mu, Bintang sepertinya banyak urusan"Sahut Angkasa.


"Tidak kok,aku sama sekali tidak ada urusan penting"Tutur Bintang tersenyum.


"Angkasa"Panggil Risa.


"Angkasa"


"Angkasa!!"


"Iya, kenapa Risa?"Ucap Angkasa kaget.


"Kamu kenapa sih,bengong? katanya kamu mau menghibur aku"Tutur Risa meraih tangan Angkasa yang berdiri didepan nya.


Risa seperti seorang ratu yang sedang dilayani oleh dua pangeran tampan disampingnya,lama kelamaan Risa mulai bisa menerima kenyataan pahit dalam hidupnya, nasehat Angkasa dan Bintang benar-benar membangun semangat baru untuk Risa.


"Jangan sedih,kan masih ada aku"Ucap Bintang.


"Heh, Bintang kamu apa-apaan sih"Tutur Angkasa mencubit lengan panjang Bintang.


"Aww"


"Risa,jika hari ini tidak ada pelangi di kehidupan mu,tunggu aku membuatkan pelangi untuk mu"Ujar Angkasa tersenyum menatap wajah Risa yang lembab karena menangis terus-menerus.


"Gombal"Ucap Risa memukul pelan Angkasa.

__ADS_1


"Ini serius,nggak gombal"


Aku mana bisa ngalahin Angkasa,kalau masalah gombalan kayak gitu,aku nggak berpengalaman.


"Risa, tatap mata aku"Ucap Bintang.


"Eh, apa-apaan main tatap-tatapan,nggak boleh,,nggk boleh"Sahut Angkasa.


"Hahaha.Kalian lucu banget sih"Tutur Risa tertawa.


Akhirnya Risa tertawa lagi, setelah berhari-hari aku tidak melihat senyuman dan tawa nya yang manis, bahkan pabrik gula pun bisa tutup saat dia mulai tersenyum.


"Jangan hilangkan senyuman itu"Ungkap Angkasa mengelus rambut Risa.


"Iya,aku juga merasa bahwa aku cukup lama kehilangan senyuman ini"


"Risa,maaf aku tidak bisa membawa mu menemukan lagi senyuman ini, karena satu-satunya orang yang bisa membawa senyuman itu adalah Angkasa"Ujar Bintang menatap Angkasa.


Akhirnya dia mengakui kekalahan nya juga,lagian bisa-bisa nya dia mau bersaing dengan Angkasa, Angkasa kan selain tampan dia juga bijaksana.


"Bintang,, Angkasa terimakasih banyak ya kalian berdua sudah membantu ku bangkit dari semua masalah ini"Tutur Risa meraih tangan Bintang dan Angkasa.


"Iya, sama-sama"


Malam ini Risa tertidur pulas tanpa adanya beban pikiran yang menggangu nya, tidak seperti hari-hari kemarin,kini Risa lebih sedikit membaik.


"Dimana Risa,sayang?"Tanya Wira pada Angkasa yang baru turun dari kamar atas.


"Udah tidur mah"Tutur Angkasa merebahkan tubuhnya diatas sofa panjang diruang tengah.


Sementara Nizam yang mengajak Amel untuk pulang bareng,namun Amel menolak karena dia ingin menemani Risa untuk sementara waktu.


"Aku mau disini saja, kamu pulang duluan aja"


"Mel,kamu pulang nggak apa-apa kok,disini kan ada Tante, Angkasa, Bintang dan Tasya lagian kamu kan lagi sakit"Tutur Wira.


"Nggak apa-apa kok Tante,Amel udah baikan kok"


"Kalau dikasih saran sama, orang tua itu didengerin"Sahut Nizam.


"Amel itu udah sehat Nizam,Amel Nggak apa-apa kok"Ungkap Amel.


"Kita bisa datang besok lagi, sekarang yang paling penting adalah kesehatan mu,ayo pulang"Nizam menarik tangan Amel dan mengajaknya pulang.


"Hati-hati di jalan ya"Ujar Tasya menatap dua orang yang mulai menghilang di balik dinding besar yang tinggi itu.


Nizam perhatian banget sama Amel,tidak biasanya Nizam memperlakukan Amel seperti itu,apa mungkin Nizam suka pada Amel tapi bukankah dia suka pada Risa.

__ADS_1


__ADS_2