
"Kalau kamu pergi,maka aku juga akan ikut"Teriak Renata.
"Kamu tidak perlu kasihan pada ku,aku akan menenangkan diri di kampung halaman ku"Ucap Bintang.
"Seberapa jauh kamu berlari dari kenyataan, kamu pasti akan tetap diikuti"Sahut Renata berjalan kearah Bintang yang hendak menaiki sebuah bus.
"Tapi semua akan hilang dengan sendirinya"
"Bolehkah aku ikut dengan mu?"
"Aku tidak bisa melarang mu"
"Benarkah"Teriak Renata senang.
Pagi ini Bintang dan Renata pergi ke kampung halaman Bintang,menaiki bus.
Perjalanan begitu mengasikan untuk seorang gadis seperti Renata karena ini untuk pertama kalinya ia, melewati perjalanan dengan naik bus, seperti saat ini.
"Begitu menyenangkan, tidak membuat bosan"Ujar Renata yang duduk disamping Bintang.
"Aku tau mungkin ini pertama kalinya,bagimu tapi aku rasa seharusnya kamu tidak perlu ikut"
"Tapi kenapa aku tidak boleh ikut, bukankah suasana di desa itu sangat menyenangkan"Ungkap Renata.
"Tentu saja sangat menyenangkan"Sahut Bintang.
Selama didalam perjalanan Renata berkali-kali jatuh dipundak Bintang, karena rasa ngantuk yang melandanya.
"Dia manis saat tertidur"Gumam Bintang membiarkan Renata bersandar dipundak nya.
Bus berhenti saat sudah sampai diperbatasan jalan,para penumpang turun dari bus dan langsung menuju halte bus yang ada di wilayah itu.
"Renata bangun,sudah sampai"Bintang membangunkan Renata yang masih tertidur pulas dipundak nya.
"Hah?sudah sampai?"Sahut Renata kaget.
"Iya,kita sudah sampai"
Dua orang itu pun langsung beranjak turun dari bus,cuaca cukup terik,matahari menyengat kulit mulus Renata.
Melihat Renata yang menutupi kepalanya dengan jari-jari kecilnya,membuat Bintang merasa kasihan dan langsung memakaikan topi hitam miliknya.
"Eh,nggak usah lagian kan aku pakai Hoodie, kepala ku masih bisa terlindungi dengan ini"Tutur Renata melepas topi yang tadi diberikan Bintang, dari kepalanya.
"Udah pakai aja, cuacanya panas"Lirih Bintang memakai kan topi itu kembali dikepala Renata.
"Makasih"Ucap Renata tersenyum meringis dibawah sinar matahari.
__ADS_1
Seperti masuk kedalam hutan, Renata menggenggam erat tangan Bintang agar bisa menghilangkan rasa takutnya, seketika terlintas rasa bersalahnya pada Risa yang ia kurung ditempat seperti ini.
Aku tidak bisa membayangkan betapa menakutkan nya tempat ini saat malam,aku merasa sangat bersalah pada Risa saat melihat tempat seperti ini, bagaimana keadaannya saat itu,pasti dia sangat ketakutan saat melihat gelapnya tempat seperti ini.
"Apa masih jauh?".
"Tidak, sebentar lagi kita sampai di balai desa"
"Kenapa harus lewat tempat seperti ini,apa tidak ada jalan lain yang lebih bagus?"
"Desa Cempaka, adalah desa pedalaman jadi sangat sulit dijangkau dengan kendaraan-kendaraan dan tidak banyak orang yang tau tentang desa kami"
"Kenapa bisa begitu?"Tanya Renata penasaran.
"Karena tidak semua orang bisa masuk kedalam, termasuk melewati hutan belantara ini"
"Apa ada sesuatu yang tersembunyi di tempat ini?"
"Iya,desa ini memiliki leluhur yang kuat ada beberapa jaringan tak kasat mata yang tersimpan di desa ini"
"Aaaaaa, maksudnya ada hantu disini"Teriak Renata memeluk erat pergelangan lengan Bintang.
"Bukan hantu,lebih tepatnya untuk melindungi desa kami dari orang-orang yang tak bertanggung jawab"Terang Bintang.
Ditengah-tengah perjalanan Renata berkali-kali mengeluh dengan kakinya yang mulai pegal saat melintasi jalanan yang penuh dengan kerikil-kerikil kecil yang tajam.
"Bisakah,kita berhenti sejenak"Lirih Renata menghentika langkah nya.
"Hemm"Renata menganggukkan kepalanya, menandakan dirinya benar-benar lelah.
Akhirnya mereka berdua beristirahat dibawah pohon, Renata memukul-mukul kakinya yang sedikit pegal, keringat mulai membasahi sekujur dahinya.
"Kaki mu sakit ya?"
"Hem, sedikit"
"Kamu lihat dua pohon itu"Bintang menunjuk dua pohon yang berdiri kokoh di hadapannya.
"Iya,ada apa?"
"Dua pohon itu menjadi saksi bisu atas kematian sepasang kekasih yang mengakhiri hidupnya secara tragis"Terang Bintang.
"Kenapa mereka melakukan itu?"
"Aku juga tidak terlalu mengerti cerita aslinya"Lirih Bintang.
"Apa mereka patah hati?apa mungkin mereka tidak dapat restu orang tua?"
__ADS_1
"Entahlah, yang aku tau mereka berdua kabur dari rumah untuk hidup bersama didunia lain"
"Aku masih tidak mengerti dengan orang-orang dulu, mereka terlalu percaya dengan hal-hal mitos dan misteri"Ungkap Renata kembali berdiri dan mengajak Bintang untuk melanjutkan perjalanan.
"Kaki mu sudah baik-baik saja"
"Santai,udah enakan kok"Ujar Renata mengulurkan tangannya pada Bintang yang ikut menatap ragu.
Bintang dengan ragu memberikan tangannya pada Renata, entahlah sejak kapan Bintang mulai nyaman berada didekat Renata, gadis yang selalu ia hindari selama ini.
Bintang aku senang bisa berjalan beriringan dengan mu, menggenggam erat tangan mu ini,ini bukan pertama kalinya aku jatuh cinta tapi ini sudah keberapa kalinya aku mencintai seseorang,tapi menurut ku kamu sedikit berbeda, kamu lahir dari keluarga biasa dan sederhana,sikap dingin dan cuek mu selalu membuat ku penasaran.
"Lihatlah,desa nya sudah terlihat"Ujar Bintang menunjuk kearah rumah-rumahan kecil yang mulai terlihat disudut sana.
"Apa rumah mu ada disana?"
"Iya"
Keduanya bergegas menuju tempat tersebut, sebuah desa kecil yang memperlihatkan plang bertuliskan desa cempaka, Renata cukup terhipnotis saat melihat tempat yang begitu indah dihadapan nya,ia sama sekali tidak memikirkan suasana dan keindahan lingkungan alam di desa tersebut.
"Desa kelahiran mu sangat indah,aku bahkan tidak membayangkan bagaimana keadaan di desa ini"Ucap Renata.
"Ayo,kita masuk"Ajak Bintang.
Tapi tidak seperti biasanya,suasana desa itu tiba-tiba menjadi seperti desa mati yang tidak berpenghuni.
"Kenapa sepi sekali?"
"Mungkin mereka sedang pergi berkerja di ladang"Sahut Bintang.
Meninggalkan Bintang dan Renata yang menikah suasana desa,kini kembali pada Angkasa yang marah pada keluarganya yang mencoba mencari tau tentang surat kehamilan yang mereka temukan di lemari kamar Angkasa.
Wira beradu mulut dan Angkasa yang terus mengelak saat ditanya, suasana ruang tengah nampak panas saat ibu dan anak itu mulai bertengkar.
"Aku tidak habis pikir kenapa kamu berani melakukan hal seperti ini, kamu telah merusak kehidupan seorang gadis"Teriak Wira marah.
"Semua itu sudah berlalu mah, Angkasa sudah menebusnya sekarang"Ungkap Angkasa.
"Jika saja aku tidak menemukan properti ini,apa kamu akan terus menyembunyikan nya dari Mamah dan papah?"Ucap Wira.
"Angkasa dan Risa tidak berniat menyembunyikan sesuatu dari kalian, tapi kamu sudah menganggap nya sebagai masa lalu"Terang Angkasa.
"Lalu dimana anak itu sekarang?"Tanya Toni bergeming.
"Saat tragedi penculikan,Risa mengalami keguguran"Lirih Angkasa menggosok wajahnya kasar.
"Apa!?"
__ADS_1
"Angkasa juga tidak tau mah, bagaimana Angkasa harus menjelaskan ini semua pada kalian tapi ceritanya sungguh panjang"Terang Angkasa.
Wira menangis tersungkur dilantai,ia meratapi bagaimana penderita seorang gadis kecil seperti Risa bisa melewati nya, rintangan hidup seorang gadis yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.