
Walaupun acara tadi tidak berjalan dengan rencana,tapi semua orang sangat bahagia dan antusias memeriahkan acara tersebut, walaupun sebelumnya Amel ingin memberi tau tentang masalahnya pada semua orang malam itu,tapi ia rasa semua orang justru tidak akan mendukung nya mengambil keputusan ini.
"Kamu udah siap?"Tanya Nizam.
"Aku pikir,kita harus memberi tau mereka tentang ini"Ujar Amel.
"Bagaimana jika mereka tidak mendukung kita, bukankah itu justru akan membuat kita semakin sulit"Ungkap Nizam.
"Tapi mereka adalah sahabat kita, tidak baik jika kita menyembunyikan sesuatu dari mereka"Tutur Amel meyakinkan Nizam.
"Baiklah,kita beritahu mereka karena bagaimana pun juga mereka tetap berhak tau semua ini"Nizam tersenyum meraih tangan Amel.
"Kita menyuruh mereka semua datang ke cafe,ya"Ujar Amel.
"Yasudah kamu beritahu mereka"
Setelah mereka semua diberitahukan untuk datang ke sebuah cafe,yang biasa mereka datangi.
******
Sesampainya di sana, semua orang begitu antusias mendengarkan cerita dua pasangan yang sama-sama sedang dimabuk asmara itu.
Lantunan musik barat diputar disudut Cafe, terpajang tulisan" cafe latte love" di depan pintu masuk, pengunjung mulai ramai masuk keluar Cafe dan rata-rata pengunjung didominasi oleh kaum remaja karena Cafe ini memang biasa dibuat untuk kumpul para remaja.
"Kamu yakin?"Tanya Amel mengomentari keterangan Amel.
"Nggak ada cara lain"Ucap Nizam.
"Tapi aku rasa tindakan ini, terlalu beresiko"Sahut Angkasa.
"Iya,bahaya tau yang..eh,maksud aku Amel"Ceplos Reza memukul mulutnya.
"Awas aja, nanti kalau salah sebut lagi"Ancam Nizam menunjuk Reza.
"Udah-udah kita nggak punya banyak waktu untuk semua ini, sekarang yang perlu aku sampaikan kepada kalian adalah,dukung kami untuk mengambil langkah ini"Terang Amel.
"Tapi ini terlalu beresiko Mel!"Ungkap Tasya.
"Nggak ada cara lain,aku nggak mau dijodohkan dengan orang yang tidak aku cintai"Jelas Amel.
"Jika ini adalah cara terbaik untuk kalian,kita pasti dukung kok,ya kan?"Tutur Angkasa menepuk pundak Nizam.
"Thanks ya guys"Sahut Nizam tersenyum menatap semua teman-teman nya yang menganggukkan kepalanya.
Dukungan mereka seakan-akan menjadi semangat baru untuk Nizam dan Amel,malam ini sepulang dari Cafe mereka membantu Nizam dan Amel menyiapkan segala keperluan hidup baru mereka, seperti apartemen dan mobil, mereka melepas sedih kepergian Nizam dan Amel yang memperjuangkan cinta mereka.
*****
Pagi ini Nizam dan Amel langsung bergegas memasukkan semua koper-koper kedalam bagasi mobil, mereka sengaja berangkat lebih pagi untuk menghindari ayah Amel yang selalu melarangnya keluar dan berhubungan dengan laki-laki lain.
__ADS_1
Ayah, maafin Amel sebenarnya ini berat untuk Amel karena harus meninggalkan ayah sendirian tapi cinta Amel hanya untuk Nizam,aku harap ayah cepet mengerti.
"Mel!ayo"Panggil Nizam membukakan pintu mobil untuk Amel yang terus berdiri menatap rumahnya untuk terakhir kalinya.
"Iya"Lirih Amel menghela nafas dan langsung masuk ke dalam mobil.
Di tengah kabut pagi yang masih sayup-sayup terlihat menyelimuti kota Jakarta, kendaraan terlihat sepi dan terlihat kios-kios kecil mulai membuka untuk mengais rezeki.
Sekarang yang terlintas dipikiran Amel adalah bagaimana Nizam dan dia bisa hidup jauh dikota lain, apakah kebutuhan mereka bisa tercukupi.
"Amel,kamu kenapa?"Tanya Nizam meraih tangan Amel yang dari tadi hanya duduk diam.
"Nggak kok,aku cuman kepikiran bagaimana kita bisa hidup disana, apakah kebutuhan hidup kita untuk sehari-hari bisa tercukupi"Ungkap Amel risau.
"Kamu tenang saja, jangan pikirkan itu,aku telah membawa kartu ATM dan uang tabungan ku, jadi kamu tidak perlu khawatir"Tutur Nizam tersenyum.
"Apa kita bisa melewati ini semua?"
"Pasti bisa,kita beli sarapan di toko roti bakar yang ada didekat sini dulu ya"Ujar Nizam menepikan mobilnya di ruas jalan.
Setelah Nizam membeli dua kotak roti bakar dan minuman latte hangat,ia pun segera kembali kemobil yang terparkir dipinggiran jalan.
"Sarapan dulu,biar perutnya nggak sakit"Ucap Nizam memberikan kotak roti tersebut.
Aku masih nggak nyangka kalau Nizam sedewasa ini,aku kira dia seseorang laki-laki yang egois dan kasar ternyata aku salah,dia sangat lembut bahkan lebih lembut dari sutra.
"Kenapa kamu melihat ku seperti itu?"
"Hah kagum?"
"Iya, kamu sangat ganteng jadi tidak heran selama ini aku suka sama kamu"Ucap Amel menyembunyikan senyum nya.
Selama didalam perjalanan Amel dan Nizam terus mengobrol kan, rencang mereka kedepannya termasuk pernikahan dan anak-anak kecil.
Sementara itu Risa dan Angkasa menghabiskan waktu bersama disebuah tempat favorit mereka yaitu alun-alun kota dan taman.
Karena ini terlalu pagi,jadi gerbang taman masih ditutup, sehingga Angkasa dan Risa memaksakan diri untuk masuk kedalam dengan cara meloncati pagar yang tidak terlalu tinggi itu.
"Jangan takut,nggak tinggi kok"Ucap Angkasa yang mencoba membantu Risa untuk melompat.
"Takut"
"Nggak apa-apa,loncat aja"
Akhirnya tubuh mungil Risa mendarat selamat diatas rumputan hijau di taman tersebut.
"Kita kayak mau maling ya"Tawa Risa.
"Aku jadi rindu masa kecil kita, kamu ingat dulu kita sering melompat lewat pagar ini,demi bisa melihat ukiran cinta kita"Tutur Angkasa.
__ADS_1
"Iya,kita sering bolos sekolah,main hujan-hujanan dan kita selalu pergi ke tempat ini"
"Nih buat kamu"Angkasa mengulurkan tangan yang menggenggam setangkai mawar pink.
"Angkasa, kamu jangan asal metik bunga,itukan dilarang"Seru Risa menepuk bahu Angkasa.
"Ya,maaf udah terlanjur"Sahut Angkasa.
"Dasar"Manyun Risa.
"Pagi-pagi gini nggak ada pelangi ya?"Lirih Angkasa memandang langit diatasnya.
"Kamu aneh deh,mana ada pelangi muncul sebelum hujan"
"Ada, akan ku buat kan pelangi yang muncul sebelum hujan untuk kamu"Ucap Angkasa tersenyum menggandeng tangan Risa.
"Dasar cowok sekarang, bisanya nyontek kata-kata di Instagram"Sahut Risa.
"Siapa yang nyontek di Instagram?"
"Terus nyontek dimana?"
"Di google"Tawa Angkasa berlari ketika wajah Risa sudah terlihat kesal.
Sepagi ini mereka datang ke taman demi melihat ukiran cinta mereka dipohon takdir itu, seperti biasa setelah puas melihat ukiran tersebut, mereka langsung menghabiskan waktu bersama dibawah pohon, mereka akan berbaring menatap langit dan daun-daunan rontok pun ikut serta menghiasi tawa mereka.
Setelah matahari mulai terlihat dan orang-orang mulai berdatangan di tempat itu, Angkasa mengajak Risa untuk menikmati es krim dan bakso kesukaan mereka, karena terlihat penjualan kaki lima andalan mereka sudah buka.
"Sepagi ini makan es krim,nggak takut sakit perut nanti?"Tanya penjual bakso yang akrab disapa bang Uda.
"Nggak,kita sudah kebal"Sahut Angkasa.
"Mas Angkasa,udah gede aja ya?saya hampir lupa soalnya udah bertahun-tahun nggak makan bakso disini"
"Bang Uda,masih ingat dia"Tanya Angkasa menunjuk ke arah Risa yang tersenyum-senyum mendengar kan obrolan mereka.
"Siapa ya?saya lupa"
"Dia itu belahan hati saya"Ucap Angkasa.
"Angkasa, apa-apa sih kamu"Senggol Risa tersenyum malu.
"Oalah belahan hati,saya kira mas Angkasa masih sama Mbk Risa"
"Ya ini Risa,Bang Uda!"Sahut Angkasa sepontan kesal.
"Oalah ini mbk Risa, maaf-maaf saya lupa soalnya sekarang tambah cantik,saya sampai nggak mengenali"
"Giliran liat yang cantik suka lupa"Ungkap Angkasa.
__ADS_1
"Maaf mas Angkasa,ya sudah dinikmati bakso nya"Kata Bang Uda meletakkan dua mangkuk bakso di depan mereka.
Mereka menikmati dua mangkok bakso tersebut, sudah lama mereka tidak makan bakso itu,sudah hampir empat tahun lebih, mereka tidak merasakan manisnya cinta mereka.