Delapan Tahun Pernikahanku

Delapan Tahun Pernikahanku
Venus Menginginkan Perpisahan


__ADS_3

" Kalau kamu beban menghidupiku, akan lebih baik kalau kita berpisah saja." Venus berkata seperti tidak ada beban.


Lion terdiam.


" Aku sudah mencoba bertahan sampai sekarang, tetapi kamu tidak pernah menghargai usahaku. Apa kamu pikir, menghadapi kamu itu mudah? Dengan kamu yang mau menang sendiri, kamu yang selalu membuat masalah dengan bertukar pesan dengan beberapa wanita-wanita di luar sana. Itu sama sekali tidak mudah Lion. Belum persoalan ekonomi yang tidak ada kejelasan dari kamu. Apa kamu pikir, aku bahagia?"


Venus berdiri dikaki yang sebetulnya dia sudah tidak sanggup. Hatinya bergetar, jantungnya berdetak kencang, dari kedua bola matanya menetes banyak air mata, karena menyimpan luka yang harus dipendam sendiri tanpa bisa lari berusaha mengobati. Hidupnya terpenjara oleh perlakuan dari suami yang semena-mena.


" Ini daftar belanja yang sudah aku beli semua, apa aku terlihat curang terhadap uang yang kamu berikan selama ini."


Venus memberikan daftar belanja di atas meja tepat di depan Lion berdiri.


Lion menarik nafasnya dalam. Sesak dada Lion ketika berbicara masalah uang.


" Berapa yang kamu berikan kepada saya, apa saya pernah perawatan ke salon minimal setiap bulan, tidak. Apa aku pernah jalan-jalan bersenang-senang dengan Nuno untuk sekedar mencari udara segar, tidak. Bahkan uang yang kamu beri selalu tak pernah lebih, karena rasa tidak percaya kamu terhadap istri kamu sendiri. Rumah tangga seperti apa ini. Rumah tangga yang tidak didasari dengan rasa saling percaya satu sama lain. Lalu buat apa? apa tidak sebaiknya kita berpisah?"

__ADS_1


" Aku bukan petugas audit."


Lion yang menatap daftar belanja yang sudah dicatat oleh Venus.


Venus menggeleng-gelengkan kepala dengan wajah sinis.


" Kamu itu aneh, kamu tidak pernah percaya kepada aku selama ini dalam hal mengatur keuangan, sekarang sudah aku catat semua pengeluaran pokok untuk kebutuhan kita dan apa saja yang sudah aku beli, kamu bilang kamu bukan audit, terus aku harus apa? harus selalu meminta setiap saat kepadamu kalau aku menginginkan sesuatu. Apa kamu selalu ada di rumah?"


Wajah Venus penuh dengan kesal terhadap Lion yang tidak pernah percaya sekalipun Venus tidak pernah membelanjakan untuk barang yang tidak berguna. Dari membeli kebutuhan wanita saja, Venus harus meminta dan laporan kepada Lion. Kemudian Lion yang membelikannya.


" Baiklah, aku akan mengalah, mulai sekarang sebaiknya kamu saja yang belanja semua hal termasuk hal terkecil, apapun itu."


Aku benci semua ini, mengapa aku selalu saja salah.


Apa saja yang aku lakukan dimata Lion tidak pernah benar.

__ADS_1


Bagaimana bisa aku bertahan sejauh ini?


Mengapa aku tidak bisa lari menjauh pergi?


Meninggalkan semua luka yang sudah dia tancapkan begitu dalam.


Mengobati luka ini sendirian dengan penuh harapan.


Sudah jelas-jelas dia menyakitiku banyak hal.


Tetapi aku masih berdiri disini menggenggam bara yang selalu dia hidupkan.


Tuhan, tidak adakah jalan keluar supaya aku bisa pergi lenggang meninggalkan dia yang tidak perhatian.


Venus duduk di tempat tidurnya dengan penuh lamunan.

__ADS_1


" Dimana ayah ibu?" Nuno bangun dari tidurnya.


Hati Venus bagaikan teriris pisau. Mendengar Nuno mencari ayahnya. Venus menyentuh kening Nuno dengan lembut supaya Nuno tertidur kembali. Nuno adalah sosok yang pertama yang akan tersakiti seandainya Venus benar-benar menginginkan perpisahan.


__ADS_2