Delapan Tahun Pernikahanku

Delapan Tahun Pernikahanku
Pergi sulit bertahan sakit


__ADS_3

"Aku minta uang." kataku lirih pada Lion


"Nggak ada!!" jawab Lion dengan suara lantangnya


Aku hanya bisa diam. Ini sudah kesekian kalinya. Setiap aku meminta uang, Lion selalu bilang tidak ada.


Lion bukan tipe suami yang bisa terbuka dengan istrinya, apalagi masalah keuangan.


Bahkan kami tidak pernah saling ngobrol yang hanya sekedar santai sambil ngeteh maupun ngopi.


Bahkan dia tidak pernah bertanya, apakah uang yang diberikan itu cukup atau tidak. Aku sebagai istri pun terkadang bingung dengan Lion.


Dia tidak sepengertian dan tidak pada umumnya pria yang sudah menikah. Rumah tangga ini, entahlah aku menyebutnya dengan apa.


"Aku baru sadar, ternyata aku hanya pelarian, hanya dibuat status saja."


Sebentar akupun diam.


"Aku dinikahi bukan karena atas dasar cinta, Ya,, aku juga awalnya belum mencintai kamu, tapi seiring berjalannya waktu, cinta itu tidaklah utama. Yang penting adalah suami yang bertanggung jawab."


Kataku lagi pada Lion.


"Aku bingung aja, Kamu itu punya pekerjaan mapan, dan pastinya punya gaji tetap. Tapi kenapa setiap dimintai uang selalu mengeluh tidak ada."


Kataku sekali lagi pada Lion.


Lion hanya diam dengan pura-pura tidur dan tidak mendengarkanku.


Jujur sebenarnya, aku tidak kuat lagi, tangisku pecah. Aku selalu menyembunyikan air mataku dengan masuk ke kamar mandi. Entah itu pura-pura mandi atau hanya sekedar cuci muka.


Dikamar mandi adalah tempat ternyaman ketika aku menangis bersedih setelah berantem dengan Lion.


Air mata yang tumpah seolah tertutupi dengan basuhan air yang mengalir. Membaur tanpa ada celah. Sehingga aku tanpa sadar, jika aku sedang bersedih dan menangis.


Aku juga mengetahui dari chat di ponsel Lion beberapa waktu lalu, Bahwa ada seorang wanita yang habis meminjam uang padanya dan meminjam uang lagi kepadanya untuk membuka usaha.

__ADS_1


Setelah aku membaca chatnyapun aku sakit hati. Tidak habis pikir dengan Lion. Terhadap istrinya dia begitu tega. Sedangkan entah itu teman atau siapanya dia begitu royalnya.


Seperti tersambar petir, Jantung berhenti sesaat. Serasa tak percaya. Tapi benar adanya. Ketika aku mencoba mempertanyakan pada Lion maksud dari chat itu, Lion seolah menghindarinya.


Lion memang tidak ingin pernikahannya denganku kandas seperti dulu. Dulu, dia pernah bilang bahwa istrinya berubah setelah di pegangi uang banyak dan kartu kredit. Menjadi tidak suka masak, sering belanja baju, kurang memperhatikan keluarga, menjadi berani dan tidak hormat terhadap suami, dan masih banyak lagi.


Terkadang aku berfikir, Disini aku adalah korban dari perceraian Lion dan mantan istrinya. Lion menjadi tidak percaya dengan aku istrinya yang sekarang karena masa lalunya.


Tapi ini tidak adil buatku. Karena menurutku, aku bukanlah mantan istrinya. Kenapa aku disamakan. Seolah takut kalau aku akan sama dengan mantan istrinya, dan membuat rumah tangga ini kembali hancur.


Justru dengan sifat Lion yang seperti ini, membuat kehancuran sendiri dalam rumah tangganya. Namun Lion seolah tak menyadarinya atau enggan perduli dengan sikapnya.


Kata cerai, sudah bukan yang pertama ku ucapkan, kedua, mungkin sudah lebih. Melainkan sudah kesekian kalinya aku berkata cerai padanya.


Seperti tak sanggup menghadapi suami seperti Lion. Aku menjadi sadar, bahwa yang mungkin, membuat mantan istrinya selalu meminta uang dan uang harus dipegang oleh istri waktu berumah tangga yang dulu adalah ini.


Ini jawabannya, Bahwa Lion dengan seenaknya dan mudahnya meminjami uang kepada wanita-wanita diluar sana. Entah itu kepada rekan kerjanya atau apalah yang aku juga tidak faham dengan fikirannya.


Aku sampai sering menceramahinya.


Digunakan untuk membahagiakan anak istri akan lebih bermanfaat dan mendapat banyak pahala. Dan rezekimu akan dilipat gandakan oleh Allah SWT." Aku sering mengatakan itu pada Lion.


Bukannya malah diberikan kepada anak istri, Istri senang bisa diajak ke salon untuk perawatan. Mempercantik diri. Malah Lion lebih senang melihat wanita-wanita cantik di luar, ketimbang memberikan uangnya untuk mempercantik istrinya.


Getir rasanya rumah tanggaku. Pahit tapi harus kutelan sendiri. Tidak hanya meneteskan air mata sehari dua hari. Bahkan hampir setiap hari. Kebebasanku terenggut. Aku tidak bisa mengekpresikan diriku sendiri semenjak menikah dengan Lion.


Apapun yang kulakukan untuk mencari uang tambahan, walau hanya sekedar jualan kecil-kecilan lewat online pun seakan salah Dimata Lion. Lion tak pernah menyetujuinya.


Karena apa? Karena kalau aku memegang uang, Lion beranggapan aku akan pergi meninggalkannya. Dan ya itu benar sekali.


Emosiku selalu memuncak, dikala Lion menguji aku seperti ini terus.


Aku memang memutuskan ingin pergi dan menyudahi semuanya. Rasanya sudah cukup. Kuanggap sebagai pengalaman hidup dan pelajaran berharga untuk diriku.


Tapi setiap keinginan untuk pergi dari rumah ini. Selalu bertabrakan, ketika aku melihat Nuno.

__ADS_1


Aku selalu mengalah dan tidak boleh egois memikirkan kebahagiaanku sendiri tanpa memikirkan Nuno.


Sekali lagi, aku bisa saja pergi meninggalkan Lion dan rumah ini. Namun ketika aku melihat Nuno. aku selalu meneteskan air mata.


"Masa iya rumah tanggaku harus hancur?"


"Masa iya aku harus menyerah sampai disini?"


"Kenapa baru sekarang?"


"Kenapa tidak dari dulu?


"Bukankah Lion selalu seperti itu dari dulu, selalu menyakitiku."


"Bagaimana dengan Nuno nanti?"


"Bagaimana kalau Nuno mencari ayahnya?"


Dan masih banyak lagi.


Kira-kira pertanyaan-pertanyaan itulah yang selalu berkecamuk dan mencambuk isi kepalaku.


Luruh tenagaku menjadi tidak berdaya tatkala dihadapkan pada pilihan yang sulit antara pergi dan bertahan. Pergi rasanya sulit namun bertahanpun sakit. Itulah yang kualami tatkala berumahtangga dengan Lion.


Dan menjadi sungguh tidak adil, ketika Lion nampak tenang dan seolah tidak ada masalah dan menganggap sedihku, tangisku, kecewaku padanya seolah hal biasa.


Bahkan bisa dikatakan dia sungguh tidak perduli dengan sikapku dan amarahku padanya.


Kata cerai yang aku lontarkan berulang kali menjadi hal biasa dalam rumah tangga kami. Aku sadar aku salah. Namun jujur saat itu, hanya kata itu yang bisa menenangkan ku dan melupakan segala pesakitan yang dilakukan Lion padaku.


Disini aku mencoba mengalah untuk kesekian kalinya. Memahami Lion sudah entah keberapa kalinya dalam hidupku. Semua seolah aku berjuang sendiri melawan perasaan sakit hatiku padanya.


Berperang batinku setiap hari, menganalisa tindakan, sikap dan perilakunya Lion padaku. Sulit menjelaskan perasaanku padanya. Dan semua aku tahan dan pendam sendiri. Melawan rasa sakit yang sudah diberikan Lion kepadaku.


Rumah tangga ini benar-benar seperti di dalam neraka. Satu sama lain seolah menggenggam api dalam sekam. Seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja.

__ADS_1


Empat tahun perjalanan rumah tangga kami, sungguhlah sulit dilalui saat itu.


__ADS_2