
Sylvia menoleh ke arah Haris. Sylvia menyalakan dan mengendalikan mobil dengan pelan biarpun jalanan lengang karena sudah larut malam.
" Sampai kapanpun aku tidak mau tanda tangan. Aku menikah dengan Sylvia itu karena sakit hati dengan keluargamu yang menganggap aku mandul. Setelah aku buktikan sendiri, bahwa aku tidak mandul Chi. Cintaku sama kamu masih seperti dulu. Aku hanya melakukan kewajiban ku layaknya seorang ayah aja untuk anak-anakku. Tidak
lebih." Sylvia yang menyetir mobil merasa sakit hati dengan omongan Haris yang ngelantur. Konon katanya semua perkataan orang mabuk adalah benar adanya. Beberapa saat kemudian mobil berhenti tepat di depan rumah mereka. Sylvia membuka pagar dan kembali ke mobil untuk memasukkannya. Setelah semua selesai Sylvia dengan susah payah membawa Haris masuk ke dalam rumah. Sylvia membawa Haris ke kamar mandi dan di guyur air shower.
Keesokan paginya. Sylvia dengan sangat kerepotan mengurus kedua buah hatinya untuk pergi ke sekolah. Dari meyiapkan sarapan untuk Haris dan anak-anak yang mau berangkat ke sekolah. Belum bayinya yang menangis karena dirinya sibuk menyiapkan semuanya. Sylvia sangat sabar mengantar anak-anaknya dengan membawa bayinya pergi mengantar kakak-kakaknya yang mau berangkat ke sekolah. Setelah Sylvia kembali dari mengantar anak-anaknya. Sylvia melihat Haris yang sedang duduk di meja makan sedang menyantap hidangan pagi yang sudah disajikan Sylvia di meja makan.
" Kamu sudah bangun mas."
Haris tidak pernah seperti itu sebelumnya. Sebesar apapun masalah dengan Sylvia dia tetap menjawab pesan atau mengangkat telepon. Apalagi hanya sekedar diajak bicara sudah tentu dia akan menjawab. Berbeda dengan Haris yang saat itu sedang memikirkan permintaan Echi menyetujui Surat cerai, membuat dia seperti tidak bergairah lagi. Sylvia yang meletakkan bayinya ke tempat tidur khusus bayi yang berada dalam kamarnya, kemudian menghampiri Haris di area meja makan. " Mas kamu ada apa? Apa yang terjadi sebenarnya?"
" Aku tidak apa-apa."
" Tidak apa-apa bagaimana, semalam kamu mabuk berat dan kamu tidak pernah melakukan itu sebelumnya. Kamu bilang tidak apa-apa." Dengan gaya Sylvia yang lembut dan halus nada bicaranya yang sesungguhnya dia tahu bahwa Haris sedang ada masalah dengan Echi namun Sylvia tidak tahu betul apa yang sedang mereka permasalahkan.
" Echi sudah tahu semuanya."
__ADS_1
Sylvia yang tertegun, kemudian menoleh ke arah Haris. " Maksudnya?"
" Echi sudah tahu, kalau aku menikahi kamu dan punya anak."
" Dari mana dia tahu?"
Haris menyembulkan pundaknya Dan menyeruput kopi yang dibuatkan Sylvia. Haris menggeser kursi ke belakang dan melangkahkan kakinya menjauh dari Sylvia sembari berkata " Aku pergi dulu."
Haris yang biasanya mendaratkan kecupan bibir di area wajah Sylvia memang berubah. Sylvia pasrah dengan sikap Haris. Sylvia percaya bahwa semua akan baik-baik saja. Haris yang membuka pintu utama rumah pagi itu terkejut dengan mobil Echi begitu juga dengan Echi yang berdiri di samping body mobil menghadap tepat di pandangan Haris ketika membuka pintu. Hanya saja jarak mereka jauh. Namun itu benar-benar membuat Haris terkejut dan berkata namun tak bersuara. Hanya terlihat dari bahasa bibirnya yang mengucap E-chi. Kenapa dia bisa tahu rumah ini? Apa dia membuntuti ku? Aku pikir dia sewa mata-mata.
Haris kemudian membuka pagar. " Sayang kenapa kamu kesini."
" Kamu belum tanda tangan mas, makanya aku kesini."
Sylvia yang melongo terkejut dan menghentikan langkahnya karena melihat kedatangan Echi.
" Hai Syl." Echi yang berucap santai menoleh ke arah Sylvia. " Kamu tenang saja, aku hanya ada urusan sama mas Haris."
__ADS_1
Haris yang kebingungan saling tatap dengan Sylvia atas sikap Echi pagi itu.
" Hehm, kenapa kalian jadi patung, harusnya terima kasih karena saya mengikhlaskan hubungan kalian tidak dengan drama yang berlebihan. Puas kan kamu Syl. Bukan sahabat sih, memang kamu Syl, tapi predikat teman satu kelas yang mampu mengalahkan istri sah dan menikah diam-diam dan memiliki keluarga yang harmonis dengan suami orang." Echi bertepuk tangan dengan tatapan sinis. Masih berdiri di depan Haris dan Sylvia yang mematung tidak jauh dari mereka.
" Sayang."
" Kamu jangan mempersulit aku mas."
" Di depan kalian, dengar Chi, aku menikahi Sylvia, karena aku saat itu frustasi dengan ucapan salah saudara kamu dan keluarga kamu yang mengatakan kalau aku laki-laki mandul. Saat itu aku marah dan ingin membuktikan kalau aku tidak mandul. Ada Sylvia yang saat itu memberikan aku perhatian dan memberi semangat bahwa aku bukan pria mandul. Aku akui, baik Sylvia dan aku khilaf. Aku tahu apa yang aku dan Sylvia lakukan salah. Dan kamu Syl. Kamu ingat perjanjian kita kan. Bahwa aku menikahi mu hanya untuk membuktikan kalau aku bukan pria mandul. Namun aku akui, berjalannya waktu, rasa cinta ku sama Sylvia tumbuh hanya menganggap jika dia wanita baik yang sudah merawat buah hatiku. Dan rasa cinta aku sama kamu Chi, tidak berubah sedikitpun. Itu karena apa? Karena kamu wanita tulus Chi yang selama masa-masa sulit aku, kamu selalu ada, bahkan cacian makian dari keluarga kamu tidak pernah kamu hiraukan. Itulah mengapa aku tidak mau menceraikan kalian berdua sampai kapanpun." Mata Haris berkaca-kaca. Sementara Echi berderai air mata. Sedangkan Sylvia bagaikan diingatkan kembali dengan perjanjian pernikahan mereka. Bahwa benar apa yang dikatakan Haris saat itu namun dia tidak menyangka kalau Haris akan mengatakannya kepada Echi.
" Kamu egois mas." Nada bergetar keluar dari bibir Echi dengan air mata yang tidak berhenti sedari tadi. " Okay, aku ada pilihan, apa kamu mau meninggalkan berhubungan layaknya suami istri dengan Sylvia. Kamu boleh memberikan uangmu untuk dia dalam jumlah yang wajar untuk kebutuhan mu dan anak-anak kamu kepada dia. Asal kalian putus secara hubungan suami istri. Buktikan kalau kamu hanya sekedar menjadi sosok ayah buat anak-anak kamu. Jangan lagi ada hubungan layaknya suami istri diantara kalian." Echi yang berbicara dengan sangat tegas dan terlihat sedikit arogan karena tahu kalau Haris masih mencintainya bahkan dia merasa diatas angin di depan Sylvia.
Duar, Sylvia yang mendengar ucapan Echi bagaikan tersambar petir pagi itu. Bulir-bulir air mata tanpa sadar jatuh dari pelupuk mata. Dia sadar perjanjiannya dengan Haris. Namun seiring berjalannya waktu, Sylvia merasa yakin kalau Haris mendamba keluarga yang selama ini mereka ciptakan. Nafasnya tersengal-sengal, keluar berhamburan tak beraturan mendengar jawaban Haris.
" Baik, kalau itu mau kamu. Aku tidak akan lagi berhubungan layaknya suami istri dengan Sylvia. Misal aku ke rumah ini, hanya akan bertemu dengan anak-anak."
" Tidak, ketemu anak-anak harus dengan aku. Semua harus sepengetahuan aku. Jangan pernah bertemu dengan Sylvia. Aku yang akan menghubungi Sylvia dan mengatur kamu bertemu dengan anak-anak."
__ADS_1
Sylvia yang mendengar perkataan Echi dan Haris yang berdebat menjatuhkan tubuhnya ke lantai dan tidak sadarkan diri.