Delapan Tahun Pernikahanku

Delapan Tahun Pernikahanku
Mengajukan Gugatan Cerai


__ADS_3

Echi bergegas menuju mobil yang di parkirnya dan pulang ke rumah. Mobilnya berjalan cepat menyambar jalanan kota.


Sesampainya di rumah Echi berlari menuju kamar mandi dan membasahi sekujur tubuhnya yang masih mengenakan pakaian lengkap dengan shower. Dia berdiri di bawah air shower yang menyala. Tangisnya pecah berbaur dengan air yang mengalir dari shower. Echi menangis sejadinya. Berteriak menangis histeris memanggil-manggil nama suaminya. Dua jam lebih Echi meluapkan kesedihannya di kamar mandi. Mata yang sembab, bola mata dan ujung hidung yang memerah, dia lihat di cermin nya.


Ingatan tentang apa yang dilakukan Echi hari itu terhenti, Dari berdiri yang memandangi punggung suaminya. Echi kemudian berjalan dan duduk di atas ranjang. Duduknya tepat berada di telapak kaki Haris.


Tuhan, apakah langkahku harus terhenti sampai disini?


Apa aku pantas memperjuangkan laki-laki yang diam-diam mengkhianati janji suci pernikahan?


Lalu apa yang akan aku lakukan tanpa dia, jika aku memtuskan bercerai dengannya?


Tapi aku juga tidak rela, dengan melihat dia memilik istri lain selain saya. Hati Echi berbicara kepada dirinya sendiri.


Sampai pada keesokan harinya. Pagi sekali Echi bergegas pergi ke dapur dan membuatkan menu kesukaan Haris dengan pertama kalinya. Entah sudah berapa tahun lamanya semenjak tinggal di rumah tersebut, Echi bahkan tidak pernah menyentuh semua alat yang ada di dapurnya. Makanan selalu beli dari luar rumah. Makanya Haris memilih masakan Sylvia karena Sylvia memang sekali terlihat keibuan.


" A..a.." Echi keselomot panasnya punggung teflon.


Haris yang berjalan menuju arah suara bersumber dari dapur. " Sayang, kenapa?" Haris juga mengedarkan pandangan area dapur yang berantakan sekali. " Kamu masak." Haris yang kaget dengan apa yang dilakukan Echi pagi itu.


Echi tidak berani menatap bola mata suaminya. Echi hanya menganggukkan kepalanya.


" Kamu kok tumben masak." Jemari Haris yang memegangi tangan Echi sembari meniupnya.

__ADS_1


" Gak apa-apa kok mas." Echi melengos tanpa menatap wajah Haris dan menaiki tangga menuju kamarnya.


Sementara Haris masih berdiri mematung dengan mengedarkan kedua matanya melihat apa yang ada di depannya. Haris kemudian menyusul istrinya. Menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya.


" Kamu ada apa? Mengapa sepertinya sikap kamu berubah."


Deg. Ya Tuhan, aku lupa, kalau dia adalah mas Haris yang sangat tahu persis diriku seperti apa. Dia akan sangat tahu jika aku bersikap berbeda kepadanya.


" Tidak apa-apa sayang." Echi menyenderkan separuh tubuhnya ke dada Haris.


" Apa kamu tidak bekerja." Tanya Echi kepada suaminya.


" Iya sebentar lagi aku berangkat."


" Lagian, aku kan udah biasa sarapan roti tawar selai sayang."


Echi tersenyum simpul namun dalam hatinya tahu kalau sebenarnya suaminya hampir setiap hari sarapan di rumah Sylvia.


Cup Sebuah kecupan mendarat di kening Echi. " Aku berangkat ya sayang."


Echi mengangguk. Namun Echi tidak begitu saja berdiam diri di rumah melainkan membuntuti Haris dengan ojek online kembali.


" Pak tolong ikuti mobil itu ya, jangan sampai tertinggal." Seperti kemarin. Echi menggunakan masker dan berpenampilan layaknya perempuan tomboy yang memakai topi dengan rambutnya yang dimasukkan ke dalam topi. Benar kan apa kataku. Kamu pasti ke rumah Sylvia. Sesaat kemudian Sylvia berjalan dengan menggandeng kedua anaknya dengan lengkap memakai seragam sekolah menuju ke mobil Haris. Sylvia ternyata ikut mengantarkan anak-anak mereka ke sekolah.

__ADS_1


Ya..ya..ya, keluarga cemara. Echi yang memainkan matanya dengan kesal melihat pemandangan yang nggak asik baginya. Sepertinya Echi sudah lebih kuat dengan apa yang dihadapinya.


" Ikuti ya pak!"


Tanpa menjawab, bapak ojek online langsung tancap gas mengikuti mobil Haris. Beberapa menit kemudian mobil berhenti di sebuah sekolahan anak mereka. Anak-anak mereka pun keluar dari dalam mobil diikuti deng Haris dan Sylvia yang keluar dari dalam mobil dan mengecup kedua pipi anak-anak mereka. Anak-anak mereka juga sangat diajarkan oleh Sylvia dan Haris untuk mencium tangan ayah bundanya.


Echi hanya bisa melongo. Merasakan sesak karena memang sepertinya suaminya lebih bahagia bersama Sylvia. Setelah Haris dan Sylvia mengantar anak-anak mereka. Mobil Haris masuk ke dalam. Haris memang seorang kontraktor yang akhir-akhir itu sangat bagus rejekinya. Dia hanya tinggal calling by phone terhadap orang kepercayaannya di kantor dan semua beres. Hari-harinya dia habiskan bersama Sylvia.


Aksi Echi memang tergolong nekat. Echi melompat lewat pagar yang tidak terlalu tinggi, dan mengendap-endap lewat kolam renang. Echi sudah merusak cctv dengan memukulnya memakai kayu panjang, yang sepertinya tidak di dengar oleh mereka berdua. Echi sungguh beruntung, pintu kaca samping arah dari kolam renang menuju ruang makan dan dapur tergeser tanpa terkunci. Sehingga dia bisa melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


" Uh..Uh..mas pelan mas." ******* Sylvia.


Terlihat jelas sekali mereka melakukan hubungan suami istri tanpa menutup pintu kamar mereka. Echi yang melihatnya memejamkan matanya. Lagi-lagi sekujur tubuhnya bagaikan tertancap ribuan pedang.


" Aw..aw..enak sayang." Suara lemas Sylvia yang hutan rimba nya di jelajahi dengan bibir Haris.


Echi menggeleng-geleng kan kepala. Melihat pisau dapur yang ada di meja makan. Rasanya Echi ingin menyambar dan menghabisi mereka berdua.


" Uh..uh..aku sudah tidak kuat lagi. Uh..uh.." Sylvia yang sudah lemas tak berdaya. Namun Haris masih saja tidak menghentikan aksi nakalnya. Kemudian mereka berganti adegan, giliran Haris yang memangku Sylvia. Sylvia yang duduk di atas Haris dan mereka masih melakukan adegan gila itu. Sampai dimana mereka sudah pada puncaknya dan lemas di atas ranjang. Sesaat Haris dan Sylvia menuju kamar mandi dalam. Terdengar mereka bercengkrama dan Sylvia menyebutkan Hari Perkiraan Lahiran anak ketiga mereka. Echi mengingatnya lalu pergi dari tempat itu sebelum ketahuan. Echi yang memesan ojek online dan bergegas pergi dari rumah mereka. Setibanya di rumah Echi sudah persiapkan berkas pengajuan gugatan cerai ke Pengadilan Agama. Echi kemudian pergi ke Pengadilan Agama dan mendaftarkan gugatan perceraiannya.


Aku harus bersikap tegas mas. Tidak ada kata maaf bagi peselingkuh, menikah diam-diam seperti kamu. Aku rasa kamu juga bahagia dengan keluarga kamu. Mau aku dikatain bodoh oleh sebagian orang aku tidak peduli. Aku hanya ingin damai biarpun rasa sakit ini tak akan pernah sembuh selamanya. Mungkin sebagian orang akan bilang kalau aku harusnya memperjuangkan mu, menarik hatimu kembali supaya tidak jatuh ke pelukan Sylvia. Tapi rasanya percuma mas, kamu mungkin bisa berpaling dari Sylvia tapi tidak anak-anak kamu. Apalagi ini mau nambah anak jadi tiga. Kalian berhasil membangun rumah tangga bahagia di atas duka ku. Tapi mungkin ini adalah takdirku. Aku harus terima. Walau berat mengucap kata ikhlas yang sesungguhnya.


Echi yang berjalan keluar menapaki Penngadilan Agama.

__ADS_1


__ADS_2