Delapan Tahun Pernikahanku

Delapan Tahun Pernikahanku
Salon dan baju


__ADS_3

Beberapa hari berlalu. Lion mengajak Venus ke rumah saudaranya. Dua jam waktu tempuh yang mereka habiskan untuk ke rumah saudara Lion. Dekat dengan rumah saudara Lion. Ada sebuah jalan kecil menuju ke sebuah salon. Apabila bukan orang asli daerah itu, tidak ada yang tahu kalau di depan jalan raya itu ada sebuah salon.


" Turunkan aku disini, sebentar saja, aku ingin pangkas rambut."


Lion berhenti dan menurunkan Venus di pinggir jalan raya tepat di depan jalan kecil menuju sebuah salon.


Kalau tidak begini, kapan lagi aku bisa pangkas rambut. Di rumah tidak ada salon yang jaraknya dekat dari rumah. Rambutku sudah panjang tidak beraturan.


Gumam Venus yang membelai hijab yang di pakai saat itu.


Kesibukan merawat Nuno, membuat Venus lupa dengan penampilannya. Badan yang sudah gemuk dan kulitnya yang tidak seputih dan bersih seperti dulu jaman Venus belum menikah dengan Lion. Venus bahkan tidak pernah menyentuh alat make-up nya lagi. Sabun wajah saja Venus tidak bedakan dengan sabun untuk badannya. Setelah melewati jalan kecil yang tidak begitu jauh, Venus akhirnya sampai dan masuk ke dalam salon. Disambut dengan ramah oleh pegawai salon.


" Pagi ibu, ingin perawatan apa?"


" Saya ingin pangkas rambut ya kak. Saya ingin model rambut yang seperti ini." Jari telunjuk Venus menunjuk pada sebuah gambar model rambut.


" Ibu, dicuci terlebih dahulu ya rambutnya, silahkan, ibu kemari."


" Baik."


Pegawai salon, mencuci rambut Venus dengan lembut, bau harum mengedar di seluruh ruangan itu.


" Ibu silahkan kembali duduk, say keringkan terlebih dahulu rambutnya."


Pegawai salon menyalakan alat pengering rambut dan mulai mengeringkan rambut Venus.


Pegawai salon memangkas rambut Venus seperti apa yang diinginkan Venus.


" Ibu, salon kita ada potongan harga untuk facial dan meluruskan rambut, apa ibu tidak ingin mencobanya."


Aku sudah lama sekali tidak membersihkan wajahku.


Aku sudah lama tidak memperhatikan penampilanku.


Sepertinya tidak akan jadi masalah


Gumam Venus


" Baiklah kak, aku ambil facial yang ini." Venus menunjuk dengan jari telunjuknya, menunjukkan facial yang akan dipilihnya adalah facial paling murah.

__ADS_1


Rambut Venus selesai dipangkas dan hasilnya membuat kepala Venus menjadi terasa ringan. Pegawai salon kemudian membawa Venus menuju tempat facial yang ada di ruangan sebelah ruangan pangkas rambut. Beberapa waktu kemudian wajah Venus terlihat lebih segar dan bersih.


Pegawai salon masih saja menawarkan kepada Venus untuk meluruskan rambutnya.


" Ibu, apa tidak sekalian diluruskan rambutnya?"


" Tidak, kak terimakasih, saya takut terlalu lama meninggalkan anak saya."


" Salon sedang sepi ibu, jadi tidak akan terlalu lama, dua jam sudah selesai."


Venus masih duduk diam, di depan kaca.


Rambutku yang tebal akan tidak berbentuk, setelah aku pulang dari salon. Apalagi aku mengikatnya karena memakai hijab.


" Baik, kak, saya setuju rambut saya diluruskan."


" Baik ibu, saya akan persiapkan terlebih dahulu."


Satu jam, dua jam, belum juga selesai. Pengunjung salon mulai satu persatu berdatangan. Dua orang pegawai salon akhirnya sedikit kewalahan. Lion menghubungi ponsel Venus, namun Venus tidak mendengarnya karena dia mematikan suara ponselnya. Dari situ Venus mulai gelisah. Venus mencari ponselnya di dalam tas. Dan benar saja, puluhan kali panggilan tidak terjawab dari Lion. Venus mencoba menghubungi kembali namun sialnya tidak ada pulsa yang tersisa di ponsel saat itu.


Tiga jam, empat jam.


Salon itu tidak terlalu jauh dari rumah saudara Lion. Jika Lion ingin mengantar Nuno sebenarnya bisa dia lakukan.


Hari sudah mulai gelap.


" Budhe, aku dengan Venus ingin pamit pulang."


" Tidak usah buru-buru, baru jam berapa ini?"


" Besok, aku harus bekerja."


" Iya sudah kalau begitu."


Venus, Lion dan Nuno berpamitan kepada semua yang ada di rumah itu. Mereka bertiga memasuki mobil dan memberi salam kepada semua anggota keluarga yang berada di depan pagar.


Perjalanan menuju rumah kami kembali. Mobil melaju menyusuri jalanan yang panjang dan gelap.


" Dari mana saja tadi."

__ADS_1


" Maaf, aku tahu aku salah, aku dari salon."


" Apa pangkas rambut selama itu?" Lion menatap wajah Venus dengan tatapan tajam dan sangat marah.


" Maaf, sekali lagi aku tahu aku salah, seharusnya aku hanya pangkas rambut, akan tetapi bertambah menjadi facial dan meluruskan rambut." Perlahan air mata Venus menetes, karena hatinya tersentak dengan nada marah dan sorot tajam mata Lion.


" Kamu membuat aku malu di rumah saudara aku, kamu tahu apa tidak kalau Nuno tidak berhenti menangis."


Lion membentak Venus dengan nada yang sangat keras dengan bola mata yang membulat sempurna. Wajahnya sinis menatap Venus dengan tajamnya


Venus semakin menangis tiada henti. Air matanya deras mengalir tidak berhenti.


" Sekali lagi aku minta maaf, seharusnya aku tidak menerima tawaran pegawai salon. Aku tahu aku salah." Tangis Venus pecah, Venus berusaha untuk tidak menangis, akan tetapi tangisnya semakin kencang tidak terkendali.


" Ditelepon juga tidak bisa. Puluhan kali ditelepon tidak diangkat."


Lion marah dengan tangan yang menekan klakson mobil dengan sangat kasar.


" I-ya, ta-di, i-tu, ponsel aku di dalam tas, dan aku tidak mendengarnya." Bibir Venus bergetar membuat kata yang keluar dari bibirnya menjadi tidak beraturan.


" Apa kamu tidak bisa telepon untuk memberi tahu aku."


" I-ya, ma-af, aku tidak mempunyai pulsa yang cukup untuk menelepon kamu kembali."


Venus masih tidak berhenti menangis sesenggukan.


Belum selesai masalah salon. Lion melihat aku dengan tatapan sinis seperti orang yang sedang perang melawan musuh di medan perang.


" Lihat itu, baju gamis kamu, hijab kamu, semua baru." Kata- kata Lion penuh penekanan yang membuat Venus semakin tersudut.


" Iya sudah, kalau kamu beban menghidupi aku, lebih baik pulangkan saja aku ke rumah ibu aku. Aku minta maaf kalau aku salah. Jujur semenjak aku menikah dengan kamu sampai detik ini, baru sekali ini juga, aku pergi ke salon untuk pangkas rambut, merapikan rambut aku yang sudah panjang tidak beraturan. Aku juga tidak pernah membelanjakan uang kamu untuk perawatan ke salon. Baru sekali ini juga aku facial dan meluruskan rambut, tidak setiap Minggu atau setiap bulan. Begitu juga dengan baju gamis, bahkan kamu lebih tahu, kalau aku tidak pernah membeli karena kamu yang membelikan aku. Dan apakah itu setiap Minggu atau setiap bulan? Aku tahu pangkal dari semua ini adalah uang. Dari awal aku tahu kalau kamu tidak pernah rela memberi uang bulanan kepada aku.


" Tidak pernah dewasa. Setiap bertengkar pasti mengancam pulang, pulang ke rumah orang tua." Lion yang tidak berhenti membentak Venus dengan nada kasar yang menghujam hati yang paling dalam.


Venus tidak membalas apa yang sudah dikatakan Lion. Venus berusaha menyeka air mata dengan kedua telapak tangannya. Hatinya hancur berkeping-keping. Bahkan Venus juga telah meminta maaf berulang kali namun itu tidak membuat Lion berhenti berkata kasar dan membentak Venus.


Sepanjang perjalanan Venus dan Lion bertengkar hebat. Malam itu menjadi malam yang akan selalu Venus kenang. Air mata ter deras yang pernah dia keluarkan dan akan selalu menjadi catatan yang tidak terlupakan.


Dan semenjak peristiwa malam itu. Lion menarik kembali uang yang baru saja sekali itu dia berikan kepada Venus dengan sedikit memberi tambahan.

__ADS_1


__ADS_2