
Echi mengangguk dengan air mata yang tiada henti menetes dari kedua matanya.
" Trus, sekarang kamu menggugat cerai Haris."
Echi menganggukkan kepalanya.
" Trus, apa rencana kamu selanjutnya.
Echi menyeka air matanya. " Aku tidak tahu Venus. Hanya perlu tanda tangan mas Haris dan semua selesai." Echi memberikan kepalanya di pundak Venus. " Aku tidak menyangka semuanya berakhir seperti ini."
" Sebentar, sebentar. Apa foto-foto itu benar. Takutnya editan." Venus yang tidak tahu asal muasal foto-foto Haris dan Silvia mempertanyakan kebenarannya.
" Itu aku sendiri yang foto mereka."
__ADS_1
" Hah, kok bisa."
" Aku membuntutinya berhari-hari. Sedangkan adegan menjijikan itu, aku melompat pagarnya dan merusak cctv rumahnya dan melewati pintu samping yang tidak mereka kunci. Lalu aku masuk dan melihat mereka beradegan menjijikan itu."
" Sebenarnya, aku tidak menyarankan perceraian kepada kamu Chi. Namun kalau sudah sedemikian permasalahan kamu. Sampai Haris menikah diam-diam dan punya anak itu sih, ya mau apalagi tindakan kamu selain ini." Venus menyeka kedua pipi Echi.
" Air mata kamu tidak pantas menangisi pria seperti Haris Chi. Mari kita buka chapter baru yang lebih bahagia tanpa pria."
Echi, kaget mendengar kata kita yang diucapkan Venus kepadanya. " Maksudnya kita?" Echi memberikan jari telunjuknya persis ke hadapan Venus.
Echi hanya terdiam. Lalu memeluk Venus.
" Aku pikir keluarga kamu bahagia Venus. Kamu berkecukupan karena aku pikir kamu menikah dengan duda kaya dan aku pikir dia akan mencintaimu, namun ternyata aku salah. Permasalahan kita sebaliknya. Haris menginginkan buah hati hadir di rumah tangga kita, aku tidak bisa memberikannya dan dia menikah diam-diam. Sementara kamu, kamu sudah memiliki anak-anak, namun banyak perbedaan karakter yang membuat kamu lelah menghadapi suami kamu." Echi mengelus pundak Venus dan melepaskan pelukan perlahan. " Tapi siapa, yang ingin mendekati, wanita masih berstatus istri orang, lain lagi kalau kamu sudah berstatus janda."
__ADS_1
" Iya, kamu benar Chi. Tapi akan tetap seperti itu yang menjadi keputusan ku. Anggaplah aku sedang menikmati alur takdir yang diberikan Tuhan, hingga jalan apa yang ditentukan. Kalau memang tidak ada pria yang memberikan kodenya kepada ku, iya sudah. Aku akan berjalan seperti ini. Dan itu membahayakan diriku sendiri sebenarnya. Karena sebelumnya aku sudah berkata demikian kepada Lion, aku yang tidak memiliki kecocokan padanya dan rumah tangga kita sekarang hambar, justru tanpa aku memutuskan sesuatu sekarang, aku juga memiliki kekhawatiran jika di luar dia memiliki wanita lain yang justru akan menyakiti diri ku sendiri. Itu juga yang aku khawatirkan. Namun aku juga saat ini sedang memotivasi Nuno yang masih membutuhkan pendampingan saya Chi karena dia kategori anak yang hiperaktif. Ya, aku berjalan saja. Berusaha membahagiakan diriku sendiri meskipun aku statusnya adalah istri dari Lion."
Huft Hembusan nafas Echi berhamburan keluar penuh kesesakan.
" Tapi aku melihat kamu kuat. Kamu seperti tidak ada beban."
" Hehm," Venus tersenyum sinis. " Ini sebenarnya titik terendah dalam hidupku Chi. Namun memang aku berusaha tegar dan kuat, supaya apa? supaya aku tidak sakit, karena kalau aku sakit, yang susah juga aku sendiri. Merasakan sakit sendiri, tanpa ada perhatian dari suami, berusaha menyembuhkan diriku sendiri yang kasihan anak-anak siapa yang akan merawat. Tambah susah kan. Jadi aku mencoba ikhlas, tegar, terlihat baik-baik saja, meskipun andaikan kamu tahu, sekujur tubuhku bagaikan tertancap ribuan pedang yang berulang-ulang."
Echi memainkan kepalanya geleng. " Benar kamu Venus, sama aku juga berpikir seperti itu. Bagaikan ribuan pedang yang menusuk-nusuk sekujur tubuhku melihat Haris suamiku menikahi teman sekelas kita secara diam-diam dan memiliki anak. Sakiiiiit sekali. Bukan sakit lagi sebenarnya. Mau mati." Echi menggeleng-geleng kan kepalanya.
" Tapi maaf, bukannya aku senang melihat kamu juga sedih. Tapi aku merasa, aku adalah bukan orang satu-satunya yang menderita seperti ini. Tenyata kamu juga, mengerti maksudku kan Ven, kamu."
Venus tersenyum simpul dan menganggukkan kepalanya. " Membuat kita semangat dan bangkit. Tidak terpuruk, karena merasa ada teman yang sama menderitanya."
__ADS_1
" Iya, iya itu maksudnya. Kayak ada kekuatan tersendiri gitu." Echi sembari memegang dadanya dengan jari jemari tangan kirinya.