Delapan Tahun Pernikahanku

Delapan Tahun Pernikahanku
Titik Awal Kehancuran Rumah Tangga Echi


__ADS_3

Echi kemudian memakai masker yang sudah di bawanya dan memakai jaket milik bapak ojek online yang dipinjamnya dengan di lengkapi kaca mata, membuat penampilan Echi tidak akan dikenali oleh siapapun termasuk mas Haris suaminya.


" Bapak, tunggu di sini ya pak!" Echi yang kemudian berjalan melangkahkan kakinya menuju sebuah supermarket yang ada di seberang jalan. Echi menghela nafas panjang. Menguatkan dadanya yang sesak namun dia mencoba menahannya. Amarah dan tangisnya tidak akan dia luapkan saat itu, akan ada tempat dan waktu dimana Echi akan meluapkan segalanya. Echi yang berdiri di depan pintu kaca. Pintu kaca bergeser dengan sensornya. Lalu Echi melangkahkan kakinya masuk ke dalam supermarket. Echi mencoba berjalan santai menghampiri sebuah keluarga harmonis yang terlihat dari pandangannya berada di area ikan segar.


Haris yang menggendong anak perempuannya dan menyuapinya dengan es krim. Terlihat sekali mas Haris suami yang dicintainya bahagia. Echi yang melihat pemandangan itu, matanya berkaca-kaca. Namun tak ada yang mengetahuinya karena dia memakai kacamata hitam dan juga masker. Haris dan anak perempuannya terlihat mereka saling melempar canda. Kemudian datang anak laki-laki yang tidak jauh memanggil Haris suaminya " Ayah, aku mau ini ya." Anak laki-laki yang menghampiri Haris dengan membawa sebuah yogurt yang diinginkan.


" Iya." Haris menganggukkan kepalanya dan melanjutkan kata. " Eh, kak, adek juga mau itu."


" Iya aku juga mau kak." Sahut anak perempuan dengan nada manja yang menginginkan yogurt yang sama dengan kakaknya.


Lagi-lagi Echi disajikan pemandangan harmonis dari sebuah keluarga tersebut. Bulir-bulir air mata tanpa sengaja menetes.


Mengapa aku masih diam berdiri disini?


Mengapa aku tidak coba menjambak hijab Sylvia yang berani-beraninya berselingkuh dan mau menikah dan punya anak dengan suami orang. Mengapa? Teriak Echi di dalam hatinya. Tanpa sadar tangannya menggenggam dan meremas apa saja yang ada di dekatnya saat itu. Sesaat Echi kemudian tersadar, lalu melepaskan benda yang diremasnya kuat-kuat. Echi takut kalau reaksinya akan memancing kegaduhan dan membuat orang-orang melihat dirinya.


Nafas Echi tersengal-sengal, sebenarnya dia tidak kuat melihat kenyataan yang ada di depan matanya saat itu. Namun dia harus menguatkannya demi mendapatkan sebuah alamat rumah mereka.


Kuat Chi, Echi...Kamu kuat Echi! Hatinya menggumam lirih menasihati kakinya agar kuat berdiri menerima kenyataan pahit di depan mata.

__ADS_1


Sylvia yang sedari tadi sibuk memilih aneka daging, ikan segar dan juga kepiting yang sepertinya Sylvia akan memasakkan menu kesukaan mas Haris yaitu kepiting saos asam manis, kemudian melangkahkan kakinya dan menempelkan tubuhnya kepada mas Haris. Menyenderkan kepalanya sebentar di bahu Haris sambil menunggu semua barang di timbang oleh pegawai yang bertugas di depan area daging dan ikan segar.


Echi kesal bukan main melihat Sylvia menggelendot manja di tubuh suaminya dengan senyuman lebar tanpa rasa berdosa. Echi menggeleng-geleng kan kepalanya berulang dengan membayangkan jika dirinya menampar wajah suaminya dan juga memaki Sylvia. Namun Echi tersadar, misal dia akan melakukan hal tersebut saat itu, dia akan kehilangan banyak informasi tentang keluarga mereka. Sedangkan Echi sangat ingin tahu tentang semuanya rumah tangga mereka. Bagaimana Haris bisa mengelabuhi nya tanpa dia sadar atau curiga sedikitpun.


Echi mengikuti keluarga harmonis itu perlahan, Echi sangat pandai supaya penyamarannya tidak mudah di ketahui oleh siapa pun. Sedangkan Haris dan Sylvia masih sibuk dan belum selesai berbelanja. Echi terus mengikuti keluarga mereka sampai mereka selesai berbelanja. Satu jam kemudian, mereka selesai berbelanja. Mereka semua membawa barang bawaan mereka ke kasir. Sementara Echi tahu akan sangat membutuhkan waktu beberapa menit untuk kasir menghitung semua belanjaan mereka. Echi masih di dalam supermarket, dia berbelanja seperti pengunjung supermarket yang lain supaya tidak memancing curiga pengunjung maupun petugas supermarket yang ada di situ.


Setelah dirasa Haris hampir selesai, Echi berjalan menuju kasir, untuk membayar barang belanjaannya yang tidak banyak. Echi berada di kasir samping tepat dimana Haris dan Sylvia dan juga anak-anaknya berada. Echi bisa menyaksikan Sylvia yang mengeluarkan kartu atm-nya dari dalam dompet elegan dan mewahnya. Echi kesal karena mas Haris suaminya, juga memperlakukan Sylvia sama dengan dirinya, bahkan semua yang dikenakan Sylvia tampak barang mewah namun terlihat sederhana dan berharga mahal seperti apa yang dia kenakan.


Bibir Echi kesal mengerucut. Hatinya dongkol melihat semua pemandangan yang tersaji di depan matanya. Sampai dia tidak sadar kalau kasir yang berada di depannya berbicara kepadanya, sampai akhirnya dia tersadar.


" Oh, maaf mbak. Berapa?" Echi yang mengambil uang tunai di dalam saku celananya, karena sengaja tas mewahnya dia tinggal di dalam mobilnya yang sedang terparkir di rumah dokter spesialis kandungan. Echi kemudian membayar belanjanya dan segera melangkahkan kakinya dengan berlari kecil menuju keluar supermarket dan menuju ke bapak ojek online yang berada di seberang jalan. Sementara mobil Haris mulai keluar dari area supermarket. Echi dengan nafas yang tersengal-sengal berada di depan bapak ojek online dan dengan membungkukkan setengah badannya dan kedua tangan yang memegangi lututnya.


" Baik bu, silahkan naik."


Echi kemudian naik ke sepeda motor, dengan nafas yang berantakan dan gerah yang tak tertahankan karena memakai jaket tebal milik ojek online dan juga masker yang dikenakannya.


Bapak ojek online terus saja membuntuti mobil Haris memecah jalanan kota. Sampai dimana mobil Haris berhenti di depan rumah di pinggir jalan raya. Rumah minimalis yang memiliki cat warna serba putih itu sangat sederhana dan tampak elegan. Jauh sekali jika dibandingkan dengan rumah Echi. Namun rumah itu terlihat luas dan asri. Di samping kiri rumah tersebut kelihatan ada sebuah kolam renang kecil yang sepertinya untuk quality time anak-anak mereka.


" Pak kita berhenti disini aja." Echi sadar, tidak mungkin rumah di pinggir jalan raya seperti ini tidak memiliki cctv. Echi takut semua akan gagal sia-sia begitu saja.

__ADS_1


" Kita putar arah ya pak, ke rumah dokter spesialis kandungan...." Echi yang menyebutkan nama dokter kandungan ke bapak ojek online.


" Baik Bu." Bapak ojek online langsung berputar arah menuju alamat yang di berikan oleh Echi.


Tidak lama kemudian Echi sampai di depan rumah praktek dokter spesialis kandungan.


Bapak ojek online berhenti dan Echi yang berdiri di samping sepeda motor, mencoba melepas jaket milik bapak ojek online yang dipinjamnya.


" Ini pak, terimakasih untuk jaketnya." Echi memberikan jaket milik bapak ojek online.


" Sama-sam Bu."


" Sebentar ya pak, saya ambil dompet saya di mobil." Echi bergegas mengambil dompetnya di dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat berdirinya. Setelah mengambil dompet, Echi memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu kepada bapak ojek online.


" Ini pak, anggap saja ini rejeki dari saya untuk bapak. Dan ini, untuk bapak juga." Echi yang juga memberikan barang belanjaannya yang tidak seberapa baginya kepada bapak ojek online.


" Lho, ini untuk saya juga Bu, terimakasih banyak Bu." Bapak ojek online yang dibuat bingung dengan sikap Echi.


" Iya itu untuk bapak." Echi kemudian membalikkan badannya dan melangkahkan kaki menuju mobilnya.

__ADS_1


" Alhamdulillah, sekali lagi terima kasih ya Bu." Bapak ojek online yang tersenyum lebar melihat kebaikan penumpangnya.


__ADS_2