
" Kamu ada benarnya, tapi aku sudah terlanjur sakit hati Ven. Keputusan pengadilan sudah aku terima. Tinggal menunggu tanda tangan atau persetujuan dari Mas Haris semuanya selesai."
" Iya sudah, kalau kamu sudah mantap. Aku mendukung apapun tindakanmu yang penting itu terbaik buat kamu Chi."
" Makasih ya Ven."
Venus mengedipkan kedua matanya seirama dengan anggukkan kepalanya." Kamu tahu nggak sih Chi, aku sempat iri padamu karena suamimu Haris sangat menyayangimu yang berbanding terbalik dengan Lion. Kamu yang selalu post di media sosialmu. Jujur itu membuat aku iri Chi. Eh ternyata, aku tidak sangka, rumah tangga kita akan mendapat badai tornado dahsyat seperti ini."
Echi tersenyum datar.
Setelah mereka berbincang serius Echi mengantarkan Venus pulang ke rumahnya. Mereka sampai di depan gapura perumahan yang berdekatan dengan sebuah desa. Mobil Echi berjalan perlahan memasuki perumahan tersebut dan akhirnya berhenti di depan sebuah rumah yang berhadapan dengan sungai kecil dan sawah. Di depannya terdapat pohon mangga dan juga pohon nangka. Rumah berpagar putih dan bercat putih dengan selingan abu-abu yang warnanya sudah pudar. Dengan pintu lama dan lantai lama yang terlihat rumah Venus sangat sederhana dengan barang-barang yang dimiliki Echi. Jauh sekali terhadap apa yang dibayangkan oleh Echi.
" Apa kamu tertipu dengan duda pura-pura kaya waktu kamu mau diajak menikah oleh Lion?"
" Haha, kamu bisa saja Chi."
" It,s ok. Mari kita buka chapter baru yang lebih seru, ya kan?"
__ADS_1
" Kalau kamu iya. Aku tetap berjalan seperti air mengalir masih tinggal bersama walau aku tidak tahu apa yang akan datang nanti. Menggeluti ketekunan yang siapa tahu membawa pada perubahan."
" Apa iya, ada pria yang mendekati memperjuangkan cinta, kalau wanitanya masih berstatus istri orang, ckck."
" Kalau sudah jalannya, mengapa tidak?"
" Iya juga sih. Aku sepertinya harus kembali pulang. Menyelesaikan pembicaraan dengan mas Haris agar hatiku lebih tenang. Doakan ya!"
Venus meraih tubuh Echi dan memeluknya dengan mengelus pundaknya " Terimakasih ya Chi. Kamu yang kuat dan ikhlas. Aku yakin Tuhan merencanakan sesuatu yang indah untuk kamu. Hati-hati ya."
" Iyalah Chi. Mau bicara sama siapa aku."
" Takutnya Alisa tanya-tanya ke kamu misal video call."
" Enggaklah."
Echi melangkahkan kakinya menuju keluar pagar dan mobil yang terparkir tepat di bawah pohon mangga. Echi masuk dan membuka setengah kaca mobilnya dan melambaikan tangannya kepada Venus.
__ADS_1
Empat jam perjalanan yang dibutuhkan Echi untuk pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Echi mendapati mobil Haris sudah terparkir di garasi rumah. Echi bergegas memarkir mobilnya dan masuk ke dalam rumah. Menaiki anak tangga dengan langkah gontai karena habis menyetir mobil selama empat jam. Langkahnya terhenti. Mendengar percakapan Haris yang sepertinya lewat sambungan telepon. Jangan paksa aku menceraikan Echi! Kamu terlalu berlebihan Syl. Haris seperti habis bertengkar dengan Sylvia. Dengan wajah marah yang tampak dari pintu kamar yang terbuka sedikit. Haris mematikan ponselnya. Sepertinya gayung bersambut dengan Echi yang akan membicarakan perceraian mereka. Echi mengetuk kamar. Dan pura-pura membuka gagang pintu dan melangkahkan kakinya.
Haris yang melengos ke arah Echi langsung bertanya " Sayang, kamu dari mana?"
" Aku habis dari rumah Venus, teman satu kelasku." Harusnya Haris tahu bahwa Sylvia adalah teman satu kelasnya. Meskipun waktu di sekolah Haris berbeda kelas dengan Echi dan Sylvia, Haris pasti ingat bahwa Sylvia adalah teman satu kelas Echi.
" Aku mau mandi dulu mas."
Haris hanya menganggukkan kepalanya sekali, namun merasakan perbedaan dari sikap Echi yang biasanya langsung memeluk atau mendaratkan kecupan bibirnya ke pipi atau lehernya. Apa dia mendengar pembicaraanku ya?
Haris kemudian melepas pakaiannya dan hanya memakai celana bokser dan bertelanjang dada. Ingin melupakan pertengkaran hebat yang terjadi pagi tadi dengan Sylvia. Echi kemudian keluar dari kamar mandi menggunakan handuk berbentuk kimono. Haris menghampirinya dari belakang dan memberi kecupan bibir kepada bibir Echi. Echi berusaha menghindar dengan membuka lemari bajunya untuk berganti pakaian. Namun Haris mengikuti di belakangnya dan kedua tangan Haris memeluknya dari belakang. " Sayang, kamu ada apa? biasanya kamu tidak pernah menolak ku, mengapa seperti berbeda sikapmu?"
Echi yang sibuk memilih baju dengan kepala Haris yang bersandar di lehernya dan kedua tangan yang melingkar di pinggangnya membuat Echi luluh dan tidak bisa menolak permintaan suaminya. Ya Tuhan, aku tidak kuat lagi menolaknya. Apa-apaan ini, harusnya aku bicara surat perceraian. Haris dengan lidah nakalnya yang mulai perlahan berjalan menyusuri leher Echi, membuat Echi mendesah " Uh...uh." Echi yang biasanya aktif dan agresif, kali ini dia yang pasif menikmati jemari Haris yang mulai nakal, perlahan membuka handuk kimono Echi dengan ciuman bibir maut tiada tandingan. Gairah bercinta mereka memang juara tiada lawan. Echi yang biasanya hot dan nakal, lebih banyak diam dan menikmati setiap sentuhan dan kecupan Haris. " Uh..uh.." ******* manja Echi terdengar berulang-ulang. Haris begitu menikmati adegan ranjang yang hampir tiga bulan tidak dikobarkan karena perubahan sikap Echi kepadanya. Echi terlihat pasrah dengan nafas terengah-engah penuh kenikmatan tiada tara. Setelah mereka merasakan puncak ******* mereka berdua lemas. Haris sepertinya masih memiliki kekuatan untuk membopong tubuh Echi ke dalam corner bathub. Gemericik air yang mengalir dari shower, membuat Haris semakin leluasa untuk melakukan ronde kedua. Haris yang memangku Echi duduk di corner bathub, bibir mereka berdua yang saling bertaut menjalari tubuh lawan mereka masing-masing. Haris juga tidak henti-hentinya memberikan tanda merah di seluruh bagian Echi, yang tidak bosan dia lakukan berulang-ulang. Gemericik air shower yang perlahan mulai merendam tubuh mereka membuat tubuh Haris memangku Echi dengan kaki lurus yang sejajar dan menikmati percakapan intim. Kecupan bibir Haris yang menyentuh area pundak Echi dan sekitarnya. Membuat Echi melupakan masalah perceraiannya dengan Haris untuk sementara waktu.
" Sayang, tiga bulan sikap kamu berubah dingin dan akhirnya saat ini, kamu tidak menolak ku." Haris mengucapkan kalimatnya dengan satu persatu kata dia berhenti sembari memberi kecupan bibir di area leher belakang Echi.
Echi tidak bergeming. Perasaan bimbang mulai berperang. Bagaimanapun dia membutuhkan gairah panas Haris yang tiada tandingan, namun dilain sisi, dia bagaikan tak punya harga diri, karena tidak bisa memberikan keturunan, bisanya hanya foya-foya dan melayani Haris di atas ranjang tak ubahnya seorang kupu-kupu malam. Sementara, tidak bisa dipungkiri oleh hatinya yang sudah terlanjur terluka dalam bagaikan pedang pertama yang sudah ditancapkan suaminya kerena perselingkuhan, kemudian Haris tancapkan pedang kedua karena pernikahan sirinya. Hingga pedang ketiga, keempat dan kelimanya Haris coba tancapkan berulang karena ketiga anak-anaknya dan lebih menyakitkan bagi Echi adalah pedang terakhir yang Haris coba tancapkan yang tidak hanya hatinya yang sakit namun sekujur tubuhnya yang sudah tidak merasakan apa-apa lagi adalah ketika yang dinikahi Haris adalah Sylvia teman satu kelasnya dulu.
__ADS_1