Delapan Tahun Pernikahanku

Delapan Tahun Pernikahanku
Dua Kebahagiaan Di Dua Tempat Berbeda


__ADS_3

Haris yang menggendong anak perempuannya di pundaknya dengan berlari kecil diikuti anak laki-lakinya di belakang menuju ke arah istri sirinya yang sibuk menyiapkan makanan untuk keluarganya. Dapur itu terlihat dari kolam renang kecil yang sengaja Haris buatkan untuk anak-anaknya.


Cup


Haris yang mengecup pipi Sylvia dari belakang.


" Ayah, mandi dulu dong, basah semua." Suara Sylvia yang manja dengan suaminya itu.


Brum...Brum...Suara Haris yang mengajak kedua anaknya bermain mobil-mobilan karena menggendong anak perempuannya di pundak. Sambil berlari kecil kesana kemari memutari dapur dengan tawa yang terbahak-bahak dari kedua anaknya dan juga dia. Rumah tangga yang seperti ini yang Haris dambakan sejak dulu dengan Echi. Namun takdir memilih Sylvia, wanita yang bisa memberikannya keturunan kepada Haris. Sylvia sendiri tidak menuntut banyak kepada Haris. Karena atas dasar cinta itulah yang membuat Sylvia mau dinikahi Haris secara siri. Mereka tidak mau jatuh ke dalam lembah dosa yang dalam dengan melakukan perbuatan suami istri tanpa adanya pernikahan, maka dari itu, pernikahan siri itulah yang mereka jalani. Itu juga karena Haris masih sah menjadi suami Echi.


Beberapa saat kemudian Haris dan kedua anaknya sudah berpakaian rapi dan wangi. Usai mandi ketiganya menghampiri bundanya yang masih sibuk di dapur.


" Waw, bunda jago masak ya. Baunya harum sekali sayang." Haris memuji istrinya itu. Sylvia memang pintar sekali dalam hal dapur. Haris selalu suka dengan apa saja yang dihidangkan Sylvia.


" Aku ambilkan ya yah." Sylvia yang meletakkan aneka kue dan desert di piring suaminya.


" O, jadi sibuk buat ini tadi." Haris yang memegang salah satu cake berbentuk kotak dengan hiasan butter cream coklat dan topping irisan jeruk dan juga strawberry.


Sylvia yang mengangguk dan memainkan matanya kepada suami yang dicintainya.


" Hem, yummy sayang. Luar biasa, kamu memang jago sayang." Haris yang mengecup kening Sylvia dan memuji istrinya dengan jempol dua yang di tunjukkan di hadapan istrinya.


Sylvia yang tersenyum merekah karena pujian dari Haris. Mereka berempat makan sambil berbincang santai. Keluarga mereka sangat harmonis dan damai. Ada kebahagiaan tersendiri yang Haris rasakan ketika pulang dan menghabiskan waktu bersama anak-anak. Rumah mereka tidak berlantai dua. Tidak pula mewah seperti hotel bintang lima. Tidak seluas rumah Haris dan Echi. Rumah Haris dan Sylvia sangat sederhana. Jauh dari barang-barang mewah dan tas-tas mewah yang Echi punya. Rumah yang berdinding putih itu berkesan minimalis dengan barang-barang minimalis di dalamnya. Namun Sylvia pandai menata rumah sehingga semua terasa rapi dan enak di pandang mata. Di dalam rumah itu banyak menyimpan kehangatan antar keluarga. Tempat yang paling damai menurut Haris jika dibanding pulang dengan tidur di ranjang mewah namun tidak ada kehangatan di dalamnya. Rumah Haris dan Echi terasa hampa, apalagi Echi yang sibuk dengan rutinitasnya belanja ketika Haris sudah berangkat ke kantor, bahkan Echi tidak pernah menyentuh perabotan dapur sekedar menyiapkan makanan untuknya. Semua yang dilakukan Echi serba beli makanan dari luar, yang membuat Haris bosan.


Sementara pemandangan berbeda di sebuah lantai satu di sebuah pusat perbelanjaan. Echi dan sahabat-sahabatnya dan juga anak-anak Wina sedang menikmati makan besar setelah anak-anak bermain dan Wina yang sudah selesai di make over.


" Eh kita coba telepon Venus ya." Sahut Echi kepada sahabat-sahabatnya.

__ADS_1


" Jangan telepon Chi, video call." Jawab Alisa yang tengah memegang gelas minumannya.


" Okay." Echi yang memegang ponselnya dan duduk dengan sangat anggunnya.


Hallo, iya Chi. Tidak lama Venus langsung menyahut dari sambungan telepon seluler.


Hai Venus, apa kabarnya? Sahut semua sahabat-sahabatnya. Echi yang mengedarkan layar ponselnya ke arah sahabat-sahabatnya yang berada di samping dan di depannya yang sedang asyik menikmati kebersamaan mereka.


Venus dengan sangat terkejut dan bahagia melihat kebersamaan mereka. " Kalian kok tidak ajak-ajak aku sih."


Eh, lain kali kita semua mau ke rumah kamu lho Venus. Kamu siap-siap ya, nanti share ya alamat rumah kamu. Alisa yang bersemangat ingin ke rumah Venus. Karena tidak ada kabar sama sekali yang berhembus setelah Venus menikah dengan seorang duda beranak dua. Apakah hidup dia bahagia atau tidak, sahabat-sahabatnya tidak ada yang tahu. Alisa sudah mencium aroma curiga terhadap satu sahabatnya itu. Seperti ada hal yang ditutupi Venus dari mereka.


Rumah aku kan jauh Sa.


Hah, sejauh apa sih? Kalau ada Miss si ibu kaya raya dari salah satu diantara kita yaitu Echi. Alisa yang selalu mengandalkan Echi karena memang Echi lah pada saat itu yang keuangannya di atas rata-rata dibanding dirinya dan sahabatnya yang lain.


Lagian dua kali kamu lahiran kita tidak tahu. Sekalian belikan kado buat si kecil yang baru lahir. Iya kan sahabat. Tanya Delia kepada sahabat-sahabat yang ada di depannya.


Betul,betul,betul. Jawab Alisa dengan menganggukkan kepalanya.


Okay, nanti kalau mau kesini, hubungi aku dulu, aku share alamatnya. Venus tidak bisa mengelak. Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya Venus akan membiarkan sahabat-sahabatnya bermain ke rumahnya. Entah itu kapan akan terjadi. Venus hanya ingin membuat tenang hati sahabat-sahabatnya saat itu, biar tidak terlalu berkepanjangan obrolan mereka.


Sudah dulu ya, Venus. Nanti kita bikin reuni kecil-kecilan seperti ini lengkap dengan kamu. okay. Echi yang terlihat melambaikan tangannya di depan layar ponselnya dan juga mengedarkan ponselnya ke arah sahabat-sahabatnya semua yang juga melambaikan tangan. Echi kemudian menutup percakapan mereka dengan Venus sahabat yang tinggalnya jauh dari mereka.


" Ini ibu, pesanan yang untuk di bawa pulangnya." Salah satu pegawai makanan cepat saji membawakan pesanan Echi.


" O, iya terimakasih ya mbak." Echi yang menatap ke arah pegawai makanan cepat saji yang berada di sampingnya. " Ini buat kamu sama keluarga kamu ya Wina." Echi yang meletakkan paper bag berisi makanan cepat saji untuk di bawa pulang Wina.

__ADS_1


" Ya Tuhan Echi, semoga rejeki kamu mengalir deras, dan cepat diberi momongan ya Chi." Wina yang terharu dan memeluk Echi sahabatnya itu.


" Amin, terimakasih doanya yan Win." Echi memberikan senyumannya kepada sahabatnya itu.


" Maaf ya Chi, kamu jangan tersinggung. Memang kurang satu sih Chi di hidupmu itu, yaitu hadirnya momongan, tapi menurutku itu sih, bukan menjadi masalah kalau Haris suamimu juga nyatanya tidak mempermasalahkannya sampai sekarang. Iya kan." Alisa yang menyahut pembicaraan Wina dan Echi.


Echi tidak menjawab namun memainkan bibirnya dengan mengerucut ke arah Alisa.


" O, iya Chi. Haris yang sekarang seperti apa sih?" Lagi-lagi Alisa yang dengan keingintahuannya itu mengeluarkan jurus ibu penyidik bareskrim.


Echi mengotak-atik ponselnya dan mencari foto Haris suaminya yang berada dalam galeri ponselnya. " Ini." Echi menunjukkan foto Haris yang gagah dan rupawan dan terlihat manis dan memiliki tubuh yang atletis.


" Berubah ya, badan Haris sekarang. Tambah kekar dan atletis lho. Coba lihat deh Del, Cyn!". Alisa yang mengambil ponsel Echi dari tangan Echi dan memperlihatkannya kepada Delia, Cyntia dan Wina foto Haris suami Echi yang sekarang.


" Berduit Sa, ya jelas bedalah." Delia yang menatap foto wajah Haris suami Echi.


" Dengan duit bisa apa aja Sa, lihat tuh Echi bisa tanam benang di dagunya biar lebih lancip. Emang kayak kita. Haha." Cyntia terkekeh.


" Iya juga sih. Hati-hati aja sih Chi, kalo laki kamu kayak begini, banyak duit..." Alisa tidak melanjutkan pembicaraannya karena dipotong oleh Delia.


" Hush. Apaan sih. Emang kayak laki kamu. Haha. Bercanda Sa." Alisa terkekeh.


" Tidak lah, kalau dilihat Haris suaminya Echi itu, orangnya tidak seperti itu, tidak seperti yang kalian pikirkan, ya kan Chi." Sahut Cyntia.


" Makan, makan, makan." Echi yang menyuruh sahabat-sahabatnya menghabiskan makanan mereka dengan wajah kesal bercanda dan meringis supaya mereka tertawa.


Hahaha Gelak tawa riuh di meja pojok di sebuah tempat makanan cepat saji di pusat perbelanjaan.

__ADS_1


__ADS_2