
Satu persatu mulai ada titik terang. Kebimbangan demi kebimbangan terjawab melalui peristiwa-peristiwa.
" Halo, selamat pagi bu, hari ini, Nuno tidak mau belajar di kelas. Moodnya tidak stabil dan hari ini berteriak histeris dan mengganggu pembelajaran di kelas. Mohon Nuno diperiksakan ke psikolog ya Bu." Seorang wali kelas Nuno memberi tahu lewat sambungan telepon.
"Deer, bagaikan tersambar petir hati Venus. Namun lagi-lagi Venus berusaha ikhlas dengan semuanya. " Baik Bu guru. Akan segera saya periksakan ke psikolog dan akan saya berikan hasilnya kepada Bu guru. Terimakasih dan permohonan maaf saya atas perbuatan Nuno ya Bu." Venus yang menutup ponselnya dan mengakhiri percakapan sambungan telepon tersebut.
Venus mencoba pasrah dengan semua masalah yang datang silih berganti semenjak menikah dengan Lion. Nuno anak pertamanya memang hiperaktif sejak kecil. Lagi-lagi Venus menyalahkan dirinya sendiri, karena telah gagal menjadi seorang ibu. Ini mungkin satu pertanda kebimbangan Venus terhadap keputusan yang akan diambil dalam pernikahannya.
Setelah pulang dari sekolah. Venus membawa Nuno ke sebuah rumah sakit. Venus mengajak Nuno menemui psikolog yang ada di rumah sakit tersebut.
Tok..tok Pintu kaca yang bertuliskan geser di ketuk oleh Venus yang berdiri tepat di depannya.
" Silahkan masuk." Suara dari dalam ruangan, seorang wanita paruh baya sedang memakai masker duduk tepat di depan Venus yaitu ibu psikolog.
" Baik bu." Jawab Venus dengan menggendong Neyna dan tangan kanannya menggandeng Nuno.
" Silahkan duduk, ada keluhan apa Bu?"
Tanya lembut ibu psikolog.
Venus kemudian menjelaskan panjang lebar permasalahan yang dialami Nuno di sekolah.
__ADS_1
Ibu psikolog kemudian memberikan banyak pertanyaan kepada Nuno dan memberikan hasil tesnya dan menuliskannya di atas secarik kertas tentang hasil konseling hari itu.
" Iya ibu, Nuno memang ada hiperaktif atau gangguan perilaku yang menghambat dia susah konsentrasi. Sehingga itu membuatnya terhambat dalam masalah belajar."
" Lalu bagaimana bu psikolog, solusinya?"
" Ibu harus selalu mendampingi anaknya. Jangan ibu biarkan sendiri. Dan harus ada kedisiplinan atau aturan dalam segala aktivitasnya."
" Baik, bu. Nuno, ayo cium tangan ibu psikolog lalu pulang nak." Venus yang melatih dirinya untuk berbicara tegas terhadap Nuno.
Venus harus tegar meskipun Nuno memberikannya jawaban atas kebimbangannya dalam mengambil keputusan tentang langkah apa yang akan dia ambil selanjutnya. Gangguan perilaku dan sikap hiperaktif Nuno membutuhkan ketelatenan Venus sebagai seorang ibu. Nuno harus selalu di dampingi dalam segala aktivitasnya. Itulah yang membuat Venus harus menerima dan bertahan entah sampai kapan dengan ikatan pernikahannya. Delapan tahun pernikahan Venus dan Lion memang membuat babak baru atau langkah menuju ke sebuah komitmen yang harusnya dipatuhi oleh kedua pihak.
Lain halnya dengan pernikahan sahabatnya Echi. Setelah dua tahun kemudian Echi masih saja belum bisa memberikan keturunan kepada Haris. Yang ada malah Sylvia yang mengandung anak Haris kembali. Haris yang mulai dingin sikapnya dan selalu pulang larut malam membuat curiga Echi.
Haris yang berjalan mengendap-endap terkejut dan melangkahkan kakinya. Haris heran, mengapa Echi tidak biasanya masih terbangun tengah malam begini, biasanya dia sudah tertidur lelap dan tidak mendengar kepulangannya.
" Eih, sayang, kamu belum tidur." Haris berlagak santai seolah tak terjadi apa-apa dan berusaha menyembunyikan kecemasannya, takut jikalau Echi menanyakan banyak hal malam itu.
" Akhir-akhir ini kamu pulang larut malam sayang. Aku rindu dengan belaian mu." Echi bersuara lirih melangkahkan kaki, mendekati suaminya, kelima jemari kanannya mengelus halus dada Haris lalu turun perlahan ke perut, lalu terhenti dan melangkahkan kaki ke belakang Haris dengan lengan melingkar memeluk Haris dari belakang. sementara tubuhnya bersandar di pundak Haris dengan mata berkaca-kaca.
Haris tidak bisa melihat wajah Echi dengan jelas karena dia menyandarkan seluruh tubuhnya di pundak belakang Haris dengan melingkarkan tangan dengan penuh sentuhan lembut. Perasaan Haris lega, karena Echi menyambutnya dengan mesra tanpa pertanyaan curiga.
__ADS_1
Sementara Echi yang masih menyandarkan seluruh tubuhnya di pundak belakang Haris, tidak bisa menutupi hatinya yang hancur berkeping-keping karena pengkhianatan Haris, suami yang dibanggakannya di mata keluarga dan sahabat-sahabatnya. Pelupuk mata Echi tanpa sadar mengeluarkan bulir-bulir air mata yang jatuh di kemeja suaminya. Echi sesegera mungkin menyeka buliran air mata supaya Haris tidak curiga kepadanya tentang perselingkuhan yang Haris lakukan dengan teman satu kelasnya dulu. Haris yang mengelus-elus lengan Echi yang melingkar di perutnya, kemudian memegangnya dan melepaskannya. Haris membalikkan badannya dan berkata. " Sayang kita tidur yuk, aku capek seharian di kantor." Haris dengan wajah lesunya mengelus pipi kanan Echi dengan manja. Lalu membalikkan badan dan menghempaskan begitu saja tubuhnya di atas ranjang.
Sementara Echi masih berdiri, memandangi punggung suaminya yang sepertinya sudah kelelahan dengan aktivitasnya hari itu. Echi mengingat peristiwa tadi pagi yang melihat pemandangan sebuah keluarga harmonis sedang turun dari mobil. Haris yang menggandeng jemari Sylvia teman satu kelasnya dan menggendong anak perempuannya, sementara tangan kanan Sylvia menggandeng anak laki-lakinya. Mereka bertiga berjalan memasuki sebuah rumah tempat praktek dokter spesialis kandungan. Sylvia yang perutnya membesar, sepertinya akan menambah momongan. Melihat pemandangan tersebut, Echi yang saat itu juga sedang beberapa bulan terakhir konsultasi ke dokter spesialis kandungan yang sama, memergoki peristiwa tersebut dengan mata kepala sendiri adalah sesuatu kekuatan terbesar yang Echi miliki.
Echi menangis, air matanya jatuh tanpa ia sadari. Hati yang bagai terhujam pisau yang amat dalam tertancap dengan begitu saja tanpa ia sadari. Echi yang masih duduk di dalam mobilnya berusaha menyangkal apa yang di lihatnya. Satu jam kemudian Echi melihat dengan jelas untuk kedua kalinya, bahwa yang dilihatnya adalah benar-benar suaminya dan Sylvia teman satu kelasnya. Echi meluapkan amarah kesedihan dan menundanya. Echi bergegas menghampiri ojek online yang sudah di pesannya.
" Pak, tolong ikuti mobil itu, namun jangan terlalu dekat dan jangan sampai kehilangan jejak." Echi yang menunjuk ke arah mobil Haris yang sedang berjalan.
" Baik Bu." Jawab bapak ojek online dengan memberikan helm untuk dipakai oleh Echi.
Ojek online yang ditumpangi Echi, mengikuti arah kemanapun mobil Haris berhenti.
Aku yakin, mas Haris pasti akan langsung pulang ke rumah mereka, dengan begitu aku tahu alamat rumah mereka selama ini. Gumam Echi dalam hati.
Namun sayang mobil Haris berhenti di sebuah supermarket. Mobil Haris yang melaju menuju tempat parkir.
Sial Echi mengumpat dengan wajah penuh kekesalan.
" Bagaimana, Bu, apa kita juga akan masuk ke sana?" Tanya bapak ojek online kepada Echi dengan wajah mengarah ke arah supermarket.
" Tidak pak, bapak tunggu disini ya! saya boleh pinjam jaket bapak kan?" Echi yang sedang turun dari sepeda motor.
__ADS_1
" Iya bu, boleh. Tapi maaf bu, kalau bau keringat saya." Bapak ojek online yang melepas jaketnya dengan ragu apakah wanita yang menjadi penumpangnya benar-benar ingin meminjam jaketnya.
" I-iya, tidak apa-apa pak." Echi yang menjawab dengan terbata karena keterpaksaannya.