
" Hallo, bagaimana kalian, apa sudah siap semua?"
" Kita semua sudah ada di dekat rumah Wina Chi, kita semua menunggu kamu."
" Oke baiklah." Echi yang menambah kecepatan mobilnya menuju tempat dimana Alisa memberi tahu melalui pesan di ponselnya.
Tin...Tin
Echi menekan tombol klakson mobil, memberi tahu Alisa, Delia dan Cyntia bahwa dia sudah datang. Echi turun dari mobilnya dan berkumpul bersama Alisa, Delia dan Cyntia.
" Kita jalan sebentar, itu keliatan dari sini rumah kontrakannya Wina, Chi." Alisa memberi tahu Echi dan telunjuknya menunjuk ke arah rumah yang sangat jauh dari kata mewah. Cat tembok yang sudah mengelupas sana-sini yang membuat pudar warnanya dan juga genteng yang sepertinya tidak begitu layak untuk dihuni Wina dan keluarga kecilnya.
" Ya Tuhan, bukannya Wina orang tuanya kaya. Dulu jaman sekolah dia kaya bukan?" Echi yang terkejut melihat kehidupan Wina yang sekarang.
Mereka bertiga berjalan dengan membicarakan kehidupan Wina yang sekarang.
" Kamu lupa kalau pernikahannya dengan Anton tidak disetujui, kamu jangan mikirin nyalon melulu lah, hahaha." Alisa yang meledek Echi dan terkekeh.
" Iya, aku tahu itu Sa, trus apa hubungannya dengan kehidupannya sekarang?"
" Gusti, ya jelas ada hubungannya dong Chi, Wina diusir dari rumah, hubungan dengan keluarganya tidak baik, makanya sekarang hidupnya tidak disokong oleh keluarga Wina yang kaya. Kalau orang tuanya Wina sih masih kaya di kampungnya. Apalagi katanya Anton kerjanya serabutan. Kasihan kan anak-anak Wina, sudah tahu begitu juga Wina punya anak banyak lagi."
" Bukannya dua anaknya?" Sahut Delia.
" Tiga. Heran deh pada, perasaan semua tinggal di kota yang sama, mengapa cuma aku yang tahu semuanya. Hanya Venus saja yang aku tidak tahu kehidupannya." Alisa dengan gaya juteknya yang menoleh kearah Echi, Cyntia dan Delia.
" Haha." Echi, Cyntia dan Delia tertawa kecil.
" Lha kan memang kamu ibu Penyidik Sa, ya harus tahulah semuanya. Kamu memang pantasnya jadi pembawa acara gosip deh Sa, haha." Cyntia yang terkekeh.
" Ssst, sudah mau sampai." Sahut Alisa kepada ketiga sahabatnya.
Assalamualaikum Echi, Alisa, Cyntia dan Delia bersamaan berdiri di depan pintu rumah Wina.
" Wa alaikum salam." Sahut suara seorang wanita dari dalam yang sepertinya Wina.
Ceklek Suara gagang pintu rumah Wina.
__ADS_1
" Lho kalian." Wina tampak malu-malu dengan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, karena saat itu dia sedang memakai daster dan tidak berpenampilan paripurna seperti sahabat-sahabat yang ada di depannya.
Surprise, kejutan. Echi, Alisa, Cyntia dan Delia menunjukkan senyum bahagia di hadapan Wina, meskipun dada mereka sesak melihat kehidupan Wina yang sekarang.
" Eh, ayo masuk, ibu bhayangkari Alisa, Ibu bos yang doyan foya-foya Echi, sama kalian Cyntia dan Delia yang juga ibu-ibu pejabat ini." Wina yang mempersilahkan sahabat-sahabatnya masuk dengan gaya bercanda nya yang memberi julukan satu persatu terhadap sahabat-sahabatnya itu.
" Eh apaan sih. Siapa yang ibu pejabat juga. Wina, Wina." Jawab Delia.
" Sudah Wina, kamu sama anak-anak kamu yang ganti baju, trus kita pergi makan, pokoknya kita semua ingin mengajak kamu sama anak-anak kamu happy-happy. Iya kan sahabat." Echi dengan menatap ke arah Wina.
Wina yang matanya berkaca-berkaca, melihat kebaikan sahabat-sahabatnya itu.
" Ini beneran?" Tanya Wina yang kentara dengan basa-basi
" Iya benar dong Win, sudah sana ganti baju!" Jawab Echi.
Wina membalikkan badannya dan menuju ke belakang sementara sahabat-sahabatnya duduk di teras depan dengan kursi bambu panjang.
Beberapa menit kemudian, Wina keluar dengan anak-anaknya dan mengunci pintu rumahnya.
Halo Tante Sahut anak-anak Wina.
" Cowok semua Wina, anak kamu." Tanya Cyntia.
" Iya Cyn."
" Ya sudah yuk, Let's go!" Sahut Echi.
Mereka semua berjalan menuju ke arah mobil Echi terparkir.
" Suami kamu kok tidak kelihatan Win?" Tanya Alisa.
" Tidur dia."
" Apa tidak kerja?" Cecar Alisa.
" Kerja apa? Dia kerjanya kalau ada kerjaan aja. Mas Anton itu serabutan Sa."
__ADS_1
" Trus?"
" Apanya?"
" Iya, kan anak kamu tiga Wina, trus bagaimana bisa mencukupi kamu kalau pas tidak ada yang dikerjakan tidur. Kenapa tidak cari pekerjaan."
" Sudah Sa, aku juga pusing." Wina dengan gaya lemah lembutnya memegangi kepalanya dengan kedua tangan berada di samping kanan dan kiri.
" Wah, baru kali ini naik mobil ibu yang kaya raya. Kapan punya kayak begini ya Chi, aku?" Celetuk Wina yang membuka pintu mobil Echi sambil mengedarkan pandangannya ke semua body mobil.
" Bisa, Wina, nasib orang tidak ada yang tahu, roda berputar Wina, jangan putus asa." Jawab Alisa.
Semua sudah masuk ke dalam mobil Echi. Echi dengan gaya mewahnya tidak lupa mengenakan kaca mata yang bertuliskan Dior yang berada di dekat setirnya.
" Cielah, begini lho ya, kehidupan sosialita ala Echi itu, haha. Kamu memang beruntung dapat Haris Chi." Semua terkekeh dengan canda Alisa dan gaya bicaranya.
Echi menyalakan mobilnya dan menuju ke sebuah pusat perbelanjaan yang terkenal di kota tersebut. Mereka merasa sangat senang dengan berbincang-bincang kecil di dalam mobil. Tanpa terasa setengah jam kemudian mobil Echi sampai dan masuk menuju tempat parkir. Wina yang terkesima melihat Echi yang sungguh handal menyetir dan melihat perbedaan hidup Echi yang sungguh drastis semenjak dinikahi oleh Haris suaminya.
Beberapa saat kemudian satu persatu keluar dari dalam mobil. Mereka semua menuju ke lantai atas pusat perbelanjaan. Dengan menaiki anak tangga satu persatu menuju lantai atas meninggalkan lantai dasar tempat mobil terparkir.
" Kita kemana dulu nih?" Tanya Echi.
" Belikan baju Wina dulu sama anak-anaknya Chi." Sahut Alisa.
" Okay kalau begitu kita naik Lift lagi ke lantai tiga kan, baju anak-anak." Echi yang sangat hafal dengan semua isi pusat perbelanjaan ini.
Mereka semua menaiki lift dan menuju ke lantai tiga tempat baju anak-anak.
" Anak-anak, ayo bilang terimakasih sama tante-tante semua." Wina yang berdiri diantara ketiga anak-anaknya.
Terimakasih tante. Semua anak Wina berseru.
Iya sama-sama sayang. Sahabat-sahabat Wina membalas ucapan terimakasih anak-anak Wina.
" Ayo, sekarang kamu pilihkan Wina baju untuk anak-anak kamu." Echi yang berjalan dan menggandeng tangan Wina.
"Terimakasih ya, kalian sudah baik sekali sama aku." Mata Wina yang berkaca-kaca karena terharu, karena semenjak menikah dengan Anton suaminya, dia bahkan nyaris tidak pernah ke pusat perbelanjaan. Bahkan Wina tidak pernah sedikitpun memikirkannya, bisa makan setiap hari saja dan tidak berhutang di warung dekat rumahnya saja Wina sudah bersyukur. Apalagi dibelanjakan oleh sahabat-sahabatnya.
__ADS_1