
Venus yang masih berjibaku dengan ketelatenannya dalam memberi motivasi terhadap Nuno agar memiliki sikap lebih baik dari sebelumnya. Venus juga tidak memperbolehkan Nuno bermain gadget. Melihat tv saja Nuno harus didampingi supaya tidak tercemar oleh tontonan yang tidak baik. Venus berusaha sekuat tenaga memberikan contoh kepada Nuno. Namun sayangnya itu tidak diimbangi dengan sikap Lion yang malah sebaliknya. Lion sepertinya tidak berubah meskipun aib rumah tangga, perilakunya yang player terhadap wanita-wanita cantik di luar sana sudah menjadi perbincangan umum dikalangan lingkungan sekitar. Apalagi kata-kata Lion masih terngiang jelas, jika Venus merasa lelah dalam delapan tahun pernikahan itu, Venus boleh menggugatnya ke pengadilan agama, namun Venus harus meninggalkan kedua anaknya. Terkadang sempat terlintas dibenak Venus, jika memang ada pria tampan dan lebih fleksibel tanpa banyak aturan, syukur mapan seperti atau bahkan melebihi Lion dan ingin menikahinya dengan segala kekurangannya yang jelas sudah menjadi janda beranak dua yang siap dan serius menikahinya. Dia benar-benar akan pergi meninggalkan Lion dan anak-anaknya. Itu Venus lakukan karena selama delapan tahun pernikahannya dia merasakan ketidakbahagiaan. Bukan hanya itu saja, Venus yang tahu akan sifat Lion yang seorang player sejati, takut suatu hari nanti ketika dia pernah berkata kepada Lion bahwa dia banyak ketidakcocokan dengan Lion malah membuat Lion semakin menjadi, bahwa pernikahan kami hanyalah status saja, namun di luar dia ada wanita lain. Itu memang hanyalah ketakutan Venus semata. Namun bukan tidak mungkin itu terjadi, karena Venus tahu betul sifat Lion. Meskipun usianya tidak lagi muda namun dengan uangnya, Lion masih berada di atas angin dengan kesombongannya dan akan memperlakukan istrinya semena-mena.
Venus juga berpikir, kelak anak-anaknya akan tumbuh dewasa dan pergi meninggalkannya dengan membina rumah tangga bersama istri dan suaminya. Maka dari itu pikiran ingin mengejar kebahagiaan terhadap diri sendiri yang selama delapan tahun pernikahan tidak pernah Venus dapatkan dari yang namanya seorang pria yaitu suaminya sendiri bernama Lion. Hanya luka yang dia torehkan selama delapan tahun pernikahan, bukan tanpa alasan melainkan mempermudah dirinya jika memiliki istri penurut tanpa banyak menuntut. Nyatanya setelah Venus berusaha memahami segalanya tentang Lion termasuk masalah finansial yang seharusnya tidaklah seperti dulu, karena dulu Lion harus menanggung semua biaya kuliah dan biaya hidup kedua anaknya dari pernikahan terdahulu. Sekarang mereka sudah lulus kuliah, toh nyatanya Lion tidak bergeming dan berubah dalam hal finansial. Venus yang tidak ingin bertengkar mulut setiap hari dengan Lion dan Venus yang selalu bernegosiasi dengan dirinya sendiri untuk mengerti dan mengalah terus dengan Lion. Akhirnya lah menyimpulkan sebuah keputusan, jika memang ada jalan lelaki tampan dan lebih fleksibel tanpa banyak aturan melebihi Lion yang benar-benar ingin memperjuangkannya dan menghargainya. Venus akan menyambut pria tersebut dan membuka lembaran baru.
Tiga bulan kemudian.
Klililit Suara ponsel Venus berbunyi. Terdengar isak tangis Echi yang masih sesenggukan.
" Iya Chi. Kamu ada apa? Kamu nangis." Jawab Venus.
" Aku di kota kamu. Kamu bisa kesini kan. Please, hanya kamu yang bisa aku ajak cerita Venus." Echi menyebutkan alamatnya di sambungan telepon, Echi juga memohon supaya Venus bisa datang di alamat yang sudah Echi sebutkan.
" Ta-tapi Chi..." Venus berhenti tanpa melanjutkan kata.
" Kamu tidak usah bingung. Kamu pesan go car online saja, nanti aku yang bayar. Tapi please kamu kesini ya Venus."
" O, iya Chi. Terimakasih."
__ADS_1
Percakapan mereka berakhir dan Venus bergegas menuju pusat perbelanjaan yang ada di kota tempat tinggal Venus. Sesampainya di tempat Venus yang membawa Nuno dan Neyna menghubungi Echi via telepon dan Echi mencari keberadaan dimana Venus turun dari go car online nya.
Echi langsung memeluk Venus sahabatnya itu dengan erat. Meskipun Venus, Echi, Delia, Alisa dan Cyntia bersahabat kental. Namun Echi memang lebih erat secara emosi dengan Venus.
" Ada apa? ada apa?" Venus yang mengelus punggung Echi.
" Kita ke dalam cari tempat ya, biar anak-anak kamu tidak rewel saat kita bercerita, bagaimana kalau kita cari tempat yang dekat dengan area Playground untuk anak-anak."
Venus hanya menganggukkan kepalanya berulang.
Mereka memesan dulu minuman dan makanan untuk sekedarnya karena tidak enak karena telah duduk di bangku Foodcourt tersebut.
" Ada apa?" Tanya Venus kembali setelah melihat Echi sudah lebih tenang.
" Echi mengeluarkan lembaran-lembaran kertas dan bukti-bukti foto Haris dan Sylvia." Semua hal yang Haris dan Sylvia lakukan ada di foto tersebut semenjak Echi membuntuti Haris dan menggunakan kamera ponselnya untuk mengambil gambar mereka berdua. Sampai ada foto perbuatan adegan panas mereka di ranjang yang sangat vulgar dan menjijikkan itu ada di hadapan Venus. Echi mengeluarkan semuanya dari dalam tas mewahnya.
" Apa ini Chi?" Venus yang melongo dengan bibir menganga melihat Judul kertas lembaran demi lembaran. " Hah? kamu bercerai dengan Haris suamimu Chi." Wajah serius kaget Venus tidak bisa dia tutupi lagi.
__ADS_1
Echi hanya meneteskan air matanya dan menganggukkan kepalanya.
" Astaghfirullah hal adzim, bukankah ini Sylvia?" Venus yang menatap dalam-dalam foto tersebut yang terlihat samar namun Venus yakin kalau itu adalah Sylvia teman satu kelasnya dulu, teman satu kelas Echi juga.
Echi mengedipkan kedua matanya sekian detik seolah isyarat kepada Venus bahwa benar yang ada di foto tersebut adalah Sylvia.
" A-aku masih belum mengerti. Apa mak-sudnya?" Venus yang mengernyitkan dahinya dan tampak bingung dengan apa yang diperlihatkan Echi kepadanya.
Echi menangis sesenggukan dengan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
" Ada Haris, Sylvia, lalu ini anak-anak siapa?"
Venus yang satu persatu masih melihat foto-foto dan menerjemahkannya. Venus bingung karena dia belum melihat foto Haris dan Sylvia yang beradegan panas di atas ranjang. Sampai dimana foto tersebut perlahan terbuka dan alangkah terkejutnya dia. " Hah." Mata Venus melotot, duduknya menyembul dan berdiri seketika karena saking kagetnya. Nafasnya juga tersengal-sengal terhambur tidak karuan seolah tidak percaya apa yang ada di foto tersebut. Hingga pengunjung Foodcourt yang duduk di dekat mereka melihat Venus yang berteriak terkejut.
Sedangkan Echi mulai membuka kedua telapak tangannya perlahan.
Venus duduk menghampiri bangku di depannya dimana Echi duduk. " Haris berselingkuh dengan Sylvia dan mereka punya anak." Venus berkata lirih menatap ke pelipis Echi. Melihat bulir-bulir tumpahan berderai menetes dari atas ke bawah. Melihat Echi berderai air mata, mata Venus tertular dan berkaca-kaca.
__ADS_1