
Echi masih duduk mematung di dalam mobilnya dengan air mata yang tumpah dengan deras dari kedua bola matanya, isak tangis yang tidak terelakkan lagi olehnya. Isi kepalanya berkecamuk dengan segala pertanyaan yang tidak ada habisnya. Setengah jam kemudian, Echi yang menghabiskan semua tisu mobil hanya untuk menyeka dan mengusap air matanya, menyalakan mobilnya dan berniat kembali untuk mengintai segala aktivitas di rumah Haris dan Sylvia.
Mobil Echi berjalan meninggalkan tempat praktek dokter spesialis kandungan. Dia membatalkan janji konsultasi dengan dokter tersebut dan memilih mengintai rumah Haris dan Sylvia. Rumah mereka sering di lewati Echi ketika Echi pergi perawatan ke Klinik Kecantikan Larozza. Namun mengapa, Echi tidak pernah sadar selama itu, bahwa suaminya Haris telah menyelingkuhi nya selama itu, bahkan Sylvia akan melahirkan lagi anak ketiganya. Begitu besar Echi menaruh kepercayaan terhadap suami yang dicintainya hingga dia tidak sadar bahwa selama dua belas tahun pernikahan ternyata Haris suaminya menikah diam-diam dengan orang lain yang tidak bukan adalah teman satu kelas Echi sendiri. Mobil Echi terparkir di dekat Klinik Kecantikan Larozza dan mengintai dari kejauhan aktivitas Haris di rumah tersebut. Namun sampai lima jam lamanya Haris tidak kunjung keluar dari rumah tersebut. Echi berhenti bersedih untuk sementara, lalu memutar otak supaya dia bisa masuk dan tahu semua yang ada dalam rumah Sylvia dan Haris. Echi yang melihat pegawai Klinik Kecantikan Larozza yang mengenal baik dengannya kemudian menghampirinya.
" Mbak, aku boleh minta tolong apa tidak?" Echi membisikkan apa yang ada dipikirannya saat itu.
Pegawai Klinik Kecantikan Larozza hanya manggut-manggut mendengar suara lirih Echi yang mendekat di telinganya.
Sesaat kemudian, Echi keluar dari Klinik dengan melakukan penyamaran dengan memakai rok ukuran selutut warna hijau pastel dengan atasan hijau pastel yang lebih kalem sesuai seragam Klinik Kecantikan tersebut. Tentunya Echi memberi imbalan yang besar untuk pegawai tersebut. Echi memakai masker dengan menempelkan tahi lalat buatan yang dia tempelkan di dekat pelupuk matanya. Echi juga menyanggul rambutnya seperti pegawai Klinik Kecantikan Larozza lainnya. Dengan memakai sepatu pantofel hitam dan sungguh Echi tidak akan di kenali oleh Haris maupun Sylvia karena memakai masker. Echi tidak lupa membawa brosur promo diskon untuk ditawarkan kepada Sylvia. Echi yang sudah siap meskipun deg-degan dengan penyamarannya takut kalau Haris dan Sylvia mengenalinya. Namun Echi sudah ancang-ancang.
Mengapa aku harus takut ketahuan, Jika nanti aku ketahuan, langsung aku cakar aja wajah mereka berdua. Sekalian aja ribut di sana. Huft. Sabar Chi...sabar. Echi yang berbicara sendiri mengelus dadanya sembari menguatkan mata dan kakinya agar tidak menjatuhkan bulir-bulir air mata dan kakinya tidak lemas melihat kenyataan pahit yang disajikan Haris dan Sylvia.
Echi berdiri di depan pagar rumah Haris dan Sylvia. Dia memencet bel yang menempel di dinding pagar.
Tingting...Tingting... Dua kali Echi memencet tombol bel yang sudah di persiapkan mereka sudah langsung ada yang keluar yaitu Haris suaminya yang memakai celana boxer dan bertelanjang dada.
Sial kenapa bukan Sylvia sih yang keluar. Gumam Echi dengan kesal.
__ADS_1
" Iya mbak, ada apa ya?"
Haduh gimana ini, aku pikir tadi Sylvia yang keluar. Kalau mas Haris ditawari perawatan sepertinya akan sulit aku bisa masuk ke dalam rumah. Dalam hati Echi berbicara kepada dirinya sendiri.
" E-e... I-ini pak, saya dari Klinik Kecantikan Larozza, katanya ada pesanan massage untuk ibu yang sedang hamil, dan ini sesuai alamatnya kok." Echi yang mengarang cerita namun pasrah jika Haris tidak mengizinkannya masuk ke dalam rumah.
Haris menatap pegawai salon yang berada di depannya dengan seksama, sepertinya Haris memang tidak tahu kalau itu Echi meskipun Haris sudah melihat dari ujung kepala sampai ujung kaki. Apa mungkin Sylvia ya, yang pesan massange? Pikir Haris dalam hati.
" Oh, silahkan masuk mbak, mungkin istri saya yang pesan."
Bagus juga dalam rumah ini, semua serba minimalis dan tertata rapi. Gumam Echi kesal sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh rumah.
" Mbak silahkan duduk tunggu di sini ya!"
" Sayang, ada pesanan kamu dari Klinik Kecantikan Larozza yang katanya massage."
Rumah yang tidak terlalu luas membuat suara Haris terdengar di telinga Echi, yang duduk di ruang tamu mereka.
__ADS_1
" Hah? aku tidak pesan massage sayang, lagian kalo aku mau massage, kan aku tinggal pergi ke Klinik Kecantikan Larozzanya, dan itu kamu kan larang aku pergi kesana, karena itu Klinik Kecantikan langganan Echi." Sylvia yang terheran karena sebelumnya tidak pernah ada penawaran seperti itu sampai masuk ke dalam rumahnya.
O, jadi mereka sudah koordinasi sebelumnya, dimana saja tempat-tempat yang biasa aku kunjungi makanya tidak pernah sekalipun ketahuan perselingkuhan mereka. Echi yang diam namun hatinya berkata kesal mendengar percakapan mereka di dapur.
" Gak apa-apalah sayang, kasian mbaknya sudah masuk, masak iya mau kamu suruh pergi." Haris yang berbicara lirih kepada Sylvia yang ingin menghampiri Echi yang menyamar menjadi pegawai salon.
" Sayang, aku lagi ingin bermanja sama kamu. nggak tahu bawaan baby yang ingin selalu manja sama kamu." Sylvia yang berkata manja seperti anak kecil yang merengek dan gelendotan di tubuh suaminya sambil mengelus perutnya yang membesar.
" Ush,ush. Sudah kamu massage saja!" Nanti aku pulang ke rumah Echi larut malam supaya kamu tenang. Okay baby."
Sylvia yang tersenyum merekah lalu mengecup bibir Haris yang berdiri di depannya tidak luput dari pandangan Echi yang sembunyi di bilik dinding ruang tamu mereka . Dasar...Echi yang tidak melanjutkan kata dengan hidung yang kembang kempis di balik maskernya. Nafas amarah keluar tidak beraturan kemudian Echi kembali duduk di tempat semula.
" Mbak, silahkan masuk di kamar saya." Sylvia menyuruh Echi yang menyamar menjadi pegawai salon mengikuti langkahnya menuju kamar Sylvia.
" Baik Bu." Echi yang berdiri dari sofa dan meninggalkan ruang tamu tersebut.
Terlihat sekali dapur minimalis dan juga hidangan aneka desert dan kue dan juga kepiting saos asam manis yang tersaji melimpah di meja makan. Di dekat dapur terdapat kulkas tembus pandang yang penuh berisi minuman karbonasi dan berakohol rendah kesukaan Haris dan juga minuman seperti yoghurt kesukaan anak-anak mereka atau Sylvia. Di sampingnya ada sebuah showcase. Tempat khusus menyimpan es krim yang penuh dengan isinya dan juga aneka rasa kesukaan anak-anak mereka.
__ADS_1