Delapan Tahun Pernikahanku

Delapan Tahun Pernikahanku
Menyimpan Rahasia


__ADS_3

Haris yang tiba di rumahnya, langsung berlari menuju ke arah tangga dan menaikinya. Tiba di depan pintu sebuah kamar. Langkah Haris terhenti karena tanpa sengaja mendengar lantunan ayat suci yang dilantunkan oleh Echi. Hati Haris berdesir karena tidak pernah mendengar hal tersebut sebelumnya. Menambah rasa bersalah Haris kepada Echi selama ini karena telah menikah diam-diam dengan Sylvia. Haris membuka pintu kamarnya perlahan.


Ya Allah, pintaku selalu selama sepuluh tahun ini. Doaku tidak pernah putus untuk selalu aku meminta menginginkan hadirnya buah hati dalam rumah tanggaku dengan mas Haris Ya Allah. Echi yang sedang berdoa lirih sedangkan Haris melangkahkan kaki perlahan dengan mata berkaca-kaca dan memeluk Echi dari belakang.


" Sayang, cup..cup." Haris yang memeluk Echi dan mencoba menenangkan Echi.


" Hikz...hikz...hikz, mas." Tangisan dari kedua bola mata Echi sudah tidak terelakkan lagi, Echi juga terkejut dengan kedatangan Haris yang tiba-tiba berada di belakangnya dan memeluk dirinya.


Keduanya berpelukan, Haris membawa Echi duduk di atas ranjang.


" Sayang, kamu kenapa?" Tanya Haris dengan jari telunjuk yang di elus kan berkali-kali di dagu Echi.


" Sayang, apa kamu tidak merasa hampa, setiap pulang ke rumah ini. Aku saja yang seorang wanita bisa merasakan kehampaan itu. Apa kamu mencoba menyangkal selama ini kalau sebenarnya kamu juga merasakan hampa." Echi menangis deras dengan suara tangisan yang keras dan menyesakkan dada. Echi juga menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan membungkuk menyembunyikan tangisnya supaya hanya dia saja yang merasakan kesesakan ini, namun Echi sungguh tidak bisa menahan tangis yang sudah dia coba untuk dia hentikan.

__ADS_1


" Cup...cup...cup sayang..." Bibir Haris Kelu dan berhenti melanjutkan kata, dia hanya bisa mengelus-elus rambut Echi dengan lembut dan perlahan. Haris juga menarik nafas dalam dan mengeluarkannya penuh dengan kepasrahan. Sesaat kemudian setelah membiarkan Echi berlarut dalam tangisannya, Haris mencoba mendekap tubuh Echi dan memeluknya dengan erat. Namun Echi masih saja sesenggukan.


" Sudah dong sayang, aku tidak ingin malam ini melihat kamu menangis terus seperti ini. Itu lihat wajah kamu di cermin, nanti tidak seperti boneka Barbie lagi, ush...ush.." Haris yang menghibur Echi dan menggodanya supaya berhenti menangis.


" Sayang, sudah sepuluh tahun lho pernikahan kita, jujur...." Bibir Echi yang terhenti sejenak kemudian melanjutkan kata.


" Apa kamu benar-benar sesantai itu tidak menginginkan buah hati hadir di tengah-tengah rumah tangga kita? Kamu harus jawab jujur." Echi yang menatap wajah Haris dalam-dalam dengan kedua telapak tangan yang memegang wajah Haris di sisi kanan dan kiri wajah. Hanya berjarak centimeter mereka bertatap. Bahkan jantung Haris yang berdetak kencang tidak bisa dia tutupi dari telinga Echi. Bibir Haris terasa kelu, dia bingung ingin menjawab apa. Tidak mungkin dia berkata jujur bahwa sebenarnya dia sudah memiliki dua anak dari seorang wanita bernama Sylvia yang dinikahinya secara siri. Gila, ini benar-benar gila. Echi yang aku pikir happy-happy saja selama ini, Ternyata dia bisa menangis histeris seperti ini menyalahkan dirinya sendiri. Oh my God, ampuni aku, yang telah berkhianat dengan Echi. Gumam hati Haris berperang dengan pertanyaan yang Echi berikan kepadanya.


" Sayang, kita kan sudah janji tidak akan membicarakan masalah ini. Lihat, kamu jadi sedih kan kalau terus-terusan memikirkan hal ini." Kata Haris dengan lembut dengan jemari yang mengelus rambut Echi.


" Apa sebaiknya kamu menceraikan aku saja ya, mas, aku wanita mandul kan, tidak bisa memberimu keturunan." Buliran-buliran air mata jatuh perlahan dari pelupuk mata untuk kesekian kalinya.


Haris tersentak, matanya melotot. Wajahnya datar tanpa senyuman. " Hem." Bibir Haris menyeringai dengan senyum simpul.

__ADS_1


" Kamu itu bicara apa sayang, aku tidak akan menceraikan kamu sekalipun kamu tidak bisa memberikan aku keturunan. Aku bahagia hidup dengan kamu yang seperti ini. Lalu apa yang kamu risau kan?" Haris yang membuka lebar kedua lengannya dan memberikan dadanya untuk Echi peluk. Tak lama Echi menaruh kepala dan pundaknya berada dalam dekapan Haris. Maafkan aku sayang, aku tidak akan mungkin bicara jujur kepada kamu sampai kapanpun. Biar waktu yang menjawab dengan sendirinya semuanya. Karena aku tidak sanggup semuanya akan tersakiti saat ini. Aku yakin semua akan berjalan baik-baik saja jika semua mulut tertutup rapat baik dari aku maupun Sylvia kecuali takdir yang membuka semua rahasia ini. Maafkan aku sayang. Haris berbicara dalam hatinya. Dia terus menyebut kata maaf kepada Echi dalam hatinya.


Setelah beberapa saat, terlihat Echi sudah tenang. Echi menarik setengah tubuh atasnya dari dekapan hangat suaminya, dan kembali duduk seperti semula di atas ranjang. Jemarinya masih mengusap basahan air mata yang masih tersisa di wajahnya.


" Terimakasih ya sayang, kamu memang laki-laki idaman setiap wanita. Aku beruntung sekali dan ternyata apa yang aku pilih sepuluh tahun lalu tidak sia-sia. Kamu selalu mendampingi dan menguatkan aku dalam keadaan seperti ini." Senyum simpul Echi dengan jemari yang mengelus-elus pipi kanan Haris.


Haris menganggukkan kepalanya kecil sembari mengedipkan matanya sebentar, pertanda reaksi terhadap apa yang di katakan oleh Echi istrinya. Haris kemudian berdiri, karena tidak ingin berlarut dalam kesedihan yang membuat dirinya akan semakin bersalah di depan Echi. Haris membuka kemejanya dengan melangkahkan kaki menuju kamar mandi yang berada satu ruangan dengan kamar tidur mereka. Echi yang mulai melupakan kesedihannya, berlari kecil dan manja dari arah belakang suaminya dengan menarik jemari suaminya dengan tatapan menggoda dan nakal menuju corner bathtub. Keduanya menghabiskan waktu bersama setelah banyak air mata yang keluar dari kedua mata Echi. Echi dengan sangat lihainya memberikan ciuman bibir maut kepada Haris. Gairah bercinta mereka sungguh tidak ada yang bisa menandingi. Echi memang sangat handal dan lihai dalam urusan ranjang. Haris bahkan dibuat tidak berdaya dan lemas terkapar jika Echi sudah beraksi dalam adegan panas bersamanya. Kali ini suara Haris yang meringis penuh dengan cambukan adegan panas yang Echi berikan kepadanya tanpa ada jeda sedikitpun. Uh..Uh..Uh..Ah..Ah..Ah.. Suara Haris yang sudah tidak tahan dengan adegan per adegan yang Echi lakukan kepadanya. Keduanya berjalan dengan melakukan ciuman bibir penuh gairah sensual tanpa terlepas sedikitpun keluar dari corner bathub menuju ranjang tanpa sehelai kain yang menutupi keduanya.


" Sayang, kamu memang juara dalam urusan seperti ini, Huh." Haris yang merasakan kepuasan lahir batin saat bersama Echi.


Sementara Echi tanpa mengeluarkan sepatah kata pun karena semua anggota badannya bergerak menjamah dan bibir Echi aktif menjilati semua bagian tubuh Haris dan membuat Haris mulai lemas.


" Huh.." Haris rasanya sudah tidak berdaya lagi kalau harus beradu dengan Echi di atas ranjang. Lain hal dengan Sylvia, Haris yang selalu aktif menggairahkan dan menghidupkan gairah panas di atas ranjang. Itulah dimana Haris merasa terpuaskan dalam hal ranjang oleh Echi, namun ada sisi yang Echi tidak bisa berikan seperti yang Sylvia bisa berikan kepadanya, yaitu kehangatan sebuah keluarga dan keceriaan kedua anak-anak mereka.

__ADS_1


__ADS_2