
Larozza adalah nama sebuah Klinik Kecantikan yang terkenal. Sebuah Klinik Kecantikan yang di dalamnya menggunakan alat-alat canggih dari luar negeri. Siapa yang melakukan perawatan kecantikan di sana sudah pasti orang yang berdompet tebal.
Mobil-mobil berjejer tengah terparkir rapi di depan Klinik Kecantikan tersebut. Seorang wanita berambut panjang hitam lurus tengah keluar dari mobil yang dikendarainya. Wanita itu berjalan dengan sangat angkuhnya menuju ke dalam Klinik Kecantikan Larozza.
" Selamat siang mbak."
Wanita berambut panjang hitam yang tengah sibuk memainkan ponselnya.
" Selamat siang Bu Echi."
Jawab ramah petugas Klinik Kecantikan.
" Seperti biasa ya mbak."
Sahut Echi yang masih sibuk memainkan ponselnya.
" Baik ibu Echi."
Echi masih sibuk memainkan ponselnya, berfoto disaat para dayang-dayang Klinik Kecantikan sedang mengerjakan pekerjaannya. Seperti biasa Echi tidak melewatkan aktivitas tersebut dengan diunggahnya foto tersebut di media sosialnya.
Perawatan mahal dulu. Terimakasih sayangku suamiku terlove.
Dengan diikuti puluhan emoticon tanda love.
Venus yang mengurus kedua buah hatinya dan pada saat itu, ponselnya berada di tangannya. Tanpa sadar melihat Echi yang sedang perawatan di sebuah Klinik Kecantikan Larozza.
Aku ingin seperti kamu deh Chi.
Venus yang sangat bosan sekali dengan rutinitasnya membuat tersenyum iri melihat Echi yang selalu pamer dengan kemewahannya.
" Ya tinggal pergi ke Klinik Kecantikan dong Venus!"
Jawab Echi tanpa beban.
__ADS_1
Echi, Echi enak banget hidup kamu, sampai membuat aku iri berkali-kali. Sampai kapan kamu akan membuat aku menelan ludah terus seperti ini.
" Venus, apa kamu punya nomor telepon sahabat- sahabat kita?"
" Aku tidak punya Chi, baru nomor telepon kamu saja yang aku punya."
" O, aku pikir kamu punya nomernya Cyntia, Delia, Wina dan Alisa."
" Tidak Chi."
" Sudah dulu ya Venus, aku ingin lanjutkan perawatan dulu, Bye."
Venus tersenyum datar, mendapati sikap Echi yang terlihat berbeda ketika mereka masih duduk di bangku Madrasah. Echi terlihat angkuh semenjak menikah dengan Haris suaminya. Kehidupan Echi berubah tiga ratus enam puluh derajat dari yang sebelumnya.
" Ini tips buat kalian ya."
Echi mengeluarkan uang dua lembar seratus ribuan untuk petugas Klinik Kecantikan.
Echi keluar dari Klinik Kecantikan menuju mobilnya terparkir. Echi juga memberi uang lebih untuk tukang parkir yang berada di Klinik Kecantikan Larozza.
Kring...Kring
Sebuah ponsel berdering dari dalam tas mewah yang berwarna biru tua milik Echi. Tas tersebut seperti tas milik artis-artis ternama yang tengah viral di televisi. Meskipun tas milik Echi bukanlah yang asli, namun tas Echi lebih mahal dari uang bulanan Venus selama ini.
" Hallo, dengan siapa ini?"
Echi meraih ponsel dari dalam tas mewahnya dan mendapati suara seorang wanita yang sedang meneleponnya.
" Hayo tebak siapa?" Jawab wanita itu dengan nada bercanda.
" Please, jawab siapa, aku sedang nyetir mobil." Echi yang tak bisa menyembunyikan wajah kesalnya.
" Waw, kamu hebat ya Chi sekarang, aku Alisa Chi."
__ADS_1
" Alisa, sahabat di bangku Madrasah?"
" Iya Chi. yaudah nanti kita sambung lagi ya, kamu nyetir mobil saja dulu."
" Okey siap."
Echi melanjutkan mengendarai mobilnya menuju sebuah Mall. Echi sudah janjian kepada Haris suaminya untuk menemaninya belanja baju dan sepatu yang akan dipakai di acara pernikahan salah satu kerabatnya.
" Sayangku, kamu sudah menunggu aku lama?" Echi yang tengah berlari manja memeluk sang suami tercinta.
Haris yang tanpa bersuara hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan lengan yang melingkar di atas pinggul Echi, si istri yang suka pamer foya-foya kepada teman-temannya, yang berusaha menunjukkan nasibnya telah berubah dari Upik Abu menjadi seorang Cinderella.
Kedua lengan mereka bertautan, melingkar di atas pinggul, berjalan bersama, menaiki lift bersama seolah dunia milik mereka berdua. Bagaimana tidak, keduanya seolah tidak menghiraukan pengunjung Mall yang lainnya. Mereka berjalan mesra.
" Ini sayang bagus."
Haris mencoba memberi saran kepada Echi yang sedari tadi mondar-mandir tidak jelas.
" Semua bagus-bagus, bingung."
Echi memainkan bibir merekahnya yang dipoles lipstik warna coklat tua yang senada dengan warna baju yang dikenakannya saat itu.
" Tapi baiklah sayangku, aku akan memilih yang kau pilihkan."
Sorot mata tajam menggoda menatap ke arah Haris suaminya.
Setelah semua selesai, Echi tidak luput mengunggah di media sosialnya.
Suamiku memang hebat, tahu aja selera istrinya tercinta.
Begitu juga dengan potret baju mewah dengan banyak manik-manik kristal dan sepatu elegan yang nampak mahal yang bertuliskan Zara.
Echi, Echi, sungguh kamu sangat beruntung menemukan Haris yang kini jadi suamimu sekarang. Hidupmu yang dulu penuh dengan penderitaan sekarang berubah menjadi jutawan. Kapan aku juga bisa kayak kamu Chi. Venus masih saja belum bisa terima dengan kenyataan yang harus dijalaninya. Berharap bisa bahagia seperti yang Echi rasakan.
__ADS_1