
Hallo sayang, kamu dimana? Echi yang sedang menempelkan ponselnya di telinganya karena kedua tangannya sedang mencari cermin dan lipstik yang berada dalam tas mewahnya.
A-aku di...aku bersama klien. Jawab Haris terbata dengan memberi isyarat ke Sylvia dengan menaruh jari telunjuknya ke bibir Sylvia dan berkata tanpa suara dengan memberi kode E-chi.
Sylvia sudah tidak kaget lagi dengan adegan seperti itu. Sudah sangat sering terjadi ketika Echi menelepon suaminya. Sylvia juga tidak memiliki cemburu yang berlebih ketika Echi menelepon suaminya. Sylvia sadar betul akan kehadirannya dalam rumah tangga suami sirinya dan juga Echi. Ketika Sylvia memikirkan rumah tangganya terlalu dalam, rasanya ingin menangis dan menjerit. Maka dari itu Sylvia memilih diam dan mengabaikan. Bukan tidak peduli. Melainkan hanya mengalihkan dari pikiran buruknya, jika suatu saat Echi mengetahui perselingkuhannya dengan Mas Haris, bahkan sudah menikah siri dan Mas Haris memiliki dua orang anak dari rahimnya. Sylvia hanya tidak sanggup jika peristiwa itu suatu saat terjadi. Apa yang dilakukan Mas Haris suaminya terhadap Echi? Atau sebaliknya apa yang akan Echi lakukan terhadap dirinya dan juga Mas Haris. Dari situ saja Sylvia enggan membayangkannya. Sylvia hanya menjalani takdir yang sudah disurat kan Illahi kepadanya. Apapun nanti yang akan terjadi, semuanya juga sudah takdir. Sylvia tidak bisa lepas dengan Haris begitu juga Haris yang selalu menghujaninya dengan cinta setiap saat terlebih Haris sangat mencintai kedua buah hati mereka.
Aku sebentar lagi pulang sayang. Ini aku masih di Mall, kamu ingin aku belikan makan apa?
Terserah kamu saja sayang. Yaudah habis bersama klien aku juga akan pulang.
Okay kalau begitu.
__ADS_1
Percakapan keduanya berakhir. Echi yang menutup ponselnya begitu juga Haris yang menutup ponselnya ditempat berbeda.
Haris yang mematikan air wastafel dalam kamar mandi. Mematung sejenak dengan menatap wajahnya dalam-dalam di depan cermin. Sampai kapan sayangku Echi aku harus terus membohongi kamu. Kalau aku harus menceraikan kamu...Wajah bimbang dan sedih dengan kepala menunduk ke bawah, Haris masih saja bergumam dan menghentikannya karena ada Sylvia yang memeluknya dari belakang.
" Aku tahu kamu memikirkan kami. Aku dan Echi." Sylvia yang membelai lembut dengan menautkan kedua tangannya dan memeluk manja suaminya dengan tatapan teduh jika di lihat dari cermin yang menjadi saksi pembicaraan mereka.
Hembusan nafas Haris yang terasa sesak bisa Sylvia rasakan. Namun Haris mengalihkan semuanya itu dengan membalikkan badannya dan menciumi bibir Sylvia dengan penuh gairah. Sylvia merasa Haris lah yang bisa memberikannya kenikmatan surgawi selama ini. Haris dan Sylvia saling berbalas ciuman bibir tanpa henti sambil melangkahkan kaki keluar kamar mandi hingga tubuh Sylvia terjatuh di atas ranjang. Haris masih saja tidak berhenti menghujaninya dengan ciuman bibir yang sangat sensual dan menggairahkan. Haris dengan jari nakalnya, kemudian mencoba melucuti kancing dari gamis yang dikenakan istrinya itu. Ehm...Ehm...Ehm.. Suara rintihan manja yang nakal dari bibir Sylvia malah membuat Haris semakin tidak ingin menghentikan aksi nakalnya kepada istri sirinya itu. Bahkan Haris melupakan janjinya dengan Echi. Haris masih menikmati adegan ranjang yang panas dengan Sylvia.
" Kamu suka kan?" Sylvia yang duduk diatas badan Haris yang tanpa sehelai kain yang menutupi tubuh putih dan mulusnya itu menggoda suaminya dengan jari telunjuk yang di usapkan kepada hidung Haris. Hanya selimut tebal yang mereka gunakan untuk menutupi aksi nakal keduanya.
Haris yang terkekeh dengan aksi nakal istri sirinya yang kini pintar menggoda dan mulai cemburu ketika Haris dimanjakan oleh Echi istri sahnya. Haris mulai mengetahui gelagat kecemburuan pada diri Sylvia kepada Echi. Karena setiap Echi meneleponnya dan menantikan kepulangannya, Sylvia selalu menahannya dengan berbagai alasan. Namun ketika Haris mencoba memberi Sylvia pengertian, Sylvia sadar bahwa ada perjanjian sebelum terjadinya pernikahan siri itu yang membuatnya harus rela berbagi cinta dengan Echi.
__ADS_1
" Sayang aku pulang ya, Echi pasti sudah sampai di rumah."
Sylvia yang sedang tidur dengan meletakkan lengan kanannya di atas dada Haris mencoba ikhlas dengan memainkan matanya dengan menutupnya agak lama dan memainkan bibirnya dengan senyuman palsu yang membohongi dirinya bahwa sebenarnya dia menginginkan Haris seutuhnya tanpa bayang-bayang Echi. Namun dia sadar diri. Bahwa Echi tidak akan mungkin tergantikan di relung hati yang paling dalam sekalipun oleh Mas Haris. Tidak mudah mendapatkan Echi yang saat itu ingin dilamar banyak pria. Janji kepada keluarga Echi yang Haris Jaga sampai kapanpun. Dan Haris tahu betul akan ketulusan hati Echi yang dulu bisa saja memilih pria yang jauh lebih mapan dan kaya dibanding dengan dirinya yang masih merintis usaha. Cacian dan makian dari kerabat dan saudara yang Echi terima sebelum kehidupannya Haris berubah seperti ini. Hal itu yang membuat Haris tidak bisa melepaskan Echi begitu saja. Bahkan pernikahan diusia sepuluh tahun adalah pernikahan yang bukanlah main-main dan bukan waktu yang sebentar. Echi ada saat masa-masa susah Haris. Dan Echi rela mendengar semua caci maki dari keluarganya sendiri karena telah memilih Haris. Maka dari itu Haris tidak marah sekalipun terhadap apapun yang dilakukan Echi meskipun dia menghambur-hambur kan uangnya, karena Haris tahu betul Echi cukup tahu diri dalam pengelolaan keuangan.
Haris berdiri di samping ranjang dengan merapikan kemejanya. Sementara Sylvia juga sudah dandan rapi dengan hijabnya yang sedang duduk di depannya Haris.
" Ini kartu kreditnya, kamu belanja sendiri dengan anak-anak ya, maaf bulan ini aku agak sibuk, jadi aku tidak bisa antar kamu belanja kebutuhan anak-anak dan kebutuhan rumah." Haris yang tangan kirinya memegang kepala istrinya yang tertutup hijab dan mencium bibir Sylvia. Jarinya mengelus pipi kanan Sylvia dan berucap lirih " Jangan mencoba telepon ataupun kirim pesan sekalipun itu darurat. Tidak lupa kan?"
Sylvia hanya menganggukkan kepalanya kecil dan memasang bibir tersenyum.
Haris kemudian melangkahkan kakinya keluar kamar tidur dan menuju kamar tidur anak-anaknya yang sudah lelap tertidur. Haris tidak lupa mencium kening mereka satu persatu dan duduk sebentar dengan memandangi wajah mereka berdua seolah perasaan bersalah muncul dari dalam benaknya karena tidak bisa hadir dalam sosok ayah yang seperti mereka harapkan. Haris lalu mengangkat tubuhnya dan berjalan keluar dengan menggandeng tubuh Sylvia. Mereka berjalan beriringan menuju pintu utama. Haris yang mencium bibir Sylvia kembali dan berlalu dari hadapannya dan menaiki mobil yang terparkir di depan pintu utama rumah mereka. Sylvia melambaikan tangannya ke arah Haris. Begitu juga dengan Haris yang membuka kaca mobilnya dan melambaikan tangan kepada Sylvia.
__ADS_1