Delapan Tahun Pernikahanku

Delapan Tahun Pernikahanku
Rencana Untuk Membahagiakan Wina


__ADS_3

Sepertinya Wina ingin menangis dan keluar dari grup panggilan video call itu. Namun Wina merasa tidak enak hati terhadap mereka semua. Wina memilih diam saja tak berkata sepatah katapun. Hanya pemandangan rumah yang tidak rapi, cat dinding yang sudah lama tidak di perbarui sehingga membuat warnanya kusam dan terlihat tidak bersih dan segar. Wina yang tengah duduk di bangku terbuat dari bambu dan memakai baju yang setara dengan tali rambut mereka. Apalagi melihat Echi yang super sempurna riasannya.


" Bagaimana kalau kita ke rumah Venus?" Echi mengusap dagunya yang baru saja di tanam benang beberapa bulan yang lalu.


" Kamu semakin cetar membahana Chi." Delia yang menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Iya Echi sekarang kaya raya, rumahnya terlihat dari sini bak Hotel Bintang Lima." Cyntia tersenyum lebar memuji perawatan Echi yang mengalahkan artis papan atas.


" Klinik Kecantikan Larozza sahabat, tidak main-main lho." Alisa yang dengan gaya bicaranya tanpa basa-basi.


Haha Larozza Mereka tertawa bersama tak terkecuali Wina. Namun Wina hanya tertawa tanpa bersuara. Ingin rasanya Wina menjerit di dalam hatinya.


Mas Anton, kapan aku seperti mereka?


Wina seperti ingin protes dengan suaminya dan Tuhan. Mengapa hanya dia sepertinya yang hidup menderita dan tidak bisa tertawa selepas mereka.


" Wina, kamu jangan diam saja, ayo ikut bicara! jangan tersenyum saja!" Pandangan Alisa tertuju kepada Wina yang terlihat kurang percaya diri.


" Anak aku menangis sahabat, aku matikan dulu ya sambungan teleponnya, nanti lain kali aku ikut bergabung lagi."

__ADS_1


Baiklah Wina Sahut Echi, Alisa, Delia dan Cyntia.


" Ada apa dengan Wina sahabat?" Wajah Echi seperti tidak tega terhadap keadaan Wina.


" Wina, sepertinya tidak percaya diri berkumpul dengan kita." Alisa dengan santai sedang membersihkan kuku-kuku jemarinya.


" Kalau begitu bagaimana kalau kita ajak Wina bersenang-senang sahabat."


Ide bagus itu Chi. Jawab Delia, Alisa dan Cyntia dengan cepat.


" Untuk masalah reuni, kita atur lagi jadwalnya ya sahabat. Besok kita bertemu, kita ke rumah Wina dan ajak senang-senang Wina." Echi berjalan menaiki anak tangga rumahnya dengan elegan dan mematikan ponselnya.


" Sayang sudah ya." Echi mencoba melepas pelukan erat dan ciuman mesra suaminya.


" Sebentar lagi sayang." Haris masih mendekap kuat istri yang dicintainya itu.


" Kamu juga harus pergi bekerja sayang."


" Aku menginginkanmu malam ini sayang."

__ADS_1


Haris membisikkan kata tersebut di dekat telinga Echi.


" Baiklah suamiku tercinta." Echi tersenyum anggun.


" Memangnya kamu ingin pergi kemana?"


" Aku dengan sahabat-sahabat ku ingin pergi membahagiakan Wina, Sahabat aku. Aku ingin ajak Wina ke salon, membelikan baju untuk anak-anaknya, mengajak Wina makan. Boleh kan sayang."


" Itu bagus sekali sayang, kalau memang sahabat kamu tidak seberuntung kamu."


" Terimakasih sayangku." Echi memeluk mesra tubuh suaminya yang kekar dari belakang.


Pelukan mesra mereka terpantul dari kaca yang berada di depan mereka. Haris suami Echi kemudian melangkahkan kaki menuju kamar mandi yang ruangannya besar dan sangat lengkap seperti Hotel Bintang Lima.


" Kita bertemu malam nanti." Kedipan mata Haris yang menggoda istrinya yang tengah sibuk berdandan membenahi rambutnya di depan kaca.


Echi menoleh dan tersenyum manis dengan polesan lipstik maroon yang dikenakan di bibirnya ke arah Haris suaminya berdiri.


" Aku sungguh tidak sabar menunggu malam nanti, aku berangkat ke kantor dulu, Bye."

__ADS_1


Haris mengecup pipi Echi kemudian pergi meninggalkan kamar mereka dan menuruni anak tangga rumah mereka.


__ADS_2