
" Trus, kamu belum menyerahkan surat ini ke Haris?"
" Belum Ven, rencananya hari ini."
" Kok bisa ya, Sylvia ketemu suami kamu."
" Entahlah." Pundak Echi menyembul.
" Kalau begitu, kita makan dulu. Kita lupakan saja kesedihan kita karena pria." Venus berjalan meninggalkan Echi dan mengajak anak-anaknya untuk makan.
" Lucu lho anak-anak kamu Ven." Jemari Echi yang memegangi janggut anak-anak Venus.
" Pernikahan perbedaan karakter itu memang sangat melelahkan, terlebih jika pasanganmu memegang penuh kendali tanpa toleransi dan membuat kamu bergantung padanya, tapi dia berlaku semena-mena, atau seenaknya sendiri. Itu memang membuat hati capek sih Venus, tapi kalau melihat anak-anak ini kamu tega."
" Awal-awal berat sih Chi. Aku minta pisah itu sudah sejak awal aku merasa tidak ada kecocokan pada diri Lion. Lion tidak pernah menggubrisnya. Sering aku melarikan diri dari Lion, namun gagal. Yang ada aku kembali dengan alasan karena kasihan dengan Nuno. Itu aku masih punya anak hanya Nuno. Dan Lion semakin gila, dia tahu kalau aku akan sulit berpisah dari dia karena obsesi ku yang ingin menghadirkan keluarga utuh untuk Nuno. Dia kemudian membelenggu ku lagi dengan aku hamil anak kedua yaitu Neyna. Jadi Lion kayak berusaha, menunda perpisahan yang seharusnya sudah lama kita berpisah. Aku disibukkan dengan mengurus baby lagi. Lupa dengan akar masalah rumah tangga. Lebih ke lelah si Chi, yang aku rasakan."
" Apa tidak ada jalan lain."
" Sudah, selama ini aku berusaha kok, aku berusaha membahagiakan diriku sendiri. Aku sama anak-anak quality time sendiri karena Lion memiliki dunianya sendiri. Tapi kadang juga terbesit, kok begini? apa ini namanya rumah tangga, apa cuma buat status saja? namun di dalamnya seperti neraka. Aku itu berusaha menghidupkan rumah tangga ku kembali. Tapi tetap saja hambar rasanya."
__ADS_1
" Sulit sih, kalau tidak sama-sama. Kamu ingin membangun rumah tangga mu lebih baik, dia datar saja. Ya repot. Kamu sudah mengalah selama ini. Iya wajar sih, kalau kamu lelah."
" Sebenarnya aku juga sudah berusaha menerima dia, wajar Chi, kalau dititik lelahku aku juga mendamba pria yang bisa mengerti, perduli, bisa saling support satu sama lain, bisa bekerja sama dengan baik layaknya sebagaimana pasangan suami istri pada umumnya. Namun itu sama sekali tidak aku dapatkan selama pernikahan, bahkan sebaliknya, Lion seperti tidak pernah menghargai ku, seperti acuh dengan rumah tangga ini, dia seperti hanya butuh seseorang yang bisa untuk melayani segala kebutuhannya, tanpa memikirkan perasaan saya yang harus diperlakukan sebagaimana seorang istri pada umumnya. Itu yang aku tangkap dari rumah tanggaku Chi."
Echi yang perlahan melupakan kesedihannya menganggukkan kepalanya menanggapi kata-kata Venus. " Egois berarti suamimu. Trus misal kamu bercerai tanpa anak-anak dan sendiri hidup di desa atau bekerja di kota, ya buat apa? tidak ada anak-anak. Begitu kan maksud kamu Ven. Lain cerita kalau ada anak-anak di samping mu. Bekerja untuk anak, semangat. Trus makanya jika memang ada pria lain yang memperjuangkan mu, kamu mau. Ya betul juga sih, dari pada hidupmu tidak bahagia ditambah sudah kepalang malu dengan lingkungan sekitar. Ya why not? mencoba chapter baru, membuka lembaran baru dengan pria yang sungguh-sungguh. Tidak ada salahnya sih." Kata Echi dengan bibir di ujung sedotan.
" Misal, aku boleh membawa anak-anak. Aku bahkan tidak memikirkan menikah karena trauma Chi. Takut kalau ketemu pria seperti Lion lagi. Dan lebih memilih hidup sendiri di desa dengan membuka usaha untuk kehidupan sehari-hari dengan anak-anak. Sebenarnya itu kemauanku. Namun Lion menyulitkan ku."
" Iya jelas dong Ven, menurut aku kamu itu tabah lho. Delapan tahun kamu tidak pernah menuntut apapun. Apalagi secara finansial, belum bisa dikatakan lebih. Banyak aturan dari pasanganmu yang membuatmu merasa terkekang dan bergantung. Misal tidak memperbolehkan kamu bekerja, namun dia juga memberi uang semaunya. Kamu juga jarang pergi quality time bersama keluarga, bahkan dia tidak peduli itu. Secara etika berumah tangga, itu sudah tidak sehat Ven, tapi kamu masih bertahan sampai detik ini dan kuat. Menurut aku sih kamu wanita strong. Ya lebih baik, memang kamu harus tega nggak tega sama mereka. Suamimu aja tega sama kamu, ya kan? masalah anak, pasti nanti sudah besar mereka bisa diajak bicara dan mengerti, toh pada kenyataannya ketika nanti anak-anak sudah besar, mereka akan membangun rumah tangga dan kamu hidup dengan pasanganmu."
" Maka dari itu Chi, memilih pasangan hidup, teman hidup memang harus tepat ya, tidak asal seperti aku. Tidak mengenal sosok Lion secara mendalam. Berkenalan empat bulan langsung menikah tanpa berpikir panjang, mau berpisah juga dramanya panjang nauzubillah."
" Sudah bisa tertawa kamu."
" Instingku menuju ke kamu tidak pernah salah Ven. Seperti ada teman berbagi yang menguatkan satu sama lain. Empat jam perjalanan aku tempuh buat cerita sama kamu saja. Padahal ada Alisa, Delia, Wina dan Cyntia tinggal di kota yang sama. Rasanya kurang pas saja bercerita masalah ini pada mereka.
" Alhamdulillah Chi, kita saling menguatkan. Aku harap ini adalah pilihan terbaik kamu."
Echi menarik bibirnya dan mulai tersenyum. Echi merasa banyak kelegaan cerita dengan Venus masalah perceraiannya dengan Haris. Echi membayangkan jika dia bercerita kepada Alisa.
__ADS_1
" Bodoh kamu Chi. Jangan mau kalah sama Sylvia. Kamu harus bisa merebut hati Haris kembali. Jambak dan gampar saja rambut dan wajahnya, kalau perlu masukkan sel penjara dengan tuduhan pengambilan suami orang dengan alasan Haris di godanya dan diiming-imingi kedua gunung kembarnya dan sel*ka**annya. Cuih." Alisa yang marah-marah kepada Echi.
" Kamu malah menceraikannya, keenakan Sylvia."
Echi membayangkan kata-kata tersebut pasti yang akan dilontarkan Alisa sahabatnya misal dia bercerita kepada Alisa. " Haha." Echi terkekeh.
" Kenapa? Alhamdulillah sudah bisa tertawa kecil."
" Enggak, aku membayangkan saja, kalau aku cerita ke Alisa. Pasti aku dikatai bodoh malah menceraikan mas Haris. Dan keenakan Sylvia."
" O, eh tapi bagaimana masalah harta Gono gini kamu. Secara Haris sepertinya sukses di pekerjaannya kan."
" Rumah dan mobil atas nama aku. Lagian dia juga sudah membelikan rumah untuk Sylvia. Jadi dia ada tempat tinggal. Dia juga membelikan mobil untuk Sylvia. Dia memang lagi bagus-bagusnya sih pekerjaannya."
" Trus kamu?"
" Aku mau buka usaha salon kecantikan saja, biar ada kesibukan Ven. Aku juga ada simpanan uang yang cukup di bank untuk hidupku setelah berpisah dari mas Haris.
" O." Venus menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
" Kamu terlanjur sakit hati ya sama Haris, tapi Haris sebenarnya masih baik lho Chi. Kalau dia bisa, dia bisa menceraikan kamu lebih dulu karena kamu tidak bisa memberikan keturunan kepadanya. Itu berarti Haris cinta sama kamu Chi, bahkan dia setiap hari juga pulang dan memberikan perhatiannya kepada kamu. Maksud aku, Haris masih sayang sama kamu. Dan kamu juga tercukupi bahkan bisa foya-foya. Apa iya, setelah ini kamu membuka salon kecantikan, otomatis kan...maaf sebelumnya Chi, kamu akan kehilangan jatah uang bulanan yang nominalnya tidak sedikit Chi dari Haris yang seharusnya kamu terima seperti hari-hari sebelumnya. Beda cerita kalau Haris memperlakukan kamu dengan tidak baik. Apa tidak sayang aja, apa kamu tidak pikir ulang keputusan kamu? apa sudah bulat?"