Delapan Tahun Pernikahanku

Delapan Tahun Pernikahanku
Berlian


__ADS_3

Siang hari ini tidaklah begitu panas. Cuacanya mendung diiringi rintik-rintik hujan. Venus merebahkan tubuhnya dengan santai di tempat tidurnya sambil memainkan ponselnya.


Venus melihat Echi sedang membeli perhiasan di sebuah toko berlian ternama. Echi mengunggah di media sosial. Entah Mengapa Venus menjadi sangat ingin tahu dengan kehidupan Echi yang sekarang.


Jalan-jalan beli berlian lagi, terimakasih suamiku tersayang, I LOVE YOU


Demikian bunyi status yang diunggah Echi begitu juga dengan kata-kata yang memuji suaminya yang membuat Venus sedikit iri.


Hem


Enak banget jadi kamu Chi


Venus memalingkan wajahnya dari ponsel yang dipegangnya.


Sesaat kemudian, pandangan Venus tertuju kembali dengan media sosial Echi. Kali ini Venus pandangi agak lama. Menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkan.


Venus mulai membandingkan dirinya dengan Echi. Venus yang baru saja meminta uang belanja, selalu harus menelan pil pahit. Yang pahitnya seperti kehidupan rumah tangganya. Belum ditambah kata-kata bagaikan belati yang menghujam ulu hati.


Dosa apa yang telah aku perbuat Tuhan?


Sampai engkau pertemukan Lion menjadi takdirku


Membaringkan kembali tubuh dengan gemas dan meremas bantal guling yang sudah dari tadi berada disamping Venus.


Venus mematikan ponselnya. Semakin Venus terlihat iri kepada kehidupan Echi, semakin frustasi lah Venus meratapi kehidupan rumah tangganya dengan Lion


Venus sadar Echi belum memiliki momongan. Maka dari itu Echi bisa sangat mudah membelanjakan uangnya dengan suka-suka tanpa perhitungan. Namun, masih sangat beruntungnya Echi yang belum memiliki momongan, Echi memiliki suami berhati emas yang tidak menuntut Echi untuk segera menghadirkan momongan ditengah-tengah rumah tangga Echi dikala pernikahan Echi dan suaminya sudah sepuluh tahun lamanya.

__ADS_1


Belanja berlian seperti yang Echi lakukan adalah seperti membuang uang recehnya.


Sekali lagi, hati Venus benar-benar diuji oleh kata yang bernama Ikhlas.


Kring...kring


Venus mengangkat ponsel yang berada dalam genggamannya.


" Hallo."


" Aku pulang cepat, kamu mau dibelikan apa?"


Tanya Lion diujung telepon.


" Berlian, ha..ha..ha..ha..ha..."


" Jangan aneh-aneh! Ayo cepat, Martabak atau Pukis atau Terang bulan?"


Venus masih tertawa cekikikan. Karena celetuknya dan latahnya meminta berlian malah sebaliknya Lion menawarinya Terang Bulan.


Lion kemudian menutup ponselnya.


Ada angin apa ini? aneh sekali Lion yang sebelumnya tidak pernah sama sekali memberinya perhatian, sore ini memberi perhatian kepada Venus.


Suara deru mobil Lion terdengar dari balik pintu.


Ceklek

__ADS_1


Suara gagang pintu utama.


" Ini Terang Bulannya, kamu ada apa?"


Lion yang tengah melepas sepatu yang dikenakannya.


" Tidak ada apa-apa."


Raut wajah Venus yang lesu tak bisa tertutupi lagi.


" Yasudah, kalau kamu tidak ingin bercerita."


Lion pergi meninggalkan ruang tamu menuju kamar belakang.


Begitulah Lion yang tidak terlalu peduli terhadap Venus. Lion melepas kemejanya, kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Bekerja sepanjang hari membuat tubuhnya penat.


" Sayang tolong pijitin aku."


Teriak Lion dari dalam kamar belakang dimana Lion merebahkan tubuhnya.


" Iya, tunggu sebentar." Sahut Venus yang sedang melipat baju di kamar depan.


Venus menuju kamar belakang dimana Lion berada, Venus mulai memijit, diawali dari telapak kakinya menuju ke atas pundaknya Lion.


" Enak sayang, pijitan kamu."


Apa aku tidak salah dengar, tadi menawariku Terang bulan, sekarang bilang kalau pijitan aku enak

__ADS_1


Bibir Venus menyeringai keheranan dengan sikap Lion sore itu.


__ADS_2