
Sepertinya Lion memang tipe pria yang suka mencari gara-gara. Baru saja reda permasalahan kemarin. Lion sepertinya mengajak Venus untuk perang dunia ketiga.
Sepulang kerja, Lion membawa paper bag warna coklat ditangan kanannya. Paper bag bertuliskan nama sebuah Departemen Store yang cukup ternama dan namanya sudah sangat cukup dikenal oleh banyak kalangan.
Lion meletakkan paper bag itu begitu saja di karpet, tempat Venus dan Nuno menonton televisi.Lionpun mengambil handuknya dan pergi untuk mandi.
Byur
Suara air dalam kamar mandi.
Venus yang penasaran mencoba membuka paper bag tersebut.
Setelah Venus buka, sudah Venus duga sebelumnya. Lion membeli banyak pakaian yang nampak bagus dan mahal. Venus pun melihat banderol harganya.
Venus memang tidak pernah marah, jika Lion membeli baju dan sepatu mahal yang bermerk sekalipun. Venus hanya tidak habis pikir saja dengan Lion.
Di lemari bajunya Lion, hampir semua baju, celana dan apa saja yang dipakainya mempunyai nilai dan kualitas yang bermerk dan harga yang menurut Venus lumayan merogoh kantong jika dibandingkan dengan lemari baju Venus. Yang hampir kebanyakan berisikan daster-daster yang harganya tak seberapa jika dibandingkan dengan milik Lion. Gamis-gamis yang tak bermerk dan hijab yang ala kadarnya, rasanya tak pantas diungkit-ungkit nilainya, Jika Venus membelinya. Venus sadar, dia tidak bekerja. Venus selalu meredam egonya, agar Lion membahagiakannya seperti dia membahagiakan dirinya sendiri.
Venus melihat ketimpangan, ketidakadilan yang Venus rasakan semenjak dinikahi oleh Lion. Hampir semua merk pakaian yang dijual di Departemen Store tersebut Lion memilikinya. Dari Cole, Polo, Gabrielle, Giordano, Stanley Adams, Emba dan masih banyak lagi yang memenuhi lemari pakaiannya.
Belum lagi sepatunya yang bermerk pun tak kalah menumpuk, di rak sepatu. Dan itu sangat jauh berbanding terbalik dengan milik Venus yang ala kadarnya. Venus selalu mengalah, mencoba memahami dengan kata
Biarin aja, kan Lion yang bekerja.
Mungkin memang itu bentuk reward ke diri sendiri karna telah bekerja untuk menafkahi aku dan Nuno, Sedangkan Lion hampir tak pernah memanjakan dirinya sendiri. Dan
__ADS_1
baju-baju itu memang dibutuhkan Lion untuk bekerja dan berpenampilan di luar rumah.
Gumam Venus selalu ketika dia membeli barang-barang yang mahal dan bermerk.
Uang-uangnya dia, Lion juga yang bekerja.
Sudah kesekian kalinya Venus berkata seperti itu dalam hatinya.
Ya sudahlah lah
Venus selalu mencoba memahami dan menenangkan dirinya sendiri. Sekalipun terkadang Venus merasa nelangsa.
Ibarat kata, Venus yang hanya mengeluarkan uang tak seberapa, Lion bisa menjadi sangat marah dan emosinya memuncak.
Sedangkan Lion yang menghamburkan uang dengan banyaknya seolah itu biasa saja. Karena Lion merasa dia yang bekerja.
Ceklek
Suara gagang pintu kamar.
Byur..Byur..Byur..
Tumpahan air dari gayung kamar mandi pun masih terdengar di telinga Venus sekalipun pintu sudah ditutup. Venus mencoba ikhlas. Namun sulit. Telinganya masih terngiang tatkala Lion marah-marah, membentaknya dan melotot matanya dengan masalah-masalah yang lalu. Dari masalah kemarin saja, rasanya masih sakit. Sulit rasanya beradu dengan Lion. Karena pada dasarnya memang, Lion tidak suka jika seorang istri memegang uang banyak. Dikarenakan takut menjadi tidak hormat kepada suami, berlaku semena-mena kepada suami hingga melupakan kodratnya sebagai seorang istri dan yang ada malah membuat menghancurkan rumah tangganya sendiri.
Rumah tangga Venus dan Lion seperti berada dalam bayang-bayang rumah tangga Lion terdahulu. Ketakutan Lion sendirilah yang sebenarnya membuat ketidak harmonisan di dalam rumah tangga mereka saat itu.
__ADS_1
Hampir semua wanita, sekalipun Venus rasanya disama ratakan dengan mantan istrinya. Padahal belum tentu seperti itu semua. Ada wanita yang bekerja demi membantu suami mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga namun tetap patuh terhadap suaminya. Semuanya, sebenarnya tergantung bagaimana keduanya menjalin komunikasi yang baik sesama pasangan, saling menghargai, memahami satu sama lain rasanya akan membuat rumah tangga menjadi sakinah, mawadah, warahmah.
Terlalu berlebihan rasanya, rasa saling percaya satu sama lain saja, tidak ditanamkan dalam rumah tangga mereka. Mereka seperti saling melukai. Saling menyimpan duri. Tapi juga tak mampu untuk pergi.
" Sayang dimana tehnya?"
Lion berdiri dengan membuka pintu kamar depan.
" Iya sebentar, aku belum buatkan."
Venus menjawab dengan wajah datar. perlahan langkah kakinya menuju ke dapur tempat terbelakang dari rumah itu.
" Jangan manis-manis sayang!"
" Oke baiklah."
Venus menggoda Lion dengan tidak memberi gula sama sekali di dalam secangkir tehnya.
" Kok begini rasanya, Kamu tidak memberinya gula."
Hahahahahaha
Venus tertawa terbahak. Sesaat kemudian menutup mulutnya dengan telapak tangannya melihat reaksi Lion yang sudah diduganya.
" Kamu sengaja ya."
__ADS_1
Venus masih saja melanjutkan tawanya dan bergegas ke dapur kembali untuk mengambil gula dan memasukkannya kedalam secangkir teh.