Delapan Tahun Pernikahanku

Delapan Tahun Pernikahanku
Pegawai Salon Gadungan


__ADS_3

" Mbak." Sylvia yang memanggil Echi yang sedang bengong melihat isi dalam rumah mereka. Rumah Echi jauh lebih mewah namun di dalamnya terasa hampa karena sama sekali tidak ada tangis anak-anak yang berebut mainan dan juga jeritan canda tawa anak-anak.


" Oh, iya Bu." Sahut Echi. Echi kemudian masuk ke dalam kamar tidur Sylvia. Baru tiga langkah dia masuk ke kamar tidur Sylvia, Echi di buat melongo melihat foto-foto pernikahan mereka berdua. Echi hanya menelan ludah. Echi mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan tersebut. Sylvia ternyata juga hobi mengoleksi tas-tas mahal seperti dirinya. Semua itu tampak dari lemari kaca yang isinya puluhan tas mahal namun tampak sederhana dari modelnya, tapi Echi tahu harga semua tas tersebut tidaklah murah, dan memakai uang siapa lagi kalau bukan uang Haris suaminya.


O, aku yang susah payah berjuang bersama kamu diwaktu kamu susah, tapi wanita yang ada di depan ku ini yang banyak menikmati semua hasil kerja keras kamu mas. Baiklah kalau kamu ingin bermain sandiwara-sandiwaraan ini mas. Hembusan nafas sesak tak beraturan keluar dari mulut Echi.


" Mari mbak." Sylvia yang sudah melepas semua bajunya dan tinggal lembaran kain yang menutupi tubuh mulusnya itu.


Ya, Tuhan, aku kan tidak punya teknik massage seperti mbak-mbak pegawai salon, bagaimana ini? Echi mengernyitkan dahinya.


" Mbak." Sylvia memanggil Echi lagi.


" E, boleh saya ke kamar mandi Bu." Kata Echi dengan cepat.


" O, iya silahkan, mbak keluar ada dapur belok kiri ya, ada kamar mandi di situ."


" Baik Bu." Echi yang membalikkan badannya dan melangkah kan kakinya keluar kamar tidur Sylvia. Sial, aku pikir aku tadi di suruh di kamar mandi dalamnya. Umpat Echi dengan wajah kesal di balik maskernya.


Echi berjalan dan melihat pemandangan di dapur. Melihat Haris suaminya bercengkrama dengan kedua anaknya. Mereka saling melempar canda dan tawa kecil.


" Ayah, nanti kalau adik sudah lahir kita pergi ke Bali lagi ya." Kata anak perempuan Haris.


" Okay, tapi adek sekolah dulu yang pintar ya di sekolah." Kata Haris dengan menggoda anak perempuannya.


Echi berlalu dari pandangannya dan melanjutkan pergi ke kamar mandi.


Ceklek Suara gagang kamar mandi. Echi bersandar di balik pintu. Nafasnya keluar tak beraturan. Bingung, apa yang harus dia lakukan. Dia tidak memiliki keahlian massage sama sekali. Echi kemudian berdiri, berjalan mondar-mandir di dalam kamar mandi tidak menentu, hingga dia memutuskan keluar kamar mandi dan berjalan cepat menuju kamar Sylvia karena dirasanya dia sudah terlalu lama berdiam di kamar mandi untuk berpikir.


Daarr... Langkahnya terhenti. Hatinya bagai tertancap ribuan pedang yang menghujam. Melihat pemandangan suaminya Haris yang tengah menciumi mesra bibir Sylvia. Mereka berciuman selayaknya suami istri. Jemari nakal Haris yang menggerayangi tubuh Sylvia yang hamil.


Oh, my God, dasar laki-laki bajin**n. Apa enaknya coba, begituan sama wanita yang hamil besar. Awas kamu mas Haris. Umpatan Echi untuk kesekian kalinya melihat mereka berdua.


Echi memberanikan mengetuk pintu.


" Permisi."

__ADS_1


" Oh mbak, sudah." Sylvia dan Haris yang langsung berhenti beradegan tidak pantas, apalagi sedang menerima tamu, meskipun hanya seorang pegawai salon Klinik Kecantikan.


Apa tidak tahan, melakukannya nanti, sampai-sampai ada tamu saja begituan melulu. Pantes Sylvia bunting terus. Gumam kesal Echi.


" Mbak, maaf, tiba-tiba saja, saya ingin membatalkan massage saya akan bayar mbak. Sekali lagi saya mohon maaf ya mbak." Sylvia yang berbicara dengan Echi tanpa beranjak dari ranjangnya. Tangan kirinya masih memegang pundak Haris suaminya yang duduk di depannya.


" Oh, baik bu." Echi membalikkan badan dan meninggalkan ruangan tersebut tiba-tiba langkahnya terhenti kala mendengar...


Deer...Suara kilat petir di luaran terdengar menyambar. Hujan tiba-tiba turun deras membasahi semua.


Echi membereskan barang-barang yang ada di sofa ruangan tersebut.


" Mbak bisa massage saya."


" Lho, sayang." Sylvia yang bingung dengan suaminya. Maksud hati ingin melanjutkan bercinta dengan Haris malah Haris meminta dirinya di massage.


" Sayang, kasihan. Lagian pundak sama punggung aku juga pegal-pegal. Tidak apa-apa ya." Jemari Haris yang mengelus pipi kanan Sylvia seperti yang dilakukannya kepada Echi.


" Okay, aku tahu, sekarang aku gendut dan jelek kan, makanya kamu menolak aku." Sylvia yang ngambek manja kepada Haris.


Dasar Babon. Pantes bunting terus. Dia nyosor terus sama mas Haris. Umpat Echi kesal dengan Sylvia yang berusaha menyuruhnya pergi dari rumah itu, karena dia ingin melanjutkan bercinta dengan Haris.


" Saya permisi bu, pak." Dengan gaya sopan Echi berlagak seperti mbak-mbak pegawai salon betulan.


" Mbak, saya minta di massage ya!" Haris sepertinya tak mengindahkan Sylvia.


" Baik pak." Jawab Echi dengan ragu.


Yes Gumam Echi dalam hati.


Sylvia pergi beranjak dari ranjang dengan wajah kesal menuju ke arah kamar mandi ruangan tersebut.


Sementara Echi yang menyamar menjadi seorang pegawai salon. Mempersilahkan Haris tengkurap dan Echi mulai memijit area punggung Haris dengan perlahan.


Echi yang tiada henti memandangi wajah suaminya yang menutup kedua matanya saat di pijit olehnya.

__ADS_1


Apa yang akan aku lakukan dengan pernikahan kita mas?


Mengapa kamu tidak menceraikan aku mas? tapi memberikan luka yang amat dalam. Saking perihnya sampai aku tidak bisa merasakan sakitnya. Salah aku juga, yang tidak bisa memberikan keturunan kepada kamu, makanya kamu berpaling. Hati kecil Echi berbicara dan menatap dalam-dalam wajah suaminya yang sepertinya tertidur pulas.


Sementara Sylvia yang sudah berpakaian rapi dengan gamis lengkap dengan hijabnya dengan sentuhan lipstik warna coklat memang membuat Sylvia terlihat anggun. Sylvia juga sangat keibuan menurut Echi. Echi dibuat iri oleh sikap Sylvia yang memperlakukan suami dan anak-anaknya dengan sangat lembut dan telaten penuh kesabaran.


" Suami saya tidur mbak."


" Eh, iya bu." Echi yang setengah melamun menatap Sylvia kaget dengar pertanyaan dari Sylvia.


" Saya tinggal dulu ke dapur ya."


" Baik bu."


Sylvia kemudian pergi meninggalkan kamar tidurnya dan bergegas menuju dapur.


Echi masih terus memijat Haris suaminya. Sesekali jemarinya menyentuh dan mengelus kening Haris yang tertidur pulas. Sampai dimana Sylvia kembali ke kamarnya dan membisikkan ke telinga Echi.


" Sudah, biarkan suami saya tidur mbak." Sylvia berbicara lirih kepada Echi.


" Baik bu." Sepertinya Sylvia sangat posesif terhadap Haris. Gumam Echi.


" Ini ya mbak uangnya. Hujan sudah reda. Mbak bisa minum atau makan dulu. Setelah itu bisa meninggalkan rumah kami. okay." Sylvia seperti mengusir halus Echi saat itu.


" Baik bu, terima kasih banyak." Echi dan Sylvia berjalan beriringan menuju keluar kamar. Kemudian mereka berhenti.


" Mari diminum dulu minumannya."


" Tidak bu, terimakasih." Halah aku tahu kamu ingin aku cepat-cepat pergi kan. Gumam kesal Echi.


" Oh, ya sudah. Maaf ya mbak. Mari saya antar ke depan." Sylvia yang dia kenal sebagai teman satu kelasnya memang berbeda sekali dengan Sylvia yang ada di samping Echi saat itu. Sylvia sekarang terlihat tegas dan cukup pintar ucapannya.


Keduanya berjalan menuju pagar rumah.


" Terimakasih Bu." Ucap Echi kepada Sylvia.

__ADS_1


" Iya mbak sama-sama." Sylvia mengunci pagar dan kembali masuk ke dalam rumah.


__ADS_2