Delapan Tahun Pernikahanku

Delapan Tahun Pernikahanku
Pertemuan Alisa Dan Sylvia


__ADS_3

Uh...


Haris yang mendesah pasrah terkulai lemas tak berdaya setelah menikmati aksi nakal panas menggairahkan yang di lakukan Echi kepadanya.


Malam itu terasa singkatnya hingga sinar matahari pagi menembus kaca jendela kamar mereka. Haris sudah rapi memakai kemeja dan berangkat ke kantor namun Echi yang tubuhnya masih tertutup selimut berwarna putih menggeliat mengucek kedua matanya dengan jemarinya.


" Sayang, kamu kok sudah rapi." Echi dengan wajah malas bangundan beranjak dari tempat tidur.


Haris yang menghampiri istrinya dan mengecup keningnya. " Aku harus pergi ke kantor sayang." Haris kemudian berlalu dari Echi dan melangkahkan kakinya keluar pintu kamar dan menuruni anak tangga untuk menuju lantai dasar dan naik ke dalam mobil yang terparkir di garasinya.


Sementara pemandangan berbeda dengan Sylvia yang sedang kerepotan dengan tingkah kedua anaknya yang sedang berlarian kesana kemari di sebuah supermarket di salah satu pusat perbelanjaan. Sylvia satu persatu memasukkan barang-barang belanjaan yang dia butuhkan ke dalam troly. Sylvia juga sangat sabar dan telaten mengembalikan barang-barang yang sengaja di masukkan anak-anaknya dengan sesuka hatinya karena mereka masih anak-anak yang belum tahu akan barang-barang tersebut. Mereka hanya mencontoh bundanya yang memasukkan barang-barang ke dalam troly belanja. Biasanya Haris selalu mengantarnya untuk berbelanja bulanan, namun lain halnya Haris itu, Haris seperti memiliki jadwal yang padat dengan usahanya.


Alisa yang juga berbelanja sendirian di supermarket yang sama tanpa sengaja melihat Sylvia. Meskipun Alisa ragu dengan penampilan Sylvia yang anggun dan manis dengan menggunakan gamis bermotif bunga-bunga hijau dengan perpaduan orange.


" Ma-af Sylvia bukan?" Tanya Alisa ragu dengan jari telunjuk yang di arahkan kepada Sylvia.


Sylvia yang terkejut dengan Alisa teman sekolahnya langsung menjawab. " Kamu Alisa kan?" Keduanya tertawa lepas dan saling menatap dari ujung kepala hingga ujung kaki.

__ADS_1


" Ya Tuhan Sylvia, sekarang kamu cantik sekali." Alisa memuji Sylvia yang tampak anggun dan elegan.


Sylvia tersenyum merekah dan tampak manis dengan lipstik warna nude yang dipoles kan di bibirnya.


Alisa yang dasarnya ketularan suaminya yang sebagai petugas penyidik Bareskrim, masih mengedarkan pandangannya terhadap semua hal yang ada di depannya. Termasuk cara berpakaian Sylvia dan semua hal yang dikenakan Sylvia. Dari perhiasan yang tampak melingkar di jari-jarinya yang berkilau meskipun modelnya sederhana, tapi Alisa tahu kalau itu adalah berlian mahal, belum lagi tas jinjing dengan merk yang bukanlah main-main meskipun tidak semahal artis papan atas. Namun apa yang dikenakan Sylvia setara dengan apa yang dikenakan Echi secara nominal harganya. Hanya mereka memiliki perbedaan selera di modelnya. Echi yang tampak semua harus glamor dan terlihat mahal dengan mencolok mata, sedangkan Sylvia dengan model sederhana namun jika dilihat dari harga dan tempat belanja, mereka memiliki selera yang sama. Dimana lagi di kota itu, tempat belanja barang-barang bermerk seperti milik artis-artis papan atas kalau bukan di Mall ternama dan hanya ada satu di kota tersebut.


" Kamu apa kabar Sylvia? Ini anak-anak kamu, jadi sekarang anak-anak kamu sudah dua?" Alisa yang heran dengan Sylvia yang sudah memiliki anak dua. Sementara biasanya dalam grup sekolah yang dia ikuti, akan selalu ada kabar dari teman-teman lama sekolah tentang pernikahan dan lain sebagainya. Namun sepertinya, Sylvia terlewatkan olehnya begitu saja.


" Aku baik Sa, alhamdulillah. Iya ini anak-anak aku." Alisa yang telapak tangan kanannya berada dalam pundak anak-anaknya.


Alisa memandangi wajah anak-anak Sylvia. Alisa juga melihat baju yang dikenakan mereka yang dia sangat tahu kalau baju-baju itu sangatlah bermerk dan mahal begitu juga sepatu mereka bertiga, tidak luput dari pandangan Alisa.


" Iya, Sa."


" Bagaimana kalau kita berbincang sambil makan atau minum gitu." Alisa menawarkan pembicaraan lebih kepada Sylvia.


" Maaf ya Sa, saya banyak sekali pekerjaan, bukannya aku tidak mau. Ini saja aku belum selesai belanja. Aku juga masih banyak pekerjaan di rumah. "

__ADS_1


Alisa menganggukkan kepalanya seolah tahu kalau Sylvia menolak halus tawarannya.


" Ayo bunda, ayo." Anak laki-laki Sylvia menarik lengannya dan meminta bundanya untuk melanjutkan belanjanya.


" Kamu lihat sendiri kan Sa, aku tidak mungkin bisa duduk tenang dan berbincang santai dengan kamu." Sylvia yang menoleh ke arah anak-anaknya yang menunjukkan ke Alisa tentang kerepotannya kala itu.


" Okay, boleh aku meminta nomor ponsel kamu?"


" Oh, sebentar." Sylvia yang mengambil dompet dalam tas mewah namun terlihat sederhana itu mengeluarkan dompetnya yang juga tak luput juga dari pandangan Alisa yang tertuju pada sebuah merk yang tidak main-main. Dompet mungil Gu*** itu bisa setara dengan uang belanja Alisa satu bulan. Dan bisa dilihat dengan tiga troli penuh belanjaan kebutuhan rumah tangga Sylvia yang berada di depannya membuat Alisa semakin penasaran dengan siapa Echi menikah.


" Ini, Sa." Sylvia yang mengambil kartu nama dari dalam dompetnya dan memberikannya kepada Alisa yang sedang berdiri di depannya dengan menenteng keranjang belanja nya.


" Okay."


" Aku duluan ya Sa." Sylvia yang beranjak membalikkan badan dan melangkahkan kaki menuju kasir meninggalkan Alisa yang masih mematung di lorong makanan ringan.


Alisa tidak lantas diam begitu saja. Alisa yang masih memainkan ponselnya, berjalan menyusuri lorong-lorong sambil memantau Sylvia dari kejauhan. Beberapa saat kemudian setelah Sylvia selesai. Alisa menuju sebuah kasir. Karena belanjanya Alisa tidak terlalu banyak sehingga sangat cepat dan tidak tertinggal lama dengan langkah Sylvia yang sedang berjalan menuju parkiran mobil di lantai dasar dengan membawa belanjaan yang super banyak dengan di bantu petugas supermarket.

__ADS_1


Alisa tahu kalau Sylvia sedang menuju ke arah mobilnya yang terparkir. Alisa masih terheran secara apa saja yang dikenakan Sylvia seperti melihat apa yang ada di diri Echi. Alisa juga sangat sadar bahwa apa yang dilihatnya adalah sebuah kebetulan tanpa harus mengaitkan. Yang saat itu Alisa rasakan, Sylvia seperti memberi tembok pembatas terhadapnya untuk berbincang lebih banyak. Padahal mereka teman satu sekolah bahkan satu kelas yang seharusnya akan sangat merindukan pertemuan karena sangat lama keduanya tak pernah bersua. Entah apa yang disembunyikan Sylvia namun semakin membuat Alisa penasaran.


Sementara Sylvia sedang menggendong anak-anaknya untuk masuk ke dalam mobil dan memakaikan seetbelt, diikuti dengan Sylvia yang kemudian naik ke dalam mobil dan menyetirnya sendiri. Mobil Sylvia berjalan perlahan dan mulai hilang dari pandangan Alisa. Alisa kemudian berjalan meninggalkan tempat parkir dan masuk ke dalam pusat perbelanjaan kembali dan menuju lantai empat, dimana dia ingin memanjakan dirinya dengan perawatan di salon.


__ADS_2