Delapan Tahun Pernikahanku

Delapan Tahun Pernikahanku
Sebuah Akhir 1


__ADS_3

" Alhamdulillah Nuno banyak perkembangannya, Bu." Ibu psikolog sambil menulis diagnosa di lembaran kertas untuk Nuno.


" Alhamdulillah." Venus mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Akhirnya perjuanganku tidak sia-sia. Puasaku untuk kesembuhan Nuno ternyata membuahkan hasil. Terima kasih ya Allah.


" Sekarang Nuno menjadi anak yang pin..." Ibu psikolog yang menitah Nuno untuk melanjutkan kata yang dia ucapkan.


" Tar, pintar." Nuno yang menyahut ucapan ibu psikolog.


Semua yang ada di ruangan ibu psikolog tersenyum melihat perkembangan Nuno yang semakin baik. Venus tetap pada pilihannya untuk terus berada di samping anak-anaknya. Biarpun ada seorang pria single teman SMP yang memberikan perhatiannya kepada Venus. Pria itu sempat menjadi mantan cinta monyet Venus ketika duduk di bangku SMP. Namun Venus masih tidak bergeming dan beranjak menjadi peran istri dari Lion sekaligus ibu bagi Nuno dan Neyna. Teman SMP nya memang memberi kode-kode perhatian, namun Venus belum menanggapinya lebih jauh. Si pria mantan cinta monyet Venus, mungkin juga berpikir bahwa mendekati istri orang, kalau dia ingin menyatakan cinta kepada Venus. Venus masih bertahan dengan caranya membahagiakan dirinya sendiri meskipun mirisnya secara materi dia masih bergantung sepenuhnya dari Lion. Bekerja menjadi penulis online dia putuskan setelah melihat Neyna yang masih kecil, sehingga Venus tidak tega untuk pergi meninggalkannya.


Sementara pemandangan berbeda, Echi dan Haris yang duduk serius di atas ranjang mereka. Duduk tidak saling berhadapan di sisi-sisi ranjang mereka. Haris yang membaca lembaran demi lembaran dan juga foto-foto dirinya dan Sylvia. Haris kemudian memegangi kedua sisi kepalanya dengan telapak tangannya dan meletakkan lembaran kertas dan foto yang ada di tangannya. Kedua telapak tangan kemudian turun dan mengusap wajahnya tampak seperti orang yang tengah kebingungan. Suasana hening dalam kamar.


" Apa kamu sudah yakin dengan keputusan ini?"


" Iya, aku yakin mas."


" Bagaimana kalau aku tidak ingin tanda tangan?"


" Itu urusan kamu mas. Jangan mempersulit aku."


Haris yang sebelumnya tidak beranjak dari duduknya kemudian berjalan dan bersimpuh di depan Echi. Memegang jari-jemari Echi dan menggenggamnya. " Sayang maafkan aku, kamu boleh tampar atau lakukan apa sesukamu tapi jangan ceraikan aku." Genggaman tangan Haris di jari jemari Echi yang berusaha menitah untuk memukul wajah Haris. Bulir-bulir air mata satu persatu jatuh tanpa terasa dari pelupuk mata keduanya.

__ADS_1


Echi menghentikan ayunan jari-jemarinya yang dilayangkan ke wajah Haris oleh titah dari Haris. Haris kemudian menciumi jari-jemari Echi dan disitulah puncak ******* tangis sesenggukan keduanya.


" Bukankah ini lebih baik untuk kamu mas?"


Haris menggelengkan kepalanya dan masih terisak tangis dengan memberikan kepalanya di pangkuan Echi.


" Aku juga tidak bisa memberi keturunan kepada kamu seperti Sylvia."


" Maafkan aku sayang."


" Tanda tangani saja mas, dan silahkan pergi ke rumah kamu dan Sylvia dan hiduplah bahagia bersama mereka."


Haris masih tidak bergeming dari tangannya yang menggenggam kedua tangan Echi dan kepala yang masih tetap sama dalam rengkuhan pangkuan Echi.


" Kamu boleh menghukum aku sayang, apa saja. Tapi jangan meminta cerai dariku."


" Apa yang kamu pertahankan lagi mas? Apa? tidak ada yang aku minta kecuali rumah sama mobil yang atas nama ku. Sedangkan usaha kamu masih bagus-bagusnya, bahkan kamu memberikan fasilitas yang sama kepada Sylvia, mungkin lebih, karena Sylvia memilik anak tiga."


Haris semakin kuat menggenggam tangan Echi.


Haris kemudian mengangkat kepala dari pangkuan dan perlahan berdiri. Dengan langkah gontai tanpa gairah setelah mendengar keputusan Echi, dia berjalan menuju dinding dan " Argh." Haris penuh emosi membenturkan kepalan tangan kanannya ke sebuah dinding. " Baiklah kalau itu mau kamu Chi, aku akan pergi dari rumah ini, tapi aku tetap tidak akan tanda tangani surat ini." Nada bicaranya berubah keras dan penuh amarah. Haris kemudian berjalan mengambil kunci mobilnya diatas meja dalam kamar tersebut dan pergi dengan membanting pintu meninggalkan Echi yang masih tidak bergeming dari tempat duduknya.

__ADS_1


Hari sudah gelap. Sylvia yang cemas karena menghubungi Haris yang tidak biasanya tidak pergi ke rumahnya. Biarpun mereka habis bertengkar, namun Haris masih pulang ke rumah Sylvia. Berbeda dengan Echi yang melakukan aktifitas seperti biasa tanpa kecemasan terhadap Haris, dia berpikir kalaupun Haris tidak pulang, berarti pulang ke rumah Sylvia. Sementara Haris masih menikmati minuman beralkohol di sebuah klub malam. Haris benar-benar mabok berat. frustasi menghadapi kata cerai yang diinginkan Echi. Sampai dimana Sylvia benar-benar gelisah. Sambungan teleponnya tidak sama sekali diangkat oleh Haris. Suara musik yang sangat keras memekik telinga membuat Haris berjoget-joget tidak jelas dengan berjalan sempoyongan dan omongan ngelantur dengan membawa gelas alkoholnya.


Karena sangat menganggu pengunjung yang lain. Kemudian salah seorang penjaga keamanan mengecek ponsel Haris dan melihat nama Sylvia yang berulang melakukan panggilan terhadap Haris. Gayung bersambut dengan diangkatnya panggilan Sylvia kembali yang diangkat oleh penjaga keamanan klub malam.


" Halo, apa ini dengan ibu Sylvia?"


Sylvia kaget dengan reflek menjauhkan ponselnya dari telinga nya karena mendengar dentuman musik keras yang dia bingung sebenarnya" Iya pak, saya Sylvia. Ini kenapa ponsel suami saya ada di bapak ya."


" Begini Bu Sylvia, bapak yang memiliki ponsel ini, sebaiknya dijemput saja. Dia sudah mabuk berat dan sangat menganggu pengunjung lainnya."


" Hah, mabuk? e, baik pak, tolong bapak sebutkan alamatnya dan saya langsung kesana ya pak. Terimakasih sebelumnya." Sylvia menutup ponselnya setelah penjaga keamanan klub malam memberi tahu alamatnya. Sylvia bergegas melihat anak-anaknya yang sudah tidur pulas sembari order ojek online menuju kesana. Dia berpikir, suaminya pasti membawa mobil sehingga tidak ada mobil yang akan di tinggal di tempat parkir klub malam jika dia harus menjemputnya menggunakan mobil.


Selang dua puluh menitan Sylvia sampai, dan langsung menuju ke tempat penjaga keamanan Klub malam tersebut yang sudah jelas terlihat Haris sedang ngomong ngelantur dengan penampilan berantakan.


" Pak, saya Sylvia yang bapak hubungi tadi."


" Ini bu." Menunjuk ke arah Haris yang lunglai bersandar di tembok tempat pos keamanan Klub malam tersebut.


" Terima kasih banyak ya pak." Sylvia kemudian membantu Haris masuk ke dalam mobil yang sudah dia parkir di depan pos penjaga keamanan. Sylvia menyetir mobil Haris keluar dari Klub malam tersebut. Mobil berlalu lengang dengan kecepatan signifikan karena jalanan yang sepi. " Kamu ada apa sih mas, sampai mabuk berat begini." Suara lirih Sylvia yang menengok ke arah suaminya.


" Echiiii...aku sayang sama kamu Chiiii." omongan ngelantur Haris dengan mata terpejam.

__ADS_1


" Aku tidak mau pisah sama kamu Chi, hikz...hikz..."


Jedaar, Sylvia yang langsung kaget dan reflek langsung menginjak pedal rem dan Ngiiiiik suara mobil yang mereka tumpangi mengerem mendadak. Nafas terengah-engah Sylvia karena tubuhnya terpental maju, namun masih tidak terbentur dengan setir mobil karena memakai seatbelt Begitu pula dengan Haris namun karena dia mabuk, dia tidak merasakannya.


__ADS_2