Delapan Tahun Pernikahanku

Delapan Tahun Pernikahanku
Satu Tahun Pernikahan


__ADS_3

Satu tahun pernikahan mereka berlalu. Sedikit demi sedikit mulai mengerti sifat Lion. Lion ternyata orang yang kasar, orang yang suka diberi perhatian tapi tidak mau memberi perhatian, dan sedikit suka tebar pesona.


Mata Venus mulai terbelalak dengan adanya pesan di ponsel Lion.


" Kamu sekarang lebih cantik kalau memakai hijab ya." Bunyi pesan Lion kepada seorang wanita.


Dan masih banyak lagi pesan-pesan yang sepertinya tidak pantas dilakukan pria yang sudah beristri kepada wanita lain.


Satu tahun setelah pernikahan, Lion benar-benar menguji kesabaran Venus. Setiap Lion dari luar kota usai dinas kerja, banyak sekali Venus menjumpai foto-foto dalam galeri ponsel yang berisikan wanita-wanita cantik. Bahkan sangat jarang Venus jumpai Lion menyimpan foto mereka atau foto keluarga mereka.


Mengapa foto-foto wanita cantik semua, aku tidak mengenal mereka semua.


Mereka siapa? Gumam Venus sinis.


Rasanya nelangsa. Ketika Venus sudah banyak berkorban untuk pernikahan mereka. Pernikahan yang sebenarnya tidak direstui oleh orang tuanya dan keluarganya. Lion memberi batas terhadap keluarga Venus, itu dilakukannya karena Lion tidak ingin terlalu direpotkan oleh urusan keluarga Venus. Venus pun patuh dengan semua itu. Venus paham betul seorang istri haruslah patuh terhadap apa yang suami katakan atau perintahkan. Tetapi terkadang Venus bingung, bukankah seorang suami yang baik harusnya tidaklah memisahkan atau memiki kecemburuan terlalu berlebihan terhadap keluarga istri sendiri. Setidaknya kalau seorang ibu ingin melihat anaknya, pergi kerumah anaknya tidaklah menjadi hal berat atau beban seolah Lion takut kalau ibu Venus hanya menambah beban pengeluaran mereka. Lion selalu menunjukkan amarahnya kalau Venus selalu meminta uang kepada Lion. Lion Juga tidak percaya terhadap Venus untuk mengelola masalah keuangan. Sampai-sampai Venus malas berdebat dan meminta uang kepada Lion.


" Sayang, bagaimana kalau aku bekerja." Pinta Venus kepada Lion.


" Tidak usah." Lion menolak keras dengan wajah penuh amarah.

__ADS_1


" Supaya aku juga bisa bantu kamu, biar bebanmu tidak berat."


" Jangan membantah."


" Setiap aku meminta uang kepadamu, kamu selalu jawab tidak mempunyai uang, dan kamu selalu marah-marah setiap kali aku membahas tentang uang, aku izin bekerja juga tidak boleh, kamu tidak pernah tahu bagaimana perasaanku."


" Buat siapa kamu bekerja, orang tua kamu, mereka bukan tanggung jawab kamu lagi." Tegas Lion dengan nada tinggi.


Venus tertunduk lesu, niatnya membantu berujung pertengkaran. Lion tidak pernah bisa diajak bicara baik-baik. Nadanya selalu tinggi, keras dan marah setiap venus bicara.


Venus mulai berdamai dengan keadaan yang menurutnya serba kekurangan.


Telah mengecewakanMu dengan sikapku yang tidak bisa bersyukur atas ujian rumah tangga ini.


Venus merasa Lion menyulitkannya. Venus berusaha mengerti, dengan keadaan ekonomi Lion yang pas-pasan. Tetapi mengapa Lion menambahi beban mental Venus dengan menyakiti perasaannya. Banyak hal dengan segala sifatnya membuat Venus lelah dengan pernikahan mereka. Lion seperti tak pernah menghargai Venus sebagai seorang istri, Lion selalu saja membuat Venus menangis ketika Venus membaca pesan-pesan yang dikirim Lion kepada banyak wanita yang menurutnya tidak pantas dilakukan oleh pria yang sudah beristri. Harapannya kepada Lion pun hancur. Lion tidak seperti dulu lagi. Lion menunjukkan sifat aslinya bahwa dia sebenarnya seorang petualang cinta dan pengagum wanita.


Tek


Venus meletakkan secangkir teh manis dengan sangat keras ke meja dengan wajah muram tanpa senyum di bibirnya. Venus juga menunjukkan sikap yang sering dia lakukan ketika dia habis memeriksa ponsel Lion. Sikap wanita yang sedang marah dengan suaminya, Namun tetap Venus harus melayani Lion sepenuh hati.

__ADS_1


" Kamu ada apa?"


" Tidak apa-apa." Venus tidak bisa menutupi kesedihan dan kecemburuannya.


" Kamu setiap aku habis luar kota selalu begitu, aku akan tambah sering keluar kota.


Kalau kamu tidak percaya kepada ku, lalu aku harus bagaimana?" Kata Lion yang tengah memegang secangkir teh di tangan kanannya.


Venus hanya tertunduk, pergi meninggalkan Lion. Mengusap kerlingan air mata yang keluar dari pelupuknya.


Lion tidak peduli dengan Venus.


Lion hanya mempedulikan pekerjaannya saat itu. Lion seperti punya dunia sendiri. Lion sibuk bekerja hingga pulang larut malam setiap harinya. Setiap berangkat kerja, hanya kata singkat yang diucapkan Venus.


Apa kamu ingin berangkat kerja?


Ingin sarapan dan secangkir teh?


Tidak pernah mereka berbincang santai ataupun serius membahas masalah rumah tangga dan membahas hal yang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2