Delapan Tahun Pernikahanku

Delapan Tahun Pernikahanku
Sama-Sama Sibuk


__ADS_3

Reeeer...reeeer...


Suara mikser besar nampak sibuk di area dapur Venus. Mikser itu berbunyi namun tidaklah terlalu keras dan mengganggu.


Venus seperti biasa, setiap pagi sudah menyiapkan secangkir teh manis dan sepiring nasi begitu juga dengan sayur. Entah itu hanya sayur sup beserta perkedelnya dan tak lupa juga sambel kecapnya.


Semua sudah Venus siapkan diatas meja panjang berwarna hitam didekat kulkas berpintu dua.


Alhamdulillahnya, sudah lebih baik kehidupan Venus dan Lion, sehingga bisa membeli sebuah meja makan meskipun tidaklah mewah seperti milik kebanyakan orang.


Lion tampak tidak peduli terhadap mondar- mandirnya Venus pagi itu. Venus mengerjakan pesanan Pempek milik teman-teman grup di media sosialnya dan juga pesanan beberapa tetangga.


Lion hanya melirik, Lion pun melanjutkan sarapannya dan Venus yang tengah mengaduk-aduk kembali adonan Pempek.


Venus mencampurnya dengan bawang yang sudah dihaluskan dan perpaduan tepung tapioka.


Satu persatu adonan Venus timbang berbentuk kapal selam dan lenjer. Kapal selam yang isinya Venus isi kuning telur dan lenjer polos tanpa kuning telur.


Setelah adonan selesai Venus buat, Venus memasukkan adonan dan merebus adonan yang telah dibentuknya ke dalam air mendidih untuk beberapa menit menunggu adonan mengambang dan mengapung dari permukaan air.


Pempek dengan bentuk kapal selam dan lenjer itupun sesaat mengapung ke atas permukaan satu persatu. Tangan Venus dengan tangkasnya mengambil satu persatu dan Venus pun menaruh Pempek dalam wadah dengan ditata berjejer rapi.


Kuah cuko nya pun tak luput Venus membuatnya sendiri. Dengan cabe rawit yang sangat banyak supaya kuah cuko terasa pedas dan manis terasa dari gula merah Jawa dan juga cuka untuk rasa asamnya yang sudah tentu semua ditimbang begitu pula diperhitungkan takarannya. Supaya perpaduan rasanya sangat enak luar biasa.

__ADS_1


Ketika semua selesai Venus juga menyaring kuah cuko supaya tampilannya terlihat bening merah seperti kuah cuko Pempek pada umumnya.


Hem, enak


Venus juga menambahkan dengan irisan mentimun kecil-kecil. Semuanya Venus sendiri yang mengerjakannya tanpa ada yang membantu.


Kring...kring...kring


Venus mengambil ponsel yang tak jauh darinya.


" Hallo."


" Bu, saya mau pesan Pempeknya 10 pack."


" Bu Lela ya bu, rumah cat warna biru muda kombinasi putih Blok. C No.3.


" Baik ibu Lela, setelah pesanan sudah selesai, akan segera saya antar."


Percakapan satu selesai, percakapan berikutnya, seperti tidak ada berhentinya.


" Hallo bu, bagaimana dengan pesanan saya, apa sudah selesai, kalau sudah biar saya ambil sendiri."


" Baik ibu Asri, Pempek sudah siap diambil. Terimakasih sebelumnya."

__ADS_1


Begitu seterusnya Venus menjawab telepon pesanan tetangga maupun teman-temanya.


Harga yang Venus tawarkan sangatlah tidak menguras kantong untuk Pempek yang berisi satu buah kapal selam dan dua lenjer. Ditambah dengan irisan mentimun kecil-kecil dan kuah cuko.


Setiap pagi, Venus kewalahan membuat pesanan demi pesanan Pempek. Hari itu, hari Minggu, Lion yang tidak pergi ke kantor ternyata suka saat Venus menawarinya untuk memakan Pempek yang telah dibuatnya dan berhasil dijualnya.


Lion tak berkomentar. Tak ada reaksi apapun dari Lion ketika Venus sibuk membuat Pempek. Tak ada gelagat seperti orang yang tidak suka.


Sepertinya dia mendukungku


Hari demi hari Venus berjibaku dengan kesibukan barunya. Venus senang sekali bisa menyibukkan diri setelah sekian lama berdiam diri tak melakukan aktivitas apapun selain antar jemput Nuno ke sekolah.


Venus bisa melupakan permasalahan rumah tangganya. Venus tidak terpaku pada sikap Lion padanya.


Sampai dimana kejadian malam hari itu. Malam dimana Venus dan Lion saling bergairah menumpahkan segala hasrat. Keduanya pun tenggelam dalam buaian cinta yang memabukkan dan melupakan kesalahan-kesalahan satu sama lain.


Ranjang dan tubuh yang telah lama haus belaian pun dimanjakan dengan ciuman dimulai dari bibir hingga perut yang sungguh menggelikan.


Malam itu terasa sangat menggairahkan untuk Venus dan Lion. Venus yang biasanya menolak dengan berbagai alasan, malam itu begitu luluh dengan apapun yang diinginkan Lion.


Venus dan Lion tenggelam dan menikmati malam itu. Kecupan demi kecupan bibir Lion menghujani seluruh tubuh Venus. Terasa begitu melayang bagai terbang ke langit ke tujuh.


Akhirnya, setelah sekian lama. Dua insan yang menggenggam bara dan melukai satu sama lain bersatu padu menikmati hasrat, dan memuaskan nafsu yang menggebu.

__ADS_1


__ADS_2