Delapan Tahun Pernikahanku

Delapan Tahun Pernikahanku
Sebuah Akhir 3


__ADS_3

Echi dan Haris yang melihat Sylvia tersungkur jatuh ke lantai langsung mendatangi Sylvia.


" Syl, Sylvia." Haris yang memanggil nama Sylvia berulang-ulang.


" Kita bawa ke rumah sakit sekarang!" Echi yang menyarankan Haris dengan menepuk pipi Sylvia.


" Kamu tolong bawa Keisya yang ada di dalam." Keisya adalah nama anak Haris yang ketiga dengan Sylvia. Echi yang melotot, kemudian berdiri dan berlari menuju arah kamar Sylvia. Mendekati Keisya, memandanginya dengan perasaan antara harus kesal karena ibunya telah menyakiti hatinya. Dan perasaan kasihan karena Keisya tidak mungkin akan dia tinggal begitu saja. Echi yang kikuk karena tidak pernah menggendong bayi sebelumnya. Kejadian pagi itu membuat Echi menelan ludah. Echi kemudian keluar dan memasuki mobil Haris. Sementara Sylvia berada di seat belakang. Mobil berjalan menuju rumah sakit. Sesaat kemudian mobil sampai dan Haris " Sus, tolong istri saya sus." Haris yang panik dengan keadaan Sylvia.


" Baik pak." Perawat rumah sakit mengeluarkan tempat tidur dorong khas rumah sakit untuk membawa Sylvia keluar dari mobil dan menuju ruang UGD.


" Istri saya. Hehm" Echi yang meledek Haris dengan kata yang barusan di sebut Haris ketika panik. Bibirnya senyum lebar sinis dengan menggeleng-geleng kan kepalanya kecil berulang.


" Ya, hehm." Seringai Echi. " Aku tahu kok mas, tidak akan mudah kamu akan melupakan Sylvia. Tapi itu tetap syarat kalau kamu ingin rumah tangga kita berjalan seperti dulu."


" Iya sayang." Haris yang mengelus pipi Echi dengan jemarinya dan mengelus kepala Sylvia yang digendong oleh Echi.


" Baguslah. Awas kalau kamu nakal lagi mas." Ditengah-tengah Sylvia yang berjuang dengan dengan denyut nadi yang sangat rendah akibat serangan jantung. Tampaknya Haris dan Echi tidak menyadari bahwa Kondisi Sylvia sangat serius antara hidup dan mati.


Haris yang merangkul Echi kemudian mereka duduk di ruang tunggu menanti kabar dari dokter.

__ADS_1


Beberapa menit dokter keluar dari ruangan dan Haris menyusulnya. " Bagaimana dok? kondisi..." Haris tidak melanjutkan kata istri saya yang sempat akan dia keluarkan dari mulutnya. Haris tidak mau Echi menyindirnya kembali. " Sylvia?"


" Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Ibu Sylvia kena serangan jantung pak. Ibu Sylvia meninggal dunia."


Deerr Bagaikan tersambar petir, Echi dan Haris mendengar penyampaian dokter. Haris mematung. Nafasnya sesak terhambur keluar berantakan. Sementara Echi bangkit dari tempat duduk dan menghampiri dokter. " Apa dok? Meninggal?" Echi bingung antara harus senang atau sedih. Nafas Echi juga berantakan. Dia tidak menyangka kalau Sylvia meninggal kena serangan jantung. Dia pikir Sylvia hanya pingsan biasa. Dan akan sadar kembali. " Mas." Echi yang meraih dan memegangi tangan Haris.


" Boleh kita masuk dok."


" Silahkan."


Haris dan Echi masuk ke ruang UGD. Mereka berdua berdiri berdampingan di sisi tempat tidur Sylvia.


" Iya Syl, kita berdua tidak menyangka. Bukan ini yang aku harapkan Syl, maafkan aku Sylvia." Echi yang bingung dengan perasaannya antara harus senang atau sedih tapi dia tetap mengeluarkan air mata.


" Meskipun aku senang, mas Haris kembali kepadaku, tapi tidak dengan harus kamu meninggal kan Syl. Aku harus bagaimana Syl, aku harus senang atau sedih." Echi yang sesenggukan melihat wajah Sylvia. " Aku janji Syl, aku sama mas Haris akan merawat anak-anak kamu dengan baik. Aku akan menjadi ibu seperti kamu yang lemah lembut Syl." Echi yang mengelus pipi Sylvia dengan jemarinya. Echi kemudian menoleh ke arah suaminya. Dia tahu, bagaimanapun Haris pasti merasakan sedih. " Kamu boleh cium dan peluk Sylvia mas, untuk yang terakhir kalinya." Nada Echi bergetar dan berderai air mata. Haris yang juga sesenggukan mendekatkan wajahnya ke arah wajah Sylvia. " Kamu ibu yang hebat Syl. Kamu baik selama menjadi istri aku. Kamu tidak pernah macam-macam dan selalu memberiku perhatian. Terimakasih semuanya." Haris kemudian mencium kening Sylvia untuk yang terakhir kalinya." Aku akan jaga anak-anak kita bersama Echi." Lengan Haris yang meraih pundak Echi dan merangkulnya berdiri di sisi tempat tidur dimana Sylvia berbaring dengan menggendong Keisya.


Haris yang sudah mempersiapkan pemakaman untuk Sylvia. Menjemput anak-anaknya ke sekolah. Kedua anaknya yang menangis histeris di samping kanan dan kiri bundanya. " Bunda jangan pergi, hihihihi." Kata diikuti tangis tersebut diucapkan berulang-ulang oleh kedua anak Sylvia.


Selang beberapa waktu, Echi, Haris dan ketiga anak-anaknya begitu juga para pelayat sudah berada di tempat pemakaman Sylvia. Prosesi pemakaman berjalan lancar, para pelayat pulang dan tertinggal Echi, Haris dan anak-anaknya. Kedua anaknya tidak berhenti menangis memanggil bundanya. " Ayah, bunda ninggalin kita yah, hihihihi " Anak tertua Haris yang menangis dan memeluk ayahnya. " Bunda tidak ada lagi yah, hihihihi." Diikuti anak kedua Haris. Echi yang meneteskan air mata, tertegun melihat anak-anak suaminya.

__ADS_1


****


Satu bulan kemudian.


Suasana hening sebelum subuh. Anak-anak yang masih tidur pulas begitu juga Haris yang masih tidur pulas. Semenjak kepergian Sylvia anak-anak tinggal bersama Echi di rumah Echi dan Haris. Anak-anak juga mengerti karena diberikan penjelasan panjang lebar tentang Echi, meskipun untuk anak seusia mereka, Echi dan Haris masih belum memberitahukan siapa Echi sebenarnya. Yang saat itu dijelaskan oleh Haris kepada anak-anaknya adalah ayahnya membutuhkan sosok istri yang akan membantu mengurus mereka. Seusia mereka, anak- anak itu hanya mengikuti apa kata orang dewasa. Mereka patuh terhadap ayahnya, mereka juga melihat sosok Echi bukanlah seperti ibu tiri yang jahat kepada mereka dan ayahnya. Jadi mereka juga sangat nyaman dengan keberadaan Echi meskipun tidak tahu permasalahan sebenarnya orang dewasa.


Uogh...uogh.. Suara wanita mual di dalam kamar mandi. Suara samar-samar yang di dengar saat Haris tidur. Namun suara itu berulang dia dengar dengan langkah kaki mondar mandir berjalan menuju kamar mandi. Haris perlahan bangun melihat Echi yang berada di depan pintu kamar mandi dengan wajah pucat. Haris mengucek matanya sampai dia benar-benar sadar.


" Kamu kenapa sayang?"


" Aku tidak enak badan."


Haris bangun dan menitah Echi berjalan. " Kita kerumah sakit ya."


Echi menggelengkan kepala.


" Maaf ya sayang, kamu pasti capek dan kelelahan mengurus kita semua."


" Enggak, ini bukan masalah capek, aku cuma masuk angin saja kok. Perutku rasanya tidak enak. Aku hanya butuh istirahat." Echi kemudian berlari kembali masuk ke kamar mandi sambil menahan rasa mualnya. Sementara Haris ikut berlari di belakang Echi. Echi yang membasuh mulutnya dan menatap cermin yang di depannya dengan wajah pucat dan dan badan terasa lemas.

__ADS_1


__ADS_2