
Mereka duduk bersampingan diatas tanah, Livia dan Sayu merasa tidak nyaman, pemandangan disekitarnya tampak tidak normal, "jadi, siapa kamu?" Livia memberanikan dirinya bertanya, Zero terdiam, "bukankah untuk bertanya nama seseorang kamu harus memperkenalkan diri terlebih dahulu?", Livia terkejut dengan perkataan Zero, kemudian Livia meminta maaf "Aku Livia, dan ini temanku Sayu" Sayu hanya menatap Livia dan mengangguk, "Aku hanyalah orang biasa yang terdampar disini" Zero membuka penutup jubahnya, memperihatkan wajahnya yang tersenyum, jika dilihat lebih baik, jika ada lomba tes ketampanan, Zero masih akan masuk di top tiga besar, urat dilehernya sangat tipis, kulit putih yang disanding dengan jubah dan pakaian hitam membuat Zero semakin tampak hebat, Livia dan Sayu terpana, tapi itu tidak berlangsung lama, mereka memikirkan kembali perkataan Zero 'aku hanyalah orang biasa yang terdampar disini, tidak akan ada yang percaya itu, jika ada yang percaya, orang itu pasti sangat bodoh' Livia bergumam dipikirannya, pemandangan sekitar merupakan bukan perbuatan orang biasa, dan yang terlihat disini hanyalah Zero, "namaku Zero Vacancies, panggil saja aku Zero" Zero memperkenalkan dirinya dengan santai, Livia dan Sayu menatap satu sama lain, "bagaimana kalian bisa ada disini?" Zero bertanya dengan sopan, satu jam yang lalu dia tidak bisa menemukan apapun disekitarnya, hanya ada dia sendirian bermil mil jauhnya, "ah, kami tadinya ketika masuk disini berada disebuah pulau dengan satu perahu, kemudian kami menaikinya dan berada ditengah laut selama seharian penuh, lalu kami melihat tempat ini" Sayu menjelaskan, 'umurnya kelihatan masih muda, tapi kekuatannya tidak dapat diukur, orang ini mengerikan' Livia berbicara sendiri dengan pikirannya, "dimana perahu itu?" Zero bersemangat, kesadarannya kembali menyebar dalam radius ratusan kilometer, dia sudah lelah dengan tempat ini, "perahu tempat kami mendarat tidak jauh dari sini, berada diarah barat dari sini" Sayu kali nadanya lebih rileks, mengetahui bahwa orang misterius yang tadi tergeletak disini adalah seorang pria muda yang tampan, "aku akan pergi kesana sebentar, kalian tunggu disini" Zero bangkit dari duduknya, berjalan menuju arah barat, Livia dan Sayu hanya menontonnya, Livia melihat pedang yang ditinggalkan Zero, 'senjata itu berada ditingkat yang tidak kuketahui, tingkatannya bahkan lebih dari tingkat suci, aku tidak bisa mendeteksinya, siapa dia sebenarnya?' Livia bergumam, memandangi dua pedang Zero dengan tatapan tajam, pedangnya memiliki jiwa sendiri, hampir menyerang Livia, Livia masih sempat menghindar dari serangan jiwa pedang Zero, hanya pedang ditingkat ancestral keatas yang dapat memiliki jiwa sendiri.
__ADS_1
Livia memandang arah Zero pergi, sudah setengah jam sejak Zero pergi dari sana, tapi Sayu dan Livia masih belum melihat batang hidungnya, 'ini, apakah dia mengujiku?, bisa bisanya meninggalkan senjata seperti ini disini" Livia terheran, dia melirik ke Sayu, Sayu juga memandangi pedang tersebut, "Sayu, Sayu..." Sayu tidak menjawabnya, dia masih melamun, Livia melibaskan tangannya, Sayu masih melamun, tidak sadar dengan yang dilakukan Livia, "Sayu, kau memikirkan apa?" Livia menepuk pundak Sayu, seketika Sayu terbangun dari lamunannya, "ah Livia, tidak apa apa, hanya saja ketika aku melihat itu, sesuatu seperti masuk kedalam pikiranku, aku terbawa kedalam tempat yang sangat gelap", Livia tersenyum "jangan dipikirkan, mungkin saja itu hanya pikiranmu yang kacau"
__ADS_1
ketika mereka masih bersantai mengobrol, ada makhluk buas dibawah mereka, makhluk buas itu menyelam didalam lahar panas, seolah tidak kebal terhadapnya, dia berenang kesana kemari disekitar mereka bertiga, Zero yang menyadari keberadaannya sejak tadi, masih santai terhadapnya, makhluk itu belum bertindak, dia tidak akan bergerak sebelum makhluk buas itu menyerang, seseorang tiba tiba datang, dia tidak sendirian, dia bersama banyak orang, pemimpin dikelompok itu adalah pria, tubuhnya tidak besar dan kurus, tingginya hampir setara dengan Zero, kelompok itu menghampiri Zero, pemimpin kelompok itu berada di tingkat Iron, sedangkan para bawahannya berada ditingkat Aluminum, Zero tidak waspada terhadap mereka, "hei, orang rendahan, serahkan barang barangmu!!" salah satu bawahan itu berteriak dengan keras, menyuruh Zero dan kedua gadis menyerahkannya, Zero mengabaikannya, Livia dan juga Sayu mengikuti Zero, mengabaikan orang orang itu, "dengarkan aku, serahkan barang barangmu, jika tidak..." orang itu sekali lagi berteriak, tapi kali ini teriakannya lebih keras dibanding sebelumnya, pemimpin mereka hanya diam saja, melihat bawahannya yang bertindak, Zero tetap mengabaikannya, tidak peduli dengan orang orang itu, "sialan, kalian mengabaikanku, aku akan membunuh kalian semua" orang itu segera bertindak, dengan cepat mengambil pedangnya, tapi pemimpin itu menghentikannya "sisakan aku gadis cantik itu, aku ingin mencicipinya" pemimpin kelompok itu matanya tertuju pada Sayu, dia mengabaikan kehadiran dua orang disebelahnya, lidahnya menjilat bibirnya, ekspresinya menjijikkan, bawahannya langsung bertindak,Sayu tidak tahan mendengarnya, dia bangkit berdiri "jika kalian masih ingin hidup, enyahlah" Sayu mengancam mereka, mereka terlihat seperti orang bodoh, bahkan mereka tidak tahu situasi ditempat ini, "gadis kecil, jika kau mau mengikuti pemimpin, aku akan memperlakukanmu dengan lembut" orang itu tidak peduli dengan ancaman Sayu, menganggapnya hanya sebagai gertakan, Livia berdiri, menjaga jika ada situasi yang terdesak, Sayu tidak menjawabnya, orang itu jengkel karena Sayu tidak peduli, dia hanya ingin memangsa tubuh cantiknya, pemimpin itu melihat Zero yang tidak bergerak, terlihat tidak peduli dengan situasinya, "hei kau, bunuh laki laki itu terlebih dahulu" pemimpin kelompok itu memberi perintah kepada bawahannya yang hampir menyerang Sayu.
__ADS_1