Destiny King

Destiny King
Taruhan


__ADS_3

-Beberapa saat sebelum portal rahasia terbuka


Setelah melewati tiga hari tiga malam membaca beberapa


teknik, Zero berhasil membentuk skill ‘Reading’ yang telah mencapai level


tertinggi, dan juga beberapa teknik lainnya seperti unique technique dan secret


technique dengan menggabungkan ratusan teknik, teknik teknik itu juga semuanya


telah mencapai tingkat ketiga, alasannya adalah karena Zero tidak ingin semua


lawannya mati karena satu serangan, Zero ingin merasakan pertarungan yang


sesungguhnya.


Zero melangkah keluar dari perpustakaan itu, tidak lupa


mengucapkan terima kasih kepada penjaga perpustakaan, penjaga itu hanya


tersenyum menanggapinya, ‘aku sudah tidak sabar’ Zero berkata dalam hati,


perasaannya kali ini sangat bahagia, bagaimana tidak bahagia, hampir semua


teknik dan pengetahuan yang ada di dalam perpustakaan kota itu telah


dikuasainya, Zero sudah tidak sabar ingin bertarung, berharap melawan monster


mengerikan di dalam portal itu, setelah keluar, Erald tidak jauh dari tempat


Zero menyapa, tapi kali ini dia tidak sendirian, dia ditemani beberapa orang


yang kelihatannya seperti orang kaya, “Yo temanku, apa kau sudah puas disini


beberapa hari?, kalau itu aku, aku pasti sudah mati kebosanan” Erald mendekat


ke Zero, tapi kali ini Zero hanya mengangguk, tidak menanggapi perkataannya


barusan, “siapa mereka?” Zero membisikkan sesuatu ke telinga Erald, tapi dia


hanya terkikik perlahan, “ehm ehm, biar kuperkenalkan, mereka adalah para tetua


keluargaku, dia adalah Zenish Vidia, tetua pertama, lalu Roland Vidia yang


merupakan tetua kedua, lalu Wade Vidia yang ketiga, dan terakhir Dean Vidia,


mereka biasanya disebut sebagai empat pilar dari keluarga Vidia, karena


kemampuan mereka berempat dalam bertarung dan mengatur urusan keluarga adalah


yang terbaik”.


Setelah berbagai penjelasan Erald, mereka berempat merupakan


paman pamannya yang kalah setelah perebutan posisi kepala keluarga oleh


ayahnya, perawakan mereka berbeda beda, yang pertama gendut akan tetapi sangat


tenang, yang kedua dan ketiga sangat kekar tetapi mereka idiot, yang terakhir


sangat kurus, dia jenius sejati, bahkan dikata kata  sebagai salah satu ahli strategi terbaik di


kerajaan, kekuatan mereka semuanya berada di tingkat Iron yang setara denga


peringkat rank D- dalam system Zero, yang mana satu tingkat diatas Zero, walau


begitu menurut system dunia ini peringkat itu sendiri dibagi menjadi tiga

__ADS_1


level, akan tetapi itu tidak berguna bagi Zero, menurut Zero itu hanyalah


sekumpulan angka, karena Zero sendiri bisa melihat angka angka itu yang mana itu


hanya bisa dilihat olenhnya.


Para tetua ikut masuk untuk mengambil beberapa mayat dari


keluarganya yang tersisa dalam portal itu, portal itu pembukaannya tidak


menentu, begitu juga dengan lokasinya, walaupun begitu, ada beberapa tanda


tanda jika portal itu akan terbuka, salah satunya adalah satu bulan sebelum


portal itu terbuka, akan ada sebuah retakan di langit malam, dan setelah


retakan itu muncul, akan ada naga yang terbang melintasi lokasi itu dalam


tigapuluh menit, orang orang yang melihatnya, hanya melihat sebuah bayangan


yang melintasi awan awan, tidak dengan wujud fisiknya, tidak pernah ada orang


yang pernah melihat secara langsung naga itu, mereka hanya menganggapnya


sebagai perwujudan alam rahasia itu.


“salam tuan Zero, saya Zenish dari keluarga Vidia” kemudian


keempat orang yang diperkenalkan Erald tadi semuanya menyapa Zero, “salam para


tetua, saya adalah teman Erald” Zero membalasnya dengan sopan, para tetua itu


jika dilihat semuanya baik, hanya tetua keempat yang Zero curigai, walaupun


raut wajahnya tidak menunjukkan tanda tanda mencurigakan, Zero tahu dari niat


disembunyikan dengan sangat rapi, walaupun dia tetua menyembunyikannnya dengan


sangat baik itu tidak berguna dihadapan Zero, karena Zero mempunyai kepekaan


yang sangat tinggi terhadap aura dunia, dan juga tingkatnya telah melebihi


batasnya, Zero hanya tersenyum setelahnya, “ayo kita berangkat”


Zero dan yang lainnya segera menuju ke area hutan yang sudah


disiapkan menjadi lapangan, area itu sangat luas, luasnya mencakup ratusan mil,


disana sudah dipenuhi banyak orang, area yang mencakup ratusan mil itu sudah


seperti pasar gratis, dimana mana selalu ada orang, beberapa ada yang


mengobrol, beberapa ada yang berdebat, dan juga ada yang sedang bertarung,


suasana itu sudah acak acakan, Zero hanya terdiam mengamati situasi, “ayo ke


pojok tebing sana, disana ada pohon yang lumayan rimbun” Erald memimpin jalan


ke pohon itu, beberapa orang berdiskusi mengenai para empat pilar itu, “lihat


itu empat pilar, habislah kita, mungkin tidak ada harta yang tersisa bagi kita”,


pihak lain menjawab dengan mengiyakan dan mengsetujuinya, tempat di sekitar


Zero dan yang lainnya termasuk tempat yang kurang enak dipandang dan kurang


menguntungkan ketika berlomba masuk ke portal, karena tempat lain yang bagus

__ADS_1


tidak tersisa dan sudah ditempati oleh orang orang.


“Ayo kita bertaruh, aku akan bertaruh 200 kepin koin


tembaga, aku memilih orang yang berambut botak itu” Erald tiba tiba berbicara sesaat


setelah mereka duduk duduk disana sembari menunggu portal terbuka, Erald


menunjuk kearah tiga orang yang sedang bertarung itu, Zero menatapnya, disana


seseorang bertarung dua lawan tiga, itu sedikit tidak adil, satu orang itu


berambut merah, sedangkan dua lawannya adalah perempuan, yang satu cantik dan


yang lainnya bermuka buruk, mungkin terjadi masalah antara mereka, Zero


berpikir, taruhan dengan Erald itu tidak menguntungkannya, dia sudah mempunyai


banyak uang, sekilas, Zero kembali melirik tiga orang itu, menganalisa


pertarungan, “baiklah, aku terima taruhannya, tetapi jika aku menang, kau harus


menunjukkan teknik keluargamu” Zero membalas perkataan Erald tadi, “untuk apa


kau ingin melihatnya?, tapi baiklah, sepakat”, “kalau begitu aku tidak akan


memilih diantara ketiganya”, “maksudmu akan ada campur tangan pihak ketiga dari


luar?” Erald bertanya dengan sedikit penasaran, tiba tiba tetua keempat


bersuara “ya, aku juga memilih opsi yang dipilih oleh teman Erald” Dean juga memandang


Zero dengan tatapan penasaran, berpikir bahwa anak itu masih muda, tetapi jalan


pikirannya sangat hebat, bisa menganalisis situasi dalam sekejap, Zero hanya


melirik Dean sekilas, setelah itu melihat pertarungan itu lagi.


Si rambut merah itu melayang di tengah orang orang yang


berkumpul, bersama dengan kedua gadis itu, ketiganya sudah terlihat kelelahan,


melihat bahwa dia sendiri yang bisa terbang, tidak diragukan bahwa kekuatan


orang yang terbang itu berada di atas kedua gadis itu, tetapi mereka berdua


sudah kewalahan mengatasi orang itu, mungkin dua sampai tiga serangan lagi akan


mengambil nyawanya, “menyerahlah bodoh, jika kau tadi tidak menolakku, kau


mungkin akan hidup bahagia, “ugh, sialan aku tidak bisa melawannya” gadis


cantik itu hampir terpuruk ke tanah, pedangnya menancap ke tanah untuk menopang


tubuhnya, rambut hitam panjangnya terurai, bajunya dinodai oleh darahnya


sendiri, dia merasa tidak sanggup melawan pria berambut merah itu, gadis di


sebelahnya juga kewalahan.


“ayo kita selesaikan ini” pria berambut merah itu


kekuatannya melonjak tiba tiba, semakin membuat kedua gadis tidak berdaya, pria


berambut merah itu mengerutkan keningnya, tangannya terkepal, ada sebuah


kilatan cahaya di tangannya, bersiap untuk menghantam kedua gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2