Destiny King

Destiny King
Topeng Gagak Hitam Yang Buta


__ADS_3

Bergegas ke lantai atas pagoda, Zero menginggalkan Livia di bawah, menyarankan untuk segera kembali ke penginapan, memberitahu besok pagi akan ada kejutan besar di kota.


"Ternyata tuan muda adalah sosok yang biasa biasa saja." Zero muncul tiba tiba di atas meja makan Carol.


Sosok carol ditutupi dengan topeng gagak hitam, tubuhnya mengeluarkan aura iblis secara samar, dia terkejut menyadari kehadiran Zero yang tiba tiba muncul didepannya.


"Siapa kau?" Carol bangkit berdiri, tangannya mengepal keras.


"Aku? Aku ayahmu." Cemooh Zero, tangannya langsung mencengkeram leher Carol.


Carol yang saat itu tidak sempat bereaksi, nafasnya tertekan, tubuhnya berdiri diatas angin, Zero mencekiknya dengan kuat.


"Kau mencoba mengambil milikku, apa kau tahu akibat memprovokasiku?" Ungkap Zero, Carol tidak menyadari jika gadis yang diintai memiliki seseorang yang sangat kuat berdiri di belakangnya.


"Tuan, aku tidak sengaja." Carol menyesalinya, tapi sudah terlambat, sekarang Zero mencekiknya dengan kuat, Carol memberontak, tapi tangan Zero sekokoh baja, tidak bisa disingkirkan dengan metode apapun.


"Tidak sengaja? Apa aku terlihat sebodoh itu?" Ejek Zero, dia mencekiknya lebih kuat, Carol mendesis kesakitan, tubuhnya gemetar tanpa ampun, menyaksikan kematian yang sudah ada dihadapannya.


"Yah, itu bisa dimengerti, biar bagaimanapun gadisku sangat cantik. Aku akan melepasmu kali ini." Zero melepaskan Carol. Ada bekas luka di lehernya akibat cengkeraman Zero.


'kau melepasku? Aku takut tidak semudah itu, kau akan membayarnya berkali kali lipat setelah aku melapor kepada keluargaku. Tunggu saja, aku akan mengingat wajahmu' batin Carol, dia memperbaiki topengnya yang hampir lepas.


Zero melangkah ke pintu keluar dari dalam, Carol mengepalkan tangan, terukir di hatinya kejadian kali ini, saat Zero tengah berjalan dia tiba tiba berhenti, berbalik kembali ke arah Carol.


"Oh ya, aku hampir lupa. Karena kau berani meliriknya, aku akan menghadiahimu sesuatu." ungkap Zero, dia mengeluarkan pedang dari penyimpanan, tanpa memberi ampun langsung mengarahkan ke mata Carol.


"Ahkkk mataku, mataku." Jeritan Carol terdengar, dibalik topengnya darah becucuran keluar dari matanya, menetes sampai dagunya, Carol menjerit kesakitan, penglihatannya buta. Zero tersenyum puas, menyimpan pedangnya kembali, pergi keluar dari pagoda. Menginggalkan Carol Wayne yang tengah menjerit kesakitan setelah matanya buta.

__ADS_1


Bawahan Carol terbangun dari pingsan, mereka berdua bergegas kembali pagoda. Setelah sampai, tepat di depan mata mereka, mereka melihat tuannya yang tidak berdaya, darah merembes keluar dari topengnya.


"Tuan, apa yang terjadi?" Salah satu dari mereka bergegas maju, mengecek tubuh tuannya.


"Syukurlah masih selamat, tuan hanya pingsan." Mereka berdua berpandangan satu sama lain, berpikir sama 'ini pasti ulah orang tadi'.


~~


Zero kembali ke penginapan, melihat Livia menunggunya diatas meja makan, ada sebuah cangkir yang sudah diisi anggur diatasnya.


"Apa kamu merindukanku?" Goda Zero, dia melihat Livia masih mengenakan gaun yang sebelumnya, bahkan mahkota bunga tidak lepas dari kepalanya.


"Untuk apa merindukanmu. Itu tidak berguna, selalu saja mempermainkan seseorang." Gerutu Livia.


"Apa kamu marah karena meninggalkanmu sendiri disana? Aku minta maaf untuk itu." Zero maju beberapa langkah, berdiri membelakangi Livia, dia memegang pundaknya dengan lembut. Livia mendecakkan lidah, tidak puas atas semuanya.


"Baiklah Baiklah, aku akan tidur di kursi malam ini?" Zero mengaku kalah, dia melepas Livia dan pergi ke kursi.


Livia tersenyum melihatnya, kali ini tidak tahu apa, Zero selalu bertingkah aneh, terkadang baik dan terkadang perilakunya di luar nalar. Livia memandangi Zero yang terbaring di atas kursi, lelaki itu sudah terlelap tidur dalam sekejap, tingkahnya tidak dapat diprediksi.


Mahkota bunga disimpan di dalam cincin penyimpanan, gadis itu melepas gaunnya dikamar mandi, menanggalkannya di tirai bambu yang membatasi ruangan dan kamar mandi.


Setelah selesai, Livia kembali memakai gaunnya, melihat Zero masih tertidur lelap disana, Livia mengambil selimut dari tempat tidur kemudian menyelimutinya. Livia mengamati Zero sebentar sebelum pergi untuk tidur.


~~


Keesokan pagi

__ADS_1


"Hei apa kau tahu? Kemarin datang seorang master muda di tempat ini dan membutakan tuan muda keluarga Wayne, katanya mereka berselisih karena seorang wanita. Tuan muda keluarga Wayne tidak bisa melawan karena kekuatan master muda tersebut terlalu kuat, keluarga dari pusat Ibukota akan bersikeras untuk mencari pelakunya, siapapun yang memberi kabar tentang pelaku akan mendapatkan hadiah dari keluarga Wayne di Ibukota. Kabarnya poster pelaku akan disebarkan diseluruh kerajaan esok hari."


"Sstt jangan terlalu keras, orang itu bisa saja mendengarmu."


Livia mendengarkan obrolan orang orang disekitar dengan seksama, kabar tuan muda keluarga Wayne yang buta sudah menyebar bahkan sampai ke Ibukota, bawahannya sangat cekatan dalam menangani urusan, keluarga kelas satu di sebuah Kerajaan memang tidak bisa diremehkan.


Mereka sekarang berada di lantai pertama penginapan, Zero memakan sebuah daging dengan lahap, mengabaikan rumor yang beredar di sekitarnya karena dia sendiri pelakunya.


"Hmm, ada apa? Kejutan yang menarik bukan, besok lagi ketika aku datang ke Ibukota aku akan meratakan kediaman utamanya. Itu akan mengurangi sedikit beban Kekaisaran." Jelas Zero, mulutnya masih penuh dengan makanan.


"aku tidak setuju." Livia menggeleng pelan, dia tidak setuju karena tidak semua orang disana merupakan bersalah, ada juga beberapa rakyat kecil yang tidak tahu apa apa. Zero melebarkan lengannya, bersikap seolah akan menuruti Livia.


"Ayo pergi, kita akan melanjutkan perjalanan." Zero mengusap mulutnya, membenahi jejak makanan yang tersisa.


Mereka berdua segera pergi, pandangan orang orang terhadap mereka tidak luput dari kekaguman, sosok yang sangat menawan, bagaimana mungkin orang orang tidak meliriknya setidaknya sekali seumur hidup.


Zero dan Livia pergi berjalan ke luar Kota, ketika sampai di gerbang kota, penjaga itu masih berjaga disana, penjaga itu mengingat Zero, jadi dia memperlakukannya dengan hormat, mempersilahkan keluar begitu saja.


Setelah sampai di tempat yang sepi jauh dari Kota, mereka berhenti disebuah tanah kosong yang luas. "Kita akan pergi seperti terakhir kali kemari, aku sudah tidak sabar ingin ke Kekaisaran." Ungkap Zero. Livia mengangguk, menanggapi setuju perkataannya.


Livia langsung melompat ke punggung Zero, membuatnya mendadak terkejut, tidak menyangka Livia akan seperti itu.


"Livia, tanganmu mencekikku." ucap Zero. Livia mengendurkan lengannya.


"maaf, itu tidak sengaja." Livia terkekeh ringan, senyumnya membuat perasaan Zero lebih baik. Perlahan mulai menyadari sedikit perasaan yang ada pada Livia.


Zero memasang kuda kuda, bertindak seperti terakhir kali, bedanya kali Zero akan mengeluarkan «Posthaste» berkali kali. Tanah bergetar disekitar mereka, Zero melompat dengan sekuat tenaga, membuat tempat yang dipijaknya hancur berlubang, cahaya tidak bisa menyentuhnya, kecepatannya kali ini berkali kali lipat lebih cepat dari sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2