Destiny King

Destiny King
Permulaan Sage Agung


__ADS_3

Kembali memikirkan sebelumnya saat sosok yang mengatakan Raja Iblis itu keluar dari tubuh pangeran Alexa, sosok itu sebenarnya sudah sangat kuat walaupun hanya klon, sosok Raja Iblis yang asli kemungkinan akan mengacaukan dunia, membuat tunduk semua makhluk di bawah perintahnya.


"Pak Tua, berapa kemungkinan menang jika kita melawan Raja Iblis?" Tanya Zero.


"Jujur saja, kemungkinan hanya satu persen jika aku sendiri. Jika ditambah denganmu mungkin akan meningkat sekitar tujuh persen." Kaisar mengakui kekuatan Raja Iblis tiada tara di dunia ini, jika Raja Iblis benar benar bangkit, maka tidak ada cara lain untuk menghentikannya.


Zero menyeruput tehnya, membayangkan seperti apa wujud Raja Iblis yang asli. Suasana di sekitar mereka sangat tenang, tidak ada siapapun selain mereka, Zero dan Kaisar berada dalam pikirannya masing masing, mencoba memprediksi apa yang akan terjadi setelahnya


"Pak Tua, kapan arena akan berlangsung?" Tanya Zero, memecah keheningan antara mereka.


"Haisshh sudah kuduga kau tidak mendengarkan apapun." Celoteh Kaisar Langit.


"Diamlah, aku hanya sibuk dengan pikiranku sendiri." Zero membantahnya.


"Yah tidak ada siapapun disini, jangan malu untuk mengakuinya. Arena akan dilaksanakan sekitar satu bulan lagi, dari pihak Kekaisaran hanya akan mengirim empat orang, sementara yang lain akan mengirim delapan orang kecuali Kerajaan Iblis. Dan juga terdapat pihak yang dapat mengajukan tantangan kepada siapapun di arena terlepas dari pihak manapun, tapi sebelum dapat ikut campur pertarungan arena para Raja, pihak itu akan diuji terlebih dahulu sebelum akhirnya menjadi juara dan menantang peserta Kerajaan dan Kekaisaran." Kaisar menjelaskan dengan detail, Zero mengangguk sebagai tanda mengerti.


"Terima kasih, aku mungkin akan melihat lihat terlebih dahulu." Zero berdiri dan melangkah keluar dari ruangan, meninggalkan Kaisar sendirian di ruang takhta.


Di dalam Istana terdapat banyak ruangan dan lorong lorong panjang, keramiknya dipahat sedemikian mungkin sehingga terlihat megah, temboknya dilapisi dengan semacam pelindung agar tidak mudah hancur, Zero terus berkeliling di dalamnya sampai akhirnya dia berhenti di depan ruangan yang terbuka.


Banyak patung emas berdiri di sana, jumlahnya sekitar tujuh puluhan, semua patung terlihat perkasa membentuk lingkaran, di tengahnya ada satu patung berdiri sendiri, auranya terlihat lebih berwibawa dari yang lainnya, Sebuah pedang panjang tergenggam menancao ke tanah, ukiran ukiran rumit terlihat di bilahnya.


"Kaisar generasi pertama, pendiri Kekaisaran, Sang Kaisar Langit generasi pertama, Elden Grigoire." Zero membaca tulisan di bawahnya, patung Kaisar pertama.


"Tidak heran ini berada di tengahnya." Zero kagum dengan mahakarya disini, semuanya dibuat sedetail mungkin, tidak ada kecacatan apapun yang dapat terlihat di semua patung.


Ruangan terlihat sangat bersih, tidak ada noda ataupun debu di dalamnya, pihak Kekaisaran merawat semua ini dengan baik. Zero kembali melihat lihat semuanya, sampai pada yang terakhir. Kaisar Aakesh Lykaios, Kaisar generasi sekarang, Zero melihat patung Pak Tua itu dengan cermat, pandangannya sangat teliti.


"Yang satu ini terlihat buruk, aku akan sedikit mengubahnya." gumam Zero.

__ADS_1


Zero melirik sekitarnya dan tidak melihat siapapun, senyuman Zero semakin dalam, dia mengamati di luar menggunakan persepsi auranya, hasilnya juga sama, tidak ada siapapun. Zero menghela nafas, melapisi luar ruangan dengan penghalang, sedetik kemudian Zero meloncat, saat itu juga kakinya terlempar ke kepala patung Kaisar, dentuman keras terdengar di ruangan, puing puing emas berjatuhan, kepala patung Kaisar menghilang dari tempatnya dan tertancap di dinding ruangan. menyisakan bagian tubuh selain kepala.


"Sempurna, ini lebih baik." Zero mengamati patung di depannya yang tidak lengkap, kemudian tersenyum puas.


Kembali mengamati sekelilingnya, belum ada siapapun di sekitar lorong lorong ini, Zero melepas kembali penghalang yang dipasang sebelum menghancurkan kepala Kaisar.


Setelah puas melihat lihat Istana Zero kembali ke kediaman, belum ada kerusuhan yang terjadi selama Zero berkeliling setelah menghilangkan kepala patung Kaisar, berarti belum ada yang menemukan. Begitu masuk dia melihat Livia di halaman, duduk di sebuah kursi sembari mengaduk ngaduk teh.


"Kupikir kamu akan kembali ke Istana." ucap Zero. menutup gerbang dan melangkah masuk ke dalam.


"Orang itu masih disana." gerutu Livia.


"Apa kamu sebegitu nya membenci ayahmu sendiri?" Zero mengambil duduk di depan Livia, menatap wajahnya dengan dekat.


'biarkan saja Livia mengetahui kebenarannya sendiri.' pikir Zero setelah beberapa saat Livia tidak kunjung menjawabnya.


Pertanyaan itu seketika berdengung di kepala Zero, pikirannya kembali lagi untuk apa dia berada di sini, apakah itu untuk Livia atau apakah untuk dirinya sendiri, sebenarnya apa tujuan dia disini. Zero termenung sejenak.


"Yang Mulia. Apakah anda di dalam?" Seseorang mengetuk pintu di luar.


Zero kembali dalam kenyataan, membuyarkan lamunannya tentang pertanyaan Livia. Seseorang menunggu Livia dari luar, dari suaranya dia tampak seperti seorang pria. Livia melangkah pergi untuk mengeceknya.


"Tunggu disini, biarkan orang itu masuk." Kata Zero.


Livia kembali duduk dan memanggil orang itu masuk, Zero memeriksa dengan auranya keadaan di luar, hanya ada satu orang sedang berdiri di depan gerbang, auranya sangat lemah menurut Zero.


"Saya masuk, Yang Mulia." Suara orang itu terdengar lagi, kemudian deritan gerbang terdengar kembali setelah beberapa saat yang lalu Zero masuk.


Sesosok pria muda terlihat memasuki halaman kediaman, rambutnya panjang dan lurus, wajahnya tampak tampan, pakaiannya mewah, tapi auranya tidak menarik sama sekali, hanya penampilannya yang tampak bagus, walaupun tetap kalah dari Zero.

__ADS_1


Pria itu berusia kurang lebih dua puluh tiga tahun, setelah masuk dia terkejut melihat Livia dengan seorang pria, tatapannya berhenti sejenak ketika sampai Zero, dia melihat Zero dengan serius.


"Yang Mulia, siapa dia?" tanya Pria itu. Matanya tertuju pada Zero


Livia menghela nafas, mengacuhkan pertanyaan pria itu. Sementara itu Zero menatap balik, pandangannya langsung menjadi tidak suka terhadap pria itu, Zero berniat untuk menghabisi pria itu dalam sekejap.


"Livia, siapa dia?" Zero melontarkan pertanyaan itu kembali.


"Bukan siapa siapa, hanya serangga yang selalu mengikutiku akhir akhir ini." ucap Livia lirih.


Zero tampaknya menyadari sesuatu, penampilan sang putri sendiri sangat misterius di mata banyak orang, begitu dia menunjukkan diri di umum, banyak orang akan tergila gila padanya, tampaknya pria barusan salah satunya.


"Yang Mulia Putri, tolong segera ke Istana hanya denganku, Yang Mulia Kaisar mengundang anda ke Istana." ucap Pria itu, saat mengucapkan "hanya denganku" pria itu tampak menegaskan Zero tidak bisa ikut.


"Keluar, aku tidak akan pergi. Ada seseorang yang harus kutemui saat ini." Tegas Livia, wajahnya tampak kesal.


"Tapi Yang Mulia, Kaisar menyuruh anda untuk segera ke Istana." Bujuk Pria itu.


Zero bangkit berdiri, tanpa berkata kata kepalan tangannya menghantam muka pria itu dan terlempar jauh menghantam tembok samping halaman, dia pingsan, wajah pria itu remuk seketika, Zero sudah mengurangi tekanan tinjunya, jadi pria itu tidak akan mati begitu saja.


"Oh ya, sekedar informasi. Kamu mungkin akan berurusan dengan salah satu sage agung Kekaisaran." ucap Livia. Zero langsung menyadari itu, tapi terlepas dari apapun dia tidak takut menghadapi segalanya.


"Itu hanya satu Sage Agung, bahkan jika ada seratus Sage Agung, aku tidak takut menghadapinya." Zero mengamati pria itu, dari perkataan Livia, pria yang dipukul Zero merupakan salah satu orang penting Sage Agung.


Zero pergi ke tempat pria itu terbaring, darah mengucur dari wajahnya yang hancur, Zero merasa agak kasihan, dari wajah yang lumayan tampan menjadi hancur karena dirinya, dimensi kegelapan terbuka disampingnya, Zero menendang pria itu masuk ke dalam dalam keadaan sekarat.


"Zero, sejauh apa sebenarnya kekuatanmu?" Livia terus memerhatikan Zero. Sejak dulu dia selalu penasaran dengan Zero yang selalu tiba tiba dan tidak bisa ditebak.


"Sejauh apa kekuatanku ya? Aku tidak tahu." Zero menutup kembali portal dimensi kegelapan. Kembali melangkah duduk di depan Livia seolah barusan tidak ada yang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2