Destiny King

Destiny King
Sebuah Penginapan


__ADS_3

Di sore hari, penjaga kota berkeliling mengelilingi tembok besar yang melindungi Kota, bahkan sampai diatas benteng dijaga, semua penjaga penuh dengan armor berwarna hitam, mereka semua memegang tombak panjang yang setidaknya berukuran hampir dua meter, dari jauh gerbang kota terlihat besar, tetapi hanya ada dua orang yang menjaganya, yang lain sibuk keliling berpatroli. Zero melangkah ke gerbang Kota, dipunggungnya Livia memakai penutup hingga seseorang tidak akan mengenalinya, mereka berdua terlihat seperti pengemis lusuh.


“Tunjukkan tanda pengenalmu, nak” Penjaga Kota mengacungkan tombaknya kesamping, menutup jalan.


“Ambillah” Zero melemparkan kantung emas yang berisi seribu koin emas, jumlah tersebut dapat membuat seseorang hidup mewah selama seratus tahun, Zero memberikannya begitu saja, meletakkan diatas meja Penjaga Kota.


“apa ini” penjaga Kota bertanya tanya, tanpa menunggu langsung membuka penutupnya. Penjaga Kota terkejut, dia mengusap matanya kemudian kembali melirik kantong yang diberikan Zero. Penjaga Kota tersebut melirik Zero, tatapannya berubah dalam sekejap.


“silahkan, Tuan” Penjaga Kota mempersilahkan masuk, menarik kembali tombaknya. Sedangkan Penjaga yang satunya hanya melirik Zero dan Livia tanpa ekspresi.


Begitu masuk ke dalam Kota, mereka melihat jika Kota ini sangat makmur, penduduk Kota hampir semuanya terlihat bersemangat, anak kecil berkeliaran, toko toko kecil memenuhi jalanan. Alaminya, sebuah Kerajaan yang sedang berperang akan mengalami penurunan ekonomi, bahkan harga pasar akan naik tinggi, tapi Kota ini terlihat makmur, apalagi lokasi Kota hampir berdekatan dengan perbatasan Kekaisaran.


“Livia, Kota apa ini?” tanya Zero.


“Aku tidak tahu, aku bukan penduduk disini” jawab Livia, suaranya begitu dekat dengan telinga Zero, membuatnya sedikit merinding. Zero terdiam, perkataan Livia ada benarnya, dia bahkan hampir tidak pernah keluar dari Istana Kekaisaran, ‘tapi, mengapa dia tahu lingkungan disekitar?’ pertanyaan itu menggantung di benak Zero.


“omong omong, darimana kamu mendapatkan begitu banyak uang?” tanya Livia, dia merapikan rambutnya yang sedikit keluar.


“bisnis” Zero menguap, jawabannya simpel dan tidak dapat dipercaya, mulutnya seperti penipu. Livia terdiam, mulutnya menganga, seseorang yang baru saja tiba di Dunia ini dapat menghasilkan begitu banyak uang, itu tidak mungkin. ‘pasti dia merampok’ pikir Livia.


Mereka berdua menuju sebuah penginapan disana, berhati hati dalam berjalan, penginapan tersebut terletak dipinggiran jalan, penampilan luarnya sangat memukau dan mewah, ada beberapa kursi dan meja diluar, orang orang disana rata rata hanya minum, Zero masuk kedalam, dia melihat sebuah panggung disana, banyak orang melihat ke arah panggung, menantikan sesuatu. Bau anggur menyengat di hidung, makanan tersedia dimana mana, penampilan lusuh Zero yang menggendong seseorang membuat orang orang meliriknya dan berbisik bisik.

__ADS_1


“ada apa? Apa penampilanku begitu menarik di mata kalian?” Zero mengeluarkan aura intimidasi, menampilkan kekuatan puncak adamantium. Semua orang langsung memalingkan pandangannya, bahkan beberapa orang sampai muntah darah.


Setelah semua orang memalingkan pandangan darinya, Zero menarik kembali kekuatannya, semua orang terlihat ketakutan, hampir semuanya berada diperingkat E yang bahkan tidak layak dengan jentikan jarinya. Disebelah kiri pintu masuk terdapat resepsionis, wajahnya terlihat cukup tampan, dia tidak bereaksi ketika Zero menggunakan aura intimidasi sebelumnya, sepertinya orang yang cukup ramah.


“silahkan, Tuan” kata petugas itu.


“satu kamar untuk satu malam, berapa?” tanya Zero. Livia yang mendengarnya terkejut, dia langsung mencekik leher Zero dengan sikunya.


“apakah anda yakin?” petugas itu melihat Zero penuh tekanan, walaupun petugas tersebut menyakini bahwa Zero sangatlah kuat, seseorang dibelakangnya juga tak kalah.


Bisa diyakini dengan petugas tersebut yang mengkhawatirkan keselamatan penginapan ini jika Livia dan Zero bertarung, penginapan ini akan hancur. Zero mengangguk, menyakinkan petugas penginapan jika tak ada masalah yang akan terjadi.


“VIP” tanpa basa basi Zero langsung meletakkan koin emas


diatas meja, Livia belum berhenti mencekiknya. suara koin berdenting diatas meja, semua orang melihatnya kembali karena penasaran.


“ini kuncinya, lokasinya di lantai tiga nomor empat belas. tolong jaga orang anda agar tidak membuat keributan, jika ada barang yang rusak anda harus menggantinya.” Ucap petugas tersebut dengan tersenyum, kemudian Zero mengambil kuncinya.


Sedikit orang masih ada yang meliriknya, Zero menatap kembali. Orang orang itu langsung membalikkan pandangan, panggung ditengah penginapan masih kosong.


Zero menaiki tangga menuju lantai tiga, kali ini tidak ada orang berani bertindak sembarangan dengannya. Langit sudah gelap, lentera dijalanan mulai menyala, suara berisik orang orang terdengar kembali, bau alkohol semakin menguat, lorong lorong kamar terlihat sepi, sepertinya hampir semua orang turun ke bawah. Zero melihat lihat nomor yang terpampang di dinding,

__ADS_1


setelah mencarinya dia masuk ke dalam, lokasinya tepat di pojok lorong, ada sebuah balkon yang mengarah ke luar didepan kamarnya.


Pintu terbuka, sebuah ruangan kamar yang terlihat glamor, pot bunga yang besar terletak dipojokan, perabotnya terlihat lengkap, kamar mandi, kasur yang terlihat sangat nyaman, lemari yang berisi handuk dan piyama, kaca, kursi yang dilapisi dengan bulu agar nyaman dipakai dan yang lainnya.


Livia turun dari punggung Zero, dia membuka jubahnya, menatap Zero dengan tajam. Ekspresinya seperti menunjukkan kenapa kita ada diruangan yang sama.


“kenapa tidak dua kamar?” tanya Livia.


“itu uangku, jika kamu punya uang sendiri, kamu boleh pindah.” Zero menanggalkan pakaiannya dikursi, tubuh bagian atasnya terlihat sempurna, perut, dada, dan lengannya terlihat seperti dilatih dengan baik.


Livia menutupi wajahnya dengan tangan, perkataan Zero masuk akal, dia tidak punya hak untuk menjawab karena Livia memang tidak punya uang sepeserpun, pandangan didepannya sangat berdosa, Zero tidak peduli dengan Livia yang masih berada didepannya.


“bajingan tak tahu malu, setidaknya jangan mengganti pakaian disini” gerutu Livia. Gadis itu berjongkok dan menunduk, bajingan didepannya masih ada disana.


“memangnya kenapa? apa salahnya?” sahut Zero, dia menyeringai lebar, menanggalkan satu persatu kain yang menempel ditubuhnya.


Livia terdiam, tidak akan menyahutinya lagi, tidak ada gunanya berdebat dengan Zero karena dia selalu memiliki alasan untuk menyangkalnya. Zero berjalan ke bak mandi yang hanya ditutupi dengan tirai bambu, meninggalkan pakaian yang tersisa di lantai.


Jendela kamar mandi terbuka, Zero menatap langit malam, angin malam perlahan masuk kedalam ruangan, suara orang orang berkerumun terdengar di bawah. Tidak ada suara yang terdengar di ruangannya, hanya suara air yang bergemercik di bak mandi.


‘apa tujuanku? Untuk apa kekuatan ini?’ pikirannya tak menentu, setelah semua ini, dia berpikir kembali, Zero melirik lengannya, membawanya kelangit langit malam, bulan menampakkan dirinya diantara sela sela jari Zero, pikirannya terus hanyut, gelembung gelembung air yang keluar sedikit menenangkan pikirannya. “huft”-

__ADS_1


__ADS_2