
Angin pagi terasa menyegarkan, apalagi rasa udara ketika sudah lama berada di hutan terlarang, begitu keluar seperti menghirup aroma surga. Livia membuka matanya, dia terbangun dan memelototi Zero. “Apa?, mencoba membodohiku? Tidak semudah itu, Yang Mulia” Zero tersenyum lebar, melihat Livia tambah melotot kepadanya, Zero sangat senang.
“aku punya kata kata yang bagus untukmu, ada saanya kita harus bertindak dan ada saatnya kita harus diam dan menunggu. Kau bodoh karena terpancing hanya dengan sebuah kata.” Zero menyunggingkan bibirnya, puas dengan tindakannya.
“Aku menyerah.” Livia mengangkat tangannya, telapak tangannya tergenggam, Zero menaruh rasa curiga dengan itu.
Zero perlahan mendekati Livia, ketika tepat dihadapan Livia, gadis itu langsung membuang sesuatu yang ada digenggamannya tepat kearah Zero, pasir tanah beterbangan kewajahnya, membuat pandangan sekitar tertutup oleh debu, Livia melempar tinju, menyebabkan dentuman keras, Zero sudah mengantisipasinya, dia membuat pelindung barrier tepat waktu, jika tidak dia termakan oleh jebakan Livia.
“sejak kapan kamu belajar menipu seseorang?” Zero mengusap pakaiannya yang tertutup sedikit debu.
“tsk, tidak ada” Livia mendesis, dia tertunduk pasrah, tangannya mati rasa karena menghantam pelindung.
“hmm, sejak kapan kamu belajar menipu?” Zero mengulangi kata katanya lagi.
“sijik kipin kimi bilijir minipi” ucap Livia, nadanya sangat mengejek, terdengar begitu menjengkelkan di telinga Zero.
Kali ini Zero mencubit pipinya, tindakannya mungkin melunak akibat peristiwa kemarin, mungkin saja. jeritan Livia terdengar keras.
“biar kukatakan ini padamu, perjalananmu untuk melampauiku masih panjang.” Zero masih menatapnya, tangannya masih memainkan pipinya yang lembut.
“kemari” seru Zero, dia membungkuk membelakangi Livia, tangannya terpangku kebelakang. Livia melirik Zero, menatapnya tidak percaya. Pasti tipuan, begitulah pikirnya. Livia bangkit dari duduknya, mengusap pakaiannya yang penuh debu.
“aku tidak akan tertipu” ujar Livia. “aku serius, kita masih harus mengejar waktu” jelas Zero. Livia terkejut, dia tiba tiba teringat kembali dengan pelayannya. Tanpa ragu Livia melompat kepunggung Zero, membuatnya sedikit goyang.
__ADS_1
“serius, kamu sangat berat” Zero berdiri menggendong Livia.
“Tuan, tolong jangan mengungkit berat badan seorang gadis, itu akan membuatnya marah” Livia melipat tangannya ke leher Zero dengan sangat erat, Zero merintih kesakitan. “terserah” ujar Zero.
Zero melesat dengan cepat, terbang dan melompat diantara pohon pohon hijau yang rindang, mereka menuju arah barat daya dimana Kekaisaran Langit berada, laju Zero sangat cepat, orang biasa tidak akan bisa melihatnya, bahkan monster tingkat E hanya akan melihat sebuah bayangan yang samar. Perjalanan sangat panjang, sebuah hutan biasa bisa berjarak seluas puluhan ribu mil jauhnya, hutan terlarang yang dihuni Zero juga berjarak puluhan ribu mil. Mereka bisa secepat itu berkat Zero, untuk sampai ke Kekaisaran mereka harus laut yang lebarnya bisa sampai puluhan ribu kilometer, itu sangat luas luas, tapi dengan adanya Zero disini, itu tidak berarti apa apa, dia bisa melintas dengan sangat cepat. Setelah melewati laut yang panjang, masih ada jalan yang menanti mereka.
“apa kamu sudah tidak marah dengan itu?” tanya Zero.
“itu apa?” Livia penasaran. “tidak jadi, jangan pedulikan” Zero mengibaskan tangannya.
Angin tidak menganggu karena berkat perlindungan Zero dengan auranya, mereka bisa mengobrol dan menikmati dengan santai. Livia tiba tiba mengingatnya, dia mengarahkan pukulan kecil ke punggung Zero.
“tentu saja akan marah, siapa yang tidak marah dengan itu? Jika itu kamu, apa yang akan kamu lakukan?” Livia bertanya, tapi wajahnya menunjukkan sebaliknya dengan perkataannya yang terkesan marah.
“akan apa?” tanya Livia. Tapi Zero hanya menggeleng pelan, tidak akan melanjutkannya.
Mereka akhirnya berhasil melewati hutan itu, sudah hampir tengah hari, mereka tiba di ujung hutan. Zero terkejut, melihat didepannya hanya ada lautan yang tak terbatas, dia berdiri dipinggir tebing sambil menggendong Livia, pemandangannya sangat menakjubkan. Zero menggenggam Livia dengan erat, dia menekuk lututnya, bergaya seperti atlit lari professional.
“bersiap benturan” teriak Zero. Livia mengencangkan tangannya di leher Zero, memeluknya.
Zero langsung terjun kebawah, melepaskan semua pengamanan, desiran angin terasa kencang ditubuh mereka. Rambutnya bergerak keatas karena arah angin, degup jantung meningkat sepersekian detik, perasaan terjun dari ketinggian tanpa apapun untuk membuat aman membuatnya semakin intens. Lima detik kemudian angin mulai berkumpul dibawahnya seperti ketika Livia didorong jatuh dari tebing oleh Zero, menopang jatuhnya mereka dengan halus, tidak sampai disitu, Zero langsung berlari diatas air, meninggalkan jejak ombak halus yang bergelombang.
“kenapa tidak terbang saja?” tanya Livia.
__ADS_1
“jika seseorang diberi kaki, mereka harus menggunakannya, kita tidak boleh menyia-nyiakan tubuh yang sudah diberikan kepada kita. Meski begitu, lebih nyaman berlari dibandingkan terbang” jelas Zero, dia kemudian membungkus sekitar dirinya dengan pelindung kembali.
Air lautnya sangat jernih, ikan ikan saling memangsa terlihat jelas dari atas. Livia melirik Zero yang sedang fokus berlari dan melompat lompat, meski melompat, tidak ada guncangan yang terjadi diantara mereka berkat pelindung Zero. Livia melihat belakang leher Zero, rambut hitamnya acak acakan. Livia meniupnya, Zero bergidik ngeri.
“jangan lakukan itu” Zero melotot ke Livia, gadis itu tertawa kecil.
Perjalanan mereka terus berlanjut, Zero terus berlari tanpa lelah, terkadang Livia menggodanya ketika dia sedang fokus, mereka terus pergi kearah barat daya tanpa henti. tepat pada siang hari, mereka masih melanjutkan.
“apa tidak ada satupun monster disini, Livia?” tanya Zero penasaran, dia melirik kebawah, tapi tidak ada tanda tanda suatu kehidupan.
“jika kamu bertanya padaku, aku akan bertanya pada siapa?” jawaban Livia berhasil membuat Zero sedikit kesal. Tapi Zero menahannya, saat tiba waktunya dia akan membalas berkali kali lipat.
Zero berharap jika ada suatu kehidupan didalamnya, terutama untuk ikan ikan besar, bahkan jika itu monster Zero tidak akan menolaknya. Zero terus melanjutkan perjalanan sampai sore hari, sejauh mata melihat masih lautan yang tak berujung, Zero berhenti. Livia masih menempel di tubuh Zero bagai parasit yang tidak mau lepas, sudah nyaman dengan perjalanan gratis ini.
“apakah ada kota terdekat disini?” tanya Zero.
“didepan sana ada kota terdekat, tapi akan sampai pada malam hari jika seperti ini.” Jawab Livia, dadanya yang lembut terus menempel dipunggung Zero dari pagi membuatnya sedikit berfantasi.
Zero menyiapkan kuda kuda, kakinya terlentang, tangannya menggenggam Livia dengan kencang, Zero memaksimalkan lapisan pelindung, menambah jumlah lapisan pelindungnya. tubuh Zero sedikit menghangat. “Lightning Rule, Number Four, Posthaste” teknik keempat dari seri Lightning yang dibuatnya. Saat itu juga, tubuhnya menghilang dari tempat, Livia menutup matanya, muncul diketinggian yang sangat tinggi, meninggalkan ombak tinggi dilautan, awan awan terlihat jauh dibawahnya, Zero melesat bagai kilat, bahkan hembusan angin yang ditinggalkannya dapat membunuh ribuan orang dengan mudahnya. Zero dan Livia melintas melewati langit, kecepatannya sangat cepat sampai tidak bisa diukur, ini pertama kalinya Zero menggunakannya.
Delapan detik kemudian, mereka tiba didaratan, meninggalkan lautan yang tak berujung. Livia menghela nafas lega, kecepatan seperti itu membuat jantungnya berdetak keras, Zero pun sama. Melihat kedepan mereka mendapati sebuah kota yang berukuran sedang, patroli penjaga terlihat dimana mana, Zero mendarat tepat disebuah area yang luas, tidak ada apapun disekitarnya, hanya hamparan tanah disekitarnya.
“ayo kita masuk, pakai jubah itu.” Ucap Zero, dia mengingatkan Livia. Livia langsung menutupi kepalanya dengan tudung dari jubah.
__ADS_1