Destiny King

Destiny King
((SPECIAL)) WORLD CUP QATAR 2022


__ADS_3

{Side Story}


Lusail Stadium, Qatar, Planet Bumi


Matahari terbenam di ufuk barat, menampilkan keindahan di jalanan sekitar stadion, aku menggenggam tangan Livia untuk pergi berjalan jalan disekitarnya, orang orang dari berbagai manca negara datang untuk melihat pertandingan bola, berbagai spanduk dan bendera ada dimana mana, akan tetapi kali ini lebih banyak bendera dari Prancis dan Argentina.


"Paman, berapa harga kue kue ini?" Aku bertanya pada salah satu pemilik toko kecil di jalanan sekitar stadion, pemilik toko itu masih muda, dia memakai baju bersimbol Argentina.


"Harganya 5 riyal, berapa banyak yang ingin kamu beli. Aku bisa memberi diskon khusus." Kata pemilik toko itu.


"Cukup empat saja." Aku memberikan uang sebesar 10 dollar kepada pemilik toko itu.


"Apa ini cukup? Kurasa rasanya akan sangat menakjubkan jika dilihat dari bentuknya" Livia berkata kepadaku, tatapannya terpaku pada kue yang dibungkus oleh pemilik toko.


"Kamu bisa kembali lagi dan membelinya disini jika masih kurang." Aku tersenyum melirik Livia.


Pemilik toko selesai membungkus kue kue yang tampak berwarna warni, aku menerimanya dengan senang hati, saat aku ingin pergi pemilik toko memanggilku untuk berhenti, dia menggenggam uang kembalian untuk diberikan padaku. Aku menolaknya dengan halus, berkata padanya bahwa itu adalah rezekinya ketika bertemu denganku, setelah itu kamipun pergi, tak lupa juga pemilik toko kue itu mengucapkan terima kasih.


Berjalan di jalanan yang ramai membuatku bernostalgia ketika waktu kecil, tapi kali ini berbeda karena ada yang menemaniku di sisiku, aku sudah tidak sendirian kali ini. Dimanapun kami berjalan, orang orang yang berada di sekitar menatap kami secara sekilas, warna rambut Livia yang seputih salju tampaknya menarik perhatian mereka, kecantikannya juga tidak bisa dibandingkan dengan siapapun, setidaknya itu menurutku.


"Apa masih ada tempat yang ingin kamu kunjungi? Misalnya seperti toko makanan dan sebagainya?" Aku mengambil inisiatif untuk mengajak Livia berjalan jalan, kedua tanganku saat ini sedang penuh karena menggenggam sekantong plastik yang berisi makanan dan sisi lainnya menggenggam tangan Livia.

__ADS_1


"Aku tidak terlalu akrab dengan tempat ini, sayang. Orang orang di dunia ini sangat ramah." Kata Livia kepadaku, matanya berkaca kaca saat mengatakannya, seolah dia selalu memimpikan kehidupan yang seperti ini.


"Ya, kamu benar... Ayo, aku akan menemanimu berkeliling sesukamu." pintaku.


Livia yang mendengar itu tersenyum manis, bibirnya membentuk senyuman paling indah yang pernah kulihat, aku tiba tiba merasa sangat beruntung mempunyai wanita sepertinya. Pertandingan belum mulai, masih ada waktu sekitar satu jam hingga pertandingannya tiba, memanfaatkan waktu itu untuk mencoba semua kios makanan dan minuman yang ada disini, kami tidak pernah berpisah sedetikpun dalam keramaian.


Hingga waktupun telah berlalu, kali ini kami telah duduk di bangku penonton VIP, aku membayar mahal untuk sebuah ruangan yang dilapisi dengan kaca. posisi kami terbilang cukup idealis, berada di tengah tengah, tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh, aku menaruh semua barang yang dibeli disebuah meja yang telah disiapkan sambil mendengarkan komentator yang berbicara tentang prediksi skor kedepannya.


"Ini sangat enak, sayangku. Aku ingin membeli beberapa untuk oleh oleh ibuku nanti, dia pasti akan senang." Livia kembali menggigit kue itu kembali, aku hanya mengangguk pelan, melihatnya bahagia juga membuat rasa lelahku terbayar dengan adil.


"GOALLLLLLL" Suara sorak sorai penonton terdengar memekakan telinga, satu poin untuk Argentina, stadion begitu heboh saat sang mega bintang Lionel Messi mencetak gol, komentator sibuk dengan komentar komentarnya yang sangat cepat hingga membuatku tidak bisa memahaminya.


"Kenapa begitu meriah?" Livia bertanya padaku tentang apa yang terjadi di stadion, maklum saja dia saat ini terbilang sangat baru di dunia ini.


"GOOOALLLLLLLL, THIS IS ARGENTINA, NO ONE CAN DEFEAT HIM!!." Belum lama berlalu, stadion kembali heboh sekali lagi, kali ini suara sorak sorai terdengar lebih intens, ternyata Argentina kembali mencetak skor sekali lagi, tapi bukan Lionel Messi, melainkan Di Maria.


Aku sebenarnya tidak terlalu memerhatikan pertandingannya, pandanganku selalu terfokus pada wanita di sampingku, Livia kelihatannya menyukai pertandingan ini, terbukti dia mengamatinya dengan serius. Papan skor di lapangan menunjukkan angka 2-0 dengan Argentina sebagai unggulannya, babak pertama telah selesai.


Satu setengah jam terlewati tanpa terasa pertandingan sudah hampir berakhir, Mbappe dari tim Prancis mencetak gol tiga kali berturut-turut, Lionel Messi mencetak gol sekali lagi di tengah pertandingan, menjadikannya skor mereka imbang, Mbappe saat ini terlihat mati matian menunjukkan performa terbaiknya yang hasilnya terbayarkan, skor mereka menjadi imbang berkatnya.


"Apa yang akan terjadi setelah ini?, Bukankah seharusnya selesai?" Livia kebingungan melihat pertandingan itu belum usai.

__ADS_1


"Karena mereka mencetak skor sama sampai akhir menit pertandingan, akhirnya mereka memutuskan untuk tendangan bebas." Aku menjelaskannya agar mudah dipahami olehnya, gadis itu sepertinya paham dengan penjelasan yang kuberikan.


"Livia, ayo taruhan. Jika saat ini Argentina kalah, aku akan menuruti apapun yang kamu mau selama satu bulan kedepan, begitu pula sebaliknya." Aku menunjukkan wajah serius, tapi dalam hatiku aku merasa yakin jika tim yang kupilih pasti akan menang, jika memang sesuai prediksiku maka aku akan meraup banyak untung, membayangkan Livia menuruti apapun perkataanku membuatku sedikit merinding karena hal itu jarang terjadi.


"Setuju, kamu harus ingat perkataanmu!" Livia tersenyum, dia masih awam tentang ini, mengajaknya untuk bertaruh seperti ini akan membuat nama baikku tercemar jika didengar oleh seseorang.


Kami kembali fokus menonton pertandingan, adu penalti telah dimulai, Mbappe sebagai eksekutor pertama sukses mengeksekusinya, begitu pula dengan Messi. Sayangnya eksekutor kedua Prancis Coman gagal karena sepakannya dibaca Martinez dan Argentina unggul setelah penalti Dybala masuk.


Eksekutor ketiga Prancis Aurelien Tchouameni juga gagal karena sepakannya melebar. Kolo Muani sempat menjaga asa Prancis sebelum sepakan Gonzalo Montiel memastikan Argentina jadi juara dunia.


Pertandingan telah usai, stadion kembali meriah dengan suara sorak sorakannya, semua orang menonton pertandingan itu dengan takjub, ada yang menangis terharu, ada yang kecewa dan sedih karena tim kebanggaannya gagal merebut posisi sebagai juara dunia, semua orang dalam ekspresinya masing masing.


Aku sendiri sangat bahagia karena berhasil memenangkan taruhan dengan Livia, membuatku cukup terhibur, Livia dengan raut kecewanya termangu di depan jendela kaca, menatap lapangan yang penuh sesak dari kejauhan.


"Kecewa?" Aku menyentuh bahu Livia, membuyarkan pikirannya.


"Tidak, hanya saja entah kenapa aku merasa jengkel saat melihatmu." ujarnya.


Aku sedikit merasa kasihan dengannya, dan aku juga tidak alasan apa yang membuatnya tiba tiba merasa jengkel denganku, kami saat ini sedang berlibur, tidak baik jika memiliki permasalahan dalam waktu dekat, aku akan mencoba yang terbaik untuk membuatnya kembali bersemangat.


"Bagaimana kalau taruhannya aku hilangkan saja, itu hanya permainan. Tidak ada gunanya seperti ini." Aku memeluk pinggangnya dengan erat, aroma rambutnya tercium harum di hidungku, bau tubuhnya yang wangi sangat khas saat aku mendekati dirinya.

__ADS_1


Livia terkejut saat tiba tiba aku memeluknya, alih alih mencoba untuk menepisnya dia malah tersenyum. "Tidak, perkataanku tidak bisa ditarik begitu saja, karena aku sudah mengucapkannya, maka aku tidak akan menariknya kembali. Satu bulan, janjiku hanya satu bulan."


Aku tersenyum mendengar itu, membuatku mempererat pelukan di tubuhnya, saat ini dunia terasa indah bersamaan dengan kemenangan tim yang hebat, aku sengaja menenggelamkan wajahku di tubuhnya, Livia tidak menghindarinya sebaliknya dia terasa seperti nyaman akan itu.


__ADS_2