
Ambisi dan tekad semua orang hancur saat itu juga, mereka melihat Zero seperti melihat monster yang tiba tiba muncul entah darimana, tidak menyangka eksistensi tersebut dapat muncul di Kekaisaran, tidak ada yang berani maju sama sekali.
"Apa kalian semua pengecut? Apakah kalian benar benar seorang Raja yang menguasai suatu wilayah?" Zero mempertanyakan mereka, perkataannya sangat menusuk di telinga mereka.
Kaisar memperhatikan dengan senyuman cerah di wajahnya, Permaisuri juga tidak melakukan apa apa, sepertinya mereka sudah menebak semua ini, Zero bukanlah orang yang mudah diprovokasi dan juga paling benci ketika diremehkan.
"Kenapa diam? Apa kau merelakan kehilangan putramu? Apa kau benar benar seorang ayah?" Zero terus memprovokasi, tapi Sirius tidak bertindak sama sekali, dia menutup rapat mulutnya, aura yang dikeluarkan Zero membayang bayangi dirinya, dia monster.
"Sudah cukup, nak. Jangan memperparah situasi." ucap Kaisar, dia berusaha menenangkan keadaan ini, tapi apa daya nasi sudah menjadi bubur, perkataan Livia tidak bisa ditolerir, bahkan Zero yang membunuh bawahannya dalam sekejap juga tidak bisa dimaafkan.
"Pak tua, kau berani memerintahku? Jika bukan karena kau adalah ayahnya Livia, kau pasti sudah kukubur dalam tanah hidup hidup." Zero duduk kembali dalam posisinya semula, Kaisar tercengang dengan perkataan Zero, dia mempermalukan dirinya di depan para petinggi Kerajaan di bawahnya, tidak memberinya muka.
Permaisuri terkekeh dengan itu, bahkan ketika Permaisuri tertawa dia tetap anggun dan elegan, pandangan tentang Zero dalam benaknya sangat menarik, berpikir bahwa biasanya orang orang tidak akan berani berbuat seperti itu pada Kaisar, dia berani melakukannya.
"Bocah, kau berani melakukan itu?" Kaisar Langit berusaha mempertahankan ketenangannya, tapi di dalam hatinya dia mencaci maki Zero.
"Siapa juga yang tahan denganmu sepanjang waktu? Bahkan Permaisuri tidak tahan denganmu, lihatlah ekspresinya." ucap Zero.
"Apa itu benar, istriku?" tanya Kaisar. Permaisuri mengangguk dan tertawa ringan.
Zero tersenyum puas, kemenangan tercetak dalam hatinya. Sebenarnya hubungan Kaisar Langit dan Zero tidak buruk, sebaliknya hubungan mereka baik, hanya saja orang orang tidak menyadarinya. Semuanya bengong melihat kejadian menakjubkan di depannya, seorang Kaisar yang mendominasi dunia dipermainkan oleh seorang anak kecil.
"Baiklah, semuanya harap tenang." ucap Kaisar.
Semua orang kembali dalam posisinya masing masing, mengabaikan tembok yang runtuh dan mayat disana. Raja Sirius tidak mengatakan apa apa lagi, para Raja yang lain juga melakukan hal yang sama. Zero menarik auranya kembali, udara yang tegang di isi kembali dengan kelegaan.
__ADS_1
"Livia, apa aku cukup keren?" bisik Zero. Livia hanya mengangguk, ekspresinya tampak datar, sepertinya dia tidak tertarik dengan semua ini.
"Mengenai perang aku memilih untuk berhenti, ada ratusan ribu nyawa melayang sia sia karena kita." Tegas Kaisar, ucapannya tampak absolut, walaupun perang ini terjadi karena ingin membelot, memberontak melawan Kekaisaran, itu adalah urusan para Raja.
"Aku ingin menggantinya dengan sebuah pertarungan turnamen satu lawan satu. Siapapun boleh mengikutinya." Lanjut Kaisar. Semuanya tampaknya setuju dengan itu, di permukaan begitu, tapi di kedalaman hati mereka tidak ada yang tau.
Untuk mengakhiri perang, sang Kaisar menyarankan pertarungan satu lawan satu di arena, tidak ada yang berani menyangkal pihak Kekaisaran karena ada dua peringkat Adamantium di sana. Kekuatan mereka tidaklah lemah, bahkan jika perang terus berlanjut, tidak akan ada kemengan untuk pihak Kerajaan.
Setelah beberapa saat membahas masalah pertarungan dan perang, akhirnya selesai, semua orang telah pergi kecuali Zero dan Livia. Arena kematian adalah namanya, siapapun yang bertarung disana diizinkan untuk membunuh lawannya, semuanya kecuali dari Kerajaan Iblis mengikutinya. Pertarungan akan dilaksanakan di Kerajaan Air, Arena di atas pulau mengambang yang di bawahnya terdapat lautan.
"Ini sedikit mudah, walaupun pada akhirnya perang berhenti, pertarungan akan terus berlanjut. Mereka tidak akan mudah menyerah, dan juga setelah ini Livia tidak bisa pergi tanpa pengawalan, dia pasti akan segera diincar oleh Kerajaan Api." ucap Kaisar.
"Pak tua, kau seperti sedang bermain catur dengan nyawa manusia sebagai bidaknya." Zero menguap. Daritadi sampai selesai dia bosan dengan semua ini.
"Tidak, aku tidak bodoh sepertimu." jawab Zero.
"Kau tidak akan mengerti rasanya bosan selama ratusan tahun. Aku juga tidak seburuk itu, semua yang dikirim ke medan perang adalah penjahat keji." jelas Kaisar.
"Jika kau sebosan itu, kenapa tidak mati saja." Imbuh Zero, semua ucapan yang keluar dari mulutnya sangat menyakitkan.
Permaisuri terkikih ringan melihat Kaisar Langit berdebat dengan seorang pemuda yang baru saja dikenalnya, sebagai Permaisuri dia menopang semua kebutuhan dalam Kekaisaran, jadi tentu saja seorang Permaisuri haruslah pintar. Livia sejak tadi tidak mengatakan apapun, canggung ketika bertemu dengan ayahnya.
"Aku akan kembali lagi nanti." bisik Livia, dia langsung pergi keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pada orang tuanya.
Zero memandangi kepergian Livia, tembok Istana yang hancur masih disana, tapi mayatnya menghilang, kemungkinan dibawa oleh Raja Sirius. Permaisuri mendekati Zero, tatapannya seperti ingin melahapnya.
__ADS_1
"Apa kamu cukup dekat dengannya?" tanya Permaisuri, dilihat dari dekat Permaisuri sangat cantik, aroma di tubuhnya juga tidak kalah wangi, warna rambutnya sama dengan Livia, matanya berwarna biru bagaikan berlian.
"Mungkin saja." jawab Zero.
"Kalau begitu, tolong jaga putriku." Permaisuri berbisik bisik, Kaisar tidak mendengar apapun, Zero tersenyum dan nengangguk. Wajahnya tampak sangat optimis.
Permaisuri melangkah pergi sendirian melewati pintu, Kaisar tidak mengikuti yang berarti dia punya sesuatu yang ingin dibicarakan dengannya, tapi sebelum Permaisuri pergi dia mengatakan untuk tidak mengkhawatirkan masalah hancurnya fasilitas Istana, akan ada seseorang yang akan memperbaikinya.
"Bocah, kau ingin mengikuti turnamen ini?" tanya Kaisar.
"Hmmm, mungkin saja iya."jawab Zero seraya menghabiskan teh di mejanya.
"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan." tambah Zero.
"Katakan saja, tidak ada siapapun disini selain kita." Kaisar duduk disamping Zero.
"Sebenarnya yang membunuh putra Sirius bukanlah Livia melainkan aku sendiri, saat itu Livia terkena ledakan tubuhnya dan terluka, seperti yang kau tahu kita terjebak disana selama tiga hari yang sama dengan dunia luar setara dengan dua tahun. ada sesosok iblis dalam dirinya, iblis itu menyebut dirinya sendiri sang Raja Iblis. Apa kau tahu sesuatu?" Zero menjelaskan panjang lebar, Kaisar mengangguk.
"Wilayah Timur milik Kerajaan Iblis, tapi bukan berarti Raja Kerajaan Iblis disebut Raja Iblis, gelar Raja Iblis tidak boleh digunakan sembarang, sebutan Raja Iblis hanya pernah muncul dua kali dalam sejarah. Yang pertama tercatat dalam buku kemunculannya sekitar empat puluh ribu tahun yang lalu, dia menguasai seluruh daratan di dunia ini, kekejamannya tidak kenal ampun, semua orang tunduk padanya tidak ada yang berani mengambil kesempatan satu langkahpun darinya. Tapi setelah beberapa ribu tahun, dia menghilang tanpa jejak" Kaisar menjelaskan.
"Yang kedua muncul dua belas ribu tahun yang lalu, tidak seperti sebelumnya yang merajalela, dia hanya muncul dalam bayangan semua orang, hanya beberapa orang yang tahu kemunculannya termasuk generasi Kaisar sebelum diriku, sebelum dia menghilang dari pandangan dunia, dia menulis beberapa kata di sebuah batu besar yang terletak di benua lain, tulisannya memancarkan aura iblis yang mengerikan, dia menulis "bersiaplah, raja iblis akan terlahir kembali"." jelas Kaisar.
"Lalu, apa yang terjadi dengan benua itu?" tanya Zero.
"Beberapa Kaisar pendahulu sudah berkali kali mengeceknya, tapi tidak ada apapun yang terjadi, hanya aura iblis kuat yang tersisa di tulisannya, hingga sekarang tempat itu disebut makam Raja Iblis." Kaisar menambahkan, sosok yang disebut Raja Iblis memang mengerikan, meskipun sudah lama, aura iblisnya masih tetap terasa kuat. Jika sosok eksistensi tersebut bangkit, tentunya seluruh dunia dalam bahaya.
__ADS_1